0 In kisah

Masih di Sana

Matahari berusaha menorobos masuk, ke dalam kepalaku. Berhasil kali ini setelah berkali-kali tak kupeduli.

Cahayanya kering dan menggugah. Berusaha memberi dengar bahwa iklim telah berganti. September datang meningkatkan kecemasan luar biasa. Dan kau anak muda, masih di sana. 
Hampir setahun sudah kau hanya duduk di sana. Menyaksikan, segala hal yang indah. Yang bukan milikmu. Merasa bangga. Pada yang bukan kauraih. 
Belanda, Malaysia, Australia, Britania Manchester, Jepang, Swiss, Cina, Cina lagi, lalu Cina, Korea, Korea, dan kemudian adalah Korea. Sementara kau masih di sana. Mengumpulkan bulir air mata. Buru-buru menghapusnya ketika ia datang lagi dan lagi. Menyembunyikannya dari siapa pun yang bahkan tak melihatmu. Berusaha menyembunyikannya dari dirimu sendiri. Kali ini mau berbohong apa lagi?
Usia tak muda. 17 hingga menginjak 22. Selama itu kau tengah bertarung dengan dirimu sendiri. Berusaha berdamai dengan apa yang datang tanpa permisi, tak pernah kauhendaki, kadang tak dengan benar berhasil kaulewati, kemudian kausesali. Lima tahun tak biasa. Lima tahun untuk selamanya. Setelah mati selalu menjadi jalan terbaik yang sepertinya dapat dipilih. Setelah gagal mengunjunginya berkali-kali.
Hari-hari menuju usia dua puluh tiga. Perang harus dituntaskan. Kau harus menjadi seperti pemuda seusiamu. Terlalu banyak berpikir tak hanya mampu mengubah muda di raut wajahmu, juga dapat mengambil hak-hakmu lainnya. Yang seharusnya kaudapat saat ini. Wajahmu tak semestinya menjadi lebih tua lagi. Sudah banyak bebannya. Terlalu banyak pahit yang kautahan di balik senyum yang kaupaksakan. Kerut-kerut di dahi seolah berjumlah sama dengan beban kehidupan. Semakin banyak kerutmu nanti. Tak dapat kau cantik lagi. Tak akan ada yang mempersuntingmu.
Mempersunting???
Bahkan begitu asing kata itu terdengar. Tak terbayang. Terlalu jauh hingga tak terbayang. Mungkin seseorang akan datang sebagai kunci dari kebahagiaan. Terdengar drama. Begitu lemah. Tak semestinya para gadis kecil diceriterakan dongeng putri yang demikian. Mereka harus bahagia dengan usahanya sendiri. Sebab menunggu tak menunjukkan kesungguhan. Doamu adalah ikhtiar, menunggu diijabahnya doa adalah malas-malasan. Selalu berikhtiar adalah menunggu yang paling benar. 
Jadi, kau akan ke mana? Sayapmu masih utuh, belum digunakan sama sekali. Namun malah rapuh. tak ada pilihan selain menjadikannya kuat. Janjimu menunggu, minta ditunaikan. Dunia luar menunggu. Eropa menunggu. Wannsee menunggu. Markus dan Johanna selalu menunggu. Kau tidak boleh. Kau harus berikhtiar. 
Kelak, mesti kausulap air mata itu jadi permata. 
Tuhan punya rencana.
Keluarlah dari peraduan, Puan. Kau tak sendiri. Kau selalu bersama dengan mimpi-mimpimu yang tersembunyi di balik kedua kelopak mata itu. Begitu banyak lipatannya. Yang menghias kedua matamu. Bukan kah mereka terlihat indah?

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply