0 In kisah

Menjumpamu Sekali Lagi

Aku benci untuk memimpikan hal-hal yang tak bisa kutentukan sendiri bagaimana hasilnya. Hanya berpangku pada doa yang tak kita ketahui parameternya bagaimana pantas terwujud. Senyummu dengan lancang muncul di hari-hariku dan menyapa tanpa jemu. Ingin aku abai, namun teduh auramu mengunci seluruh tubuhku, membuatku sesak sekaligus ingin kau selamatkan di saat bersamaan.

Suatu sore tanpa hujan, pesanmu menyambar kesadaranku serupa petir. Tidak, katamu. Kita tak sama. Kamu terlalu sempurna. Butuh waktu tiga puluh menit lamanya untuk mencerna kalimatmu. Atau lebih tepatnya untuk meyakini bahwa apa yang kubaca adalah benar atau mungkin kau hanya bercanda karena aku tau selera humormu buruk sekali. Pesanmu muncul sekali lagi, kali ini hanya memanggil namaku diakhiri tanda tanya, mungkin merasa bersalah.

Malam itu juga hatiku remuk dan berserak, akan sangat sulit menyatukannya seperti sedia kala karena tak akan ada kemungkinan kau menarik kalimatmu kembali, bagaimanapun kamu akan bertahan dengan apa yang kau percaya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa terhina karena dipuji.

Sebuah kebetulan memaksa kita untuk bertemu sekali lagi. Barangkali ini yang terakhir. Aku tidak mengerti bagaimana caranya untuk bersikap di hadapanmu nanti. Kemudian di ketibaanku, sosokmu terlihat dan langkahmu mendekat. Ada gelembung-gelembung yang menyumbat saluranku bernapas, merupakan akibat dari panik dan senang yang beriringan. Senang karena seperti apapun fakta berusaha menjelaskan, kamu tetap pernah menjadi bagian dari warna-warni hariku dulu.

Seperti yang sudah kuduga, tidak ada tegur sapa tercipta. Aku mencari cara untuk tetap berjarak dekat denganmu, dengan kewarasan yang sewajarnya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kau membaca, dan ekor mataku menangkap ekor matamu yang mengarah kepadaku. Lalu kau pangku pelipis dahi dengan kepal tangan kiri, disusul dengan tangan kanan untuk menutup seluruh pandangan mata agar tetap terfokus pada buku yang kau baca, karena mungkin kehadiranku mengggangu konsentrasimu sedemikian rupa. Entah akan berapa lama kita bertahan seperti ini. Kau bersikeras merasa tidak pantas untukku, sedangkan jauh di lubuk hatiku adalah aku yang merasa tidak pernah benar-benar kau inginkan.

Tulisan ini tidak memiliki akhir yang menyenangkan. Melainkan sebuah penyesalan atas pernyataan, untuk pertama kalinya selama 25 tahun hidup dan menjajal berpuluh pria, baru kali ini aku paham apa itu rasa cinta, sebuah kesimpulan yang kudapatkan setelah bergumam bahwa aku ingin menghadapi hidup bersamamu.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply