0 In kisah/ social

For Free

Seleksi tahap dua Youth Adventure & Youth Leaders Forum 2015 telah usai dilaksanakan selama dua hari. Bahagianya rasa hati setelah seluruh persiapan yang kami lakukan selama berbulan lamanya telah selesai. Namun ada satu kalimat yang terus terngiang di telinga saya dari salah satu peserta seleksi tadi siang, “Ngapain sih kalian mau capek-capek jadi volunteer kayak gini?”

Hmm……. capek? Banget. Tapi belum pernah saya kepikiran omongan peserta yang kritis itu. Benar juga. Kebanyakan dari kami mungkin tidak pernah memikirkan kenapa kami mau merelakan tenaga, waktu, dan uang untuk menjadi seorang volunteer. Sama seperti peserta yang penuh perjuangan untuk tiba di lokasi seleksi, terbang jauh-jauh dari Bali dan setelah selesai seleksi langsung menuju bandara untuk kembali ke Bali lagi, atau daerah mana pun yang amat jauh di Indonesia. Volunteer pun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan untuk acara, lebih tepatnya peserta. Saya percaya, menjadi panitia acara adalah sebuah keputusan, tetapi menjadi volunteer sebuah acara adalah pengabdian.

Untuk mengurus Youth Adventure & Youth Leaders Forum 2015, saya harus menginap di rumah tante yang ada di Jakarta, tepatnya di kawasan cempaka putih. Jelas jauh dari lokasi acara, tapi hanya rumah tante satu-satunya tempat saudara yang bisa ditumpangi. Hal itu lebih baik karena berangkat dari rumah saya di Tangerang dan harus tiba di Kemenpora, Senayan jam enam pagi adalah hal yang tidak mungkin. Barang bawaan saya banyak sekali, karena saya diamanahan untuk menjadi MC mengatur jalannya acara selama dua hari seleksi. Saya membawa sepatu high heels, blazer, kemeja, peralatan mandi, peralatan solat, laptop, dan lain-lain.

Meskipun sama-sama di Jakarta Pusat ternyata jarak dari Cempaka Putih ke Senayan jauh sekali. Naik Trans Jakarta harus dua kali transit, naik angkutan umum lainnya harus tiga kali sambung, sedangkan panitia harus tiba di tempat pagi sekali. Maka tidak ada pilihan lain selain naik taxi. Pagi itu lembar lima puluh ribu terakhir di dompetku terbang melayang dengan mudahnya. Bagi seorang fresh graduate yang belum memiliki penghasilan tetap setiap lembar uang di dompet adalah berharga. Satu-satunya yang terpikir hari itu adalah bagaimana caranya aku pulang nanti.

Benar saja, malam hari aku bermaksud menghemat pengeluaran dengan menebeng taxi bersama-sama dengan yang lain, agar ongkos yang keluar jadi patungan. Kami berhenti di stasiun cawang dan aku memutuskan untuk naik bis ke arah Rawasari. Seingatku ada bis ke arah sana, tapi sampai setengah jam lebih kutunggu bis itu tidak datang juga. Nurul memutuskan untuk pulang duluan karena kost-nya dikunci pada jam sepuluh malam, sedangkan ini sudah lewat jam sepuluh. Nuzul dan Soni memaksa untuk menungguku sampai mendapatkan bis yang dimaksud, meskipun sudah berkali-kali kukatakan bahwa aku tidak apa-apa ditinggal dan hafal dengan seluk-beluk Jakarta. Sudah hampir satu jam bis itu tidak datang juga, pikirku jangan-jangan bisnya sudah tidak ada jam karena ini sudah terlalu malam. Ujung-ujungnya, aku naik taxi juga. Dan ongkosnya benar-benar lima puluh ribu rupiah. Jika ditambah ongkos taxi patungan tadi berarti total ongkosnya malah jadi enam puluh ribu. Uang yang baru aku ambil dari ATM langsung hilang lagi. Aku lemas menatapi lembar lima puluh ribu terakhir untuk ongkos esok hari.

Hari selanjutnya adalah hari minggu. Kawasan Sudirman pasti ditutup oleh aktivitas car free day. Aku tidak tahu harus lewat mana dan naik apa. Maka aku tidak punya pilihan lain selain memanggil taxi. Sengaja kupilih taxi selain biru agar ongkos lebih murah, tapi ternyata sama saja. Belum lagi ongkos taxinya. Aku sudah cemas sekaligus deg-degan memerhatikan argo yang terus berjalan sekencang laju taxi di dalam tol. Memang sih kami tiba di lokasi tepat waktu, hanya lima belas menit saja dari waktu yang seharusnya satu setengah jam perjalanan. Namun ongkos yang tertera di mesin argo luar biasa: Rp. 79.900 + tol = Rp. 88.000. Uangku kurang!!!!! Aku panik seketika. Sesungguhnya ada mesin ATM BRI di depan Kemenpora, tapi yang jadi masalah adalah saldoku kosong. Badanku panas dingin, sambil tangan sibuk menggali-gali isi tas yang sebenarnya tidak penuh. Detik itu aku berusaha berpikir sejuta cara untuk membayar taxi, tapi justru tidak satu pun ada ide muncul di kepalaku. Di tengah aktivitas menggali-gali palsu itu aku menemukan sebuah harapan. Ada kantong berisi uang perbendaharaan online shop yang sedang kurintis. Ada lembar seratus ribu di sana. Ya Tuhan….. rasanya ingin aku sujud syukur di dalam taxi saat itu juga. Segera kuberikan lembar itu tanpa tambahan. Lalu meluncur ke lokasi acara dengan tepat waktu. Dan jeng…jeng….. tidak satu pun panitia sudah sampai. Perjuanganku untuk tiba di lokasi tepat waktu jadi sia-sia sudah…………………

Aku benar-benar tidak punya uang lagi. Hanya tinggal selembar sepuluh ribu di kantong yang sudah kucal dan tidak memiliki rupa. Makan siang tadi aku pun berhutang pada salah satu panitia, akan kubayar segera setelah ada pemasukan dari kas online shop. Untuk menghemat biaya aku memutuskan untuk ikut teman-teman yang naik kereta, sebelumnya kami nebeng mobil Bang Az sambil rapat-rapat kecil membahas persiapan acara YA & YLF 2015. Kami diberi tumpangan sampai stasiun Sudirman. Aku turut serta, meskipun rumah tante jauh dari stasiun. Tapi setidaknya aku tahu stasiun terdekat dan tahu rute untuk menymbung angkutan umum setelahnya. Aku transit di stasiun Manggarai dan naik kereta lain ke arah Jakarta Kota, lalu turun di stasiun pertama yaitu Cikini. Saat itu jam di tangan sudah menunjukkan pukul 22.30. Tidak menyangka sudah satu setengah jam perjalanan dari Kemenpora dan aku belum juga sampai di rumah. Setelah cukup jauh berjalan dari stasiun ke Cikini, kutunggu Kopaja atau Metromini yang seharusnya lewat, tetapi jalanan sepi sekali, tidak ada satu pun bis yang lewat. Aku sudah deg-degan. Jika malam kemarin aku masih punya harapan untuk memilih taxi setelah tidak kunjung mendapatkan bis yang ditunggu, maka malam ini aku tidak punya pilihan. Beberapa pria yang luntang-lantung di sekitar halte membuatku tidak nyaman karena sahut-menyahut menggoda,

“Assalamu’alaikum, cantik.”,

“Capek banget kayaknya, sayang?”,

“Neng, bis udah nggak ada, abang anter ya,”.

Makin tidak beres sahutan itu. Aku segera berlalu menuju keramaian. Tidak ada pilihan lain selain berjalan kaki menuju Salemba. Walaupun badanku terasa sudah remuk sekali setelah dua hari mengurus acara seleksi, ditambah sedang menstruasi hari pertama yang berimplikasi badanku jadi linu dan nyeri semua, makin parahnya lagi aku rabun senja hingga aku tidak mampu melihat dengan jelas. Kondisi jalan di depan Metropole yang biasanya macet kali ini sepi dan gelap. Tiba-tiba saat ingin melalui jembatan di bawah pohon-pohon besar suasana mendadak jadi mencekam. Tidak ada orang lain yang juga berjalan kaki di depan atau pun di belakangku. Aku tidak mampu melihat dengan baik ke depan. Terbayang isu begal yang sedang marak terjadi di tengah malam di jalanan yang sepi seperti ini.Β Kuputuskan untuk berhenti di dekat pohon agar tidak terlihat siapa pun, lalu menunggu siapa pun yang lewat. Untungnya, tidak lama kemudian ada seorang mahasiswa sebayaku muncul dari belakang, ia juga berjalan kaki. Seperti dia adalah anak UI Salemba yang berjalan mengarah ke Salemba juga. Aku segera mengekor langkahnya yang tergesa. Tidak terlalu dekat, tapi tidak terlalu jauh. Kami melewati RSCM, YAI UPI, lalu akhirnya UI Salemba. Mahasiswa itu sudah jalan jauh di depan. Jalanan sudah ramai jadi aku sudah merasa aman sekarang. Buru-buru kuseberangi jalan raya saat lampu merah, di situ aku merasa tubuhku melayang sudah, tenagaku sudah hampir habis.

Untuk berapa lama kutunggu angkot 04 arah Rawasari, tapi jalanan sepi. Tidak ada yang lewat. Aku mulai panik. Kuputuskan untuk mampir ke Seven Eleven untuk membeli pembalut sambil terus menatap ke jalan. Tetapi tidak juga ada 04 yang lewat. Tiba-tiba ada sebuah angkot yang lewat ke arah Rawasari, tapi sepertinya bapak itu tidak sedang menunggu penumpang. Segera kudekati Bapak itu dan bertanya mau ke arah mana. Dia bilang mau pulang ke arah Rawasari. Memang rejekiku. Aku meminta ijin untuk ikut dan segera melompat ke dalam, tanpa lagi peduli bila si Bapak ini punya niatan jahat akan membawaku sesukanya. Aku percayakan diriku sepenuhnya. Setelah hampir terkantuk-kantuk, tepat pukul sebelas malam, akhirnya aku tiba di depan gerbang perumahan mlik tante. Rasanya terharu, mungkin ini berlebihan tapi aku benar-benar merasa sedih yang bahagia. Akhirnya setelah perjuangan panjang, aku tiba dan bisa istirahat juga.

Dua hari yang melelahkan sekaligus membahagiakan. Aku sudah punya jawaban atas pertanyaan kritis salah satu peserta itu. Kenapa aku mau bersusah-susah menjadi volunteer tanpa dibayar? Karena dengan melakukannya membuatku bahagia dan merasa berguna. Itu saja.

Untuk para volunteer lain di luar sana, teruslah jalani yang kauyakini. Aku yakin para volunteer di luar sana memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Suatu hari nanti perjuangan kita akan menjadi cerita yang membanggakan. Setiap perjuangan akan berbuah pelajaran.

Keep writing, keep sharing!

Nayadini.

 

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply