Browsing Category

traveling

2 In mountain/ traveling

Gunung Kerinci: Perjuangan Menggapai Atap Sumatra

Biasanya, kamu naik gunung diajak atau ngajak?

Kalau dipikir-pikir, saya naik gunung selalu karena diajak. Banyak alasannya. Pertama, kalau ngajak duluan terus tau-tau nyusahin pas nanjak kan nggak enak :’). Kedua, bingung juga mau ngajak siapa karena biasanya pada susah diajak jalan terbentur jadwal cuti, kecuali ada teman yang memang sudah lama minta diajak naik gunung. Kalau bukan karena diajak mungkin saya nggak akan pernah menginjakkan kaki di gunung tertinggi Pulau Sumatra, Kerinci. Thank you Andre and Bayu! Ah, dan satu perempuan lagi kenalan baru saya yang tangguh dan menyenangkan, Jacklyn.

Gunung Kerinci terletak di Provinsi Jambi, untuk mencapainya dari pulau selain Sumatra terdapat dua pilihan rute perjalanan, via Bengkulu atau Padang. Jika via Bengkulu bisa naik pesawat menuju Bengkulu Bandar Udara Fatmawati Soekarno (BKS), kemudian melanjutkan perjalanan ke Kerinci menggunakan travel melalui kabupaten Mukomuko menuju Kota Sungai Penuh atau Kerinci selama 10-11 jam. Jika via Padang mendarat di Bandar Udara Internasional Minangkabau, kota Padang (PDG), dan menyambung travel ke Jambi lebih kurang 7-8 Jam jalur darat. Rute terakhir lebih menghemat waktu, maka pilihan itu yang kami pilih.

Flash tips: Di saat long weekend berangkat lah 4 jam lebih awal dari biasanya atau kamu berpotensi ketinggalan pesawat karena akses menuju bandara MACET TOTAL.

Pilihlah penerbangan di sore hari, sehingga kamu bisa tiba di Padang pada malam hari dan naik travel semalaman, lalu tiba di Jambi pagi harinya (untuk info kontak travel Padang-Jambi bisa hubungi saya). Kamu bisa minta dijemput oleh travel tepat di depan bandara. Pemandangan Padang sangatlah indah, tapi jangan harap kamu dapat bersantai-santai selama di perjalanan (yang pernah naik Angkutan Lintas Sumatra pasti tau he..he…). Lelah dan mual akibat perjalananmu akan terbayar setelah kamu tiba di Jambi dan melihat indahnya hamparan kebun teh yang maha luas di kaki gunung Kerinci.

Disambut senja Sumatra

 

Suasana basecamp lumayan ramai saat itu, ada beberapa rombongan pendaki dari Padang dan Bengkulu. Beberapa akamsi (anak kampung situ) merupakan ranger yang biasa bolak-balik Kerinci menjadi guide rombongan pendaki. They are all nice dan berbicara bahasa jawa, bukan bahasa minang! Mereka sangat ramah dan menyenangkan. Letak basecamp lumayan dekat dari si fenomenal tugu macan, tetapi lumayan jauh ke pintu rimba (jalur desa Kersik Tuo, jalur termudah Kerinci), kira-kira sejauh 2 km. Kamu bisa berjalan kaki atau minta diantar oleh orang basecamp.

Andre – Bayu – Jacklyn – Me (cewek culun style mode on)

Melalui rute via desa Kersik Tuo rute pendakian Gunung Kerinci pos 1 – pos 2 – pos 3 – shelter 1 – shelter 2 – shelter 3. Durasi pendakian hingga shelter 2 memakan waktu 8 jam. Alhamdulillah kami tiba di shelter tersebut sesuai predisi dan ekspektasi.

 

Shelter 1

 

 

Rombongan yang nenda di sana waktu itu adalah orang asing dengan kewarganegaraan beragam

LANJOOOOT!

Menuju shelter 2,  tingkat kesulitan mulai menggemaskan

Shelter 2 finally! Celana kami menggambarkan betapa gundukan tanah pasca hujan yang curam tak bisa dihindari

 

Kamu bisa memilih untuk nenda di shelter 1, 2 atau 3. Namun saya dan tim sepakat untuk bermalam di shelter 3 dengan alasan masih sanggup, meskipun rombongan lain memutuskan untuk membangun tenda di shelter 2. Gunung Kerinci terkenal dengan kesulitan trek pendakiannya, foto-foto testimoni yang sering kamu jumpai di media sosial khususnya Instagram adalah trek dari shelter 2 menuju shelter 3. Trek tersebut merupakan medan tersulit yang dimiliki Kerinci. Lumayan memacu adrenalin, menguji kekompakan, dan ketahanan tubuh ketika kami melewatinya dalam keadaan gelap gulita ditambah gerimis, sehingga tanah lumayan licin. Akar pohon yang besar-besar melintang di sana-sini menambah nikmatnya trek yang sudah sulit. Sedap! :’D

 

OTW Shelter 3, jalur paling fenomenal

Kondisi medan pasca hujan sebagai sebuah sambutan manis until muka ketemu lutut

 

Kami tiba di shelter 3 sudah gelap sekali, sehingga tidak punya foto pemandangan tenda di lokasi untuk dipasang.

Enaknya nenda di shelter 3 adalah kamu menghemat waktu dan tenaga ketika summit. Orang-orang jalan sekitar jam 2 malam, sedangkan kami baru jalan pukul 5 (harusnya jam 4, cuma kami pada malas-malasan, maklum kecapean huhuhu).

Setelah berjalan sekitar 90 menit kita akan bertemu lahan dataran luas yang disebut Tugu Yuda. Tempat ini diberi nama Tugu Yuda karena dahulu kala ada pendaki bernama Yuda yang hilang di sini, setelah turun dari puncak.

Sesuai info yang saya kutip dari ilmugeografi.com, Gunung Kerinci merupakan gunung tertingi  di pulau Sumatra, tepatnya di provinsi Jambi. Gunung Kerinci termasuk ke dalam bagian Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan merupakan jajaran dari bukit barisan dengan koordinat letak 1°41’48”LU dan 101°15’56”BT dan termasuk dalam golongan gunung berapi yang masih aktif. Oleh karena itu, puncak harus steril pukul 9 pagi. Kondisinya sama seperti Mahameru yang harus steril pada pukul 10, bila teman-teman pernah ke Gunung Semeru.

 

 

Sunset pertamaku di Jambi

 

08.00 WIB Alhamdulillah…. puncaaaaak! Disuruh pura-pura ketawa malah jadi ketawa beneran

 

We did it!

 

Dari atas puncak kita bisa melihat pemandangan Jambi yang berbatasan dengan Bengkulu dan Padang. Ada juga bayang Danau Gunung Tujuh, kalau kamu ke Kerinci sempatkan juga ke siri ya. Dan jangan lupa Danau Kaco juga. Indah mirip Labuan Cermin!

 

 

Barengan menuju puncak. Yes yang di tengah itu dedek Khansa (10 th) dan dia sudah mendaki banyak gunung Indonesia. Masya Allah….

 

*zoom in* Khansa 7 Summiters

 

Nenda semalam lagi di shelter 1 karena kami mendapat pesan dari orang basecamp jangan turun lewat dari magrib. Cuma kami yang dipesenin begitu, entahlah. Kami nurut aja.

Shelter 1

 

Tenda satu-satunya

 

Tidak terbayangkan haru dan bahagianya bisa menginjakkan kaki di titik tertinggi Sumatra. Semua tentu saja berkat ridho Tuhan semata, juga kerja sama antar anggota tim. Terima kasih Andre, Bayu, dan Je!

Nggak lama kami turun, Kerinci mengalami Erupsi yang menyebabkan pendakian di tutup. Betapa Allah begitu baik kepada kami, sebab kemarin Indrapura maish baik-baik saja.

 

 

Kebun teh Kayu Aro adalah yang terluas di dunia (fokus ke erupsi di belakang)

 

Bagi saya, mendaki gunung memiliki hikmah tersendiri dan melalui itu saya berharap dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Banyak teman dan keluarga terheran-heran saat saya hendak mendaki gunung, apalagi sampai ke bagian barat Sumatra, “Liburan kok capek-capek?”. Setelah diledek seperti itu biasanya saya hanya tertawa. Kalau dipikir-pikir ya benar juga, naik gunung capek. Apalagi ke Kerinci, capek di jalan. Tapi hikmah dari perjuangan saya ke Kerinci ini telah menjadi hal yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Menjadi titik balik di usia muda saya, bagaimana saya mampu mengalahkan kekhawatiran atas kemampuan diri sendiri. Orang yang ngajak aja yakin saya mampu, masa saya enggak?

Mungkin saja bagi sebagian orang yang sudah menyambangi banyak gunung, mendaki Kerinci bukan lah apa-apa. Namun bagi saya yang pemula dan masih awam, pendakian kali ini amat berharga. Alhamdulillah, saya mulai berhenti merendahkan diri sendiri dan bersyukur atas karunia apapun yang Tuhan berikan. Berbanggalah atas dirimu sendiri. Kalau bukan kamu yang mengapresiasi diri sendiri, siapa lagi? 😉

 

Kembali ke Jakarta dengan oleh-oleh pesanan mama dan sogokan buat orang kantor yang ditinggal cuti ha…ha

Budget (belum PP):

Tiket pesawat Jakarta – Padang (promo): 500.000/orang

Travel Bandara Minangkabau – Kersik Tuo, Jambi: 70.000/orang
Transport basecamp – pintu rimba via Kersik Tuo, Jambi: 15.000/orang
Simaksi: 7.500/hari
0 In mountain/ traveling

Gunung Semeru: Komplek di Atap Jawa

Mendaki gunung saat ini tidak hanya menjadi hobi bagi saya, tetapi seperti napas yang saya butuhkan dan tak bisa ditunda. Kali ini giliran Semeru. Gunung tertinggi tanah Jawa. Tidak harus tinggi sebenarnya, udara segar bisa saya peroleh di mana saja selain di gunung. Namun pendakian kali ini memang pada awalnya diinisiasi seorang kenalan yang ending-nya malah dia sendiri yang membatalkan janji sementara tiket sudah kadung dibeli.

Pendakian di awal bukanya kembali Semeru (pendakian Semeru ditutup untuk beberapa lama dan baru dibuka per 1 Mei 2016), plus beriringan dengan long weekend yang benar-benar long. Dulu sekali saya sama sekali tidak tertarik mendaki Semeru, karena konon semenjak tersohor berkat film layar lebar beberapa waktu lalu gunung ini makin ramai dan kotor. Semangat untuk menapaki Mahameru itu sebenarnya makin surut kalau saja tidak disemangati oleh teman saya yang memang sudah lama mendamba Ranu Kumbolo. Namun pada akhirnya, saya justru malah bersyukur pada ketidaksengajaan itu. Semeru masuk ke dalam daftar gunung favorit seorang Naya. Everything happens for a reason, right? Flash tip: Mengunjungi Semeru lebih mudah dengan kereta daripada pesawat, karena letak bandara sangat jauh menuju basecamp.

Kami berangkat dari Stasiun Pasar Senen pada sore hari dengan kereta ekonomi Majapahit, lalu tiba di Stasiun Malang keesokan harinya pada pukul 11.00 siang. Letak basecamp dari stasiun cukup jauh dan harus menyambung angkutan berkali-kali, sehingga akan lebih mudah jika menyewa angkutan untuk sampai ke sana. Namun karena jumlah kami hanya berempat beberapa waktu sebelumnya Bayu mencari barengan melalui internet untuk sharing cost dari stasiun menuju basecamp Tumpang. Bertemulah kami dengan rombongan pendaki asal Semarang yang cowok semua berjumlah 8 orang. Kemudian sepanjang jalan terisi gelak tawa dengan jokes yang jawa banget. Flash tip: Gunakan hashtag #caribarengan di Instagram atau bisa di grup-grup pendakian di Facebook.

Windari – Alek – Bayu – Naya – Mas Wafa (satu dari sekian rombongan asas Semarang)

Butuh waktu kurang dari satu jam untuk bisa tiba di basecamp Tumpang. Ada yang berbeda di pendakian Gunung Semeru sekarang, registrasi pendakian dilakukan di Tumpang, bukan lagi di Ranupani. Hal tersebut mungkin diberlakukan untuk membuat prosedur registrasi yang kian ramai tetap kondusif. Flash tip: Bawa fotokopi identitas dan surat keterangan sehat dari dokter, jangan lupa dikopi 3 rangkap.

Basecamp Tumpang berbentuk barisan ruko. Selain ruko pendaftaran registrasi ada juga warung dan tempat penyewaan peralatan mendaki. Harganya bahkan lebih murah dari jasa penyewaan yang biasa saya gunakan di Jakarta. Kalau ada barang bawaan yang lupa kamu bawa, kamu bisa menyewa di sana. Dari mulai tenda, sleeping bag, matras, kompor & nesting, hingga sepatu gunung. Namun ini untuk urgent saja, kalau-kalau ada bawaanmu yang tertinggal di rumah. Sebaiknya tetap persiapkan seluruh barang bawaan dari rumah dengan matang. Takutnya stok item di penyewaan sedang kosong (untuk kontak untuk penyewaan mountaineering di basecamp Tumpang bisa tanya melalui Naya).

Prosedur registrasi pendakian Gunung Semeru ternyata semakin repot saat ini. Di basecamp Ranu Pani pendaki harus ikut briefing pendakian dari Taman Nasional kurang lebih setengah jam, di saat anggota tim berada di aula mengikuti briefing pendakian, ketua tim harus melaporkan butki pelaporan di basecamp Tumpang di tempat berbeda. Mengikuti briefing adalah wajib hukumnya. Briefing tidak dilaksanakan 24 jam, briefing kloter terakhir adalah pukul 05.00 sore. Pendaki yang ketinggalan briefing terakhir tidak boleh berangkat mendaki dan harus menunggu sampai keesokan harinya. Ketatnya prosesur pendakian Gunung Semeru ini diberlakukan karena jumlah pendaki Semeru semakin banyak dan jumlah korban hilang juga semakin banyak. Petugas dari TNBTS menjelaskan dengan detail korban-korban yang hilang dan selamat dari pendakian Gunung Semeru. Pada umunya mereka hilang di kawasan Blank 75, setelah summit puncak Mahameru.

Karena ketua tim kami sudah pernah mendaki Semeru sebelumnya, maka kami memutuskan untuk berangkat mendaki malam itu juga, atas ijin dari petugas TNBTS tentunya. Bismillah…..

Kami tiba di Ranu Kumbolo pukul 11.00 malam. Cuaca lumayan dingin sekalipun di sana ramai pendaki dan tenda sangat padat dan rapat. Ramainya Ranu Kumbolo hari itu baru terlihat saat pagi harinya. Kuota pengunjung Gunung Semeru hanya 500 orang per hari, tapi dengar-dengar dari porter jumlah pendaki Gunung Semeru pada libur panjang itu mencapai 3.000 orang banyaknya. Jika dilihat dari penuhnya Ranu Kumbolo saat itu saya sangat percaya kalau jumlah pendaki hari itu mencapai angka ribuan.

Ramainya Ranu Kumbolo

 

Film 5 cm yang tayang pada tahun 2013 lalu di bioskop benar-benar memberikan dampak yang dahsyat akan ramainya pendakian Gunung Semeru. Para pendahulu mungkin akan bersedih melihat Semeru yang sekarang, bahwa Ranu Kumbolo tak lagi suci, meskipun tidak ada lagi pendaki yang boleh berenang atas larangan pihak TNBTS. Di Danau Ranu Kumbolo banyak buih-buih sabun bekas mencuci muka, sikat gigi, atau bahkan mencuci peralatan masak dan makan. Seharusnya, aktifitas seperti itu dilakukan beberapa meter dari bibir danau, sehingga kotorannya tidak terbawa ke danau. Pendaki juga kerap kali melanggar batas larangan mendirikan tenda di tepi danau. Hal ini sangat tidak baik karena aktifitas pendaki akan berkontribusi terhadap kotornya danau.

Perumahan Semeru Indah :’)

 

Hal lain yang menyedihkan dari pendakian Gunung Semeru saat ini adalah banyaknya kotoran manusia di sepanjang jalur pendakian. Sebenarnya pihak TNBTS telah menyediakan toilet umum di dua sisi Ranu Kumbolo. Bentuknya adalah bilik-bilik berpintu dengan lubang di tengah bawah, tanpa WC dan air. Para pendaki yang ingin buang air harus membawa air di dalam botol. Namun, bukan hanya kotoran yang di buang ke lubang, tetapi botol-botol bekas air juga diikutsertakan. Sehingga lubang toilet menjadi kepenuhan dan isinya jadi…. huek! Saya saja nggak mau buang air di toilet tersebut, karena jorok dan bau minta ampun. Namun jika kamu tidak mau buang air di toilet umum tersebut seperti saya, hendaklah mencari lokasi yang aman dan jauh dari jalur pendakian. Pihak TNBTS juga telah mengajarkan tata cara untuk buang air (besar), ialah dengan menggali lubang. Dengan catatan jika kamu belum kebelet dan masih mampu membuat lubang. Buang air di jalur pendakian adalah cara yang sangat tidak pintar, tentu saja hal tersebut sangat merugikan pendaki yang akan lewat. Padahal, pihak TNBTS sudah mengimbau di saat briefing mengenai etika dan tata cara pendakian Gunung Semeru.

bersama Kakak Marcel. Lah bisa reunian di sini. Terakhir ketemu di konser Barasuara :’)

 

Pos selanjutnya yang kami tuju adalah Cemoro Kandang. Setelah melewati Tanjakan Cinta pendaki akan melalui Oro-oro Ombo, yaitu padang luas yang dipenuhi bunga berwarna ungu, Verbena Brasiliensis Vel. Tidak secantik penampakannya, bunga ini ternyata adalah tumbuhan parasit asal Amerika Selatan yang mengancam ekologis di sekitarnya dan menyerap banyak air, bahkan sempat menutupi permukaan air Ranu Pani. Banyak yang mengira bunga tersebut adalah lavender, sehingga beberapa waktu lalu bunga ini menjadi topik yang sangat ramai diperbincangkan di media sosial Intagram, karena muncul foto-foto pendaki yang memetik bunga ini dan dianggap merusak ekosistem dan tidak mencintai alam. Padahal, saat briefing pendaki sangat dipoerbolehkan untuk memetik bunga tersebut dan membawa pulang, dengan catatan tidak tercecer sembarangan karena VBV sangat mudah tumbuh dan mereproduksi diri secara seksual dengan memproduksi benih.

Saat saya ke Semeru, Oro-oro Ombo senang mekar-mekarnya

 

Jarak tempuh dari Ranu Kumbolo ke Pos Cemoro Kandang adalah 1,5 jam. Di pos ini kami beristirahat cukup lama sambil memandangi indahnya Oro-oro Ombo dan menikmati gorengan. Wait, gorengan? YES! Di pos ini ada warung yang menjual minum dan penganan seperti gorengan dan irisan buah semangka. Bahkan di Ranu Kumbolo ada ibu-ibu yang jual nasi bungkus keliling hihihi.


Tiga jam dari Cemoro Kandang kamu akan tiba di Pos berikutnya, yaitu Jambangan.

Artinya, Kalimati sudah dekat. Yeay! Kalimati tidak seramai Ranu Kumbolo, karena banyak pendaki yang datang hanya untuk menghabiskan waktu di Ranu Kumbolo. Tekstur tanah Kalimati adalahberpasir, karena sudah semakin dekat dengan puncak Mahameru yang teksturnya berpasir dan berbatu. Flash tip: Untuk mengambil air, kamu bisa ke Sumber Mani. Jaraknya tidak dekat, butuh satu jam bolak-balik ke sana. Karena berjalan menuju Sumber Mani lumayan menguras tenaga, banyak warga yang akhirnya berjualan air di Kalimati, dengan botol bekas air mineral berukuran 1,5 liter yang dihargai Rp.10.000-15.000 per botolnya. Semua bisa jadi uang di negara kita tercinta ini 😀

 

Bersantai di Kalimati

 

EITS ADA SIAPA TUCH!?

 

*zoom in*

 

Pendaki pink! Bentar lagi pasti jadi artis dan mask tivi hmmm

 

SUMMIT ATTACK!!!! Banyak pendaki yang sudah berangkat menuju puncak dari Kalimati pada pukul 11 malam. Kami saja baru tidur pada pukul 09.00 WIB. Oleh karena itu, kami baru berangkat pada pukul 2 malam, untuk menghindari kemacetan di jalur pendakian. Dibutuhkan waktu 5 jam untuk bisa tiba di puncak Mahameru. Sambil menunggu Windari dan Alek yang masih tertinggal di belakang, saya dan Bayu tidur di sisi jalur pendakian. Ngantuk beraaaat! Tidak terasa sampai fajar mulai menyingsing. Indahnya…..

Menuju Mahameru

Semeru merupakan gunung yang masih sangat aktif dan setiap 20 menit sekali mengeluarkan abu vulkanik dan pasir. Momen ini lah yang sangat ditunggu-tunggu oleh para pendaki di puncak, yaitu untuk berfoto dengan ledakan abu vulkanik tersebut. Saya nggak punya fotonya karena nggak banyak foto-foto di atas puncak. Saat briefing pendaki diimbau untuk tidak berada di puncak lebih dari jam sepuluh pagi, karena material yang dikeluarkan oleh Semeru akan membahayakan untuk manusia.

Bangun tidur kuterus summit

Sejauh ini, jalur puncak Semeru adalah yang paling saya sukai, karena teksturnya sangat tebal akan pasir meskipun berbatu. Tekstur tersebut sangat mempermudah untuk turun dengan cara moonwalk, jalan santai yang saking santainya bisa dengan tanpa melihat pijakan lagi. Banyak pendaki yang berlarian menuruni trek, hal tersebut bagi saya sangat mengganggu dan membahayakan pendaki di belakangnya karena akan menningglakan kepulan debu yang bisa masuk ke mata.

salam WG

Setibanya di Kalimati kami lebih dulu tidur siang sebelum kembali bermalam di Ranu Kumbolo. Nenda di Ranu Kumbolo nggak cukup sekali pokoknya.

Ranu Kumbolo

 

Ranu Kumbolo benar-benar seindah yang diceritakan para pendulu, mencipta syahdu dan meninggalkan bekas dalam hati para pendaki, Tanjakan Cinta dengan mitosnya yang masih dipercaya banyak orang, Oro-oro Ombo dengan Verbena ungu yang sedang cantik-cantiknya beraksi sebagai parasit, lalu Mahameru yang gagah dan indah jadi satu. Pendakian kali ini berjalan serapi yang diharapkan. Agenda berjalan sesuai dengan itinerary yang telah disusun, durasi pendakian yang sesuai dengan ekspektasi, logistik yang cukup, dan puncak yang sempat dicicipi. Aku akan kembali, wahai sang Mahameru yang gagah!

 

 

Salam,

Indie traveler

1 In city/ mountain/ traveling

Situ Gunung, Ranu Kumbolo Jawa Barat

Beberapa waktu lalu saya pun pernah merasakan hal yang demikian. Jadwal ngetrip udah ada, tapi kelamaan ternyata masih dua minggu lagi. Sedangkan otak udah butuh di-refresh.

Disebabkan banyaknya pertanyaan mengenai destinasi satu ini dan bernasib sama (nggak bisa cuti dan atau nggak punya budget), maka saya putuskan untuk membahas secara detail.

Eng…ing…eng….

Ini dia wisata baru yang dekat, murah, dan meriah (karena bisa piknik cantik maksudnya)!

Kawasan wisata Situ Gunung jawabannya. Terletak di Kecamatan Kadudampit, Kamodabupaten Sukabumi, dan masih merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Sangat mudah untuk menjangkau tempat ini. Juga banyak pilihan wisatanya di satu kawasan tersebut. Ada beberapa alternatif transportasi yang bisa digunakan. Waktu itu saya dan beberapa teman nekad ingin membeli tiket kereta ke Sukabumi dari stasiun Bogor Palegan (yang letaknya di dekat Taman Topi).

Jadi, pertama-tama kami naik KRL dulu Depok-Bogor, lalu berjalan kaki menuju stasiun Bogor Palegan. Beruntungnya kami, tiket masih tersisa. Kami optimis mendapatkan tiket ini karena waktu itu kami tidak pergi di saat long weekend ya, juga rajin-rajin mengecek laman resmi PT. KAI mengenai ketersediaan tiket. Tidak secara spontan kami beli on the spot tanpa pertimbangan. Jadi, kalau kamu ingin beli tiketnya OTS juga, saya sarankan untuk mempertimbangkan kedua catatan yang saya dan teman-teman lakukan itu.

Perjalanan kereta Bogor-Cisaat hanya memakan waktu dua jam. Bahkan berasanya hanya setengah jam, maklum kebiasaan naik kereta ekonomi ke daerah jawa yang menghabiskan waktu seharian he…he… Ingat, meskipun lokasinya di Sukabumi tidak berarti berhentinya di stasiun Sukabumi juga, jangan sampai salah ya! Turunnya di Stasiun Cisaat, sebelum Stasiun Sukabumi.

Dari stasiun biasanya banyak angkot yang menawarkan jasa untuk carter, ojek juga begitu (Rp. 30.000/orang). Karena saya dan teman-teman berniat untuk backpacking, maka kami memilih untuk ‘ngeteng’. Sekalian berbaur dan berinteraksi langsung dengan penduduk setempat.

Stasiun Cisaat, bukan Sukabumi ya!

Dari Stasiun Cisaat kami naik angkot tujuan Pos Polisi Cisaat. Di dekat Pospol ada pasar, kami mampir dulu untuk belanja sayur-mayur. Tujuan kami adalah jalan-jalan hemat tapi makan enak, pokoknya kemping ceria! Mau jalan-jalan, nggak punya duit karena tanggung bulan.

Naek angkot yow

Dari Pasar Cisaat sambung angkot lagi berwarna merah yang langsung ke arah Situ Gunung. Makin lama angkot makin menanjak dan suasana makin sejuk. Hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk akhirnya tiba di pintu Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.

Tiket masuk seharga Rp.32.500/orang. Mungkin terbilang cukup mahal, tetapi sangat tidak masalah kalau harga yang diberikan sesuai dengan fasilitas yang disediakan dan kebersihan yang terjaga. We’ll see. Hati-hati, suka ada oknum yang minta harga untuk mendirikan tenda sebesar Rp. 15.000 atau lebih. Jangan mau!

Duh, senangnya nggak bawa kulkas (baca: keril)!

Ada beberapa camp ground di Situ Gunung. Pengunjung boleh mendirikan tenda di mana saja selama itu masih di dalam wilayah camp ground, asal tidak di danau. Di dekat camp ground juga terdapat kamar mandi yang terbilang bersih dan tidak bau. Kamar mandi yang terdiri dari beberapa pintu itu sangat terjaga kebersihannya, sehingga tidak membuat pengunjung merasa segan untuk sering-sering ke sana (ya kali aja ada yang hobi kebelet he..he..). Luar biasanya, tidak ada pengunjung lain di camp ground. Hanya ada kami bertiga, sehingga kami bebas mendirikan tenda di manapun. Horeeeeee.!!! *lari-lari di camp ground*

 

Sore harinya turun gerimis, maka kami putuskan untuk melihat danaunya esok hari sekalian ke air terjun. Keesokan harinya kami mengunjungi danau yang ditempuh dengan berjalan kaki selama setengah jam (dengan speed keong). Beberapa orang menyebut danau ini sebagai Ranu Kumbolo-nya Jawa Barat. Ternyata ramai sekali. Banyak pengunjung yang datang khusus untuk berkunjung ke danau ini tanpa menginap. Aroma popmie di mana-mana. Bedanya? Ada sampan dan bebek-bebekan ha..ha.. Untuk menyewanya dikenakan tarif Rp.20.000/orang. Sayangnya, saat itu sedang mendung. sehingga foto yang saya dapatkan tidak terlalu cerah. Namun sangat pas suasananya kalau ingin merefleksi diri. Sendu-sendu galau syahdu gimana gitu.

Ismi – Me – Bayu

Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi di kawasan Taman Wisata Situ Gunung tersebut selain danaunya. Ada air terjun Curug Sawer dan Curuyang Cimanaracun. Karena terbatasnya waktu kami tidak mengunjungi Curug Cimanaracun, hanya ke Curug Sawer yang konon adalah curug terbesar di sebuah Taman Nasional di Indonesia. Jarak tempuh menuju curug tersebut adalah 2 km jauhnya. Curug Sawer jauh lebih ramai dari danau tadi. Saya tidak betah berlama-lama di keramaian, sehingga kami di sana hanya menghabiskan waktu tidak lebih dari setengah jam. Air terjunnya deras sekali, sehingga pengunjung dilarang untuk berenang. Namun terdapat spot khusus bagi pengunjung yang ingin merasakan berbasah-basahan di curug tersebut. Oya, di lokasi curug ini juga saya melihat berdiri beberapa tenda. Mungkin boleh camping di sana. Bila kamu tertarik sila tanyakan terlebih dahulu kepada petugas di pintu masuk. Sepertinya seru mendirikan tenda di tepi curug. Next saya dan teman-teman bertekad balik lagi untuk nenda di sana he..he..

Banyak tukang jajanan di kawasan Situ Gunung, dari mulai cilok sampai bakso *nyum*


How to get there:
 
Alternatif 1
KRL Jakarta – Bogor: Rp.7.000
Kereta Bogor Palegan – Cisaat: Rp.25.000
Angkot St. Cisaat – Polsek Cisaat: Rp. 3.000
Angkot Polsek Cisaat – Situ Gunung: Rp. 8.000

Alternatif 2 (resiko: Jalur rawan macet)
KRL Jakarta – Bogor: Rp. 7.000
Angkot 03 dari depan stasiun sampai Terminal Baranangsiang: Rp. 4.000
Elf jurusan Bogor – Sukabumi sampai pertigaan Cisaat: Rp. 25.000

Beberapa blog dan teman mereview dengan harga tarif berbeda-beda, dibanding yang lain mungkin harga yang saya dapatkan jauh lebih murah. Maklum, punya skill menawar yang cukup mumpuni. Apalagi didukung dengan kemahiran berbahasa daerah setempat: Bahasa Sunda.

Total biaya yang kami keluarkan waktu itu kurang-lebih Rp. 96.500/orang untuk pulang-pergi Jakarta-Situ Gunung (sudah termasuk tiket masuk untuk 3D2N). Di luar pengeluaran untuk makan dan biaya tidak terduga ya 🙂

0 In mountain/ traveling

Gunung Papandayan: Untuk Pendakian Pertama

Naik gunung sekarang sudah menjadi gaya hidup yang digandrungi berbagai kalangan dan usia. Gunung semakin ramai dan dekat dengan manusia. Sosial media menjadi salah satu alasan yang mengomporinya. Salah satu gunung yang tak pernah sepi saat ini adalah Papandayan, Jawa Barat, 2622 mdpl. Banyak yang bilang Papandayan adalah gunung yang pas untuk pemula yang ingin mencicipi pendakian. Meskipun di dalam mendaki tidak ada istilah pemula atau pun ahli. Semua orang boleh mendaki gunung jika mereka mau dan merasa mampu. Yang terpenting harus bertanggung jawab dengan tidak mencoret-coret batu (ini banyak sekali di Papandayan), membuang sampah sembarangan, dan merusak ekosistem seperti memetik Edelweiss.

Terletak di kota Garut dengan jarak tempuh empat jam dari Jakarta makin mempermudah akses masyarakat Indonesia untuk mengunjunginya. Tidak perlu membawa mobil pribadi, ada banyak sekali bis patas maupun non-AC yang sampai di terminal kota Garut. Bis biasanya berangkat pada tengah malam lalu tiba di Garut jam 3 malam. Dari tempat pemberhentian bis kita harus menyambung angkutan umum untuk bisa sampai ke masjid agung kota Garut yang terletak di kaki gunung Papandayan. Tidak heran pada pukul 5 pagi masjid agung kota Garut ramai oleh pendaki yang bersih-bersih badan dan menunggu terang melanjutkan perjalanan menuju pos pertama Papandayan. Kendaraan yang tersedia adalah mobil bak terbuka. Jadi, bagi kamu yang tidak biasa, siap-siap masuk angin ya he..he….

Ke Papandayan enakan bawa mobil sendiri daripada naik bis. Percaya deh :’)

Waktu paling pas untuk memulai pendakian gunung Papandayan adalah pagi sekitar jam 7 pagi. Yang saya suka dari Papandayan adalah kabut tebal yang menutup jalur pendakian. Selain photoable (ciye anak folk), kabut membuat hamparan jalan di depan kita jadi nggak kelihatan, nggak berasa capek deh he..he… Selain itu ada hutan mati yang menjadi ciri khas Papandayan, ada juga asap belerang yang sering jadi objek foto “nyeleneh” para pendaki, juga ada Tegal Panjang dan Tegal Alun yang cantik, yaitu padang Edelweiss. Iya, Papandayan banyak bonusnya.

Ini foto perjalanan 25-26 Mei 2016

 

Hutan Mati (September 2015)

Pos pertama Papandayan biasa disebut sebagai Camp David. Entah kenapa dinamakan demikian, saya juga nggak tahu. Mungkin kamu tahu?

Pondok Saladah. Balon-balon ini untuk games, bukan untuk dijual :p

Sebelum naik, seperti biasa team leader harus melaporkan jumlah anggota pendakiannya dan membayar Simaksi atau uang kebersihan gunung. Hati-hati terhadap pungli yang berada di luar Camp David. Jangan mudah mengeluarkan uang jika memang sudah membayar Simaksi.

Sudah kesekian kali saya mendaki Papandayan dan tidak pernah merasa bosan. Pendakian pertama saya ke Papandayan justru bukan ditujukan untuk mendaki. Saya mendaki dengan ketiga teman laki-laki di kampus (Iya, sudah biasa jadi pendaki perempuan sendiri). Jumlah kami berempat dan pendakian dilakukan dengan sangat santai. Sesuai dengan misi kami di awal bahwa pendakian ini adalah camping ceria untuk refleksi diri, tidak ada itinerary seperti biasanya. Juga tidak ada target tiba di puncak jam berapa. Kami benar-benar melakukan pendakian ini untuk bersantai dan menikmati alam. Alhasil yang kami lakukan di atas adalah tidur siang di bawah pohon, main uno sepanjang hari, bereksperimen dengan bahan masakan seadanya, dan tidur lagi. Ha..ha..ha…

 

Pengalaman Petrik saat pertama kali masak pakai nesting haha

 

Soal puncak. Ini yang menarik. Tidak ada yang tahu di mana letak puncak Papandayan sebenarnya. Ada yang bilang Tegal Alun (padang Edelweiss) lah puncak Papandayan. Ada juga yang bilang puncaknya adalah bukit di balik Tegal Alun yang tidak ada jalurnya, sehingga tidak bisa dilalui manusia. Entahlah, puncak Papandayan masih menjadi misteri. Untungnya, saya bukan tipe orang yang puncak-oriented. Yang saya cari dari sebuah pendakian adalah prosesnya dan keluarga baru dari perjalanan itu sendiri.

Addin, naik gunung demi mengejar cintanya untuk seorang gadis. Konyol? Yang lebih konyol yang nganterin, SAYA.

Ada padang sabana yang cantik di Papandayan bernama Tegal Panjang. Luasnya teramat luas sehingga jika sedang musim penghujan warna hijaunya akan tampak bagus sekali. Namun itu adalah kawasan konservasi yang tidak boleh sembarangan dikunjungi. Jadi, kalau memang nggak bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan khususnya kebersihannya mending nggak usah penasaran sama yang satu ini ya! He..he..

 

Bagi kamu yang belum pernah mendaki dan ingin merasakannya, Papandayan bisa jadi pilihan. Tetapi banyak juga yang mengeluh dan menyesal karena telah menjadikan Papandayan sebagai gunung untuk pendakian pertamanya. Sebenarnya semua tergantung dirimu sendiri. Medan yang sulit tidak akan menjadi sulit bila kita punya persiapan yang matang baik secara ligstik maupun kondisi fisik. Ini dia naya berikan tips untuk mendaki Papandayan.

 

  1. Lebih baik pergi dengan rombongan bila misi perjalananmu adalah sebagai backpackers yang hemat ongkos.

Itu akan mempermudah sharing cost untuk menyewa angkutan.

 

  1. Hindari pendakian di hari weekdays.

Sebagai seorang yang benci keramaian (ya atuh kalo nggak mau rame nggak usah jalan-jalan ke tempat umum Nay haha) dan karena ingin menikmati alam untuk refleksi diri, saya dan si teman-teman cowok itu memilih hari biasa untuk mendaki. Kebetulan waktu itu baru lulus kuliah jadi tidak masalah, sedangkan teman saya yang kerja sudah mengambil cuti dari jauh hari. Sisanya adalah freelancer yang bisa bepergian kapan saja. Ternyata mendaki weekdays itu nggak enak. Selain karena sharing cost jadi mahal, harga tiket masuk alias Simaksi juga jadi dimahalin dua kali lipat! Entah bagaimana penghitungannya. Saya pun heran sampai sekarang. Mungkin karena gunungnya sepi, pendapatan mereka jadi sedikit dalam sehari. Mungkin.

 

  1. Tidak perlu bawa air banyak-banyak.

Biasanya ketika mendaki, saya membawa 2 botol (saya pernah bawa 3) air mineral berukuran 1,5 liter. Yang cowok-cowok bawa 3 botol. Tapi di pendakian Papandayan saya hanya membawa satu botol 1,5 liter. Alasannya karena di Pondok Saladah (camp site) terdapat mata air yang sudah disediakan dalam bentuk keran-keran jadi bisa isi ulang, bahkan ada banyak toilet bersih bikinan anak ITB! Ya…. Papandayan rasa Jambore he..he… Camping ceria.

 

  1. Bawa sandal cadangan dan jas hujan karena Papandayan rawan hujan.

Mungkin karena masih termasuk dalam gunung di Jawa Barat dan Jawa barat rawan hujan (eh iya nggak sih? Haha). Saya pernah turun dari Tegal Alun-Pondok Saladah-Camp David hujan-hujanan. Hujan lebat! Pakai jas hujan aja nggak cukup. Untungnya jaket saya Cozmeed seri terbaru yang tahan angin dan air (ciye promosi) #bukanendorse.

 

  1. Jangan buang sampah sembarangan. Bawa turun sampahmu. Dan lebih bagus lagi turun gunung sambil mungutin sampah.

OKAY??? 😉 Terakhir saya ke Papandayan Alhamdulillah tidak terdapat banyak sampah di jalur pendakian. tapi tetap saja banyak sampah-sampah kecil yang mungkin menurut orang tidak penting. Padahal cukup mengganggu penglihatan saya karena berwarna-warni lain dengan bebatuan di jalur. Biasanya jika turun Papandayan kantong celana saya kanan kiri depan belakang penuh dengan sampah-sampah kecil. Mulai dari bungkus permen, choki-choki, tolak angin, chiki, sampai jas hujan bekas dibuang begitu saja di tengah jalur. Ujung-ujungnya sampah yang saya kumpulkan bisa jadi seplastik besar. Berarti nggak ngaruh, bukan? Sampah tetap sampah bagaimana pun ukurannya. Bisa mngotori alam dan merusak pemandangan. Pungut saja sampah yang kamu temukan selama perjalanan turun dari Papandayan. Di dekat Camp David ada tempat sampah besar yang sudah disediakan.

 

Addin – Petrik – Me

How to get there:
Alternatif 1
Bis Kp. Rambutan – Terminal Guntur, Garut: Rp. 50.000
Carter angkot Terminal – Mesjid Agung: Rp. 20.000
Mobil bak – Camp David Rp. 25.000/orang

Simaksi: Rp. 4.000, lalu pernah Rp. 15.000 (berubah-ubah)

Alternatif 2
Bis Kp. Rambutan – Terminal Guntur, Garut: Rp. 50.000
Carter angkot Terminal – Mesjid Agung: Rp. 20.000
Ojek – Camp David Rp. 35.000/orang

Simaksi: Rp. 4.000, lalu pernah Rp. 15.000 (berubah-ubah)

Sekian. Selamat mendaki!
Salam, Hijabtraveller
Nayadini.

ig: @nayadini

0 In traveling

Gunung Merbabu: Buka Jalur Baru

Tepat saat tengah menginjak tanah Pogalan menuju puncak Gunung Merbabu, masing-masing kami telah secara sembunyi membatin: mungkin setelah ini kami tak akan mampu lagi beredar di jejaring sosial. Atau hanya kenangan dan nama kami yang tertinggal di sana.

***
Empat hari menjelang keberangkatan menuju Solo, satu per satu anggota tim mengundurkan diri. Tiket kereta saya sudah dibeli. Mau tak mau, tekad harus selalu bulat. Saya pun berangkat sendiri dari ibu kota. Pada akhirnya terbentuk juga tim dengan tujuh orang anggota baru yang sama sekali tidak saya kenal. Adalah Gyrass sebagai pencetus ide gila untuk menyusuri jalur baru Gunung Merbabu. Kemudian teman lama dan adik-adik tingkatnya yang sama sekali belum pernah saya temui; Ikhsan, Mute, Dhika, Bayu, dan Candra.
Berbekal cerita dari rombongan lainnya yang sudah jalan beberapa pekan sebelumnya, kami menyusul ke sana. Juga berbekal petunjuk arah seadanya. Dari barat ke timur, dari barat ke timur.. Fokus ke Timur. Di hutan selebat itu tidak ada manusia lain selain kami bertujuh. Tidak ada surat jalan karena memang jalur pogalan belum dibuka, yang artinya jika kami hilang tim SAR pun tidak akan mengetahuinya kecuali jika anggota keluarga kami yang melaporkan kehilangan.
View mirip jalur Suwanting, bukan?

Malam tiba sementara tatapan kami masih tinggi. Tidak ada camp area, maka kami harus berinisiatif menemukan tempat untuk membuka tenda. Seadanya. Tenda kami berdiri di atas tanah dengan kemiringan yang cukup curam. Tak akan lari puncak dikejar. Maka kami memutuskan untuk bermalam dan melanjutkan pendakian esok harinya.

Tidak ada landai, tenda kami berdiri di lahan miring, tidur jadi merosot-merosot
Telah kami susuri pepohonan pinus, kabut, semak belukar, jalur babi (lorong ranting yang kami namakan demikian karena ukurannya hanya cukup untuk seekor babi. Juga karena untuk melaluinya kami harus tiarap dan merangkak), dan bahkan hutan lebat. Tak jua kami jumpai sang puncak. Sampai tiba kami pada lukisan Tuhan yang membuat kami terlupa tentang puncak di atas sana: Hamparan Padang Sabana. Dan tak ada siapa pun di sana selain kami. Lukisan indah itu hanya k ami nikmati sendiri. Maka, nikmat Tuhan yang mana yang mampu kami dustakan?

Setelah 19 jam pendakian, akhirnya kami menemukan kehidupan. Bukan puncak yang membuat kami senang, melainkan bertemu dengan puluhan manusia lainnya. Still can’t believe that we survived!
Pendakian Merbabu mungkin tak akan semenarik ini jika tak kami susuri sang Pogalan. Semua berkat kerjasama tim dan pertolongan Allah semata. Mungkin saja setelah ini jalur Pogalan akan menjadi jalur resmi, yang tak akan semenantang yang telah kami lalui. Sebab itu, kami bersyukur pernah diijinkan merasakan kemurnian alamnya. Bahkan si jalur babi. Rupanya, kami salah jalan karena tidak ada kabar berita mengenai jalur itu sebelumnya.

Naya – Mute *muka belom mandi 3 hari*

Selamat Gyrass, Ikhsan, Mute, Dhika, Bayu, dan Candra! Terima kasih telah menjadi partner yang baik, hebat, pula menyenangkan 🙂

Upacara Kemerdekaan Indonesia di Songo

Cerita kami di Pogalan hanyalah sebentuk petualangan. Petualangan terbesar adalah hidup itu sendiri. Dan pertarungan sejati adalah dengan diri sendiri, tentang bagaimana kau melalui petualangan hidup itu. Dirgahayu Negeriku!
***
Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.(QS. Yunus: 6)
the less traveled road, 15-17 Agustus 2015
Nayadini.