Browsing Category

Kisah

0 In Kisah

Die Frage

Am morgen habe ich noch nicht versteht, über alles, was ich gehört habe, was du gesagt hast. 

“Ich möchte mit dir verheiraten”
Sprachloss. Natürlich bin ich sprachloss.
“Aber warum?”
Das weiß ich auch nicht, warum dieses Wört das raus war. 
“Weil du am besten für mich bist. Du bist ja anders.”
……..
Frag mir noch mal. Ich werde “ja” sagen. 
0 In Kisah

Usaha Palsu

Berkali-kali, amat ingin kuracuni kepalaku dengan mengatakan bahwa aku hanya belum bertemu dengan orang lain. Namun selalu saja berujung kegagalan. Aku selalu kembali kepadamu, hidup atau pun mati, hancur sekalipun.

Aku seperti tak pernah punya pilihan, karena aku memang tak butuh memilih. Juga tak ingin melakukannya. Sebab pilah-pilih seringkali menghasilkan penyesalan. Telah kunobatkan kau sebagai takdirku, yang di luar kehendakku telah dipilihkan Tuhan atasku. 
Bagaimana pun gusar yang terlampau sering terujar, tak ada yang mampu menjadi penawar selain kedua matamu yang berpijar. Berada di dekatmu membuatku merasa lebih dari cukup. Sekalipun amarah atau tangisku terhadap sesuatu sedang meletup. Sekalipun sering kali tak kau mampu tuk padamkannya. Semua seolah redam begitu saja.
Jangan pernah berubah, karena sekeras apapun kamu coba tuk melakukannya, aku akan selalu berpulang ke raga itu.
0 In Kisah

Catatan Kecil Untukmu

Pintaku sederhana, tidak berkenaan dengan harta. Apa yang kupinta kelak akan menjadi bagian dari syukurmu bila kau penuhi.

Inginku kau bisa diandalkan. Rumah tangga adalah bahtera dua armada yang harus kompak bekerjasama. Kisah nahkoda dan navigatornya. Namun ketika itu nanti akan ada rintangan dunia muncul tanpa jelas kita ketahui. Ketika itu nanti kita harus sigap mengambil bahkan bertukar peran. Keduanya harus bisa saling diandalkan.
Harapku kau tak hanya menjadi seorang pecinta, tapi juga seorang ayah tempat semua kanakku berkesah, seorang guru agama tempat nasehat terurai tanpa usai, seorang sahabat tempat semua suka duka bermuara. Hingga aku tak perlu yang lain. Hingga bersamamu menjadi sangat lebih dari cukup. Aku akan selalu mencari peluk hangat seorang ayah padamu tatkala gangguan-gangguan dunia yang kecil mengganggu, aku akan tak segan diceramahi ini dan itu sebab cita kita menuju surga bersama, dan aku tak segan melakukan tingkah gila bersama sahabat yang selalu ada.
Mimpiku ada mimpi demi mimpi yang jua kau citakan. Bukan tentang dunia. Sesederhana untuk tahu bahwa aku layak diperjuangkan. Bahwa kau mendambaku sangat ingin dan butuh. Sesederhana itu bahagiaku, merasa ingin kau bahagiakan setiap waktu.
Ini hanya catatan kecil yang kelak akan membantumu. Cukup untuk menjelaskan bahwa aku tak pernah menuntut apa-apa tentang hal duniawi. Meski jelas aku penuntut. Aku menuntut ketaqwaanmu yang kelak akan menjadi setapakku menuju surga, juga aku menuntut masa depan anak-anak kita. Semua bergantung dari bagaimana pohon yang membuahinya.
Temui ayah-ibuku jika kamu setuju, dan tentu mampu.
0 In Kisah

Lafadz di Kaki Gunung

Setelah turun gunung dan menemukan wc umum aku segera bebersih diri. Terburu mengejar waktu ashar yang tak lama lagi usai. Bahkan belum sempat aku merapikan isi keril alias repack. Aku terlalu tergesa menuju musholla, menginjak sandal jepit seadanya, melesat seperti sedang diperhatikan guru ngaji yang siap menjewer.
Rakaat terakhir hampir selesai kutunaikan. Berakhir dengan salam yang enggan pergi. Saat-saat di tengah lafadz di bibirku, aku terhisap akan sesuatu. Ada tasbih yang berulang kali dirapal samar-samar. Dihitung dengan ruas-ruas jemari. Dari telunjuk hingga ke jari terkecil. Berulang lagi digantikan dengan dzikir lainnya. Di tengah sunyi yang terisi bisik demi bisik dzikir itu dadaku perlahan menyempit. Aku kenal betul punggung itu. 
***

Dosaku karena tak dapat khusyuk berdoa setelah itu. Mataku tak lepas dari sesosok pria yang tengadah di hadap mimbar. Imam shalat jamaah tadi. Sosok yang selama ini terlalu konyol dengan semua candaannya. Yang kutebak adalah putera berwaris tahta yang arogan seperti orang-orang pada umumnya. Yang makin menyita perhatianku adalah peci dan atribut solat yang dikenakannya. Menggambatkan niatan. 

Rasa kekaguman itu muncul begitu tiba-tiba, tanpa seijinku. Tak pernah kusangka, setelah belasan gunung kusambangi, sosok pendaki dengan kriteria yang selama ini menjadi pencarianku adalah seorang seniman yang baru pertama kalinya menginjak gunung. 
Malam harinya aku tak bisa tidur. Menyesal karena tak banyak foto yang kami ambil berdua di puncak kemarin.