0 In Kisah/ Kisah

Hanya Waktu

Selalu ada yang terasa kosong tiap kali aku membuka mata. Yang terbaca hanya gelap dan ketiadaan manusia. Juga selalu terasa hampa tiap kali aku memejam mata. Selalu bayangmu muncul di sana. Ada yang kurang dari kehidupanku. Kurang hadirmu.

Aku bertahan dengan tidak menerima siapapun yang mencoba untuk menapaki isi hatiku lebih jauh lagi. Kubangun pagar tinggi-tinggi mengurung hati dan egoku. Semua butuh waktu. Aku butuh waktu untuk tak lagi mencintai engkau. Seolah terlupa tentang perilaku-perilaku buruk yang pernah kau lakukan. Semua seolah termaafkan.

Kau menghilang dari duniaku. Meninggalkan aku begitu saja di tengah labirin gelap yang pada akhirnya hanya memuatku jatuh ke dalam lubang bernama rindu. Kau seperti tak pernah ada di dunia, kau bagai tak nyata. Namun rasa yang kau tinggalkan adalah satu-satunya bekas jejak yang tak fana. Pada awalnya kupikir mungkin ini baik. Semesta berusaha bekerjasama agar hidupku kembali sedia kala, seperti sebelum ada kau dan kita belum saling mengenal. Bukankah semua baik-baik saja? Namun sayangnya, menghilangnya kau tak membuatku lantas mudah untuk melupakanmu. Dan bahkan untuk menerima orang baru.

Setengah tahun berlalu dan aku masih akan terus menikmati betapa perihnya menanggung rindu yang tak akan mungkin terbayar temu. Sudah tidak ada kemungkinan-keungkinan yang berusaha kuciptakan untuk menghibur diriku sendiri agar bisa menjumpamu, atau lebih-lebih dipersatukannnya kita kembali. Kau tak akan pernah melakukannya, semua itu tidak akan pernah terjadi. Aku tak henti-hentinya gundah gulana, bertanya pada kau dalam benakku sendiri, “Apa yang sebenarnya ada di pikirmu tentangku dan semua ini?”.

Aku seolah tak mampu percaya bahwa kini kau bahagia. Seperti apa yang pernah terlontar dari kata-kata di mulutmu bahwa hanya aku yang dapat menghadiahkanmu begitu banyak bahagia dan cita-cinta. Bahkan dengan cara membodohiku, aku begitu mudahnya menerima. Seolah tak cukup, setelahnya kau hujam aku dengan luka yang sempurna. Dan mau kah kau tahu, sayang itu tak jua mau sirna. Aku masih mencintaimu dalam kesendirian dan traumaku.

Pagi ini, pagi-pagi sekali, aku terduduk di teras, menyisir rambut yang sudah rapi dengan jari sambil membaca buku ditemani secangkir kopi. Sebuah mobil menderu lalu berhenti tepat di depan rumah.

Seperti tersambar petir, kau muncul dari dalam sana. Melepas jaket dan bergeming menatapku. Demi Tuhan, tidak seharusnya aku mengkhayal lagi tentang kedatanganmu. Sudah pasti kau tidak akan pernah datang! Sudah pasti kau akan menikah dengan gadis lain dan teramat bahagia.

Aku tergesa berlari menuju kran air, membasuh muka, lalu menatap ke depan teras lagi. Demi Tuhan, kau nyata adanya! Itu kau!

Detik itu aku merasa air raksa menjalari seluruh aliran darahku. Terasa perih dan menyengat, membayangkan kau mengantar sebuah undangan. Untuk apa mengundangku? Masih kurang puas membuatku terluka dengan bahagia milik kalian berdua?

Kau mendekat. Demi Tuhan, kau mendekat!

Ingin rasanya aku menangis haru dan meluapkan semua rindu, namun auramu terasa asing, sehingga hal itu menjadi tabu. Aku bisa apa selain menatapmu lekat-lekat secara nyata, sebab selama ini kau hanya muncul dalam mimpi-mimpi semata. Persetan dengan luka apa yang akan kau ciptakan lagi setelah ini, bertemu kau sekali lagi terasa seperti mimpi.

“Ayra,” Dingin tanganmu mendarat di ujung dagu setelah menyisir panjang rambutku.

Sungguh, aku amat ingin berkata-kata. Berkata amat banyak. Mencaci maki kau kalau bisa, yang muncul tiba-tiba dan kini berani-beraninya menyentuhku setelah kau injak-injak harga diriku dengan mudahnya.

Tidak ada kata selanjutnya keluar dari mulutmu. Kau terbenam di pundakku, berguncang dengan tangis yang begitu tiba-tiba.

“Maaf…” lirih, kata itu hampir tidak terdengar kalau saja bibirmu yang basah air mata tidak menempel ke telingaku. Setelahnya, kau menangis lagi. Membenamkan wajahmu sedalam-dalamnya karena tak ingin aku melihat air mata itu.

Untuk pertama kalinya, aku melihat kau menitikkan air mata. Apa lagi ini?

Setelah beberapa lama akhirnya tak ada lagi sedu-sedan dari mulutmu. Kau mengeringkan muka, lalu bersimpuh di lututku dengan menggenggam kedua tanganku.

“Hanya kau, Ayra. Hanya kau yang bisa.”

Aku berusaha mencerna pepatahku. Semua butuh waktu. Apakah juga dengan luka? Bahwa tidak segala hal yang pernah menyakitimu tidak akan memberikan bahagia suatau saat kelak?

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply