0 In kisah

Mimpimu, Mimpimu. Mimpiku, Mimpiku.

Ada satu kebiasaan tak wajar yang terlalu sering saya lakukan. Saya senang sekali berpikir. Namun terlalu banyak dan terlalu sering. Yang saya pikirkan melulu itu adalah diri saya sendiri. Seringkali saya merasa kebingungan dengan sesuatu di dalam diri saya sendiri dan jadi tidak mengenali sosok saya yang satu itu. Namun, sebenarnya, saya teramat mengenali diri saya sendiri.

Sementara, orang-orang di luar sana sibuk mendefinisikan saya. Saya di sini, kebingungan melakukannya. Terkadang saya kehilangan arah dan jalan yang saya lalui menjadi sangat gelap hingga tidak mampu melihat anggota tubuh saya sendiri. Yang saya tahu, saya harus terus berjalan ke manapun itu. Kalau pun harus jatuh ke lubang atau terperosok ke dalam kubangan, itu lebih baik daripada diam bertahan dan hanya berpikir tentang ini dan itu. Namun, saya amat menikmatinya. Berada dalam gelap yang panjang. Saya percaya lorong itu ada ujungnya. Penantian telah ada di sana.

Satu-satunya petunjuk adalah kata hati. Saya melakukan segalanya dengan kata hati. Entah mendapat bisik dari mana, kata hati katanya tahu yang terbaik. Saya mengikutinya. Orang-orang di luar sana masih sibuk mendefinisikan saya. Saya di sini, mantap mengikuti kata hati. Menurut mereka saya adalah bagian dari lelucon yang nyata, bagi saya, ini tentang hidup dan mati. Persetan dengan orang-orang itu, ini adalah hidup saya sendiri. Kalau saya harus mati, hanya saya yang mati, mereka tidak. Maka kalau saya bahagia adalah untuk diri saya sendiri, mereka pun tidak.

Yang saya tahu sejak dulu kala tentang diri saya adalah saya tidak pernah pandai jadi seorang pendusta. Saya tidak senang bertahan dalam sebuah keadaan di mana kita tidak bahagia melakukannya. Bagi saya itu adalah sebuah prositusi paling keji yang dilakukan manusia kepada diri sendiri. Hidup hanya sekali, untuk apa melakukan hal yang tidak kita senangi? Untuk apa badan kita melakukan hal yang bertentangan dengan bagaimana otak kita memikirkan dan hati kita merasakan? Bukankah itu sebuah pengkhianatan?

Saya tahu apa yang saya inginkan, maka saya paham apa yang saya butuhkan. Kebahagiaan tidak bisa dibeli, mimpi tidak bisa digadaikan. Kalau kau tidak bisa membantu mewujudkan mimpi orang lain, setidaknya berfokus saja pada dirimu apakah kau bahagia dengan segala yang kaupunya? Apakah kau punya mimpi? Atau jangan-jangan mimpimu telah kau gadaikan untuk hal fana semata.

Bagimu mimpimu, bagiku mimpiku.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply