0 In Kisah/ Kisah

Racau Pagi

Aku tak ingin membicarakan apa-apa yang ku tak ingin. Namun segalanya menjadi harus karena waktu berputar dan rasa makin terasah. Sementara aku masih bergetar membayangkan tubuhmu dijamah orang lain. Lebih luka lagi bila binar matamu terpancar sepaket dengan itu. Seharusnya senyumku yang melekat di bibirmu, juga dahiku yang rekat di punggung tanganmu sebagai bentuk lain dari sujud-sujud panjangku.

Aku mengaduh tiada sampai ke telingamu. Satu tahun rupanya masih belum cukup untuk memberi warna-warni baru di pucat langitku. Terkadang semua seperti tak nyata, tapi sering juga terlihat jelas seperti Dejavu. Ada kah aku tersisip di sela-sela ingatanmu? Pernah kah terlintas kilat mataku di antara tatap mata itu yang bertautan?

Sepagi ini aku meracau apa. Terlalu pagi untuk mengigau. Nampaknya aku harus kembali pergi tidur panjang agar tak terkenang. Sampai nanti saat aku tak lagi melihatmu di mana-mana.

 

di atas kereta Jakarta Kota, 09.18

 

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply