0 In mountain/ traveling

Gunung Semeru: Komplek di Atap Jawa

Mendaki gunung saat ini tidak hanya menjadi hobi bagi saya, tetapi seperti napas yang saya butuhkan dan tak bisa ditunda. Kali ini giliran Semeru. Gunung tertinggi tanah Jawa. Tidak harus tinggi sebenarnya, udara segar bisa saya peroleh di mana saja selain di gunung. Namun pendakian kali ini memang pada awalnya diinisiasi seorang kenalan yang ending-nya malah dia sendiri yang membatalkan janji sementara tiket sudah kadung dibeli.

Pendakian di awal bukanya kembali Semeru (pendakian Semeru ditutup untuk beberapa lama dan baru dibuka per 1 Mei 2016), plus beriringan dengan long weekend yang benar-benar long. Dulu sekali saya sama sekali tidak tertarik mendaki Semeru, karena konon semenjak tersohor berkat film layar lebar beberapa waktu lalu gunung ini makin ramai dan kotor. Semangat untuk menapaki Mahameru itu sebenarnya makin surut kalau saja tidak disemangati oleh teman saya yang memang sudah lama mendamba Ranu Kumbolo. Namun pada akhirnya, saya justru malah bersyukur pada ketidaksengajaan itu. Semeru masuk ke dalam daftar gunung favorit seorang Naya. Everything happens for a reason, right? Flash tip: Mengunjungi Semeru lebih mudah dengan kereta daripada pesawat, karena letak bandara sangat jauh menuju basecamp.

Kami berangkat dari Stasiun Pasar Senen pada sore hari dengan kereta ekonomi Majapahit, lalu tiba di Stasiun Malang keesokan harinya pada pukul 11.00 siang. Letak basecamp dari stasiun cukup jauh dan harus menyambung angkutan berkali-kali, sehingga akan lebih mudah jika menyewa angkutan untuk sampai ke sana. Namun karena jumlah kami hanya berempat beberapa waktu sebelumnya Bayu mencari barengan melalui internet untuk sharing cost dari stasiun menuju basecamp Tumpang. Bertemulah kami dengan rombongan pendaki asal Semarang yang cowok semua berjumlah 8 orang. Kemudian sepanjang jalan terisi gelak tawa dengan jokes yang jawa banget. Flash tip: Gunakan hashtag #caribarengan di Instagram atau bisa di grup-grup pendakian di Facebook.

Windari – Alek – Bayu – Naya – Mas Wafa (satu dari sekian rombongan asas Semarang)

Butuh waktu kurang dari satu jam untuk bisa tiba di basecamp Tumpang. Ada yang berbeda di pendakian Gunung Semeru sekarang, registrasi pendakian dilakukan di Tumpang, bukan lagi di Ranupani. Hal tersebut mungkin diberlakukan untuk membuat prosedur registrasi yang kian ramai tetap kondusif. Flash tip: Bawa fotokopi identitas dan surat keterangan sehat dari dokter, jangan lupa dikopi 3 rangkap.

Basecamp Tumpang berbentuk barisan ruko. Selain ruko pendaftaran registrasi ada juga warung dan tempat penyewaan peralatan mendaki. Harganya bahkan lebih murah dari jasa penyewaan yang biasa saya gunakan di Jakarta. Kalau ada barang bawaan yang lupa kamu bawa, kamu bisa menyewa di sana. Dari mulai tenda, sleeping bag, matras, kompor & nesting, hingga sepatu gunung. Namun ini untuk urgent saja, kalau-kalau ada bawaanmu yang tertinggal di rumah. Sebaiknya tetap persiapkan seluruh barang bawaan dari rumah dengan matang. Takutnya stok item di penyewaan sedang kosong (untuk kontak untuk penyewaan mountaineering di basecamp Tumpang bisa tanya melalui Naya).

Prosedur registrasi pendakian Gunung Semeru ternyata semakin repot saat ini. Di basecamp Ranu Pani pendaki harus ikut briefing pendakian dari Taman Nasional kurang lebih setengah jam, di saat anggota tim berada di aula mengikuti briefing pendakian, ketua tim harus melaporkan butki pelaporan di basecamp Tumpang di tempat berbeda. Mengikuti briefing adalah wajib hukumnya. Briefing tidak dilaksanakan 24 jam, briefing kloter terakhir adalah pukul 05.00 sore. Pendaki yang ketinggalan briefing terakhir tidak boleh berangkat mendaki dan harus menunggu sampai keesokan harinya. Ketatnya prosesur pendakian Gunung Semeru ini diberlakukan karena jumlah pendaki Semeru semakin banyak dan jumlah korban hilang juga semakin banyak. Petugas dari TNBTS menjelaskan dengan detail korban-korban yang hilang dan selamat dari pendakian Gunung Semeru. Pada umunya mereka hilang di kawasan Blank 75, setelah summit puncak Mahameru.

Karena ketua tim kami sudah pernah mendaki Semeru sebelumnya, maka kami memutuskan untuk berangkat mendaki malam itu juga, atas ijin dari petugas TNBTS tentunya. Bismillah…..

Kami tiba di Ranu Kumbolo pukul 11.00 malam. Cuaca lumayan dingin sekalipun di sana ramai pendaki dan tenda sangat padat dan rapat. Ramainya Ranu Kumbolo hari itu baru terlihat saat pagi harinya. Kuota pengunjung Gunung Semeru hanya 500 orang per hari, tapi dengar-dengar dari porter jumlah pendaki Gunung Semeru pada libur panjang itu mencapai 3.000 orang banyaknya. Jika dilihat dari penuhnya Ranu Kumbolo saat itu saya sangat percaya kalau jumlah pendaki hari itu mencapai angka ribuan.

Ramainya Ranu Kumbolo

 

Film 5 cm yang tayang pada tahun 2013 lalu di bioskop benar-benar memberikan dampak yang dahsyat akan ramainya pendakian Gunung Semeru. Para pendahulu mungkin akan bersedih melihat Semeru yang sekarang, bahwa Ranu Kumbolo tak lagi suci, meskipun tidak ada lagi pendaki yang boleh berenang atas larangan pihak TNBTS. Di Danau Ranu Kumbolo banyak buih-buih sabun bekas mencuci muka, sikat gigi, atau bahkan mencuci peralatan masak dan makan. Seharusnya, aktifitas seperti itu dilakukan beberapa meter dari bibir danau, sehingga kotorannya tidak terbawa ke danau. Pendaki juga kerap kali melanggar batas larangan mendirikan tenda di tepi danau. Hal ini sangat tidak baik karena aktifitas pendaki akan berkontribusi terhadap kotornya danau.

Perumahan Semeru Indah :’)

 

Hal lain yang menyedihkan dari pendakian Gunung Semeru saat ini adalah banyaknya kotoran manusia di sepanjang jalur pendakian. Sebenarnya pihak TNBTS telah menyediakan toilet umum di dua sisi Ranu Kumbolo. Bentuknya adalah bilik-bilik berpintu dengan lubang di tengah bawah, tanpa WC dan air. Para pendaki yang ingin buang air harus membawa air di dalam botol. Namun, bukan hanya kotoran yang di buang ke lubang, tetapi botol-botol bekas air juga diikutsertakan. Sehingga lubang toilet menjadi kepenuhan dan isinya jadi…. huek! Saya saja nggak mau buang air di toilet tersebut, karena jorok dan bau minta ampun. Namun jika kamu tidak mau buang air di toilet umum tersebut seperti saya, hendaklah mencari lokasi yang aman dan jauh dari jalur pendakian. Pihak TNBTS juga telah mengajarkan tata cara untuk buang air (besar), ialah dengan menggali lubang. Dengan catatan jika kamu belum kebelet dan masih mampu membuat lubang. Buang air di jalur pendakian adalah cara yang sangat tidak pintar, tentu saja hal tersebut sangat merugikan pendaki yang akan lewat. Padahal, pihak TNBTS sudah mengimbau di saat briefing mengenai etika dan tata cara pendakian Gunung Semeru.

bersama Kakak Marcel. Lah bisa reunian di sini. Terakhir ketemu di konser Barasuara :’)

 

Pos selanjutnya yang kami tuju adalah Cemoro Kandang. Setelah melewati Tanjakan Cinta pendaki akan melalui Oro-oro Ombo, yaitu padang luas yang dipenuhi bunga berwarna ungu, Verbena Brasiliensis Vel. Tidak secantik penampakannya, bunga ini ternyata adalah tumbuhan parasit asal Amerika Selatan yang mengancam ekologis di sekitarnya dan menyerap banyak air, bahkan sempat menutupi permukaan air Ranu Pani. Banyak yang mengira bunga tersebut adalah lavender, sehingga beberapa waktu lalu bunga ini menjadi topik yang sangat ramai diperbincangkan di media sosial Intagram, karena muncul foto-foto pendaki yang memetik bunga ini dan dianggap merusak ekosistem dan tidak mencintai alam. Padahal, saat briefing pendaki sangat dipoerbolehkan untuk memetik bunga tersebut dan membawa pulang, dengan catatan tidak tercecer sembarangan karena VBV sangat mudah tumbuh dan mereproduksi diri secara seksual dengan memproduksi benih.

Saat saya ke Semeru, Oro-oro Ombo senang mekar-mekarnya

 

Jarak tempuh dari Ranu Kumbolo ke Pos Cemoro Kandang adalah 1,5 jam. Di pos ini kami beristirahat cukup lama sambil memandangi indahnya Oro-oro Ombo dan menikmati gorengan. Wait, gorengan? YES! Di pos ini ada warung yang menjual minum dan penganan seperti gorengan dan irisan buah semangka. Bahkan di Ranu Kumbolo ada ibu-ibu yang jual nasi bungkus keliling hihihi.


Tiga jam dari Cemoro Kandang kamu akan tiba di Pos berikutnya, yaitu Jambangan.

Artinya, Kalimati sudah dekat. Yeay! Kalimati tidak seramai Ranu Kumbolo, karena banyak pendaki yang datang hanya untuk menghabiskan waktu di Ranu Kumbolo. Tekstur tanah Kalimati adalahberpasir, karena sudah semakin dekat dengan puncak Mahameru yang teksturnya berpasir dan berbatu. Flash tip: Untuk mengambil air, kamu bisa ke Sumber Mani. Jaraknya tidak dekat, butuh satu jam bolak-balik ke sana. Karena berjalan menuju Sumber Mani lumayan menguras tenaga, banyak warga yang akhirnya berjualan air di Kalimati, dengan botol bekas air mineral berukuran 1,5 liter yang dihargai Rp.10.000-15.000 per botolnya. Semua bisa jadi uang di negara kita tercinta ini πŸ˜€

 

Bersantai di Kalimati

 

EITS ADA SIAPA TUCH!?

 

*zoom in*

 

Pendaki pink! Bentar lagi pasti jadi artis dan mask tivi hmmm

 

SUMMIT ATTACK!!!! Banyak pendaki yang sudah berangkat menuju puncak dari Kalimati pada pukul 11 malam. Kami saja baru tidur pada pukul 09.00 WIB. Oleh karena itu, kami baru berangkat pada pukul 2 malam, untuk menghindari kemacetan di jalur pendakian. Dibutuhkan waktu 5 jam untuk bisa tiba di puncak Mahameru. Sambil menunggu Windari dan Alek yang masih tertinggal di belakang, saya dan Bayu tidur di sisi jalur pendakian. Ngantuk beraaaat! Tidak terasa sampai fajar mulai menyingsing. Indahnya…..

Menuju Mahameru

Semeru merupakan gunung yang masih sangat aktif dan setiap 20 menit sekali mengeluarkan abu vulkanik dan pasir. Momen ini lah yang sangat ditunggu-tunggu oleh para pendaki di puncak, yaitu untuk berfoto dengan ledakan abu vulkanik tersebut. Saya nggak punya fotonya karena nggak banyak foto-foto di atas puncak. Saat briefing pendaki diimbau untuk tidak berada di puncak lebih dari jam sepuluh pagi, karena material yang dikeluarkan oleh Semeru akan membahayakan untuk manusia.

Bangun tidur kuterus summit

Sejauh ini, jalur puncak Semeru adalah yang paling saya sukai, karena teksturnya sangat tebal akan pasir meskipun berbatu. Tekstur tersebut sangat mempermudah untuk turun dengan cara moonwalk, jalan santai yang saking santainya bisa dengan tanpa melihat pijakan lagi. Banyak pendaki yang berlarian menuruni trek, hal tersebut bagi saya sangat mengganggu dan membahayakan pendaki di belakangnya karena akan menningglakan kepulan debu yang bisa masuk ke mata.

salam WG

Setibanya di Kalimati kami lebih dulu tidur siang sebelum kembali bermalam di Ranu Kumbolo. Nenda di Ranu Kumbolo nggak cukup sekali pokoknya.

Ranu Kumbolo

 

Ranu Kumbolo benar-benar seindah yang diceritakan para pendulu, mencipta syahdu dan meninggalkan bekas dalam hati para pendaki, Tanjakan Cinta dengan mitosnya yang masih dipercaya banyak orang, Oro-oro Ombo dengan Verbena ungu yang sedang cantik-cantiknya beraksi sebagai parasit, lalu Mahameru yang gagah dan indah jadi satu. Pendakian kali ini berjalan serapi yang diharapkan. Agenda berjalan sesuai dengan itinerary yang telah disusun, durasi pendakian yang sesuai dengan ekspektasi, logistik yang cukup, dan puncak yang sempat dicicipi. Aku akan kembali, wahai sang Mahameru yang gagah!

 

 

Salam,

Indie traveler

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply