0 In kisah

Doa Ibu

….di antara harapan yang terbang tinggi di udara, 
di balik nyata yang terasa amat menyiksa

Demi mutiara-mutiara yang bersemayam di lautan hatiku. Kuingin kalian hadir sebagai penyembuh luka.
Aku sedang berdoa. Tentang masa yang akan datang entah berapa tahun lagi. Di dalam doa itu, terselip berulang-ulang kata, Nak. Ternyata, aku sedang bermimpi, membayangkan, dan mengandaikan, suatu saat nanti akan datang, saat aku akhirnya mejadi seorang ibu dari entah berapa anak. Berapapaun itu, aku tetap seorang ibu.
Sebelumnya, aku tidak pernah bermimpi menikah. Sungguh tidak berani meski sekali saja terlintas di pikiranku aku bersanding di pelaminan bersama seseorang. Tapi aku selalu bermimpi setiap malamnya, untuk jadi seorang ibu. Mimpiku, semulia itu. Kurasa tak ada yang salah dengan impianku. Suatu saat nanti, ketika anakku sudah besar dan mengerti, akan kuberitahu mereka: “Nak, kau tahu apa mimpi terbesar ibu? Adalah menjadi ibu untuk kalian. Berkat kalian akhirnya aku bisa menjadi seorang ibu,”
Designer, penyiar, jurnalis, sutradara, begitu banyak cita-citaku. Tapi diluar itu semua, tak ada yang lebih membahagiakan selain menjadi seorang ibu. Cita-cita terbesar yang kudambakan. Pekerjaan-pekerjaan itu akan kukorbankan, bila sebagai gantinya aku bisa menjadi seorang ibu. Dengan senang hati, aku pilih kalian, anak-anakku.

Anak-anak selalu membawa keceriaan bagiku. Kehadiran mereka tentunya akan selalu menjadi penawar yang amat menyenangkan. Obat paling manis. Tak kan ada lagi kesedihan yang menggerogoti hari-hariku, tiada akan pernah aku merasa tidak berarti hidup di dunia ini. Putra-putriku akan selalu menanti kedatanganku, menyambut, dan tidak membiarkan jauh dari mereka. Di saat itu, akhirnya aku memiliki rumah yang sebenarnya. Dimana aku akan selalu ingin pulang. Ya, akhirnya aku akan merasakan nyaman dan selalu ingin pulang. Mencumbu putra-putriku yang kubanggakan.
Aku tak ingin meninggalkan kalian bekerja. Aku tak akan membuang waktu berhargaku dengan pulang ke rumah saat kalian telah terlelap dan pergi lagi ketika kalian belum bangun. Aku tak akan membiarkan kalian kelaparan dengan makanan-makanan cepat saji di kulkas. Aku tak akan membiarkan kalian merasakan kesepian dan lebih mencintai bibi pengasuh. Aku ibumu, Nak. Akan kupertaruhkan jiwa-ragaku. Kutinggalkan pekerjaanku bila perlu. Ibu hanya tidak ingin kehilangan kalian. Harapan ibu untuk bisa bertahan hidup. 

Bagaimanapun keadaan kita nanti, ibu ingin terus berada di samping kalian. Membacakan sekadar cerita sebelum kalian tidur, memeluk kalian di tengah hujan dan badai, menemani kalian belajar dengan cara menyenangkan, memberi kalian makanan terbaik, bahkan mendengar cerita kalian tentang cinta pertama di sekolah. Semua akan ibu dengarkan dengan seksama, tanpa lupa dengan membelai rambutmu di usia berapapun kamu nanti. Ibu tak akan membiarkan kalian merasa sendiri sedetikpun. 

Anak-anakku, ini hanya sebuah doa yang kubisikkan setiap malamnya, setiap sujudku, setiap air mata yang jatuh di sela ibadahku. Kalian harus tahu, betapa ibu sangat mencintai kalian semua. Sekarang ibu lelah, ibu ingin memiliki sebuah keluarga yang sesungguhnya, tapi ibu bersabar. Ibu bertahan hidup dengan menunggu kalian datang. Lalu menghiasi hari-hari ibu, memberi arti keluarga untuk ibu.
Anak-anakku, ibumu ini amat pemimpi. Bahkan ibu berani bermimpi tinggi-tinggi. Tapi percayalah, tak ada mimpi yang sehebat ini. Mimpi terbesar ibu, yaitu memiliki kalian. Jika suatu saat nanti ibu melakukan kealahn pada kalian, tegur ibu, Na. Ibu harus merasa menyesal. Kalian pantas mendapatkan maaf dari ibu yang juga hanya manusia. Namun, di saat kalian sedang marah dengan ibu suatu saat nanti, bacalah surat ini. Maka kaian akan tahu, dalam keadaan apapun, kalian senakal apapun, ibu akan tetap mencintai kaian. Kau lihat sendiri kan? Bahkan ibu telah mencintai kalian jauh dari sebelum kalian lahir. Dari sebelum air susu ibu mengalir di darahmu. Dari sebelum ibu dan ayah kalian bertemu.
Tentang ayah, anak-anakku. Siapapun dia nanti. Ibu selalu menginginkan ayah yang terbaik untuk kalian, anak-anak terbaiku. Kalian baik, tentu harus punya ayah yang sama baiknya. Kalian hebat, tentu dibaliknya ada seorang ayah yang hebat. Doakan ya, Nak. Suatu saat nanti saat kalian baca surat ini, ibu masih bersama ayah. Masih menjadi orang tua kalian. Ibu akan sangat membenci ayah kalau dia berani menginggalkan kalian, anak-anak kebanggaan ibu. Kecuali, bila Tuhan yang mengambil ayah. Itu diluar kehenak ibu, Nak. Maafkan ibu.Bagaimana pun keadaannya nanti, siapapun ayahmu, kalian harus tetap yakin, bahwa ibu selalu menginginkan yang terbaik untuk kalian. Dan ibu akan selalu ada untuk kalian, mutiara-mutiara yang sudah sejak lama bersarang dalam lautan hati ibu.
Semoga berama ayah, kita bisa menjadi sebuah keuarga paling bahagia di dunia, Nak. Itu mimpi terbesar ibu lainnya.
Salam kangen penuh cinta,
Ibu

“There is no strongest love,
but mother has”
Unknown

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply