2 In Kisah

Getback

Aku duduk di Getback Coffee yang ternyata tak begitu ramai di akhir pekan. Di sepulang kerja setiap Senin hingga Jumat justru tempat ini lebih banyak pengunjung. Biasanya ada banyak remaja berseragam putih abu-abu yang datang untuk berteduh dari terik matahari atau untuk foto-foto dengan mirrorless yang entah apakah selalu dibawa ke sekolah setiap harinya. Coffee shop itu terletak di sebelah SMA swasta yang cukup bonafit. Ukurannya terbilang sempit memang, tapi aku terlanjur nyaman untuk berpindah tempat ngopi. Mbak Ririn (seniorku di kantor yang gila ngopi) selalu saja memaksaku untuk mau menemaninya mampir di coffee shop populer yang ada di lobi gedung kantor kami.

Hari ini hari Minggu dan aku datang ke Getback. Beberapa menit yang lalu Yondi baru saja pamit beranjak dari kursi di depanku. Aku belum bergerak sedikitpun setelah mengatakan “hati-hati” kepadanya dan memberi senyum sebisaku. Pada kenyataannya, aku mematung meski pikiranku berlari-lari ke masa lalu. Aku benci harus mengatakan ini, tapi lagu Benci untuk Mencinta dari Naif dengan lancang bersuara dari speaker di sudut-sudut atas cafe. Seolah sengaja menyindirku atau bahkan hanya ingin memperburuk benakku yang berkecamuk.

Detik itu, aku menemukan diriku seperti terseret arus dalam hitungan detik. Kemudian terjerembab ke dalam kesedihan yang begitu pilu. Percakapan dengan Yondi terekam begitu jelas, aku ingat betul bagaimana ia tidak tahu harus memulai dari mana hingga Espresso di gelasnya sudah habis.

“Emm… gue hargai keberanian lo buat datang malam ini, padahal kita belum saling kenal.”

Yondi akhirnya angkat suara. Dari caranya bersikap, aku jelas melihat bahwa ia sangat berusaha untuk hati-hati, bahkan terkesan kikuk.

“Tapi gue kenal elo kok. Demas banyak cerita soal lo,” aku tersenyum, merasa sedikit takjub ketika bibirku bisa dengan santai dan wajar mengecap nama itu, “dulu.”

“Maksud gue ngajak ketemu malam ini adalah…..” Yondi menatapku lekat, sambil berusaha melanjutkan kalimatnya. “…demi Demas.”

Ia hanya ingin memastikan bahwa aku akan baik-baik saja ketika ia atau siapapun menyebutkan nama itu di hadapanku. Saat itu memang aku baik-baik saja. Demas hanyalah sebuah nama, sama seperti Yondi, Hesti, Agus, Budi, atau Ani, entah siapa mereka aku hanya asal sebut. Aku baik-baik saja dan Yondi seperti tidak percaya bahwa aku sudah baik-baik saja.

Selalu ada jeda cukup panjang ketika Yondi akan mulai bicara. Di saat itu aku selalu mengisi waktu dengan memutar sedotan di segelas Iced Matcha yang sebenarnya tak perlu diaduk. Hanya untuk mencari kesibukan atau membuat Yondi lebih rileks dengan tidak menatapnya sebagai aksi dari menunggu kata-katanya yang tak kunjung meluncur.

“Gue bingung harus mulai dari mana.” aku Yondi kemudian.

“Elo nggak perlu cerita kalau memang nggak bisa, anyway.”

Nope. Gue harus ceritain ini.”

Okay, then. Langsung ke poinnya juga nggak apa-apa. Just take it easy, gue orangnya santai kok.”

Yondi menarik gulungan baju di lengannya yang sedikit turun. Lalu menghela napas perlahan.

“Gue bener-bener nggak tahu kapan kalian putus. Tiba-tiba muncul notifikasi di facebook kalau Demas jadian sama cewek lain. Jujur, gue shock saat itu.”

Menarik. Yondi sudah lebih santai sekarang.

“Kenapa? Bukannya lo memang biasa jadi tempat curhat dia? Dia nggak pernah cerita soal rencana untuk putusin gue?” tanyaku dengan nada sedatar mungkin. Seolah tidak begitu tertarik dengan pembicaraan ini, meskipun diam-diam aku membatin bahwa akan ada pembicaraan yang seru malam ini dengan Yondi. Seru yang kumaksud adalah sesuatu yang berbeda, yang mungkin saja tidak pernah kuduga. Bagiku cerita bersama Demas hanyalah bagian dari kenangan yang pernah mewarnai hari-hariku, sama seperti kenangan-kenangan lainnya. Tidak ada bumbu-bumbu perasaan yang bagaimana saat kisah itu harus tergali kembali. Atau kasarnya, bagiku Demas sudah lama mati dan mengharapkannya menjadi milikku lagi adalah menyalahi kehendak Tuhan.

“Nggak pernah. Gue shock karena tau-tau dia jadian dengan orang lain. Secepat itu.”

Aku tertawa.

Say thanks to his bae dong. Kalau nggak karena ceweknya nge-tag di FB, elo mungkin nggak bakal tahu kalau dia udah putus sama gue dan jadian sama cewek itu.”

Yondi tidak terlihat sama sekali ingin tertawa. Jelas ia bisa menerjemahkan tawaku adalah sebuah sarkasme yang tak lucu. Humor yang tak berguyon. Ia mengangguk setuju, Yondi adalah teman Demas sejak kecil. Tentu ia tahu bagaimana seorang Demas selalu menjaga hal privasinya terlebih lagi di sosial media. Menulis status hubungan di facebook adalah salah satu contoh keajaiban yang seperti tidak akan pernah mungkin dilakukannya.

“Permasalahannya, dia jadian dengan cewek itu setelah putus sama lo atau sebelum.”

Kali ini aku hanya tersenyum.

“Elo yang lebih kenal siapa Demas.”

“Udah gue duga.” Yondi menghempaskan pundaknya ke sofa. Satu tahun lalu saat aku dan Demas sering berkunjung ke kafe ini sepulang kuliah ia sangat senang duduk di situ. Tapi dulu belum sofa, masih kursi dengan bantalan busa yang empuk meski tegak. Bantalan busa itu ditutup tenun berwarna merah dan stripe kuning.

“Udah? Itu aja?” maksudku, apakah hanya itu yang ingin ditanyakan Yondi dari pertemuan malam ini denganku. Namun Yondi langsung menggeleng dan duduk tegak kembali.

“Bukan. Ada yang lebih penting yang mau gue omongin.”

Aku mengangguk. Kali ini benar-benar memasang tampang menunggu.

“Beberapa hari lalu Demas kirim SMS ke gue, pakai nomor baru.”

Aku tidak tahu kalau Demas ganti nomor dan memang tidak perlu tahu. Apakah ia ganti nomor untuk mencegah aku menghubungi dia? Siapa bilang aku mau menghubunginya?

“Dia nyuruh gue ke rumahnya. Terus terang, kita memang udah lama banget nggak pernah ketemu. Terakhir waktu lo mau wisuda, gue nemenin dia ke florist.”

Aku memutar bola mata, “Kalian udah nggak ketemu seteahun?”

Yondi mengangguk. Selanjutnya ia bercerita bahwa Demas merasa tertekan menjalin hubungan dengan pacarnya saat ini. Saat Yondi menceritakan bahwa HP Demas disita oleh pacarnya sungguh aku ingin tertawa. Namun wajah Yondi sangat serius dan iba, aku urung untuk mengajaknya bercanda.

Jika ada istilah untuk yang lebih parah dari over-protektif, istilah itu akan sangat tepat untuk menggambarkan bagaimana sikap (sebut saja Mawar, aku lupa namanya dan tidak mau ingat) Mawar kepada Demas. Yondi mengatakan demikian. Bahkan kata yang keluar dari mulut Yondi saat itu adalah “freak“. Pacarnya Demas adalah seorang freak.

Pertemuan gue malam itu dengan Demas berakhir dengan lesu. Gue nggak yakin Demas nangis depan gue karena itu anak paling anti mengeluarkan air mata. Tapi gue kenal siapa Demas.”

Aku yakin tidak salah dengar, saat Yondi mengatakan,

“Demas bilang, gue kangen Alya. Demas kangen elo, Al.”

 Sehalus mungkin aku berusaha menahan untuk tidak terkejut. After all this time dan semua yang sudah dia lakukan kepadaku, sekarang dia dengan mudahnya mengumbar rindu?

“Gue rasa bukan karena ceweknya begitu lalu dia membandingkannya dengan lo dan akhirnya merasa menyesal,” gelas kedua Yondi diantar waitress, “tapi ya itu bisa jadi salah satu faktornya.”

Kedua mataku menatap tajam kepada Yondi, menunggu ia mengklarifikasi kalimatnya.

“Maksud gue, ketika dia meninggalkan lo dan memilih cewek itu pasti dia berekspektasi bahwa cewek itu adalah sosok yang lebih baik atau lebih cocok buat masa depannya, bukan? Nyatanya, enggak sama sekali. Demas patut menyesal buat itu.”

Tidak ada kata yang benar-benar ingin aku ungkapkan. Jauh di dalam hatiku ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Setahun berlalu semenjak aku memantapkan hati untuk membuang jauh-jauh semua memori tentang Demas ternyata tidak menjadi jaminan bahwa semua sudah selesai. Perasaanku belum selesai.

“Gue nggak tahu apakah lo udah punya pacar lagi atau bahkan udah tunangan. Sebelum gue ngajak lo ketemu malam ini gue berusaha cari informasi, setidaknya lo belum menikah. Gue nggak mau jadi perusak rumah tangga orang.”

Semakin Yondi menceritakan tentang inti dari pertemuan ini justru aku merasa semakin tidak ada gunanya. Harus kukemanakan harga diriku untuk seorang Demas yang tidak tahu malu? Namun ada yang berkata lain. Ada suara kecil yang muncul dari benakku yang mengulang-ulang nama itu dan menarik seluruh emosi dan memori besertanya.

Semua orang menuduh kalau status kesendirianku ini adalah karena masih ada nama Demas baik di hati maupun pikiranku. Aku tidak pernah mau menanggapinya serius, karena tuduhan itu bisa jadi benar adanya. Seperti candu, kesalahan Demas yang seberat apapun selalu termaafkan bagiku. Dan aku membayangkan betapa hancurnya ia kini, setelah kehilangan pekerjaan dan usaha yang bangkrut karena terlalu banyak menuruti keinginan Mawar yang bukannya membantu untuk lebih maju malah mempersulit keadaan. Aku kenal bagaimana Demas. Aku tahu dengan baik apa saja yang harus kulakukan saat Demas menghadapi masa-masa sulitnya.

“Demas butuh lo, Al. Please maafin dan kasih dia kesempatan.”

Demas pernah berkata, bahwa bersamaku dia menjadi berani untuk bermimpi banyak hal, karena semua mimpi-mimpi itu terasa realis dan mungkin untuk dicapai. Orang-orang terdekatnya juga tidak segan memujiku karena merasa Demas mengalami banyak perubahan sikap maupun habit ke arah yang lebih baik. Dari hal terkecil sekalipun, yaitu penampilan. Berpasangan dengan Demas benar-benar memunculkan sifat keibuanku. Bahkan untuk urusan baju saja ia memintaku untuk menyetrika. Mamanya berkali-kali melarangku untuk tidak terlalu melayani kemanjaan Demas. Setiap Demas dimarahi mamanya soal itu aku malah tertawa, sebab aku melakukan apapun untuk Demas dengan sama sekali tidak merasa terbebani.

Membayangkan Demas hancur membuat aku ikut hancur. Yang muncul adalah rasa kesal karena bersama gadis itu justru Demas menjadi berantakan. Jika Demas menjadi lebih baik bersamanya daripada denganku tentu saja aku ikhlas.

“Demas nggak tau kalau kita ketemuan malam ini. Tapi gue yakin dia akan cari tahu tentang lo.”
Itu kalimat penutup dari Yondi sebelum dia berpamitan. Ia sukses membuatku kacau malam ini. Yondi berhasil menguak rindu yang selama dua belas bulan lamanya telah kuabaikan. Ia juga berhasil membuat aku berharap muncul notifikasi dari Demas di ponselku.

Anganku melaju. Membayangkan kami akan duduk bersama lagi di Getback Coffee.

You Might Also Like

2 Comments

  • Reply
    perdana
    September 27, 2016 at 10:31 am

    ditunggu kelanjutannya nay

  • Reply
    Nayadini
    October 3, 2016 at 3:09 am

    wah mohon maaf tidak ada kelanjutannya karena ini hanya cerpen hehe

  • Leave a Reply