0 In Kisah

Masih Sama

Jariku berputar pada teh yang sebenarnya telah larut dengan gulanya. Aku hanya sengaja membuat suara di tengah keheningan ini, berusaha menghancurkan kikuk. 
“Apa kabarmu?”
Pertanyaan itu sebetulnya tak perlu. Kau jelas-jelas tahu, semua tak lagi sama setelah kepergianmu. Kuhela nafas berat tanpa suara yang terucap. Kedua tanganku masih sibuk bermain dengan secangkir teh yang hangatnya tak membantu cairnya suasana. 
“Aku masih sama seperti dulu,” masih mencintaimu.
Kini ganti ia yang menghela nafas panjang. Hela itu menyiratkan ada hal berat yang kau tahan. Seharusnya kini giliranku bertanya, ia jelas-jelas memberiku kesempatan. Namun aku memilih untuk bertingkah pura-pura lupa. Menanyakan kabarnya sama saja bertanya bagaimana kabar gadis barunya, seberapa bahagia ia sekarang, mungkin itu lebih tepatnya. Dan dadaku tak ingin kambuh lagi untuk merasakan sesaknya. Bulan berganti pun sesak itu masih terasa hebat. Menghisap seluruh amarah dan sedihku secara bersamaan. Namun tetap tak mengubah erasaanku.
“Mana Bunda?”
Tanyamu sadar mengapa tumben sekali Bunda tak muncul seperti biasanya, datang membawakan kue bikinannya yang terbaru, menyuruhmu mencicipinya, kemudian membawakan sedikit sebagai buah tangan saat kau beranjak pulang.
“Bunda marah padaku?” 
Kediamanku dapat kau baca dengan baik. Ya, siapapun akan marah bila ingat perlakuan jahatmu terhadapku. Sementara itu, aku masih diam bergeming. Tak sudi melihat kedua matamu yang teduh itu. Hanya akan membuatku melihat kenyataan yang tak indah, hanya akan membuatku menangis.
“Untuk apa kamu kesini?”
Akhirnya aku berani galak seolah tak menginginkan keberadaannya. Kau agak terkejut mendapati reaksiku. Tanganmu menelungkup ke ujung dagu dengan kokoh, tanda kau merasa bersalah. Aku sudah tahu terlalu banyak tentangmu. Bahkan mengenai hal-hal kecil yang tak pernah kau beritahu, mungkin juga tak pernah kau sadari. Aku bahkan masih ingat dengan baik, bagaimana caramu menggenggam jemariku hangat dengan iibu jari mengusap kuku-kuku kecilku. Aku terlampau mengenalmu.
“Aku ingin kita kembali seperti dulu,” ucapmu pelan.
“Maksudmu!? Kau ingin mempermainkanku lagi? Kau ingin menjadikanku sebagai selingkuhanmu?” tukasku malah dengan nada yang jauh lebih tinggi.
“Bukan begitu, aku ingin kita dekat lagi. Sebagai teman,” ucapmu meyakinkan.
Sebagai teman, hanya sebatas itu ternyata ia menghargaiku. Genggaman tangannya, panggilan sayang, puisi-puisi mesra, hanya perlakuan sebatas teman ternyata. Aku tak yakin apakah bisa melupakan semua itu dan mengenalnya sebagai sosok baru yang sama sekali belum kukenal. Aku tak yakin aku bisa melupakannya dengan baik selama ia masih ada di hadapanku. Aku tak yakin bisa menyudahi perasaan ini.

Tes…
Air mata itu entah sejak kapan terjatuh, mengalir di pipi dengan kedua bibirku yang terkatup menahan isak. Ia terperangah dan salah tingkah.
“Lebih baik sekarang kamu pulang, sebelum satpam rumahku ikut membencimu,”
Tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kubanting pintu dengna tergesa. Biar ia masih disana dan tak mau pergi, itu urusannya. Aku masih pusing menyelesaikan masalahku. Masalah tentang bagaimana caranya agar memaafkan kebodohanku sendiri. Mau dibodohinya, dulu.
“When I see your smile
and I know it’s not for me, 
that’s when I’ll miss you”
Unknown

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply