Browsing Category

Kisah

0 In Kisah/ kisah/ Kisah

Pernah

Pernahkah kamu merasa genap memiliki segalanya malah membuatmu merasa kosong tidak memiliki apa-apa?

 

Saat di mana kamu tersadar bahwa lelah dari kakimu yang berlari ternyata tidak berpindah ke manapun, tidak menuju kepada apapun. Hanya membuat dirinya lelah dan membuat dirimu hampir putus asa. Kanal yang dijanjikan tak jua kau temukan. Membawamu pada pertanyaan menghakimi yang menimbulkan benci terhadap apa itu mimpi. Dan hari-hari dalam hidupmu hanya terasa seperti sebuah pengulangan panik dalam kisah yang sering kautampik.

Ingin kutemukan di mana saja yang dapat menjualkan jiwanya pada selembar tubuhku. Agar bernyawa dan setiap engsel belulang tak hanya seperti dipaksa untuk menjalankan apa yang tak pernah dikehendakinya. Usia berlari kepada Jingga, tapi ketidaktahuan masih saja menjadi nama. Aku hanya tahu luka kian nganga kian nyata setelah di tungku baka, mengutip kata Adimas saat kutanya soal Mantra Tubuhmu.

Seolah aku dilahirkan oleh nyala api, atau beku suhu Antartika. Tidak kurasakan perih apapun saat darah tumpah menghujani masa lalu kita. Atau pula rasa bahagia yang dapat membuka mata. Sejumlah sabda hilang arah, terkadang menelanku hidup-hidup sebelum akhirnya dimuntahkan kembali. Aku ingin terlahir kembali, tidak sebagai tubuh tanpa jiwa ini. Atau mungkin tubuh dengan jiwa yang telah dihabisi, bukan setengah. Kata ‘hampir’ selalu membawaku pada kesia-siaan. Seperti hampir mati, alih-alih akhirnya mati.

Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin tersaruk dalam kata-kata dan dapat kembali berani menatap dunia yang tak akan pernah kembali sama.

 

0 In Kisah/ Kisah

Racau Pagi

Aku tak ingin membicarakan apa-apa yang ku tak ingin. Namun segalanya menjadi harus karena waktu berputar dan rasa makin terasah. Sementara aku masih bergetar membayangkan tubuhmu dijamah orang lain. Lebih luka lagi bila binar matamu terpancar sepaket dengan itu. Seharusnya senyumku yang melekat di bibirmu, juga dahiku yang rekat di punggung tanganmu sebagai bentuk lain dari sujud-sujud panjangku.

Aku mengaduh tiada sampai ke telingamu. Satu tahun rupanya masih belum cukup untuk memberi warna-warni baru di pucat langitku. Terkadang semua seperti tak nyata, tapi sering juga terlihat jelas seperti Dejavu. Ada kah aku tersisip di sela-sela ingatanmu? Pernah kah terlintas kilat mataku di antara tatap mata itu yang bertautan?

Sepagi ini aku meracau apa. Terlalu pagi untuk mengigau. Nampaknya aku harus kembali pergi tidur panjang agar tak terkenang. Sampai nanti saat aku tak lagi melihatmu di mana-mana.

 

di atas kereta Jakarta Kota, 09.18

 

0 In Kisah/ Kisah

Hukuman Andalan

Keretaku terlambat. Malam makin larut dan kereta terkutuk itu belum juga muncul. Aku mulai merindukan suara berisik nan mengganggu roda kereta di atas rel panjang berbatu. Seolah masih belum cukup banyak ujian yang kudapati untuk menjumpamu. Kini masinis ikut-ikutan menghukumku dengan memperlambat pertemuan kita. Brengsek. Kau dan semesta ternyata bekerjasama untuk menghukumku.

Tugu Monas berwarna jingga detik ini, beberapa saat lagi akan berganti jadi yang lainnya. Keindahan pemandangan itu tak jua mampu menghibur dan menghilangkan kemelut dalam benakku. Kesal, sesal, dan rindu yang menggebu. Kau hadir di mana-mana, di otakku, mungkin juga di dalam paru, sehingga membuatku sesak. Barangkali juga di dalam lambung, sehingga menyebabkan aku mendadak kenyang dan tak berselera untuk makan. Menahan diri untuk tidak terlebih dulu menyapamu melalui dialogue chat membuat rinduku makin gelisah. Aku benci hanya mampu bercengkrama denganmu di dalam ruang imaji.

Masih harus menempuh waktu kurang lebih setengah hari untuk akhirnya bisa menjumpamu. Kau selalu tahu, aku tak pernah pandai menahan rindu. Kau boleh saja menghukumku karena aku pantas untuk dihukum. Namun jangan dengan cara ini. Melarangku untuk merindu selalu ampuh membuatku jera.

 

Stasiun Gambir, 02 – 12 – 2016

 

 

 

0 In Kisah/ Kisah

Berteman Sepi

“Nay, seriously you didn’t go anywhere today? You are in fucking Europe!”

Hari ini kalimat itu sudah ditanyakan berkali-kali oleh orang yang berbeda. Dan jawabanku tetap sama, mengangguk-angguk sebagai jawaban iya tanpa ragu.

Aku hanya tersenyum lalu kembali menatap jendela. Daun-daun kuning kecokelatan berguguran dari ranting yang kurus di pinggir jalur metro. Orang-orang kalap menerjang dinginnya angin dua derajat demi agar tidak tertinggal metro yang berangkat tepat waktu. Aku menghela napas, entah untuk keberapa kali di hari ini. Bukan karena melihat apapun itu, hanya karena ingin.

Padaku, sering kali sepi terasa lebih menyenangkan dari ingar-bingar yang memekakan telinga. Terkadang, di suatu waktu, yang kuinginkan hanya duduk sambil merasakan angin berembus di sela-sela jemariku atau memandang gumpal awan yang perlahan berlarian di langit biru. Menyenangkan rasanya dapat menghitung detik yang mampir satu per satu, yang biasanya tak pernah kita hiraukan bahkan kalau bisa dirangkum menjadi hari, bulan, atau tahun sekalian.

Bukan tidak mau mengijinkan siapapun masuk dan merusak sepi itu. Hanya saja, seperti tidak semua orang berhak masuk ke dalamnya dan merusak kesyahduan. Satu orang masuk ke dalamnya adalah lebih dari cukup. Satu orang yang benar-benar mampu mengerti, sebab dengan mengijinkannya masuk ke lingkaran itu sudah merupakan kesanggupan bagiku untuk mau mengertinya. Benci rasanya tidak mampu memercayai siapapun di luar sana, terlebih lagi ketika makin banyak wajah yang muncul dalam kehidupan kita. Aku yakin aku membutuhkan ruang di benak seseorang, namun aku tak yakin seseorang benar-benar membutuhkan aku di dalam ruang di benaknya. Pemikiran semacam itu yang membuat kebebasan itu lumpuh. Kebebasan untuk percaya. Aku tahu, aku tak pernah lulus untuk mata pelajaran ini.

Tidak banyak yang tahu, aku lebih senang mengamati ketimbang mengambil peran. Dengan mengamati aku berkukuh sudah mengambil peran. Namun tentu saja dengan tidak berbicara tentang apapun. Di keramaian, aku bengap saat harus membuka pembicaraan. Berada di keramaian seringnya membuat kepalaku sakit.

Kenyatannya, kita tidak mampu menghindar dari keramaian atau apapun yang dipersiapkan Tuhan.

Akan ada masa di mana aku harus melaluinya untuk bisa tiba di sudut favorit di kamarku yang sepi dan hangat, dengan dekorasi broken white dan pastel jadi satu. Demi bersandar di bantal lebar kain blacu sambil membaca buku romansa terbaru aku harus mampu menerobos keramaian itu. Barangkali, aku butuh genggaman itu yang mampu membuatku aman berada di keramaian atau di manapun. Genggam yang mampu membawaku pulang pada nyaman dan kesepian. Barangkali, keberadaannya nanti mampu mengisi hari-hari menjadi sepi yang menyenangkan. Saat membunuh waktu, tidak ada kata yang benar-benar kita ucapkan. Hanya tubuh yang berbahasa dan semua berjalan baik-baik saja. Merasa cukup dengan apa yang ada adalah sebuah kemewahan yang bisa kita punya. Nampaknya aku mulai menginginkanmu. Seseorang yang bukan hanya akan kupercaya, tapi juga memercayaiku secara sempurna.

Aku masih terduduk di bibir jendela. Membayangkan kita bersisian dengan secangkir kopi dan sebilah buku pada tanganku. Entah padamu, apapun itu. Rasanya akan ada masanya, kita berdua menikmati sepi yang terhidang dalam secangkir kopi sembari memandang gugur daun yang bertumpukan di jalan sebelum terselimuti salju.

Satu hal lagi, aku hanya tak berani sesumbar, bahwa sepi membuat rindu akan kau menjadi lebih khidmat terasa.

 

 

Brusells, 21-11-2016