1 In kisah

Kepada Waktu

Barangkali kali ini kita harus mengucap terima kasih pada waktu dan bukan menyalahkannya. Berkat waktu, kusediakan ruang paling lapang dalam hati dan benakku. Namamu berusaha menembus rumitnya pita-pita kusut kaset yang kudengar setiap hari. Sesekali hampir mencapai garis mimpi, seringnya gagal dan mengulang dari awal lagi.

Berjam-jam setelah itu, aku kembali duduk dengan daya seadanya. Sesekali aku terkapar. Dan rasa-rasanya lebih baik jika pipiku ditampar, bila cukup untuk mengakhiri segalanya. Di tengah kepasrahan itu, lagi-lagi muncul bayangmu. Kali ini ada rupa yang bisa kujelaskan dan tak lagi samar. Engkau menjelma menjadi cahaya yang bertahun-tahun dijanjikan Tuhan sebagai makna kata bahagia. Setidaknya, demikian aku melihatnya untuk saat ini.

Kaki-tanganku terikat rantai masa lalu. Otot dalam tubuhku dibelenggu peka dan rasa lelah jadi satu. Kau muncul tiba-tiba seperti tipu daya, seperti sihir yang memberdaya. Terkandung dalam jasadmu apa-apa yang tidak kusenangi, namun, Tuan, seribu sanggahan seolah tak berarti hanya karena satu alasan, rasa sayang. Namun, bukankah sayang tak pelak seperti api yang bisa padam? Terserah bagaimana kau ingin menjabarkannya, aku hanya sedang bersiap mengucap terima kasih kepada waktu tatkala aku kau selamatkan. Selalu menunggu waktu untuk kau selamatkan.

Sebentar, Nona, bukankah haram hukumnya bagimu berharap dan bergantung kepada orang lain?

Tidak. Aku tidak berharap dan bergantung kepada orang lain, melainkan kepada waktu.

 

You Might Also Like

1 Comment

  • Reply
    secret admirer
    December 10, 2017 at 9:04 am

    Pita kusut itu perlahan mulai terurai , rantai itu perlahan terlepas. Siapkah dirimu terbang bebas? Siapkah dirimu kuajak ketanah yg indah? πŸ™‚
    Semoga tuhan meng-amini doa dan harapan itu
    Mksr-tgr

  • Leave a Reply