0 In Kisah/ Kisah

Pengorbanan dan Cinta

Bila apa yang kau berikan untuk cinta kau sebut sebagai pengorbanan, maka itu bukan cinta padamu. Sebab kepada cinta tak seharusnya kita perhitungan, mengharap balas dari apa-apa yang telah kita perjuangkan. Sejatinya cinta dibayar ikhlas, bukan hasrat menuntut balas.

Kau selalu tahu, begitu sulit bagiku keluar dari belenggu yang kerap menjadi rantai gerak-gerik itu. Aku tak pernah mencintai diriku sendiri karenanya. Pada mataku hanya terpancar gelap malam. Sajak-sajakku bercerita tentang ketakutan dan rasa benci. Namun kau yang bersikeras mengatakan bahwa aku jauh lebih baik dari segala kecemasan itu. Padang bunga dengan keindahan yang memekakan mata tak cukup untuk melukiskannya. “Kamu cantik dan kau hanya perlu percaya”, namun sayangnya aku begitu sulit untuk mampu percaya. Rasa cantik itu selalu berhasil kau persembahkan padaku entah bagaimana. Kau meyakinkanku lebih dari diriku sendiri, sama seperti aku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri.

Aku tak mau mengingat-ingat bagaimana aku cemas bukan main saat tahu kau jatuh sakit. Tak berlama-lama aku mengajukan ijin ke kantor, meninggalkan begitu banyak deadline dan abai akan pesan atasan, lalu bergegas menuju rumahmu tanpa ba-bi-bu. Berjam-jam kuhabiskan waktu untuk memasak makanan kesukaanmu, membereskan begitu berantakannya kamar itu, mencuci piring, melakukan banyak hal hingga terlupa makan seharian. Barangkali kepal tanganku berpengaruh pada suhu tubuhmu, sebab genggamanmu menghangat tak berapa lama kemudian. Peluhmu jatuh satu-satu menetes pada bantal. Kau menyuruhku pulang, namun aku tetap bertahan hingga malam ditelan fajar. Pagi harinya, sebuah hangat menguar dari punggungku. Sebuah selimut membungkus aku yang terduduk. Hangat lainnya kurasa sinar mentari yang berasal dari balkon kamarmu, tapi ternyata tidak. Hangat itu berasal dari tubuhku. Kau mendapati wajahku merah padam, aku hanya membalas tawa. Melihat kau sembuh karena aku yang merawatnya membuat aku menjadi paling cantik sedunia. Aku demam tinggi berhari-hari setelah itu.

Aku tak mau mengingat-ingat saat kubatalkan rencana terbang ke Amerika. Kau melarang atas alasan yang patut kupertimbangkan. Jangankan itu, apakah selama ini aku pernah menentang petuah dan tidak mengindahkan laranganmu? Nyatanya, aku selalu menurut dan itu membuatku merasa menjadi istimewa. Demikian mampu kubuktikan bahwa aku pengikut yang penurut dan setia. Kutitip napasku pada hidupmu.

Aku tak mau mengingat-ingat ketika aku mampu bersabar dengan tidak mendapatkan apa-apa di hari besarku, meski nyatanya telah kubatalkan segala janji. Kau harus bertugas ke luar kota dan aku bisa apa? Aku sabar menunggumu karena hari besarku tak akan menjadi besar bila tidak dirayakan bersamamu. Dengan bersabar, aku merasa menjadi kekasih yang berhati mulia. Sebab mencintaimu dibutuhkan kesabaran luar biasa.

Aku tak pernah mau mengingat-ingat saat kau bertanya, apa cita-cita terbesar dalam hidupku. Kukatakan dengan jelas, ialah menjadi ibu terbaik bagi anak-anakku kelak. Tidak ada yang lebih kuinginkan di dunia selain menjadi istri yang mampu menjadi nahkoda yang baik bagi suaminya, juga menyaksikan bagaimana anak-anakku kelak tumbuh cerdas dan menggemaskan. Jawaban itu kau balas dengan sebuah kecup di dahi. Hari itu menjadi hari spesial untuk kita, bulan dan tahun yang lebih spesial telah kita tentukan bersama. Kita akan segera merealisasikan segala mimpi-mimpi kita yang sejalan. Katamu, tak ada perempuan secantik aku dengan segala kelebihan dan kesempurnaan yang kumiliki. Kataku, sesungguhnya jelas dimiliki padaku begitu banyak kekurangan dan anggapan itu tentu saja berlebihan. Seperti biasanya kau selalu mampu membuatku kehilangan kata-kata untuk mendebat isi otakmu yang licik dan cerdas luar biasa, perempuan yang amat cantik pun tak akan ada apa-apanya bila tidak dimilikinya kepribadian seperti aku. Kau lebih cantik daripada yang paling cantik, bisikmu.

Balasan dan pembuktian apa yang kini bisa kudekap dari seorang kau? Engkau pergi tiba-tiba membawa serta kepercayaan diriku yang pernah kau hadiahkan. Meskipun karena disebabkan oleh banyak hal, berpisahnya kita membuat aku terjembab lagi dalam belenggu. Aku tak lebih cantik dari orang yang tak cantik sekalipun. Balas dari sikapmu seperti coreng di wajahku yang menjelaskan bahwa aku tak sepatutnya dicinta.

Bila apa yang kau berikan untuk cinta kau sebut sebagai pengorbanan, maka itu bukan cinta padamu. Sebab kepada cinta tak seharusnya kita perhitungan, mengharap balas dari apa-apa yang telah kita perjuangkan. Sejatinya cinta dibayar ikhlas, bukan hasrat menuntut balas.

Biar kukatakan bahwa aku telah berkorban untuk kau, maka itu bukan cinta padamu. Aku tak mencintaimu, ternyata. Mudah saja.

Barangkali aku bukan tak patut untuk dicinta dengan segala yang kupunya, aku hanya kebetulan mempersembahkannya ke salah pria. Mudah saja.

 

 

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply