2 In hangout

Typicali Coffee; Rooftop Cafe di Bekasi

“Di deket rumah ada tempat ngopi baru. Kamis sore sibuk?”

Notifikasi dari Riski, teman main sejak SMP, muncul.

Hmm…kalau diajak ke warung kopi mana bisa nolak? Ketika dipikir-pikir, saya pun belum pernah bertualang ke warung kopi di daerah Bekasi. Maka, sebuah balasan “oke” menjadi jawaban yang saya kirim.

Interior di lantai 1
Add caption

Tempat yang dimaksud bernama Typicali Coffee. Lokasi tepatnya adalah di Jalan Ujung Aspal. Bukan hanya halaman parkirnya yang cukup luas, tetapi juga ruangan di dalamnya. Sudah dapat terlihat dari luar karena dinding kafe adalah terbuat dari kaca. Typicali Coffee mengusung warna yang sama dengan coffee shop pada umumnya. Warna hitam yang merepresentasikan kopi dan kesederhanaan selalu menjadi pilihan tepat bagi cat dinding sebuah coffee shop. Namun yang saya sukai dari Typicali Coffee bukan hanya itu, melainkan konsep berbeda pada setiap lantai yang dimilikinya. Typicali Coffee memiliki tiga lantai, lantai pertama dengan konsep dinding hitam dengan paduan susunan bata merah dan furniture yang terbuat dari kayu juga tong-tong yang dicat hitam doff.

Pada lantai dua dekorasi memiliki konsep hitam-putih dengan hiasan quotations dalam bingkai-bingkai sederhana di dinding. Bertentangan dengan lantai satu, konsep interior di lantai ini cukup manis dan sangat cocok untuk acara gathering karena lighting yang sangat bagus untuk berfoto.

Interior lantai 2

Lantai terakhir adalah lantai tiga, lantai yang mungkin paling menjadi incaran para pengunjung. Ialah konsep kafe di atap terbuka, alias rooftop. Pijar lampu-lampu yang berkerlap-kerlip di sekeliling menambah cantik suasana rooftop di malam hari. Bila di sore hari, akan terlihat pemandangan gunung (entah gunung apa) di kejauhan, sehingga membuat view menjadi indah. Suasana yang romantis, sejuk, juga harum. Saya katakan harum karena letaknya dekat dengan dapur. Aroma masakan sang chef tentu saja akan terbang ke penjuru rooftop. Dapur Typicali Coffee berada di lantai ini, berbeda dengan coffee bar yang terletak di lantai dasar langsung di hadapan pengunjung. Meskipun begitu, dapur yang terletak di rooftop tersebut terbilang cukup rapi dan menarik untuk ditengok, itu mungkin alasan sang pemilik membiarkannya mudah dilihat oleh pengunjung. Masih di lantai yang sama tepatnya di sebelah dapur tersebut terdapat musolah yang bersih dan luas. Perfect!

Interior lantai 3

Selesai mendeskripsikan soal interior (i just can’t help myself. Interior semua lantai sangat saya suka), sekarang waktunya membahas soal kopi. Seperti biasa, mata saya mengembara ke lembar menu card dan mencari signature coffee dari Typicali. Yang saya temukan bukan jenis kopi hitam, melainkan berhenti pada tulisan Red Velvet Coffee, Taro Coffee. Riski yang bukan seorang pecandu kopi mempersilakan saya untuk memesankan dia minuman yang saya ingin. Oke, maka saya pesan kedua nama di menu tadi. Lidah saya sudah tidak sabar menerka-nerka seperti apa red velvet yang terhidang di sebuah cangkir kopi versi Typicali.

Taro Coffee – Red Velvet Coffee

Tidak berapa lama kedua cangkir berwarna sesuai dengan si warna kopi diantar ke atas meja tong di depan kami. Rasanya? Saya lebih suka Taro Coffee milik Riski. Rasanya manis dan saking manisnya sampai tidak terasa kandungan kopi di dalamnya. Temperatur kopinya juga menurut saya kurang panas, sehingga mengurangi kenikmatan kopi tersebut. Namun saya akan memesan menu yang sama bila datang lagi ke kafe ini.

Soal harga? Terbilang cukup mahal bagi kami yang notabene-nya adalah anak kost. Percakapan yang tercipta antara saya dan Riski saat itu adalah, “harganya sesuai dengan betapa megah ruangannya ya?”. Bisa jadi. You know what i meant.

Untuk pelayanannnya? Saya akan berikan dua bintang dari lima. Sebagai informasi, review kali ini adalah karena atas inisiatif saya pribadi (karena saya terlalu suka dengan konsep Typicali), bukan atas permintaan pihak kafe seperti biasanya. Namun seseorang yang tidak berseragam karyawan (yang direkomendasikan oleh staf untuk saya tanya) di Typicali Coffee tidak menyambut keramahan dan niat baik saya saat meminta ijin untuk foto dan membuat review yang sebenarnya adalah menguntungkan bagi promosi kafe tersebut. Ketidakramahan itu yang sangat saya sayangkan. Seperti yang kita ketahui kini, kopi adalah kebutuhan sehari-hari kebanyakan orang saat ini. Intensitas pengunjung ke warung kopi terbilang sudah menjadi gaya hidup sehari-hari. Dan pelayanan yang ramah dapat menjadi alasan utama yang menciptakan rasa nyaman seperti di rumah sendiri, agar pengunjung mau datang sesering mungkin bahkan setiap hari menjadi pelanggan loyal. Sense “berada di rumah sendiri” tidak saya dapatkan dari kunjungan saya ke Typicali Coffee. Hasil foto dan video yang saya ambilpun tidak maksimal, saya merasa agak sangsi mau ambil gambar banyak-banyak. Apakah foto-foto di Typicali Coffee dilarang? Entahlah. Terlepas dari kejadian itu, saya akui Typicali Coffee memiliki interior unik dan keren. Apalagi rooftop-nya. 

Selamat mampir ke Typicali Coffee!
Typicali Coffee
Jl. Raya Hankam No.384
Ujung Aspal, Pondok Gede
Open hour: Everyday 09.00 am – 12.00 pm
instagram: @typicalicoffee

You Might Also Like

2 Comments

  • Reply
    Yosfiqar Iqbal
    September 26, 2016 at 9:29 am

    Waaahhh..suka ngopi,traveling, dan template blognya sama. Welcome to da club! Salam kenal =)

  • Reply
    Nayadini
    September 28, 2016 at 1:38 am

    Wah, salam kenal juga. Sudi kiranya mampir kembali πŸ™‚

  • Leave a Reply