Browsing Category

Kisah

0 In Kisah/ kisah/ Kisah

Bercumbu Lewat Puisi

Aku pernah melihat matahari meninggalkan warna emas saat akan tenggelam dan kuikrarkan bahwa itu adalah senja terindah yang pernah kulihat seumur hidupku. Ternyata sore ini pernyataan itu terbantahkan. Tidak ada warna jingga biasa yang dipantulkan langit. Justru magenta dengan gurat violet, seolah-olah Tuhan sengaja menggoreskan palet ungu di langit yang ranum. Seperti sadar sedang diperhatikan, cahaya terang pukul 17.42 itu masuk ke sela jendela kamar yang terbuka. Membentuk siluet tepi jendela. Aku sempat duduk menghadap jendela sebelum akhirnya tersenyum dan membatin, momen yang sempurna untuk bercinta dengan kau lewat puisi.

Aku menyendok tiga kali bubuk kopi yang kira-kira hanya tersisa 100 gram lagi, menjerang air pada cangkir, menghidu aroma nikmat tak terdefinisikan, lalu mengembuskan namamu yang menyatu pada kepul asap tipis satu-satu. Mungkin kamu tak pernah tahu, pada setiap adukannya, aku mampu bercumbu dengan kau dalam benakku. Mari kita mulai.

Aku tahu sejak dulu. Bahwa mencintaimu membutuhkan lebih dari hanya cinta dan puisi. Memutuskan untuk mencintaimu membutuhkan pula keberanian dan kekuatan yang mungkin kalau bukan karena itu kau tidak kembali ke pelukanku sekarang. Dan barangkali, kedua hal itu pula yang membuatku menjadi pemenang di benak dan jiwamu.

Begini. Jarak tak pernah benar-benar memisahkan kita. Ia hanya membantuku menabung rindu. Sebab dekat tak menentukan kita dapat bertemu. Jauh tak berarti kita tak akan berjumpa. Rindu dan kejutan istimewa akan hadir membayar kekosongan yang pernah diciptakannya, aku hanya perlu percaya. Maka dengan lantang kukatakan pada Jarak, bahwa aku punya kekuatan yang cukup. Dan kurasa itulah yang membuatku menjadi pemenang dan selalu kau cari pulang.

Merah muda dan ungu di langit telah berubah gelap, saat kopi panas itu untuk kedua kalinya kuembuskan namamu. Aku tak pernah bilang melalui semua ini mudah, bahkan aku tak pernah melalui hubungan dengan cara yang seperti ini sebelumnya. Lebih tepatnya, selalu gagal dan berujung sia-sia tanpa tatap muka. Mencintaimu menuntutku jadi pemberani. Siapa yang akan menemaniku ke sana ke mari nanti? Saat malam mendadak mencekam dan kejahatan kota metropolitan menjadi lebih seram daripada film horor Jepang atau Thailand? Tidak ada. Bagaimana kalau di sana rupanya kamu kerap bertemu dengan perempuan lain yang menarik hati meski tanpa komitmen dan janji-janji? Bisa saja terjadi. Dan, anjing! aku benci membayangkannya. Itu kubilang, mencintaimu butuh keberanian. Namun sedemikian rupa pikiran buruk itu bercabang ratusan dan mencipta praduga, satu harapan (atau mungkin lebih tepatnya doa) yang kupunya bahwa kau menggilaiku dan tak akan mendua, tiga, apalagi empat. Biar, aku membesarkan kepala. Cukup saja gila harta dan tahta sebab itu membuat sejahtera, tapi gila wanita, aku selalu percaya kau setia. Lebih tepatnya, kau tak punya banyak waktu untuk itu dan untuk itu hanya aku yang dapat mengerti dan menerima.

Demikian aku merumuskan jurus jitu mencintaimu; cinta, keberanian, dan kekuatan. Perempuan lain belum tentu punya, jadi aku rasa aku tak perlu cemburu karena sudah pasti mereka tidak sekuat dan seberani aku.

Kopiku hampir habis saat notifikasi darimu muncul di layar gawai. Terlebih lagi bubuk kopi itu. Barangkali aku harus ke pulau seberang dekat-dekat ini, untuk membeli stok kopi dan menjumpamu bukan lewat puisi.

Rindu, sekali.

 

 

0 In Kisah/ kisah/ Kisah

Masih Sama

Sekali lagi, namamu menyeruak di setiap jeda dalam napasku. Lebih lagi, bayang tentangmu mengombak mencipta gejolak di dada. Dunia serta-merta benderang, bahkan langit sore menjatuhkan bintang-bintang.

Sementara kau tersisip menjelma rindu dalam spasi-spasi rangkai kata yang kucipta. Aku kini memiliki hobi baru, mereka-reka setiap waktu apa yang sedang ada dalam pikirmu. Adakah aku terbersit di dalamnya?

Pertemuan denganmu menjadi ritual yang paling kutunggu, sering kali membuat resah dan gelisah, namun aneh terasa semua berlalu begitu cepat tatkala kita tengah berjumpa. Kemudian yang bisa aku lakukan hanya bersabar untuk pertemuan berikutnya.

Kita serupa aktor melodrama, dan aku benci mengakuinya. Melakoninya adalah satu-satunya cara yang kubisa, meski sering kali bahagiaku diputar-balik praduga. Aku ternyata menginginkanmu sebanyak yang tak kuduga, tanpa kusadari doa-doaku menjadi lebih panjang dari biasanya. Namamu berulang kali dipantulkan benakku sendiri, terpantul berkali-kali di telinga dan di hati. Hanya saja pada hati, tertinggal juga debar yang tak kumengerti.

Aku tak ingin bermain judi. Maka dari itu, ada kah buku petunjuk yang akan mengantarkanku ke mana seharusnya aku melabuhkan diri? Jika salah jalan kutempuh, akankah kita berjumpa di persimpangan jalan dan pulang bersama?

Segala yang pernah terasa tak mungkin kini menjadi ingin. Melihatmu berjuang keras membuatku ingin menjadi pendukung paling utama. Segala mimpi yang kau cita-citakan seperti ingin kubantu untuk wujudkan, karena mimpi kita selaras nyatanya.

Aku melihat masa depan pada kedua mata yang kaupunya. Bagian ini tak akan bosan kusampaikan, karena memang ia satu-satunya petunjuk yang kudapatkan dengan tanpa kuminta. Segalanya tergambar jelas di sana. Tentang mimpi-mimpimu dan keinginanmu untuk melibatkan aku di dalamnya, namun ada urung di sisi lainnya.

Untuk pertama kalinya, begitu sulit merajut kata kala hati sedang berbunga. Entah karena terlalu bahagia, atau pula karena telah habis daya karenamu. Yang ingin kulakukan hanya melihatmu terus-terusan dari kejauhan, kemudian diam-diam menyimpan senyum  dan menabung rindu satu per satu.

Semestaku mengatakan kita akan dipersatukan masa depan. Notifikasi darimu mungkin akan menjadi satu-satunya pengobat rindu bila hariku tak berhadiahkan temu. Aku tahu semua tak akan melulu berujung kecewa, aku tahu trauma tak selamanya menyisakan duka dan cerita yang hampir sama. Kau — kuyakin — akan menjadi cerita paling sukacita dalam sejarah panjang hidupku nantinya. Dan semua tak hanya tentangmu, melainkan tentang kita dan hal-hal menarik lainnya.

0 In Kisah/ kisah/ Kisah

Pada Sepasang Mata

Bertahun-tahun aku bertahan menyimpan elegi tentang seseorang yang tak mau kuingat lagi di satu sudut rahasia. Aku selalu berharap seluruh yang pernah kulakukan akan luruh dan terabaikan. Namun, selalu gagal terlaksanakan. 

Perlahan, saat tak kukehendaki, muncul sebuah tanya yang membuat lega dalam benak tak dinyana. Bayang-bayang kelabu kian sirna di sawang. Butuh triliunan detik untuk aku bisa menerjemahkan konspirasi semesta, yang kala itu paradoks dengan warna langit berwarna nila — seolah sedang berkelahi dengan waktu sehingga lebam seluruh permukaannya. Kembali padamu, pria yang membuat kata-kata jadi tak berharga. Mulai saat itu, saat tatap kita beradu dan seribu kata membeku, batinku kerap menciptakan gema tanpa makna. Atau aku yang terlalu takut untuk dengan baik menyimpulkan maknanya. Berhari-hari setelahnya, kau menjelma poros yang menarik kesemua energi dan emosiku di saat yang sama.

Pada matamu, aku menemukan kisah-kisah bahagia dengan sosok diriku di dalamnya. Aku tak ingin besar kepala, namun matamu mencumbu isi kepalaku berkali-kali dan aku tahu dengan jelas kau sengaja melakukannya. Rasa cemburu muncul satu per satu, semisal saat seluruh waktumu dapat memiliki utuh dirimu sedangkan aku tidak. Juga saat mimpi-mimpimu merebut seluruh perhatianmu sehingga tak ada lagi tersisa untukku. Di antara cabang-cabang dari rencana yang kau punya, aku ingin ada namaku tertulis di salah satu dahannya. Rasa-rasanya, aku jadi tak mengenal diriku sendiri, dalam waktu teramat singkat ini aku begitu yakin ada potangan jiwaku kau miliki. Aku tidak paham bagaimana kau bisa terasa tak asing bagiku. Melihat sosokmu seperti melihat diriku sendiri, teramat aku mengenalinya, atau mungkin lebih tepatnya melihatmu seperti melihat seseorang yang selama ini bersemayam dalam mimpi dan doaku.

Tuan, adalah sebuah kegembiraan yang tenang, membayangkan kita menua bersama-sama dengan kesamaan yang kita punya.

 

0 In Kisah/ kisah/ Kisah

Pernah

Pernahkah kamu merasa genap memiliki segalanya malah membuatmu merasa kosong tidak memiliki apa-apa?

 

Saat di mana kamu tersadar bahwa lelah dari kakimu yang berlari ternyata tidak berpindah ke manapun, tidak menuju kepada apapun. Hanya membuat dirinya lelah dan membuat dirimu hampir putus asa. Kanal yang dijanjikan tak jua kau temukan. Membawamu pada pertanyaan menghakimi yang menimbulkan benci terhadap apa itu mimpi. Dan hari-hari dalam hidupmu hanya terasa seperti sebuah pengulangan panik dalam kisah yang sering kautampik.

Ingin kutemukan di mana saja yang dapat menjualkan jiwanya pada selembar tubuhku. Agar bernyawa dan setiap engsel belulang tak hanya seperti dipaksa untuk menjalankan apa yang tak pernah dikehendakinya. Usia berlari kepada Jingga, tapi ketidaktahuan masih saja menjadi nama. Aku hanya tahu luka kian nganga kian nyata setelah di tungku baka, mengutip kata Adimas saat kutanya soal Mantra Tubuhmu.

Seolah aku dilahirkan oleh nyala api, atau beku suhu Antartika. Tidak kurasakan perih apapun saat darah tumpah menghujani masa lalu kita. Atau pula rasa bahagia yang dapat membuka mata. Sejumlah sabda hilang arah, terkadang menelanku hidup-hidup sebelum akhirnya dimuntahkan kembali. Aku ingin terlahir kembali, tidak sebagai tubuh tanpa jiwa ini. Atau mungkin tubuh dengan jiwa yang telah dihabisi, bukan setengah. Kata ‘hampir’ selalu membawaku pada kesia-siaan. Seperti hampir mati, alih-alih akhirnya mati.

Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin tersaruk dalam kata-kata dan dapat kembali berani menatap dunia yang tak akan pernah kembali sama.