0 In Kisah

Cinta Melemahkan

Dulu aku hidup hanya dengan sebelah hati. Compang-camping. Kini kau melengkapi setengahnya. Setelah itu aku tak bisa bertahan hidup jika bagian hatiku berkurang lagi.
Alasan mendasar aku takut jatuh cinta, selain takut sakit, aku juga takut menjadi lemah. Dan terbukti, hal kedua tersebut sudah kurasakan. Aku merasa diriku kuat, saking egoisnya, sehingga tidak pernah mau bertahan lama-lama saat merasa susah. Namun kalau yang menjadi alasanku menjadi lemah adalah kamu, aku bisa apa. 
Ketika berada di dekatmu, aku bukan mati rasa. Ini lebih parah dari itu. Aku bahkan, buta rasa. Jika berada di sampingmu, dalam semua keadaan, kondisi terburuk pun, yang terbaca hanya keindahan. Senang dan menyenangkan. Cinta cukup menjadi tema kita. Cinta dengan sempurna menjelaskan keanehan itu. Tapi aku merindu diriku yang dulu, bukan yang lemah tanpa kamu. Tapi aku yang kuat meski dipaksakan. 
Entah kau atau cinta yang telah melemahkanku. Saking lemahnya, marah saja aku sudah tidak sanggup. Pula kau terlalu baik untuk kubenci. Ya, aku pernah merasa ingin marah padamu. Kemarahanku yang kau anggap sepele dan tidak penting. Tapi aku bergeming, bukan peristiwanya yang membuatku marah. Andai kau masih sedikit menggunakan perasaanmu untuk berpikir kali ini, aku marah atas sikapmu.
Kau juga membuatku sedih. Aku sedih atas kelemahanku yang bahkan marah saja tidak bisa. Aku sedih atas sikapmu yang ‘Wow, bsia-bisanya memperlakukanku begitu’. Itukah sosok aslimu? Yang mana yang benar? Yang manis dan menyentuh hati, atau yang satu lagi? Yang menyakitkan dan tak mau kuingat lagi. Waktui itu, lahir rasa kecewa sebesar badai dalam dadaku tentang sikapmu. Kupikir, akan ada tanggapan lain, yang jauh lebih menyenangkan dan mencerminkan siapa kamu. Ternyata salah, aku salah telah berharap jauh.
Bukan itu saja. Aku juga sedih mengapa kau tidak mengerti apa yang kurasakan tentang sesutu. Sadarkah dirimu bahwa kau sangat egois? Selama ini kau memperlakukanku sesuai dengan apa yang mau kau perlakukan dan menurutmu apa yang kuinginkan. Tapi sayangnya, bukan apa yang aku butuhkan. Kau memberikan segalnya dalam jumlah besar tak terhitung, dalam bentuk indah yang tak terbayangkan. Padahal, aku hanya berharap kau akan melakukan sesuai apa yang kubutuhkan, yang sesederhana itu. 
Kemarahanku, mau tau kemarahanku?
Hargailah dulu nilai-nilai yang kujunjung tinggi sebelum berani mengumbar kata cinta.

Sincerely,
Me.
The one that sometimes hates your kind-attitude, and the one that loves you so many much.

“No man is worth your tears, 
but once you find one that is,
he won’t make you cry
unknown

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply