0 In Kisah

Unexpected

….di tengah hari yang tak kian menjadi petang

Kepada kamu, yang membuat hari ini menjadi sejarah,

Aku baru akan masuk ke rumah saat kau mengantar pulang. Kau memanggilku, dengan mata nanar dan pandangan samar. Kita akhirnya duduk berhadapan seperti di ruang sidang. Suasana yang diciptakan pun sama, menegangkan. 
Kau katakan dengan sangat jelas, bahwa kau mencintaiku, menyayangiku, lebih dari semua kata itu andaikan ada. Aku tidak termenung sebagai bentuk keterkejutanku, aku tidak diam mematung dengan tatapan tidak percaya, tapi aku…salah tingkah. Tidak ada satu kata pun yang terlintas di kepala untuk disampaikan padamu. Mataku menerawang menjauhi kamu, berfikir jauh-jauh, mengingat dan meraba hatiku apakah ada perasaan yang sama disana. Selang beberapa detik, kemudian aku menunduk lemas.
Perlukah rasa suka sama suka harus diatasi dengan menjalin sebuah hubungan? Bukankah ikatan itu mengekang? Bukankah egoisme untuk memiliki bisa menghapus rasa cinta yang semula kita miliki suatu saat nanti? Aku harus apa menyikapimu? Menyikapi cinta yang sudah berkali-kali menjembabkanku dalam lubang kekecewaan dan menciptakan suka yang malah meninggalkan luka.
Aku dapat merasakan bagaimana selama ini kau mencintaiku dengan hati-hati. Kau menuruti kemanapun aku mau pergi, kau mengiyakan semua yang aku inginkan, kau selalu melindungi dan membantu bahkan di saat aku bisa mengatasi segalanya sendiri. Kamu juga bilang, dirimu merasa harus memagari hidupku dari duka dan segala ancaman yang sudah, sedang, maupun akan datang.Yang tak kupercaya, kau mencintaiku apa adanya, sejak dulu sebelum aku jadi siapapun atau bagaimanapun. Bahkan di saat aku berpenampilan konyol sekalipun. Aku dapat merasakan cintamu meski tanpa kau terjemahkan.
Percayalah, tak pernah ada kata sia-sia dalam mencinta. Karena  mencinta, kau bisa berada di dunia. Dengan mencinta, kau benar-benar merasakan indah dunia.
“Whenever you look at me, i feel that in the whole world i am the centre,”

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply