Browsing Tag

kangnong tangerang

31 In city/ traveling

Telaga Biru Cigaru: Wisata Alam Hits di Tangerang

Selain terkenal oleh wisata belanjanya seperti Summarecon Mall Serpong, Supermall Karawaci, hingga AEON Mall, Kabupaten Tangerang juga memiliki wisata alam yang wajib dikunjungi. Selain karena dekat dari ibu kota, umumnya juga murah meriah bahkan tidak dipungut biaya. Serius!

Jangan khawatir jika kamu tidak membawa kendaraan pribadi, karena telaga ini sangat mudah diakses dengan angkutan umum. Perjalanan dapat dimulai dari stasiun Tanah Abang. Pilih kereta jurusan Maja dan turunlah di stasiun Tigaraksa (Flash tip: Tanya lah petugas stasiun apakah kereta tersebut berhenti di stasiun Tigaraksa atau hanya sampai Parung Panjang, karena jika hanya sampai Parung Panjang maka kamu harus menyambung lagi ke Tigaraksa).

Kebetulan beberapa hari lalu ada teman dari luar kota yang sedang berkunjung ke Tangerang dan ingin berjalan-jalan. Sekalian saja saya ajak ke Telaga Biru Cigaru ini. Karena saya tinggal di Kabupaten Tangerang, saya hanya perlu naik kereta dari Stasiun Rawa Buntu. Kereta menuju Maja cukup lama dan jarang, sehingga dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam hingga tiba di Stasiun Tigaraksa. Jangan bayangkan stasiun ini sama seperti stasiun-stasiun lainnya yang modern dan terdapat minimart. Di Stasiun Tigaraksa hanya terdapat banyak warung-warung penjual makanan seperti soto, bakso, dll. Satu-satunya store hanya ada Roti O (Flash tip: Sebaiknya siapkan camilan karena di Stasiun  Tigaraksa tidak terdapat minimart A ataupun I ).

Selanjutnya, kamu bisa menggunakan ojek atau angkot. Pangkalan angkot terletak sekitar 300 meter dari stasiun. Dan ternyata di sana terdapat minimart (tentu saja sepasang, A dan I). Lumayan masuk buat ngadem, karena suhu di sana sangat panas dan lembab. Sampai-sampai saya bertanya ke pramuniaga, apakah terdapat pantai di daerah tersebut karena suhu dan hawanya persis seperti dekat laut karena setahu saya tidak ada. Dan memang mbak pramuniaga menjawab, tidak ada. Jadi, pastikan kamu menggunakan pakaian yang menyerap keringat dan tidak gerah. #FlashTip

Angkot berwarna putih-tosca dengan jurusan Balaraja – Adhyasa. Jangan takut akan salah naik angkot karena hanya ada satu jenis angkot dengan satu jurusan. Kamu bisa turun di pertigaan SMAN 08 Cisoka, adanya di sebelah kanan jalan. Patokannya? Jika kamu sudah melewati Grand Balaraja (di sebelah kiri jalan), berarti pertigaan SMAN 08 Cisoka tersebut sudah dekat #FlashTip. Tidak terdapat banyak petunjuk menuju Telaga Biru Cisoka. Saat saya pertama kali pergi ke Telaga Biru, saya benar-benar get lost karena SMA 08 Cisoka tersebut tidak ada di dalam peta!

Ongkos angkot untuk per orangnya Rp.7.000. Jangan sampai kamu terlihat seperti turis karena supir angkot bisa tidak memberikan kembalian jika jumlah uang tidak pas. Lebih baik tanya ke penumpang lainnya jika kamu ragu akan pertigaan SMAN 08 Cisoka yang dimaksud. Setelah turun di pertigaan tersebut akan ada pangkalan ojek yang menawarkan jasa. Saya memilih untuk menggunakan jasa ojek karena ini dapat memberikan pemasukan bagi warga sekitar. Hal ini tentu menjadi bentuk dukungan yang dapat meningkatkan produktivitas dan sumber penghasilan masyarakat setempat. Ojek ini akan mengantarkan kita hingga ke lokasi Telaga Biru. Dan menggunakan ojek jauh lebih mudah dan murah daripada membawa kendaraan pribadi jika ke Telaga Biru (Flash tip: Menuju Telaga Biru terdapat banyak pungutan liar, bahkan kamu bisa tiga kali membayar, satu-satunya cara agar terhindar dari pungli tersebut adalah menggunakan jasa ojek). Karena untuk kendaraan pribadi akan dikenakan biaya sebesar Rp.5.000 untuk motor dan Rp.20.000 untuk mobil. Dan setelah gerbang masih ada pos lagi yang mengharuskan kamu untuk membayar (kalau tidak salah untuk per orangnya dan kendaraan juga), belum lagi biaya parkir. Sedangkan jika naik ojek, kamu hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Rp.15.000 dan tidak ada biaya masuk wisata untuk per orangnya alias gratis! #FlashTip

Banyak juga yang akhirnya memilih berjalan kaki dari pintu gerbang agar tidak harus membayar. FYI, dari pertigaan SMAN 08 Cisoka hingga Telaga Biru kira-kira jaraknya 3 km bok! Letak gerbang Telaga Biru itu kira-kira di tengahnya, masih jauh dari lokasi telaga. Duh, terlalu nyiksa diri kalau mau jalan kaki di pinggir sawah dengan suhu seterik 32 derajat. Mending uangnya buat makan bakso di pinggir telaga nanti.

Jejeran warung di tepian tebing pasir Telaga Biru Cisoka

 

Telaga Biru Cisoka dulunya adalah galian pasir yang tidak beroperasi lagi sejak dua tahun lalu (pasir Cisoka terkenal sangat bagus dan dikirim ke mana-mana). Sehingga cekungan terbendung air hujan yang kemudian menjadi telaga. Namun uniknya telaga ini berwarna biru jernih. Sangat berbeda dengan danau alami yang terletak bersebelahan dengannya. Dan tidak hanya satu, total ada empat telaga biru yang tercipta). Seiring dengan terkenalnya Telaga Biru, muncul mitos-mitos yang berkembang, seperti adanya bidadari yang pernah datang ke telaga ini dan membuat air danaunya menjadi biru yang indah. Instagramable banget!

Danau Alami yang berwarna hijau

 

Danau buatan atau Telaga Biru Cisoka (terletak bersebelahan dengan Danau Alami)

 

Patung Banteng yang merupakan ikon dari PT. Badak Perkasa Group (perusahaan yang membuat galian pasir di wilayah tersebut)

Di telaga tersebut pengunjung dapat menikmati keindahan dengan menaiki sampan. Terdapat juga sepeda bebek di danau alami sebelahnya bila kamu ingin menikmati keindahan telaga dari sisi yang lain. Birunya Telaga Cisoka tersebut membuat saya tidak pernah menyesal untuk kembali lagi dan lagi ke sana.

Saya tiba jam sebelas dan sudah pulang pukul setengah dua karena tidak tahan cuaca yang sangat puanas. Karena tidak ada jam tutup di Telaga Biru, saya sarankan untuk berkunjung di pagi atau sore hari agar tidak terlalu panas. Apalagi jika sedang banyak angin, dijamin betah.

Ayo, berkunjung ke Telaga Biru Cisoka di Kabupaten Tangerang!

 

How to get there:

Alternatif 1
 
KRL Jakarta (Tanah Abang) – Tigaraksa: Rp.6.000
Angkot St. Tigaraksa – Pertigaan SMAN 08 Cisoka: Rp. 7.000
Ojek dari Pertigaan SMAN 08 Cisoka hingga Telaga Biru: Rp. 15.000

Tiket masuk per orangan: FREE jika menggunakan jasa ojek 😉

 

Alternatif 2

KRL Jakarta (Tanah Abang) – Tigaraksa: Rp.6.000
Ojek dari Stasiun Tigaraksa – Telaga Biru Cigarus Rp. 45.000

Tiket masuk per orangan: FREE jika menggunakan jasa ojek 😉

 

nb: bagi yang butuh kontak jasa ojek untuk ke Telaga Biru Cigaru atau ingin tanya apapun seputar telaga bisa reply di kolom komentar di bawah ini atau langsung email nayadini@icloud.com/line nayadini.

 

Salam,

Duta Pariwisata dan Budaya Kabupaten Tangerang 2016

0 In city/ traveling

Meramal Nasib di Klenteng Tjo Soe Kong

Sebagai seorang muslim, saya merasa perlu untuk mempelajari agama lain yang ada khususnya di Indonesia, tidak hanya mempelajari tentang Islam saja. Tidak pernah ada kata sia-sia untuk memperluas wawasan dan membuka pikiran. Bagi saya, semakin kita mempelajari tentang agama lain akan membuat kita semakin mengenal diri kita dan akan bertambah pula keislaman kita. Saya begitu bangga dan bahagia dengan adanya keberagaman agama di Indonesia. Saya sangat senang berkunjung ke tempat ibadah orang lain. Salah satu tempat ibadah yang baru-baru ini saya kunjungi adalah sebuah vihara yang terletak di Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten.

Terdapat berbagai relief dewa berjajar di dinding yang sangat menarik karena baru saja direnovasi

Klenteng Tjo Soe Kong adalah klenteng tertua di Tangerang. Tidak hanya untuk beribadah, klenteng ini juga kerap dikunjungi pengunjung lokal maupun asing untuk berwisata. Biasanya pemandu akan dengan sangat senang hati mendatangi wisatawan yang berkunjung dan menjelasksan sejarah maupun ornamen yang ada di klenteng. Nama Klenteng Tjo Soe Kong diambil dari nama seorang tabib yang hidup pada masa Dinasti Song, yang berasal dari Propinsi Hokkian. Sang tabib dikenal dengan sifatnya yang murah menolong masyarakat sekitar tanpa meminta imbalan apapun. Oleh karena itu, saat sang tabib wafat para masyarakat di Kecamatan Mauk berinisiatif untuk membangun sebuah klenteng sebagai sebuah klenteng sebagai sebuah persembahan dan untuk mengenang kebaikan tabib Tjo Soe Kong.

Sejarah selanjutnya dari vihara Tjo Soe Kong adalah terjadinya peristiwa besar pada tahun 1883. Meletusnya Gunung Krakatau menimbulkan potensi Tsunami yang meluluhlantahkan beberapa wilayah di Banten dan Sumatera, bahkan beberapa pulau di sekitar Krakatau menjadi lenyap. Mengutip dari www.djurnal.com bahwa peristiwa Tsunami tersebut merupakan salah satu yang terparah di dunia.

“Bencana tsunami ini terjadi pada tahun 1883 dan membunuh sekitar 36.000 orang. Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh letusan mencapai tinggi 40 meter dan menyapu setidaknya 165 desa di wilayah Jawa dan Sumatera. Letusan Krakataunya sendiri merupakan letusan gunung api yang terbesar dalam sejarah, menimbulkan suara yang begitu keras dan abu vulkanik yang bahkan tersebar hingga ke Australia.”

 

Klenteng ini luas sekali

Tjo Soe Kong merupakan saksi bisu sekaligus keajaiban pada peristiwa tsunami di Selat Sunda masa itu, karena meskipun letaknya di bibir pantai bangunannya tetap kokoh berdiri diterjang Tsunami, sementara sekitarnya hancur lebur. Latar belakang sejarah ini adalah salah satu alasan yang membuat para wisatawan tertarik untuk berkunjung ke Tjo Soe Kong.

Namun itu baru salah satunya, karena ada hal lain lagi yang sangat menarik bagi saya dari kunjungan ke klenteng Tjo Soe Kong, ialah meramal nasib. Saya tidak pernah percaya ramalan, tetapi sangat penasaran ingin mengetahui tata cara meramal di Tjo Soe Kong dan penasaran dengan jawaban yang akan keluar dalam bentuk kertas. Tata cara meramalnya adalah seperti ini, pengunjung harus memperkenalkan diri di dalam hati dari mulai nama, usia, dan mengutarakan permohonannya. Lalu melempar dua batu pipih setengah lingkaran yang ringan. Kondisi batu itu harus sama-sama terbuka atau tertutup, yang artinya permohonan disetujui oleh Dewa dan Dewa mau menjawab permohonan tersebut. Namun bila kedua batu memiliki posisi tidak sama, maka permohonan harus diganti.

 

Veronita sedang menggoyangkan silinder bambu berisi batang bambu pipih yang memiliki nomor-nomor

 

Saya ingat betul dengan permohonan yang saya cetuskan dalam hati. Namun setelah dilempar batu berlawanan posisi hingga tiga kali, kebetulan bapak pemandu saya saat itu adalah orang yang lucu dan menyenangkan. Menurut beliau, permohonan saya sepele dan atau seperti main-main, sehingga ditertawakan oleh Dewa, oleh sebab itu harus diganti. Akhirnya, saya ganti pertanyaannya dengan yang sangat berat, berkaitan dengan masa depan saya. Ajaib! Batu itu mengeluarkan posisi yang sama langsung di kali pertama saya melemparnya. Setelah itu pengunjung harus menggoyang-goyangkan tabung bambu berisi batang-batang bambu pipih yang sudah bertuliskan nomor-nomor. Satu batang bambu pipih yang keluar kemudian akan ditukar dengan kertas sesuai dengan nomor yang ada di batang bambu tadi. Kertas tersebut bertuliskan jawaban ramalan yang terdiri dari deretan kata-kata berbahasa tinggi menyerupai sajak, bisa positif ataupun negatif.

Hal ini tentu menjadi sangat menarik, karena akan muncul jawaban-jawaban yang mungkin saja di luar ekspektasi pengunjung. Salah satu teman perempuan saya menanyakan tentang masa depan percintaannya ketika diramal, ternyata kesimpulan dari jawaban yang ia dapatkan adalah bahwa suatu saat nanti ia akan ditemukan dengan bannyak pilihan dan memiliki potensi poliandri. Kami semua sontak menakut-nakuti sambil bergurau, karena menurut kami sebuah ramalan adalah tindakan untuk mengantisipasi masa depan, bukan sebuah kutukan yang harus kita terima mentah-mentah dan bukan juga sebuah takdir yang hanya bisa kita ratapi dengan pasrah. Semua kembali ke individu masing-masing. Bila terjadi kesamaan antara fakta di masa depan dengan hasil ramalan di masa lalu, bisa jadi orang tersebut tersugesti yang menguasai alam bawah sadar, sehingga ramalan itu menjadi kenyataan.

 

Akan ada seorang “penjaga” yang akan membantumu menerjemahkan ramalan nasib yang muncul

 

 

Terlepas dari percaya atau tidak, tidak ada salahnya dicoba karena jawaban dari ramalan di kertas tersebut sangat indah dan sulit dimengerti. Saya senang sekali membacanya berulang-ulang, karena terdengar mirip syair seperti di Timur Tengah. Ramalan ini mungkin bisa menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk berkunjung ke klenteng Tjo Soe Kong, karena jumlah pengunjung Tjoe Soe Kong makin berkurang tiap tahunnya. Saya sangat senang pernah berkunjung ke sana dan sangat ingin kembali untuk mengutarakan lagi pertanyaan-pertanyaan saya tentang apapun. Yuk, kunjungi klenteng Tjo Soe Kong, Tangerang!

 

How to get there:
– dari Stasiun Tangerang naik angkot R04 Psar Anyar – Sewan atau angkot R05 Psar Anyar – Jurumudi / Pasar Anyar – Cikokol, turun di Pintu Air
– sambung elf jurusan Pintu Air – Kampung Melayu. Turun di pasar Kampung Melayu, Teluk Naga
– sambung naik angkot jurusan Kampung Melayu – Pakuhaji – Tanjung Kait. Turun di Tanjung Kait
 
Salam, 
Hijabtraveller
0 In culinary/ hangout

Asagao Coffee House

Akhir-akhir ini jadi betah balik Tangerang karena makin banyak coffee shop yang cozy dan nyaman banget buat nulis. Well, #NayaTari adalah dua gadis doyan nulis yang juga doyan berburu warung kopi. Canggihnya teknologi dan munculnya akun-akun baik hati di sosial media amat membantu perburuan kami. Mudah saja, tinggal buka akun @eatintangerang di Instagram dan pilih tempat sesuai dengan yang diinginkan. Terima kasih banyak kepada penggagas akun @eatintangerang!

 

Instagramable corner

Pilihan kami jatuh kepada sebuah coffee shop yang fotonya sangat simpel dengan dominasi warna yang minimalis, namun memiliki daya tarik yang kuat karena keunikannnya. Asagao Coffee, sebuah coffee shop pertama di Indonesia yang mengusung tema Jepang, khususnya pada nama-nama kopinya.

Menu hanya ditulis di papan tulis, pengunjung bisa langsung memilih dari papan tersebut.

Meskipun mengusung tema import pada konsepnya, coffee shop ini memasang harga standar yang sama dengan warung ngopi pada umumnya. Ada dua signature coffee yang disuguhkan oleh Asagao, yaitu Korikohi, segelas balok-balok batu es yang terbuat dari kopi dan segelas susu murni siap tuang. Pengunjung dapat menentukan takaran susu yang dituang ke dalam gelas berisi balok es sesuai dengan selera. Selain itu, terdapat juga Kuniko. Sama seperti Korikohi minuman ini juga terdiri atas segelas susu (dengan porsi lebih banyak), tetapi telah lebih dulu dicampur dengan madu. Unsur kopinya didapatkan dari segelas espresso yang bisa dituangkan sesuai selera pengunjung. Minuman ini sangat cocok bagi pengunjung yang ingin minum kopi, tetapi tidak bisa atau tidak ingin mengonsumsi kopi dalam porsi banyak. Dapat terbayang perbedaannya ya?

Korikohi (kiri) dan Kuniko (kanan)

Enakan mana? Well, karena tidak bisa minum kopi pahit dan sangat suka susu saya memesan Kuniko, sedangkan Tari memesan Korikohi. Kuniko aman dan rasanya unik. Namun setelah cicip punya Tari, ternyata Korikohi nggak pahit. Enaaaaaaaak!!! *dying*

Sudut dari pintu masuk. Para pria yang sedang duduk itu adalah pemilik Asagao.

Interior Asagao didominasi warna abu-abu dan cokelat kayu. Berbeda dengan coffee shop pada umumnya yang biasa melukis dindingnya dengan quotes atau kata mutiara, di dinding Asagao terdapat mural yang menceritakan proses produksi kopi a la Asagao, sehingga seperti membentuk sebuah cerita yang runut.

Oh ya, di Asagao kamu akan menemukan beberapa ikon Brown dan Cony, dua karakter line yang menggemaskan. Selain boneka seperti foto di atas, wajah Brown dan Cony juga akan kamu temukan dalam bentuk kue, bersama dengan Totoro Cake alias kue yang menjadi khas Asagao (kembali lihat foto menu di atas! hihihi).


Beberapa hasil jepretan pengunjung, sepertinya. Efortlessly beautiful.

 

Pelayanan Asagao sangat menyenangkan, tidak mengusir secara halus pengunjung yang lama nongkrong di sana seperti di tempat lain he…he… Apalagi pengunjungnya berjenis seperti Naya dan Tari yang kalau sudah menulis bisa lupa waktu. Kami tiba di sana tidak lama setelah dibuka, lalu baru pulang sore harinya. Bahkan hingga pindah tempat tiga kali karena khawatir orang lain ingin merasakan duduk di tempat kami yang memang cocok banget buat foto-foto (kita anak baik, kan?).

Aktivitas yang kami lakukan adalah menulis naskah novel pribadi, proof reading, revisi, membahas next project, ngomongin buku, bahkan sempat live streaming juga bahas dunia kepenulisan dan novel #DearEllie karya Tari via Zeemi TV! (Bagi yang mau nonton bisa klik ikon zeemi di side bar sebelah kanan blog ini).

 
Muka puyeng revisi :’)

Di lantai dua Asagao ada butik yang waktu itu tutup, sepertinya design bajunya ready to wear dan simple, padahal niat hati mau main-main dan lihat koleksinya. Sejauh ini Asagao adalah tempat ngopi paling favorit menurut #NayaTari, apalagi Korikohi-nya. Kekurangan Asagao hanya satu, tidak adanya musola bagi pengunjung beragama muslim yang harus menunaikan ibadah sehari lima kali. Waitress meminta maaf kepada saya soal ini dan menawarkan untuk memakai ruang kosong di depan butik untuk solat. Sayangnya saya juga lupa membawa mukena, boro-boro sajadah. Untung saja ada kardus-kardus lebar di lantai dua tersebut yang bisa dijadikan alas untuk solat (semoga bersih). Over all, Asagao sangat recommended untuk dikunjungi. Sila mampir!

Sampai jumpa di perburuan coffee shop #NayaTari berikutnya 🙂

Asagao Coffee House
Ruko Graha Boulevard Blok A No.9, Gading Serpong
Mon – Thu, Sun: 10 am – 9 pm
Fri – Sat: 10 am – 10 pm
instagram: @asagao.coffee
facebook: www.facebook.com/asagao.coffee