0 In Kisah/ kisah/ Kisah

Pada Sepasang Mata

Bertahun-tahun aku bertahan menyimpan elegi tentang seseorang yang tak mau kuingat lagi di satu sudut rahasia. Aku selalu berharap seluruh yang pernah kulakukan akan luruh dan terabaikan. Namun, selalu gagal terlaksanakan. 

Perlahan, saat tak kukehendaki, muncul sebuah tanya yang membuat lega dalam benak tak dinyana. Bayang-bayang kelabu kian sirna di sawang. Butuh triliunan detik untuk aku bisa menerjemahkan konspirasi semesta, yang kala itu paradoks dengan warna langit berwarna nila — seolah sedang berkelahi dengan waktu sehingga lebam seluruh permukaannya. Kembali padamu, pria yang membuat kata-kata jadi tak berharga. Mulai saat itu, saat tatap kita beradu dan seribu kata membeku, batinku kerap menciptakan gema tanpa makna. Atau aku yang terlalu takut untuk dengan baik menyimpulkan maknanya. Berhari-hari setelahnya, kau menjelma poros yang menarik kesemua energi dan emosiku di saat yang sama.

Pada matamu, aku menemukan kisah-kisah bahagia dengan sosok diriku di dalamnya. Aku tak ingin besar kepala, namun matamu mencumbu isi kepalaku berkali-kali dan aku tahu dengan jelas kau sengaja melakukannya. Rasa cemburu muncul satu per satu, semisal saat seluruh waktumu dapat memiliki utuh dirimu sedangkan aku tidak. Juga saat mimpi-mimpimu merebut seluruh perhatianmu sehingga tak ada lagi tersisa untukku. Di antara cabang-cabang dari rencana yang kau punya, aku ingin ada namaku tertulis di salah satu dahannya. Rasa-rasanya, aku jadi tak mengenal diriku sendiri, dalam waktu teramat singkat ini aku begitu yakin ada potangan jiwaku kau miliki. Aku tidak paham bagaimana kau bisa terasa tak asing bagiku. Melihat sosokmu seperti melihat diriku sendiri, teramat aku mengenalinya, atau mungkin lebih tepatnya melihatmu seperti melihat seseorang yang selama ini bersemayam dalam mimpi dan doaku.

Tuan, adalah sebuah kegembiraan yang tenang, membayangkan kita menua bersama-sama dengan kesamaan yang kita punya.

 

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply