0 In kisah

Tarian Hujan

Hujan tidak berhenti turun sejak kemarin. Pasti ada sebagian di Jakarta yang kini tengah tergenang beserta penduduknya. Langit pagi gelap, malam semakin gelap lagi ditutup kabut yang kelabu. Pemandangan yang kudapati sekeluarnya dari kantor adalah jejeran kendaraan begitu padat memenuhi semua ruas jalan. Beberapa kendaraan berlomba membunyikan klakson entah untuk apa, beberapa orang yang mengendarainya memak-maki entah karena apa, hanya aku sepertinya yang menyambut hujan datang.

Lain dengan orang-orang, aku justru begitu lamban berjalan. Cipratan demi cipratan di celana bahan dan kemejaku justru aku sendiri yang ciptakan. Aku menggunakan payung memang, hanya untuk melindungi tasku yang tidak tahan air. Ada dokumen penting dan leptop di dalamnya. Sedangkan anggota tubuhku beberapa kali kubiarkan kebasahan. Sesekali, kugeser payung merah marun yang mengembang itu agar wajahku tertetes hujan. Basahnya mengalir dari dahi menetes hingga aspal trotoar. Dan entah bagaimana hujan selalu menenangkan. Mungkin karena di kala hujan, para dewa akan mengaminkan doa kita, katanya.
Andai bisa, aku ingin mudah hancur. Ikut lebur ketika rinai hujan menetesi tubuhku. Hingga tak berbekas. Atau barangkali aku ingin menjadi tetes hujan itu sendiri. Terjun bebas dari langit, membanting diri ke bumi tanpa rasa sakit, lalu menguap. Tanpa meninggalkan wujud yang nyata. Bukankah itu fatamorgana yang indah?
Saat itu, saat sebuah klakson membunyi, aku sedang berjingkat-jingkat senang di pinggir jalur transjakarta. Tak lama setelahnya, terdengar suara ledakan serupa bom. Aku tak yakin suara apa yang dapat mendeskripsikannya, aku belum pernah mendengar suara bom seperti apa, yang jelas amat kencang. Hingga telingaku sakit. Tapi sesungguhnya lebih sakit kepalaku. Juga kaki, tangan, perut…. Banyak suara orang. Mendekat. Berteriak, mengguncangkan tubuhku, beberapa bahkan memotret. Suasana jalan makin ramai dan macet kian menjadi. 
“Minggir, minggir!”
Suara pak polisi lantang memberi perintah. Kakinya sigap melingkari label kuning panjang dari plang jalan melintang ke pembatas jalan. Label kuning lainnya dipasang di dekat mobil dan transjakarta yang hangus. Seseorang berteriak-teriak menghubungi rumah sakit agar segera mengirimkan ambulan. Tubuhku terburai, katanya. Jelas-jelas aku sedang berlari ke atas, terbang tanpa sayap, menari-nari di udara seperti yang selama ini aku impikan. Yang membuatku cemburu pada burung-burung atau kupu.
Senyumku lebih parah lagi, tak mau pergi. Tidak lagi. Aku tak perlu lagi memupuk hutang sana-sini untuk menghidupi adik-adikku. Agar mereka mandiri kini. Tak perlu lagi bekerja dari pagi hingga pagi lagi tanpa pernah benar-benar nerasakan nikmatnya. Juga memuaskan nafsu para biadab dengan kata hati yang melulu dirongrong rasa berdosa. Aku terbang. Aku bebas sekarang. Tiba-tiba sepasang pria dan wanita paruh baya mengulur tangan padaku. Kedua sosok yang tak kukenal namun selama ini sering muncul tanpa rupa di dalam imajiku sebagai ayah-ibu idaman. Wanita itu mendekapku hangat, hangat sekali, akhirnya aku dapat merasakan hangat pelukan seorang ibu seperti yang selama ini orang ceritakan. Juga pria itu menggenggam tangaku lembut. Menyelamatkan. Seolah ingin menentang siapa saja yang bermaksud menggangguku. Dekap yang begitu nyaman dan memberikan aman. Kasih seorang ayah yang selama ini aku cita-citakan. Aku punya orang tua lagi kini. Aku tak sendiri lagi. Tidak akan ada lagi yang membuatku takut.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply