6 In kisah/ social

dari Jejak lalu Luka

Lama tidak memberi warna di blog ini. Saya pikir, setelah lulus kuliah dan memasuki masa (belum) mencari kerja akan menjadi masa-masa paling produktif untuk menulis blog. Ternyata nggak juga. Niat untuk ikut serta #30harimenulissuratcinta yang dimaksudkan agar blog ini menjadi padat berisi juga ternyata hanya menjadi sebatas niat saja. Ke”istiqomah”an itu sudah luluh-lantak di hari kedua kedua dari 30 hari yang disyaratkan ha..ha..ha…
Meskipun sulit meulis blog, alhamdulillah saya tetap menulis (selain menulis racauan berbentuk puisi di akun twitter @Nayadini). Produktifitas menulis saya larikan ke dalam bentuk cerpen proyek-proyek @thesocwriters, meskipun lebih sering maksain orang-orang buat ikutan nulis cerpen sih daripada dirinya sendiri nulis. Well, proyek TSW (biasa kami sebut begitu) yang saat ini sedang digarap ada dua buku, yang pertama antologi berjudul Jejak dan yang kedua berjudul Luka dengan tema tindak kekerasan terhadap perempuan. Jika selama ini saya sering menjelaskan tentang asal-muasal gerakan The Social Writers, kali ini saya akan menjelaskan lebih banyak tentang asal-muasal pemilihan dan perjalanan kedua tema tersebut (tema pertama dulu ya!).

Kedua tema tersebut muncul bersamaan pada akhir bulan Februari 2014. Tepat saat saya terpikir ide untuk melahirkan sebuah gerakan sosial dalam bidang penulisan, called The Social Writers. Antologi Jejak adalah sebuah antologi bertema traveling, berawal dari adventuring yang saya lakukan dalam sebuah rangkaian acara Youth Adventure & Youth Leaders Forum 2014 (info selengkapnya kunjungi www.g-mb.org). Perjalanan dilakukan tiga hari dua malam dari Jogja ke Solo (harus mampir ke Purworejo dan Brebes dulu untuk melakukan kegiatan berbagi) dengan hanya uang seratus ribu rupiah. Kebayang nggak sih mau berbagi apa dengan uang hanya seratus ribu, yang buat diri sendiri aja belum tentu cukup? Tapi di situlah saya menemukan hikmah dari Adventure ini. Mungkin juga dirasakan oleh 46 peserta lainnya. Perjalanan selama tiga hari itu membuat saya belajar banyak hal. Yang membuat traveling itu berarti bukan lah destinasi, melainkan peristiwa yang dilalui selama di perjalanan itu sendiri. Kebanyakan kita mungkin hanya melihat foto-foto dari tempat tujuan traveling seseorang, padahal bisa saja pengalaman di perjalanan yang lebih berarti bagi mereka dan itu tidak bisa atau tidak pernah mereka bagi. Oleh karena itu, antologi Jejak ini hadir untuk secara tidak langsung menjelaskan, bahwa proses adalah hal terpenting dari setiap perjalanan. Bahwa ada kisah di setiap langkah yang tercipta.

Saya masih ingat, teman pertama yang saya ajak untuk bergabung di proyek menulis ini adalah Nda (begitu ia ingin disebut). Seorang alumni Jurusan Ilmu Perpustakaan UI angkatan 2006, which is kami satu almamater. Semua cewek yang suka traveling pasti iri sama sosok Ananda Rasulia, saya  lebih tepatnya. Karena Nda menjalani hidup dengan apa yang selama ini saya impikan: makan, jalan-jalan, jajan dibayar. Traveling adalah hobinya, sekaligus mata pencahariannya. OMFG, Nda kerja di sebuah majalah traveling yang ada di Indonesia *nangis kejer di pojokan*. Kebanyakan donatur cerpen yang bergabung di TSW sudah memiliki karyanya sendiri, salah satunya Nda. Bukunya berjudul Pretend ia terbtkan secara self-publishing via nulisbuku.com.

Ada banyak penulis hebat lainnya di TSW selain Nda. Dan tentu saja butuh perjuangan ekstra keras untuk menemukan, mengajak, membujuk, melobi, dan akhirnya mendapatkan donasi cerpen :’) Proses pengumpulan cerpen seharusnya berakhir pada bulan Juni 2014. Target 13 donatur sudah ada di dalam list, tetapi mendekati deadline kebanyakan malah berguguran. Maka deadline pengumpulan cerpen otomatis harus diundur, yang berarti pencetakan kedua buku juga harus diundur. Deadline berkali-kali mundur dan diperpanjang. Hingga Februari 2015 donasi TSW akhirnya genap berjumlah 15 cerpen. Yep, lima belas! Melebihi ekspektasi. Namun ada satu hal yang mengganjal di hati. Saya merasa amat berdosa pada Nda, sebagai donatur cerpen yang paling pertama. Semacam bawa kabur karya orang tanpa royalti hu…hu… You have to read this deepest sorry, Nda. Padahal mungkin aja Nda nggak mikir buruk apa-apa, mengingat dia adalah orang yang woles abis dan pemaaf *perez*.

Kendala dari pengumpulan cerpen adalah itu tadi: tidak adanya komitmen dari calon pendonor. Kalau ada yang bantu, kami senang. Kalau orang tidak jadi bantu, kami bisa apa? Gerakan ini adalah gerakan sosial, yang mana semua dilakukan secara sukarela tanpa paksaan. Maka, kami hanya bisa move on dan mencari mangsa lainnya. 

Saat ini kedua tema sudah memasuki tahap layouting dan ilustrasi cover. Saya tidak pernah sesemangat dan senyaman ini berada dalam sebuah organisasi. Karena ini adalah passion saya dan kunci suksesnya terletak pada keberadaan kedua founder lainnya, Kak Sifa dan Kak Septi. Sebuah gerakan yang bagus hanya dihasilkan oleh tim yang baik. Rencananya, kedua buku sudah siap dicetak pada bulan Maret. I really can’t wait! Buku akan dicetak sendri dan dijual juga secara mandiri. Agar royalti yang disumbangkan nantinya bisa memiliki jumlah yang lumayan.

That’s all. I’m signing out. Bubuy!!


Keep writing, keep sharing πŸ˜‰

Nayadini

You Might Also Like

6 Comments

  • Reply
    Fandhy Achmad Romadhon
    March 14, 2015 at 1:41 pm

    Ayoo mbak nulis lagi πŸ˜€ keep writting keep sharing X)

  • Reply
    Lapak Medan
    March 14, 2015 at 1:51 pm

    keep writting keep sharing mbak, cerita nya seru kak..

  • Reply
    Fikri Maulana
    March 14, 2015 at 11:07 pm

    Semoga bukunya cepet diterbitin πŸ™‚

  • Reply
    Nayadini
    March 15, 2015 at 1:59 am

    Halo, salam kenal! Ayok juga writing dan sharing. Makin ramai, makin asik! πŸ™‚

  • Reply
    Nayadini
    March 15, 2015 at 2:00 am

    Terima kasih banyak. Semoga bermanfaat. Keep writing and sharing ya πŸ™‚

  • Reply
    Nayadini
    March 15, 2015 at 2:01 am

    Amin, terima kasih banyak doanya. Nanti beli ya ^^

  • Leave a Reply