Browsing Tag

sharecost latimojong

0 In mountain/ traveling

Gunung Latimojong: Terbaik!

Cuaca buruk akhir-akhir ini tentu saja sangat berpengaruh di gunung. Beberapa gunung ditutup dengan alasan keamanan, agar tidak ada pendakian karena hujan dan badai mampu menumbangkan pohon, menimbulkan kabut yang berakibat ke jarak pandang, dan membuat trek licin tentunya. Akhir tahun dengan musim penghujan bukanlah waktu yang cocok untuk melakukan pendakian, memang.

Di sisi lain, Latimojong kerap “memanggil-manggil” saya. Hati saya malah mengatakan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mendaki Latimojong! Seperti kata pepatah, mountain is calling and I must go (serius, saya kalau naik gunung nunggu “dipanggil” dulu).

Saya join dengan grup backpacker dari beberapa kota. Jumlah kami berduabelas. Menjelang hari H, akun-akun gunung di Instagram mulai memberitakan info-info bencana maupun kecelakaan. Seorang teman pendaki perempuan yang saya kenal bahkan dikabarkan meninggal di Gunung Binaiya, ia tertimpa batang pohon (atau ranting, entahlah simpang siur beritanya) tepat di kepalanya. Group WhatsApp dibuat, seorang teman di group rajin meng-update cuaca di Enrekang bersumber dari sanak familinya yang tinggal di sana, seorang lainnya rajin mengirimkan forecast cuaca Gunung Latimojong. Aduh, aduh, malah bikin panik!

Saya sengaja tiba lebih awal di Makassar untuk berkeliling, khususnya untuk berkunjung ke Perpustakaan Katakerja baca di sini. Namun ternyata Makassar diguyur hujan setiap hari, siang dan malam. Duhhhhhh!

Terus terang, baru kali ini saya deg-degan menjelang pendakian. Tidak mungkin dibatalkan karena semua telah dipersiapkan dan tiket sudah di tangan. Saat tiba di Makassar, saya kerap membatin ulang, apa saya mengundurkan diri dari tim dan batal mendaki saja ya? Tapi sudah kepalang. Terlalu mubazir.

Tidak henti-hentinya saya meminta restu kepada ibu untuk mendoakan agar Latimojong tidak hujan saat kami kunjungi. Kalau saja ibu saya melarang untuk pergi, maka saya tidak akan pergi. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, ia dengan mudah mengijinkan saya pergi kali ini. Pertanda yang bagus, batin saya. Saya berdoa tidak henti, selebihnya biar Tuhan yang mengatur.

Hari H tiba, pendakian kami berjumlah dua hari satu malam, lebih cepat dari pendakian pada umumnya yang tiga hari dua malam. Pendakian dimulai dari Desa Karangan, kami bermalam dulu di rumah kepala desa yang sampai pulang tidak saya ketahui seperti apa wajahnya ha..ha.. Flash tip: Biasanya akan disiapkan sarapan dengan menu sarden dan telur. Sebaiknya minta juga untuk dibungkuskan nasi sebagai bekal yang bisa dimakan di Pos 2.

Lagi-lagi jadi cewek sendiri

Awal Pendakian

Belanja-belanji dulu di Pasar Baraka. Di sini juga kami turun dari travel yang mengantar dari Makassar selama tujuh jam (sila hubungi saya untuk kontaknya). Kemudian lanjut naik Jeep hingga Desa Karangan. Terjadi perbaikan jalan dengan banyak traktor parkir di jalan yang sempit, sehingga kami harus turun Jeep dan lanjut berjalan kaki menuju Desa Karangan dengan jarak kurang lebih 2 km dan tanpa penerangan.

Kondisi Antar Pos

Gunung Latimojong memiliki total tujuh pos, tanpa pos bayangan. Agar lebih mudah, saya membuat intisari untuk mendeskripsikan kondisi pendakian antar pos Gunung Latimojong.

Pohon Kopi Latimojong. Kopi bisa dibeli di warga sekitar, harganya Rp.25.000/250 gram.

 

Pos 1 – Pos 2: Pendaki akan melewati pohon-pohon kopi dan akan mulai memasuki hutan. Trek lumayan vertikal. Duh, baru di awal saja sudah curam bagaimana di akhir? Ha…ha… Tapi nervous terbayar karena suasana indah Pos 2; goa & air terjun yang tidak tinggi tapi deras! Maksi (makan siang) dulu….

Pos 2 – Pos 3: Ini yang paling sulit (katanya). Jarang akar dengan kontur tanah merah dan licin, sehingga di beberapa titik terdapat rotan yang dapat dipegang sebagai bantuan (seperti Tanjakan Setan, Gunung Gede). Flash tip: sebaiknya siapkan tali webbing untuk membantu teman-teman rombongan, karena simpul rotan yang ada suatu waktu bisa saja terlepas atau putus.

Pos 3 – Pos 4: Sebenarnya tidak securam pos sebelumnya, namun terasa sangat menyiksa, mungkin karena tenaga kita sudah terkuras di pos sebelumnya. Kaki saya sendiri bergetar saat melalui pos ini karena kelelahan, ternyata saya nggak sendiri, Bang Anchu, teman yang jalan di depan saya, mengaku merasakan hal yang sama.

Pos 4 – Pos 5: Posisi sudah mulai tinggi, pemandangan Enrekang sudah dapat terlihat dari bibir hutan.  Hari sudah mulai gelap saat kami melalui trek ini.

Pos 5 – Pos 6: Adalah awal pos menuju summit kalau ingin bermalam di Pos 5. Jalur lumayan sempit dan tinggi.

Pos 6 – Pos 7: Pendaki akan menemukan Hutan Lumut yang fenomenal itu. Selanjutnya adalah batas vegetasi penghabisan hutan di pinggir jurang.

Pos 7 – Puncak Rante Mario: Ada enam bukit yang harus dilewati setelah tiba di padang rumput dengan batuan granit berwarna putih persis marmer. Ada juga jalur menuju Puncak Nenemori (Latimojong memiliki beberapa puncak, Puncak Rante Mario adalah yang paling tinggi).

 

Selalu lupa mau foto tenda. Ini juga foto seadanya punya Bang Andra (in frame: Bang Octa)

 

Rencana awalnya, kami berniat untuk mendirikan tenda dan bermalam di Pos 7, namun kondisi tim tidak memungkinkan sehingga kami pun bermalam di Pos 5. Basecamp Pos 5 enak, lahannya luas muat sekitar 15 tenda, banyak pohon sehingga mudah untuk menggunakan flysheet, juga ada sumber mata air yang meskipun jaraknya hanya 150 meter tapi trek lumayan bikin dengkul gemeter ha…ha…

Ingat apa yang saya khawatirkan di pendakian kali ini? Yak, hujan! Ajaibnya, selama pendakian tidak turun hujan sama sekali! Saya senang bukan kepalang. Barangkali itu juga berkat doa ibu yang tidak putus-putus. Saya selalu percaya kekuatan doa, karena menurut ajaran agama Islam, kan doa adalah senjata kaum muslimin *mendadak religius* *subhanallah*.

Saat di puncak memang kami terkena badai angin, tapi hujan yang kami rasakan pun hanya hujan kabut. Jadi, tidak bisa dihitung sebagai hujan. Seturunnya dari Rante Mario pun cuaca menjadi sangat-sangat-sangat cerah. Terlihat betapa cantiknya padang hijau di awal Pos 7, meskipun nggak secantik Cemoro Sewu, Gunung Lawu.

We made it!

 

Akhir Pendakian

Kami turun dari Pos 5 tepat jam 6 sore. Di akhir pendakian, tim akhirnya terpecah-pecah menjadi beberapa rombongan. Kekurangan dari pendakian bersama orang baru yang belum kamu kenal adalah ketidaksamaan ritme jalan. Bukan sombong, tapi bagi saya dan Bayu ritme jalan yang pelan dengan banyak berhenti itu lebih menguras energi apalagi saat turun gunung. Saya dan Bayu berniat untuk memisahkan diri dari tim di trek Pos 2 ke Pos 1, memang sudah terlalu terlambat, tapi kami mempertimbangkan letak basecamp yang masih jauh sementara saat itu sudah pukul 11 malam dengan kondisi perut yang kosong dan kaki sudah lelah. Kalau mau egois, bisa saja kami turun duluan sejak awal untuk memisahkan diri dan sudah tiba di basecamp jam 10 malam. Namun kami menghargai kebersamaan tim dan menjaga perasaan dua orang teman yang tidak fit saat itu. Tapi akhirnya, tenaga kami pun habis karena cara jalan yang dipilih menurut kami kurang efektif. Oleh karena itu, saya dan Bayu akhirnya meminta ijin untuk jalan duluan dan terpisah di Pos 2 ke Pos 1.

Bang Aryo sudah turun dari Pos 5 pukul 4 sore untuk mengabarkan Jeep yang kami pesan bahwa kepulangan diundur menjadi besok pagi, jadi dia pasti sudah sampai di basecamp. Tepat pukul 1 malam, saya dan Bayu tiba di basecamp, disambut oleh gongonggan para anjing piaraan yang dimiliki setiap rumah. Ramainya bukan main haha!

Sesuai prediksi kami, pasti akan ada bagian dari rombongan yang merasa lelah, bosan, lalu memutuskan untuk duluan. Terbukti, Bang Anchu dan Bang Ajieb menyusul kami setengah jam kemudian. Mereka pun ngebut karena diamanahkan untuk mencari ojek menjemput dua orang teman kami, atau tim SAR untuk evakuasi, atau apa sajalah (untungnya tim kami memiliki HT untuk berkomunikasi). Bagaimana mencari bantuan di malam selarut ini??? Akhirnya, sisa rombongan baru tiba di basecamp pada pukul 5 pagi saat saya sudah terlelap di balik hangatnya sleeping bag, jadi nggak lihat kapan mereka datang.

Ke simpulan, pendakian kali ini adalah yang paling tidak terorganisir selama yang pernah saya alami. Terlebih lagi soal makan, agak terkejut juga ending-nya jadi saya yang masak padahal beberapa orang membawa nesting dan kompor sendiri (nasib jadi cewek satu-satunya). Sebenarnya tidak apa-apa saya yang masak (maklum biasanya naik gunung malah cowok-cowok yang masak, jago-jago pula mereka), hanya saja semua akan lebih baik bila dipersiapkan sejak awal dengan matang, tau gitu saya sudah memikirkan dan menyiapkan menu dari rumah. Akibatnya, bahan makanan yang kami bawa sangat standar, bahkan berkali-kali tim masak mie. Duh…………… hari gini naik gunung masih makan mie? Baru kali ini naik gunung nggak makan enak hu…hu…. Padahal kan makanan jadi satu-satunya sumber energi untuk mendaki sehingga harusnya bisa memenuhi gizi dan nggak sembarangan. Hiks! Kangen tim yang biasa naik gunung bareng dan makan lezat!

Bang Rafif – Bang Aldy – Bang Ajieb – Bang Aryo – Bayu – Naya (urutan melingkar dari kiri)

 

Soal itinerary dan persiapan boleh mengecewakan, namun faktor alam untungnya berkata lain. Gunung Latimojong sangat baik! Cuaca sangat baik, tidak hujan tapi tidak panas! Tuhan sangat baik! Fixed, Latimojong menjadi salah satu gunung favorit saya. Alamnya indah, airnya banyak, goa yang cantik, hutan lumut, kebun kopi, Burung Anoa, semuanya! Saya nggak masalah untuk balik lagi ke Latimojong, terasa belum afdol karena belum mengunjungi puncak lainnya yang ada di Latimojong, pasti dari sana bisa melihat keindahan Enrekang dari sisi lainnya.

Terima kasih banyak, Latimojong! Terima kasih sudah menjadi penutup manis tahun 2017!