Browsing Category

traveling

0 In city/ traveling

Meramal Nasib di Klenteng Tjo Soe Kong

Sebagai seorang muslim, saya merasa perlu untuk mempelajari agama lain yang ada khususnya di Indonesia, tidak hanya mempelajari tentang Islam saja. Tidak pernah ada kata sia-sia untuk memperluas wawasan dan membuka pikiran. Bagi saya, semakin kita mempelajari tentang agama lain akan membuat kita semakin mengenal diri kita dan akan bertambah pula keislaman kita. Saya begitu bangga dan bahagia dengan adanya keberagaman agama di Indonesia. Saya sangat senang berkunjung ke tempat ibadah orang lain. Salah satu tempat ibadah yang baru-baru ini saya kunjungi adalah sebuah vihara yang terletak di Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten.

Terdapat berbagai relief dewa berjajar di dinding yang sangat menarik karena baru saja direnovasi

Klenteng Tjo Soe Kong adalah klenteng tertua di Tangerang. Tidak hanya untuk beribadah, klenteng ini juga kerap dikunjungi pengunjung lokal maupun asing untuk berwisata. Biasanya pemandu akan dengan sangat senang hati mendatangi wisatawan yang berkunjung dan menjelasksan sejarah maupun ornamen yang ada di klenteng. Nama Klenteng Tjo Soe Kong diambil dari nama seorang tabib yang hidup pada masa Dinasti Song, yang berasal dari Propinsi Hokkian. Sang tabib dikenal dengan sifatnya yang murah menolong masyarakat sekitar tanpa meminta imbalan apapun. Oleh karena itu, saat sang tabib wafat para masyarakat di Kecamatan Mauk berinisiatif untuk membangun sebuah klenteng sebagai sebuah klenteng sebagai sebuah persembahan dan untuk mengenang kebaikan tabib Tjo Soe Kong.

Sejarah selanjutnya dari vihara Tjo Soe Kong adalah terjadinya peristiwa besar pada tahun 1883. Meletusnya Gunung Krakatau menimbulkan potensi Tsunami yang meluluhlantahkan beberapa wilayah di Banten dan Sumatera, bahkan beberapa pulau di sekitar Krakatau menjadi lenyap. Mengutip dari www.djurnal.com bahwa peristiwa Tsunami tersebut merupakan salah satu yang terparah di dunia.

“Bencana tsunami ini terjadi pada tahun 1883 dan membunuh sekitar 36.000 orang. Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh letusan mencapai tinggi 40 meter dan menyapu setidaknya 165 desa di wilayah Jawa dan Sumatera. Letusan Krakataunya sendiri merupakan letusan gunung api yang terbesar dalam sejarah, menimbulkan suara yang begitu keras dan abu vulkanik yang bahkan tersebar hingga ke Australia.”

 

Klenteng ini luas sekali

Tjo Soe Kong merupakan saksi bisu sekaligus keajaiban pada peristiwa tsunami di Selat Sunda masa itu, karena meskipun letaknya di bibir pantai bangunannya tetap kokoh berdiri diterjang Tsunami, sementara sekitarnya hancur lebur. Latar belakang sejarah ini adalah salah satu alasan yang membuat para wisatawan tertarik untuk berkunjung ke Tjo Soe Kong.

Namun itu baru salah satunya, karena ada hal lain lagi yang sangat menarik bagi saya dari kunjungan ke klenteng Tjo Soe Kong, ialah meramal nasib. Saya tidak pernah percaya ramalan, tetapi sangat penasaran ingin mengetahui tata cara meramal di Tjo Soe Kong dan penasaran dengan jawaban yang akan keluar dalam bentuk kertas. Tata cara meramalnya adalah seperti ini, pengunjung harus memperkenalkan diri di dalam hati dari mulai nama, usia, dan mengutarakan permohonannya. Lalu melempar dua batu pipih setengah lingkaran yang ringan. Kondisi batu itu harus sama-sama terbuka atau tertutup, yang artinya permohonan disetujui oleh Dewa dan Dewa mau menjawab permohonan tersebut. Namun bila kedua batu memiliki posisi tidak sama, maka permohonan harus diganti.

 

Veronita sedang menggoyangkan silinder bambu berisi batang bambu pipih yang memiliki nomor-nomor

 

Saya ingat betul dengan permohonan yang saya cetuskan dalam hati. Namun setelah dilempar batu berlawanan posisi hingga tiga kali, kebetulan bapak pemandu saya saat itu adalah orang yang lucu dan menyenangkan. Menurut beliau, permohonan saya sepele dan atau seperti main-main, sehingga ditertawakan oleh Dewa, oleh sebab itu harus diganti. Akhirnya, saya ganti pertanyaannya dengan yang sangat berat, berkaitan dengan masa depan saya. Ajaib! Batu itu mengeluarkan posisi yang sama langsung di kali pertama saya melemparnya. Setelah itu pengunjung harus menggoyang-goyangkan tabung bambu berisi batang-batang bambu pipih yang sudah bertuliskan nomor-nomor. Satu batang bambu pipih yang keluar kemudian akan ditukar dengan kertas sesuai dengan nomor yang ada di batang bambu tadi. Kertas tersebut bertuliskan jawaban ramalan yang terdiri dari deretan kata-kata berbahasa tinggi menyerupai sajak, bisa positif ataupun negatif.

Hal ini tentu menjadi sangat menarik, karena akan muncul jawaban-jawaban yang mungkin saja di luar ekspektasi pengunjung. Salah satu teman perempuan saya menanyakan tentang masa depan percintaannya ketika diramal, ternyata kesimpulan dari jawaban yang ia dapatkan adalah bahwa suatu saat nanti ia akan ditemukan dengan bannyak pilihan dan memiliki potensi poliandri. Kami semua sontak menakut-nakuti sambil bergurau, karena menurut kami sebuah ramalan adalah tindakan untuk mengantisipasi masa depan, bukan sebuah kutukan yang harus kita terima mentah-mentah dan bukan juga sebuah takdir yang hanya bisa kita ratapi dengan pasrah. Semua kembali ke individu masing-masing. Bila terjadi kesamaan antara fakta di masa depan dengan hasil ramalan di masa lalu, bisa jadi orang tersebut tersugesti yang menguasai alam bawah sadar, sehingga ramalan itu menjadi kenyataan.

 

Akan ada seorang “penjaga” yang akan membantumu menerjemahkan ramalan nasib yang muncul

Β 

 

Terlepas dari percaya atau tidak, tidak ada salahnya dicoba karena jawaban dari ramalan di kertas tersebut sangat indah dan sulit dimengerti. Saya senang sekali membacanya berulang-ulang, karena terdengar mirip syair seperti di Timur Tengah. Ramalan ini mungkin bisa menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk berkunjung ke klenteng Tjo Soe Kong, karena jumlah pengunjung Tjoe Soe Kong makin berkurang tiap tahunnya. Saya sangat senang pernah berkunjung ke sana dan sangat ingin kembali untuk mengutarakan lagi pertanyaan-pertanyaan saya tentang apapun. Yuk, kunjungi klenteng Tjo Soe Kong, Tangerang!

 

How to get there:
– dari Stasiun Tangerang naik angkot R04 Psar Anyar – Sewan atau angkot R05 Psar Anyar – Jurumudi / Pasar Anyar – Cikokol, turun di Pintu Air
– sambung elf jurusan Pintu Air – Kampung Melayu. Turun di pasar Kampung Melayu, Teluk Naga
– sambung naik angkot jurusan Kampung Melayu – Pakuhaji – Tanjung Kait. Turun di Tanjung Kait
Β 
Salam,Β 
Hijabtraveller
2 In mountain/ traveling

Gunung Rinjani: Cantiknya Torean dan Bonus Lainnya

Kata orang, Rinjani amatlah cantik. Sayang seribu sayang letaknya begitu jauh dari Jakarta, akan tetapi saya yakin suatu saat nanti saya akan menjejakkan kaki di sana dan melihat langsung keindahannya. Niat aja lah dulu, saya selalu membatin demikian jika ada teman yang memanas-manasi. Hingga sebuah keajaiban terjadi! Sebuah tiket atas nama saya mendarat masuk ke email. Wohooo!

Nggak pernah terpikir akan kembali mengunjungi Lombok untuk kedua kalinya! Pertama kali saya ke Lombok adalah dengan misi keliling gili dan wisata di kota, seperti museum dan pasar seni. Dulu, tahun 2014 saat masih jadi anak pantai, belum terpikir akan berkeinginan mencumbu Rinjani suatu hari nanti. And here I am, kembali menginjakkan kaki di bandara Lombok International Airport – Praya (LOP) pada H+3 lebaran! Yang secara logika isi kantong udah terkuras habis buat pengeluaran ini dan itu.

Kami tiba di bandara malam hari dengan penerbangan terakhir, juga Damri terakhir (Flash tip: Hubungi dulu call center Damri kalau kamu mengambil penerbangan malam hari, khawatir ketinggalan Damri terakhir, jadi bisa ditungguin). Tujuan kami adalah Desa Masbagik, tempat Andre dibesarkan. Rumah keluarga Andre sangat damai, ramah, dan menyenangkan. Rumahnya sederhana namun artsy, musik indie dan reggae juga berputar berkali-kali. Di sebelah rumahnya terdapat bale yang langsung bersisian dengan ladang luas nan hijau. Yang paling menyenangkan adalah keluarga Andre yang super baik dan ramah, penialian saya orang Lombok memang ramah dan royal terhadap tamu. Royal dengan kesederhanaan mereka. Jadi, tidak perlu takut-takut nyasar kalau ke Lombok, warganya baik-baik πŸ™‚

Keesokan harinya kami berangkat dari Masbagik menuju basecamp Sembalun. Gunung Rinjani memiliki banyak pilihan jalur pendakian. Pendakian pada umumnya dimulai dari basecamp Sembalun dan berakhir di jalur Senaru. Jalur Senaru terhitung landai meskipun cukup memakan waktu lama, yaitu hingga 12 jam. Kami memilih untuk mendaki melalui Sembalun dan turun melalui jalur Torean. Alasannya, jalur tersebut memiliki view paling bagus, banyak bonusnya (melalui Goa & Air Terjun), dan banyak mata air, meskipun terbilang memiliki kesulitan paling tinggi dibanding Senaru, di beberapa titik awal harus merayap miring menyusuri bibir jurang.

Kami mendaki tanpa menggunakan jasa porter. Kalau ingin mendaki Rinjani dengan menggunakan jasa porter kamu hanya perlu membayar Rp.250.000/porter dan seluruh bawaan kamu akan dibawain. Bukan hanya itu, kamu juga akan dimasakin dan didirikan tenda. Bener-bener terima beres deh! Bila ingin menggunakan jasa porter kamu bisa bertanya saat registrasi di basecamp Sembalun atau bisa juga hubungi Naya (waktu di Rinjani sempat kenalan sama seorang porter dan kami bertukar kontak).

Sembalun kala Senja

Pendakian melalui jalur Sembalun membutuhkan waktu kurang lebih 9 jam sampai ke Pelawangan. Mendakilah pada pagi hari, jangan mencontoh kami yang kebangetan santai dan baru berangkat pada sore hari. Apalagi sampai terlena pada sunset di Sembalun, jadilah dikit-dikit berhenti untuk foto. Taman Nasional Gunung Rinjani memiliki kemiringan lahan bervariasi, dari mulai datar, bergelombang, berbukit, hingga bergunung-gunung. Oleh sebab itu, jalur pendakian Rinjani pada umumnya panjang, terlebih lagi Sembalun. Flash tip: Kalau mendaki pada siang hari, jangan lupa bawa payung/topi dan gunakan sunblock. FYI, itu salah satu alasan mengapa kami memilih berangkat pada sore hari.

Di Tengah Bukit Penyesalan

Pos 1 – Pos 2 – Pos 3 – Bukit Penyesalan – Pelawangan. Seharusnya demikianlah urutan pendakian melalui jalur Sembalun. Niat hati kami ingin sekali menghajar pendakian langsung hingga Pelawangan dan baru mendirikan tenda setibanya di sana. Namun, kaki salah satu dari kami kram dan sulit digerakkan, sehingga kami terpaksa untuk menghentikan pendakian dan menunda perjalanan untuk lanjut esok hari. Kami tiba di Pos 3 pukul sembilan malam. Banyak tenda yang berdiri di dekat sumber air. Sedangkan kami memilih untuk menaiki bukit dan menenda di atas. Sendirian, syahdu~. Flash tip: kamu bisa ambil air di Pos 2 atau Pos 3.

Nggak nyesel sempat bermalam di kaki Bukit Penyesalan. Sunrise-nya di pagi hari bikin meleleh dan nggak mau pulang. Wait, ada yang tahu kenapa dinamakan 7 Bukit Penyesalan?

Mari melanjutkan perjalanan menuju Pelawangan Sembalun. Kami berangkat pada pukul 09.00 pagi. Di sepanjang jalan sudah banyak pendaki yang melanjutkan perjalanan menuju Pelawangan, beberapa di antaranya adalah orang bule. Gunung Rinjani mungkin adalah gunung yang paling ramai oleh pendaki berkebangsaan asing. Ada beragam bule yang saya temui selama di pendakian, berasal dari Kanada, Belgia, Belanda, Swiss, Jerman, Prancis, Denmark, Australia, dan bahkan UK. Alasan mereka mengunjungi Rinjani adalah karena Indonesia terkenal dengan pegunungannya dan Rinjani memiliki banyak bonus, seperti pemandian air panas, danau penuh dengan ikan, air terjun, dan goa. Pastinya adalah karena Rinjani berada dekat dengan Gili Trawangan, salah satu pulau kecil di sehingga yang sangat dikenal warga asing, mereka bisa mendapatkan pantai dan gunung dalam satu wilayah destinasi bernama Lombok.

Kami tiba di Pelawangan Sembalun pada pukul 12.20 WIB dan mendirikan tenda di sebelah ujung dekat dengan sumber air (nggak dekat-dekat amat juga sih, butuh berjalan kira-kira 15 menit menuju sumber air). View sunset di sini masyaallah bagusnya, terlihat Danau Segara Anak yang membentang luas, seperti lautan karena di mana ujungnnya tidak terlihat. Flash tip: Jangan meninggalkan bahan atau bekas makanan di luar tenda. Ada banyak monyet yang akan berkeliaran di sini. Boro-boro mau ngumpetin bahan makanan.

SEMANGKA KAMI GELINDING T_T

KOL NYA JUGA IKUTAN GELINDING T_T

 

Siap-siap summit malam harinya. Kami berangkat pukul 02.00 pagi (ini kesiangan, yang lain sudah berangkat pukul 12.00 malam). Dan titik-titik cahaya terlihat berbaris di kejauhan, alias macet. Biasanya saat ingin summit, saya minum susu dulu untuk mengisi perut yang kosong. Namun ini malah ikut-ikutan makan Spaghetti Tuna. Memang dasar nggak bisa mengonsumsi makanan kalengan, baru berapa meter summit perut saya mual nggak karuan. Saya muntah-muntah di sisi jalur pendakian, kadang menunggu jalur sepi dulu karena nggak enak sama pendaki lain, takutnya malah jadi ikutan mual karena melihat saya muntah. Lucunya, bau amis tuna kalengan tersebut menguar begitu kuat saat saya mual itu. Padahal sebelumnya pas makan nggak terlalu kecium, mungkin karena lapar πŸ™ Flash tip: Jangan konsumsi makanan yang nggak biasa kamu makan menjelang summit!

Andre dan Ivan saya pinta untuk duluan, khawatir Ivan mau mengejar sunrise untuk koleksi fotonya, sedangkan saya akan jalan belakangan ditemani Bayu. Kami berpisah di puncak Pelawangan. Untungnya, setelah muntah saya merasa agak baikan. Setelah saya baikan, malah gantian Bayu yang mual. Oh ya, satu lagi hobi saya dan Bayu kalau summit, yaitu suka tidur di jalur. Ingat pendakian saya dan Bayu sebelumnya di Semeru?Β  (Pendakian Gunung SemeruΒ http://www.nayadini.com/2016/05/gunung-semeru-komplek-di-atap-jawa.html) Kami tidur pulas sampai matahari muncul ha..ha… Kami berdua nggak pernah ngoyo buat sampai puncak. Tidak pernah memaksakan diri apalagi jika kondisi tidak fit seperti ini. Yang penting, kami akan terus berjuang untuk tiba di puncak, bagaimanapun dan berapa lamapun. Jangan pernah menyerah! Bersama kita bisa! Dua anak lebih baik. #eh

ALHAMDULILLAHIROBBIL ALAMIN, SUMMIT!

 

Di Gunung Rinjani terdapat banyak sekali pendaki berkebangsaan asing

 

Andre bilang, sekarang puncak Rinjani memiliki kontur yang sudah sedikit berbeda. Dulu, track pasirnya panjang hingga puncak Pelawangan. Sekarang hanya sampai diujung tanjakan tearkhir menuju puncak.. Apapun itu, bagi saya Rinjani memiliki jalur pendakian dan jalur summit terpanjang dibanding gunung-gunung sebelumnya yang pernah saya datangi. Baru kali ini saya mendaki dan jempol kaki saya lecet-lecet. Kamu hebat kaki! Kamu hebat! Flash tip: Bawa sunblock kemanapun bahkan pas summit. Gunakan secara berkala dan sesering mungkin. Rinjani adalah gunung terbikin-gosong, pasca summit saya dan teman-teman saling ejek muka satu sama lain yang jadi gosong bin dekil nggak karuan. Saya juga dapat bonus jerawat di mana-mana ha…ha…

Saatnya menuju Segara Anak!!! *drumroll* (lagi-lagi kebangetan santai, baru jalan pukul 04.00 sore).

Difoto menggunakan OPPO F1 plus Smartphone

Bonus view di mana-mana

Butuh waktu 4 jam untuk tiba di Segara Anak. View yang kami lalui di sepanjang jalan bikin betah. Jalan dikit, cekrek.

Beberapa kembang api heboh mewarnai langit malam menyambut kedatangan kami, persis seperti sedang berada di pasar malam. Bukan, kembang apinya dipasang bukan buat menyambut kami, pas aja kebeneran kami datang waktu kembang api itu dinyalakan oleh seorang (atau serombongan) pendaki entah siapa he..he… Segara Anak penuh tenda. Untungnya, kami bertemu rombongan abang-abang yang nenda dekat kami saat di Pelawangan, jadilah kami diberi lahan untuk mendirikan tenda bersebelahan, meski tidak dekat dengan bibir danau. Berhubung sudah malam dan di mana-mana penuh tenda.

“Untuk sementara kita nenda di sini dulu ya. Besok kita pindah ke pinggir danau dan cari pohon buat masang hammock.” kalimat Andre tersebut serempak kami iyakan. Ay, ay, captain!

Bayu – Andre – Naya (me) – Ivan

 

Pinggir danau yang dimaksud Andre bukanlah bibir danau alias batas dilarang mendirikan tenda, melainkan sebuah dataran tinggi di atas danau. Harus berputar dulu kalau mau sampai ke danau di bawah itu, apalagi buat mancing. Ini view terbaik untuk pasang tenda dan hammock. Di hadapan kami terhampar megah Segara Anak dan cantiknya Gunung Baru Jari. Oh ya, pemandian air panas Aik Kayak dan mata air hanya terletak 15 menit dari situ. Ah, berlama-lama di Rinjani pun aku mau. Semua ada lengkap ada di sini. Satu lagi, bisa makan enak. Ikan-ikan Segara Anak hasil mancing dan dikasih orang diolah Andre dengan sangat enak. Kalau kami bawa chef, untuk apa sewa porter kan huehehehe.

Danau Segara Anak. (in frame: Ivan)

Masya Allah pemandangan dari depan tenda kami. Nb: tidak untuk dicontoh, abis makan nasi bungkus langsung tidur hahaha

Naya, dikit-dikit mau berendem air panas. Konon katanya, banyak orang yang datang ke Rinjani khusus untuk berendam di air panas tersebut dalam rangka berikhtiar menyembuhkan penyakit. Wallahualam bisshowab, sakit nggak sakit saya aja senang berendam di sana, dari mulai mandi keramasan, cuma sikat gigi, atau bahkan sekadar bengong di dalam kolam. Iya benar, pemandian air panas itu adalah tempat di mana beberapa waktu lalu meninggalnya seorang pendaki yang tenggelam karena memang pemandian air panasnya cukup dalam. Air terjunnya juga lumayan tinggi, mungkin sekitar 3 meter. Beberapa pendaki melompat dari atas air terjun ke kolam pemandian, dengan catatan, pastikan kamu bisa berenang dan tidak melakukannya sendirian tanpa pengawasan orang lain ya.

Gara-gara keasikan mandi air panas jadi lupa pulang. Kami baru jalan pukul satu siang (lagi-lagi kebangetan santai). Kami berpisah dengan rombongan abang-abang asli Lombok yang sudah dua hari ini menghabiskan waktu bersama (ciye), karena mereka akan pulang lewat jalur Sembalun lagi. Sedangkan kami akan menyusuri jalur Torean yang merupakan jalur pertama pendakian gunung Rinjani.

 

Berendam samba menatap alam yang indah nan megah. Terharu….

Sepanjang jalan sebelum memasuki hutan pemandangan yang akan kamu temui adalah keindahan yang tidak ada habis-habisnya. Kamu akan melewati Goa Susu dan Goa Manik, bahkan kami sempat masuk ke Goa Manik yang ukurannya sangat kecil.

Goa Manik

Sama seperti view pendakian jalur Pogalan, Gunung Merbabu (baca di sini http://www.nayadini.com/2016/06/buka-jalur-baru-gunung-merbabu.htmlΒ ), jalur Torean, Gunung Rinjani ini membuat saya tidak henti-hentinya bertasbih. Saya dan sepertinya semua anggota tim kami jatuh cinta pada jalur Torean. Sampai-sampai kami membuat jingle dan nyanyi di sepanjang perjalanan,”Torean… Tooooorean…. Torean anak yang manis~”. Kamu pasti tahu lirik itu plesetan dari lagu apa.

Jalur Torean banyak air terjun

Selepas view megah yang disuguhkan Torean, kita akan memasuki jalur hutan yang panjang. Kurang-lebih jalurnya mirip Gunung Ciremai. Hanya ada beberapa tanjakan curam di penghabisan track pinggir jurang, sisanya jalur landai dan memanjang menyusuri hutan. Beberapa ayam hutan berkokok gagah mengisi kekosongan.

Β 

Jalur Torean berada di sisi pantai. Sekeluarnya dari hutan yang akan kamu temui adalah ladang jagung dan kebun cokelat & kopi. Andre meminta ijin pada warga (dengan bahasa Lombok) untuk memetik buah cokelat agar kami bisa mencicipnya. Hmm… rasanya mirip buah sirsak!

Nggak nyangka, kami berada di Rinjani 5 hari 4 malam lamanya. Itu pun masih terbilang belum puas. Suatu hari nanti harus balik lagi dan mencicip jalur lain, Senaru contohnya. I’ll be back, Dewi Anjani. Kau sungguh cantik sekali πŸ™‚

Bersama teman-teman tenda sebelah yang bersedia berada dalam satu flysheet dengan kami di Segara Anak

 

nb: Foto dan video lebih lengkap mengenai perjalanan ini dapat kamu lihat di Steller-ku, id: nayadini

Budget (belum PP):

Alternatif 1 (jika kamu ingin mampir dan bermalam di sekitaran Lombok)

Tiket pesawat Jakarta – Lombok : 600.000/orang

Tiket pesawat Lombok – Jakarta :Β  800.000/orang

Damri Bandara LOP – Mataram/Senggigi/Selo : 25.000 – 35.000/orang

Transport Masbagik – basecamp Sembalun : 25.000/orang

Simaksi : 10.000/malam

 

Alternatif 2

Tiket pesawat Jakarta – Lombok : 600.000/orang

Tiket pesawat Lombok – Jakarta :Β  800.000/orang

Transport Bandara LOP – basecamp Sembalun : 500.000/mobil

Simaksi : 10.000/malam

Saya tidak pernah ikut open trip, jadi ini adalah catatan perjalanan lepas alias backpacking. Jika anggota timmu memiliki pengalaman cukup tentang mountaineering dan ingin backpacking menuju Rinjani, boleh tanya saya untuk kontak transport antar-jemput keliling LombokΒ dan/atau porter melalui email nayadini@icloud.com. Jika tidak, saya sarankan untuk ikut open trip pendakian. Open trip pendakian Rinjani ada banyak, apalagi di tengah tahun menjelang 17 Agustus-an seperti ini. Biasanya dikenakan biaya sebesar Rp. 1.400.000.

Selamat mencumbu Anjani!

 

Salam,

Nayadini.

 

 

 

 

 

 

 

2 In mountain/ traveling

Gunung Kerinci: Perjuangan Menggapai Atap Sumatra

Biasanya, kamu naik gunung diajak atau ngajak?

Kalau dipikir-pikir, saya naik gunung selalu karena diajak. Banyak alasannya. Pertama, kalau ngajak duluan terus tau-tau nyusahin pas nanjak kan nggak enak :’). Kedua, bingung juga mau ngajak siapa karena biasanya pada susah diajak jalan terbentur jadwal cuti, kecuali ada teman yang memang sudah lama minta diajak naik gunung. Kalau bukan karena diajak mungkin saya nggak akan pernah menginjakkan kaki di gunung tertinggi Pulau Sumatra, Kerinci. Thank you Andre and Bayu! Ah, dan satu perempuan lagi kenalan baru saya yang tangguh dan menyenangkan, Jacklyn.

Gunung Kerinci terletak di Provinsi Jambi, untuk mencapainya dari pulau selain Sumatra terdapat dua pilihan rute perjalanan, via Bengkulu atau Padang. Jika via Bengkulu bisa naik pesawat menuju Bengkulu Bandar Udara Fatmawati Soekarno (BKS), kemudian melanjutkan perjalanan ke Kerinci menggunakan travel melalui kabupaten Mukomuko menuju Kota Sungai Penuh atau Kerinci selama 10-11 jam. Jika via Padang mendarat di Bandar Udara Internasional Minangkabau, kota Padang (PDG), dan menyambung travel ke Jambi lebih kurang 7-8 Jam jalur darat. Rute terakhir lebih menghemat waktu, maka pilihan itu yang kami pilih.

Flash tips: Di saat long weekend berangkat lah 4 jam lebih awal dari biasanya atau kamu berpotensi ketinggalan pesawat karena akses menuju bandara MACET TOTAL.

Pilihlah penerbangan di sore hari, sehingga kamu bisa tiba di Padang pada malam hari dan naik travel semalaman, lalu tiba di Jambi pagi harinya (untuk info kontak travel Padang-Jambi bisa hubungi saya). Kamu bisa minta dijemput oleh travel tepat di depan bandara. Pemandangan Padang sangatlah indah, tapi jangan harap kamu dapat bersantai-santai selama di perjalanan (yang pernah naik Angkutan Lintas Sumatra pasti tau he..he…). Lelah dan mual akibat perjalananmu akan terbayar setelah kamu tiba di Jambi dan melihat indahnya hamparan kebun teh yang maha luas di kaki gunung Kerinci.

Disambut senja Sumatra

 

Suasana basecamp lumayan ramai saat itu, ada beberapa rombongan pendaki dari Padang dan Bengkulu. Beberapa akamsi (anak kampung situ) merupakan ranger yang biasa bolak-balik Kerinci menjadi guide rombongan pendaki. They are all nice dan berbicara bahasa jawa, bukan bahasa minang! Mereka sangat ramah dan menyenangkan. Letak basecamp lumayan dekat dari si fenomenal tugu macan, tetapi lumayan jauh ke pintu rimba (jalur desa Kersik Tuo, jalur termudah Kerinci), kira-kira sejauh 2 km. Kamu bisa berjalan kaki atau minta diantar oleh orang basecamp.

Andre – Bayu – Jacklyn – Me (cewek culun style mode on)

Melalui rute via desa KersikΒ Tuo rute pendakian Gunung Kerinci pos 1 – pos 2 – pos 3 – shelter 1 – shelter 2 – shelter 3. Durasi pendakian hingga shelter 2 memakan waktu 8 jam. Alhamdulillah kami tiba di shelter tersebut sesuai predisi dan ekspektasi.

 

Shelter 1

 

 

Rombongan yang nenda di sana waktu itu adalah orang asing dengan kewarganegaraan beragam

LANJOOOOT!

Menuju shelter 2,Β  tingkat kesulitan mulai menggemaskan

Shelter 2 finally! Celana kami menggambarkan betapa gundukan tanah pasca hujan yang curam tak bisa dihindari

 

Kamu bisa memilih untuk nenda di shelter 1, 2 atau 3. Namun saya dan tim sepakat untuk bermalam di shelter 3 dengan alasan masih sanggup, meskipun rombongan lain memutuskan untuk membangun tenda di shelter 2. Gunung Kerinci terkenal dengan kesulitan trek pendakiannya, foto-foto testimoni yang sering kamu jumpai di media sosial khususnya Instagram adalah trek dari shelter 2 menuju shelter 3. Trek tersebut merupakan medan tersulit yang dimiliki Kerinci. Lumayan memacu adrenalin, menguji kekompakan, dan ketahanan tubuh ketika kami melewatinya dalam keadaan gelap gulita ditambah gerimis, sehingga tanah lumayan licin. Akar pohon yang besar-besar melintang di sana-sini menambah nikmatnya trek yang sudah sulit. Sedap! :’D

 

OTW Shelter 3, jalur paling fenomenal

Kondisi medan pasca hujan sebagai sebuah sambutan manis until muka ketemu lutut

 

Kami tiba di shelter 3 sudah gelap sekali, sehingga tidak punya foto pemandangan tenda di lokasi untuk dipasang.

Enaknya nenda di shelter 3 adalah kamu menghemat waktu dan tenaga ketika summit. Orang-orang jalan sekitar jam 2 malam, sedangkan kami baru jalan pukul 5 (harusnya jam 4, cuma kami pada malas-malasan, maklum kecapean huhuhu).

Setelah berjalan sekitar 90 menit kita akan bertemu lahan dataran luas yang disebut Tugu Yuda. Tempat ini diberi nama Tugu Yuda karena dahulu kala ada pendaki bernama Yuda yang hilang di sini, setelah turun dari puncak.

Sesuai info yang saya kutip dari ilmugeografi.com, Gunung Kerinci merupakan gunung tertingiΒ  di pulau Sumatra, tepatnya di provinsi Jambi. Gunung Kerinci termasuk ke dalam bagian Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan merupakan jajaran dari bukit barisan dengan koordinat letak 1Β°41’48”LU dan 101Β°15’56”BT dan termasuk dalam golongan gunung berapi yang masih aktif. Oleh karena itu, puncak harus steril pukul 9 pagi. Kondisinya sama seperti Mahameru yang harus steril pada pukul 10, bila teman-teman pernah ke Gunung Semeru.

 

 

Sunset pertamaku di Jambi

 

08.00 WIB Alhamdulillah…. puncaaaaak! Disuruh pura-pura ketawa malah jadi ketawa beneran

 

We did it!

 

Dari atas puncak kita bisa melihat pemandangan Jambi yang berbatasan dengan Bengkulu dan Padang. Ada juga bayang Danau Gunung Tujuh, kalau kamu ke Kerinci sempatkan juga ke siri ya. Dan jangan lupa Danau Kaco juga. Indah mirip Labuan Cermin!

 

 

Barengan menuju puncak. Yes yang di tengah itu dedek Khansa (10 th) dan dia sudah mendaki banyak gunung Indonesia. Masya Allah….

 

*zoom in* Khansa 7 Summiters

 

Nenda semalam lagi di shelter 1 karena kami mendapat pesan dari orang basecamp jangan turun lewat dari magrib. Cuma kami yang dipesenin begitu, entahlah. Kami nurut aja.

Shelter 1

 

Tenda satu-satunya

 

Tidak terbayangkan haru dan bahagianya bisa menginjakkan kaki di titik tertinggi Sumatra. Semua tentu saja berkat ridho Tuhan semata, juga kerja sama antar anggota tim. Terima kasih Andre, Bayu, dan Je!

Nggak lama kami turun, Kerinci mengalami Erupsi yang menyebabkan pendakian di tutup. Betapa Allah begitu baik kepada kami, sebab kemarin Indrapura maish baik-baik saja.

 

 

Kebun teh Kayu Aro adalah yang terluas di dunia (fokus ke erupsi di belakang)

 

Bagi saya, mendaki gunung memiliki hikmah tersendiri dan melalui itu saya berharap dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Banyak teman dan keluarga terheran-heran saat saya hendak mendaki gunung, apalagi sampai ke bagian barat Sumatra, “Liburan kok capek-capek?”. Setelah diledek seperti itu biasanya saya hanya tertawa. Kalau dipikir-pikir ya benar juga, naik gunung capek. Apalagi ke Kerinci, capek di jalan. Tapi hikmah dari perjuangan saya ke Kerinci ini telah menjadi hal yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Menjadi titik balik di usia muda saya, bagaimana saya mampu mengalahkan kekhawatiran atas kemampuan diri sendiri. Orang yang ngajak aja yakin saya mampu, masa saya enggak?

Mungkin saja bagi sebagian orang yang sudah menyambangi banyak gunung, mendaki Kerinci bukan lah apa-apa. Namun bagi saya yang pemula dan masih awam, pendakian kali ini amat berharga. Alhamdulillah, saya mulai berhenti merendahkan diri sendiri dan bersyukur atas karunia apapun yang Tuhan berikan. Berbanggalah atas dirimu sendiri. Kalau bukan kamu yang mengapresiasi diri sendiri, siapa lagi? πŸ˜‰

Β 

Kembali ke Jakarta dengan oleh-oleh pesanan mama dan sogokan buat orang kantor yang ditinggal cuti ha…ha

Budget (belum PP):

Tiket pesawat Jakarta – Padang (promo): 500.000/orang

Travel Bandara Minangkabau – Kersik Tuo, Jambi: 70.000/orang
Transport basecamp – pintu rimba via Kersik Tuo, Jambi: 15.000/orang
Simaksi: 7.500/hari
0 In mountain/ traveling

Gunung Semeru: Komplek di Atap Jawa

Mendaki gunung saat ini tidak hanya menjadi hobi bagi saya, tetapi seperti napas yang saya butuhkan dan tak bisa ditunda. Kali ini giliran Semeru. Gunung tertinggi tanah Jawa. Tidak harus tinggi sebenarnya, udara segar bisa saya peroleh di mana saja selain di gunung. Namun pendakian kali ini memang pada awalnya diinisiasi seorang kenalan yang ending-nya malah dia sendiri yang membatalkan janji sementara tiket sudah kadung dibeli.

Pendakian di awal bukanya kembali Semeru (pendakian Semeru ditutup untuk beberapa lama dan baru dibuka per 1 Mei 2016), plus beriringan dengan long weekend yang benar-benar long. Dulu sekali saya sama sekali tidak tertarik mendaki Semeru, karena konon semenjak tersohor berkat film layar lebar beberapa waktu lalu gunung ini makin ramai dan kotor. Semangat untuk menapaki Mahameru itu sebenarnya makin surut kalau saja tidak disemangati oleh teman saya yang memang sudah lama mendamba Ranu Kumbolo. Namun pada akhirnya, saya justru malah bersyukur pada ketidaksengajaan itu. Semeru masuk ke dalam daftar gunung favorit seorang Naya. Everything happens for a reason, right? Flash tip: Mengunjungi Semeru lebih mudah dengan kereta daripada pesawat, karena letak bandara sangat jauh menuju basecamp.

Kami berangkat dari Stasiun Pasar Senen pada sore hari dengan kereta ekonomi Majapahit, lalu tiba di Stasiun Malang keesokan harinya pada pukul 11.00 siang. Letak basecamp dari stasiun cukup jauh dan harus menyambung angkutan berkali-kali, sehingga akan lebih mudah jika menyewa angkutan untuk sampai ke sana. Namun karena jumlah kami hanya berempat beberapa waktu sebelumnya Bayu mencari barengan melalui internet untuk sharing cost dari stasiun menuju basecamp Tumpang. Bertemulah kami dengan rombongan pendaki asal Semarang yang cowok semua berjumlah 8 orang. Kemudian sepanjang jalan terisi gelak tawa dengan jokes yang jawa banget. Flash tip: Gunakan hashtag #caribarengan di Instagram atau bisa di grup-grup pendakian di Facebook.

Windari – Alek – Bayu – Naya – Mas Wafa (satu dari sekian rombongan asas Semarang)

Butuh waktu kurang dari satu jam untuk bisa tiba di basecamp Tumpang. Ada yang berbeda di pendakian Gunung Semeru sekarang, registrasi pendakian dilakukan di Tumpang, bukan lagi di Ranupani. Hal tersebut mungkin diberlakukan untuk membuat prosedur registrasi yang kian ramai tetap kondusif. Flash tip: Bawa fotokopi identitas dan surat keterangan sehat dari dokter, jangan lupa dikopi 3 rangkap.

Basecamp Tumpang berbentuk barisan ruko. Selain ruko pendaftaran registrasi ada juga warung dan tempat penyewaan peralatan mendaki. Harganya bahkan lebih murah dari jasa penyewaan yang biasa saya gunakan di Jakarta. Kalau ada barang bawaan yang lupa kamu bawa, kamu bisa menyewa di sana. Dari mulai tenda, sleeping bag, matras, kompor & nesting, hingga sepatu gunung. Namun ini untuk urgent saja, kalau-kalau ada bawaanmu yang tertinggal di rumah. Sebaiknya tetap persiapkan seluruh barang bawaan dari rumah dengan matang. Takutnya stok item di penyewaan sedang kosong (untuk kontak untuk penyewaan mountaineering di basecamp Tumpang bisa tanya melalui Naya).

Prosedur registrasi pendakian Gunung Semeru ternyata semakin repot saat ini. Di basecamp Ranu Pani pendaki harus ikut briefing pendakian dari Taman Nasional kurang lebih setengah jam, di saat anggota tim berada di aula mengikuti briefing pendakian, ketua tim harus melaporkan butki pelaporan di basecamp Tumpang di tempat berbeda. Mengikuti briefing adalah wajib hukumnya. Briefing tidak dilaksanakan 24 jam, briefing kloter terakhir adalah pukul 05.00 sore. Pendaki yang ketinggalan briefing terakhir tidak boleh berangkat mendaki dan harus menunggu sampai keesokan harinya. Ketatnya prosesur pendakian Gunung Semeru ini diberlakukan karena jumlah pendaki Semeru semakin banyak dan jumlah korban hilang juga semakin banyak. Petugas dari TNBTS menjelaskan dengan detail korban-korban yang hilang dan selamat dari pendakian Gunung Semeru. Pada umunya mereka hilang di kawasan Blank 75, setelah summit puncak Mahameru.

Karena ketua tim kami sudah pernah mendaki Semeru sebelumnya, maka kami memutuskan untuk berangkat mendaki malam itu juga, atas ijin dari petugas TNBTS tentunya. Bismillah…..

Kami tiba di Ranu Kumbolo pukul 11.00 malam. Cuaca lumayan dingin sekalipun di sana ramai pendaki dan tenda sangat padat dan rapat. Ramainya Ranu Kumbolo hari itu baru terlihat saat pagi harinya. Kuota pengunjung Gunung Semeru hanya 500 orang per hari, tapi dengar-dengar dari porter jumlah pendaki Gunung Semeru pada libur panjang itu mencapai 3.000 orang banyaknya. Jika dilihat dari penuhnya Ranu Kumbolo saat itu saya sangat percaya kalau jumlah pendaki hari itu mencapai angka ribuan.

Ramainya Ranu Kumbolo

 

Film 5 cm yang tayang pada tahun 2013 lalu di bioskop benar-benar memberikan dampak yang dahsyat akan ramainya pendakian Gunung Semeru. Para pendahulu mungkin akan bersedih melihat Semeru yang sekarang, bahwa Ranu Kumbolo tak lagi suci, meskipun tidak ada lagi pendaki yang boleh berenang atas larangan pihak TNBTS. Di Danau Ranu Kumbolo banyak buih-buih sabun bekas mencuci muka, sikat gigi, atau bahkan mencuci peralatan masak dan makan. Seharusnya, aktifitas seperti itu dilakukan beberapa meter dari bibir danau, sehingga kotorannya tidak terbawa ke danau. Pendaki juga kerap kali melanggar batas larangan mendirikan tenda di tepi danau. Hal ini sangat tidak baik karena aktifitas pendaki akan berkontribusi terhadap kotornya danau.

Perumahan Semeru Indah :’)

 

Hal lain yang menyedihkan dari pendakian Gunung Semeru saat ini adalah banyaknya kotoran manusia di sepanjang jalur pendakian. Sebenarnya pihak TNBTS telah menyediakan toilet umum di dua sisi Ranu Kumbolo. Bentuknya adalah bilik-bilik berpintu dengan lubang di tengah bawah, tanpa WC dan air. Para pendaki yang ingin buang air harus membawa air di dalam botol. Namun, bukan hanya kotoran yang di buang ke lubang, tetapi botol-botol bekas air juga diikutsertakan. Sehingga lubang toilet menjadi kepenuhan dan isinya jadi…. huek! Saya saja nggak mau buang air di toilet tersebut, karena jorok dan bau minta ampun. Namun jika kamu tidak mau buang air di toilet umum tersebut seperti saya, hendaklah mencari lokasi yang aman dan jauh dari jalur pendakian. Pihak TNBTS juga telah mengajarkan tata cara untuk buang air (besar), ialah dengan menggali lubang. Dengan catatan jika kamu belum kebelet dan masih mampu membuat lubang. Buang air di jalur pendakian adalah cara yang sangat tidak pintar, tentu saja hal tersebut sangat merugikan pendaki yang akan lewat. Padahal, pihak TNBTS sudah mengimbau di saat briefing mengenai etika dan tata cara pendakian Gunung Semeru.

bersama Kakak Marcel. Lah bisa reunian di sini. Terakhir ketemu di konser Barasuara :’)

 

Pos selanjutnya yang kami tuju adalah Cemoro Kandang. Setelah melewati Tanjakan Cinta pendaki akan melalui Oro-oro Ombo, yaitu padang luas yang dipenuhi bunga berwarna ungu, Verbena Brasiliensis Vel. Tidak secantik penampakannya, bunga ini ternyata adalah tumbuhan parasit asal Amerika Selatan yang mengancam ekologis di sekitarnya dan menyerap banyak air, bahkan sempat menutupi permukaan air Ranu Pani. Banyak yang mengira bunga tersebut adalah lavender, sehingga beberapa waktu lalu bunga ini menjadi topik yang sangat ramai diperbincangkan di media sosial Intagram, karena muncul foto-foto pendaki yang memetik bunga ini dan dianggap merusak ekosistem dan tidak mencintai alam. Padahal, saat briefing pendaki sangat dipoerbolehkan untuk memetik bunga tersebut dan membawa pulang, dengan catatan tidak tercecer sembarangan karena VBV sangat mudah tumbuh dan mereproduksi diri secara seksual dengan memproduksi benih.

Saat saya ke Semeru, Oro-oro Ombo senang mekar-mekarnya

 

Jarak tempuh dari Ranu Kumbolo ke Pos Cemoro Kandang adalah 1,5 jam. Di pos ini kami beristirahat cukup lama sambil memandangi indahnya Oro-oro Ombo dan menikmati gorengan. Wait, gorengan? YES! Di pos ini ada warung yang menjual minum dan penganan seperti gorengan dan irisan buah semangka. Bahkan di Ranu Kumbolo ada ibu-ibu yang jual nasi bungkus keliling hihihi.


Tiga jam dari Cemoro Kandang kamu akan tiba di Pos berikutnya, yaitu Jambangan.

Artinya, Kalimati sudah dekat. Yeay! Kalimati tidak seramai Ranu Kumbolo, karena banyak pendaki yang datang hanya untuk menghabiskan waktu di Ranu Kumbolo. Tekstur tanah Kalimati adalahberpasir, karena sudah semakin dekat dengan puncak Mahameru yang teksturnya berpasir dan berbatu. Flash tip: Untuk mengambil air, kamu bisa ke Sumber Mani. Jaraknya tidak dekat, butuh satu jam bolak-balik ke sana. Karena berjalan menuju Sumber Mani lumayan menguras tenaga, banyak warga yang akhirnya berjualan air di Kalimati, dengan botol bekas air mineral berukuran 1,5 liter yang dihargai Rp.10.000-15.000 per botolnya. Semua bisa jadi uang di negara kita tercinta ini πŸ˜€

 

Bersantai di Kalimati

 

EITS ADA SIAPA TUCH!?

 

*zoom in*

 

Pendaki pink! Bentar lagi pasti jadi artis dan mask tivi hmmm

 

SUMMIT ATTACK!!!! Banyak pendaki yang sudah berangkat menuju puncak dari Kalimati pada pukul 11 malam. Kami saja baru tidur pada pukul 09.00 WIB. Oleh karena itu, kami baru berangkat pada pukul 2 malam, untuk menghindari kemacetan di jalur pendakian. Dibutuhkan waktu 5 jam untuk bisa tiba di puncak Mahameru. Sambil menunggu Windari dan Alek yang masih tertinggal di belakang, saya dan Bayu tidur di sisi jalur pendakian. Ngantuk beraaaat! Tidak terasa sampai fajar mulai menyingsing. Indahnya…..

Menuju Mahameru

Semeru merupakan gunung yang masih sangat aktif dan setiap 20 menit sekali mengeluarkan abu vulkanik dan pasir. Momen ini lah yang sangat ditunggu-tunggu oleh para pendaki di puncak, yaitu untuk berfoto dengan ledakan abu vulkanik tersebut. Saya nggak punya fotonya karena nggak banyak foto-foto di atas puncak. Saat briefing pendaki diimbau untuk tidak berada di puncak lebih dari jam sepuluh pagi, karena material yang dikeluarkan oleh Semeru akan membahayakan untuk manusia.

Bangun tidur kuterus summit

Sejauh ini, jalur puncak Semeru adalah yang paling saya sukai, karena teksturnya sangat tebal akan pasir meskipun berbatu. Tekstur tersebut sangat mempermudah untuk turun dengan cara moonwalk, jalan santai yang saking santainya bisa dengan tanpa melihat pijakan lagi. Banyak pendaki yang berlarian menuruni trek, hal tersebut bagi saya sangat mengganggu dan membahayakan pendaki di belakangnya karena akan menningglakan kepulan debu yang bisa masuk ke mata.

salam WG

Setibanya di Kalimati kami lebih dulu tidur siang sebelum kembali bermalam di Ranu Kumbolo. Nenda di Ranu Kumbolo nggak cukup sekali pokoknya.

Ranu Kumbolo

 

Ranu Kumbolo benar-benar seindah yang diceritakan para pendulu, mencipta syahdu dan meninggalkan bekas dalam hati para pendaki, Tanjakan Cinta dengan mitosnya yang masih dipercaya banyak orang, Oro-oro Ombo dengan Verbena ungu yang sedang cantik-cantiknya beraksi sebagai parasit, lalu Mahameru yang gagah dan indah jadi satu. Pendakian kali ini berjalan serapi yang diharapkan. Agenda berjalan sesuai dengan itinerary yang telah disusun, durasi pendakian yang sesuai dengan ekspektasi, logistik yang cukup, dan puncak yang sempat dicicipi. Aku akan kembali, wahai sang Mahameru yang gagah!

 

 

Salam,

Indie traveler

1 In city/ mountain/ traveling

Situ Gunung, Ranu Kumbolo Jawa Barat

Beberapa waktu lalu saya pun pernah merasakan hal yang demikian. Jadwal ngetrip udah ada, tapi kelamaan ternyata masih dua minggu lagi. Sedangkan otak udah butuh di-refresh.

Disebabkan banyaknya pertanyaan mengenai destinasi satu ini dan bernasib sama (nggak bisa cuti dan atau nggak punya budget), maka saya putuskan untuk membahas secara detail.

Eng…ing…eng….

Ini dia wisata baru yang dekat, murah, dan meriah (karena bisa piknik cantik maksudnya)!

Kawasan wisata Situ Gunung jawabannya. Terletak di Kecamatan Kadudampit, Kamodabupaten Sukabumi, dan masih merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Sangat mudah untuk menjangkau tempat ini. Juga banyak pilihan wisatanya di satu kawasan tersebut. Ada beberapa alternatif transportasi yang bisa digunakan. Waktu itu saya dan beberapa teman nekad ingin membeli tiket kereta ke Sukabumi dari stasiun Bogor Palegan (yang letaknya di dekat Taman Topi).

Jadi, pertama-tama kami naik KRL dulu Depok-Bogor, lalu berjalan kaki menuju stasiun Bogor Palegan. Beruntungnya kami, tiket masih tersisa. Kami optimis mendapatkan tiket ini karena waktu itu kami tidak pergi di saat long weekend ya, juga rajin-rajin mengecek laman resmi PT. KAI mengenai ketersediaan tiket. Tidak secara spontan kami beli on the spot tanpa pertimbangan. Jadi, kalau kamu ingin beli tiketnya OTS juga, saya sarankan untuk mempertimbangkan kedua catatan yang saya dan teman-teman lakukan itu.

Perjalanan kereta Bogor-Cisaat hanya memakan waktu dua jam. Bahkan berasanya hanya setengah jam, maklum kebiasaan naik kereta ekonomi ke daerah jawa yang menghabiskan waktu seharian he…he… Ingat, meskipun lokasinya di Sukabumi tidak berarti berhentinya di stasiun Sukabumi juga, jangan sampai salah ya! Turunnya di Stasiun Cisaat, sebelum Stasiun Sukabumi.

Dari stasiun biasanya banyak angkot yang menawarkan jasa untuk carter, ojek juga begitu (Rp. 30.000/orang). Karena saya dan teman-teman berniat untuk backpacking, maka kami memilih untuk ‘ngeteng’. Sekalian berbaur dan berinteraksi langsung dengan penduduk setempat.

Stasiun Cisaat, bukan Sukabumi ya!

Dari Stasiun Cisaat kami naik angkot tujuan Pos Polisi Cisaat. Di dekat Pospol ada pasar, kami mampir dulu untuk belanja sayur-mayur. Tujuan kami adalah jalan-jalan hemat tapi makan enak, pokoknya kemping ceria!Β Mau jalan-jalan, nggak punya duit karena tanggung bulan.

Naek angkot yow

Dari Pasar Cisaat sambung angkot lagi berwarna merah yang langsung ke arah Situ Gunung. Makin lama angkot makin menanjak dan suasana makin sejuk. Hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk akhirnya tiba di pintu Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.

Tiket masuk seharga Rp.32.500/orang. Mungkin terbilang cukup mahal, tetapi sangat tidak masalah kalau harga yang diberikan sesuai dengan fasilitas yang disediakan dan kebersihan yang terjaga. We’ll see. Hati-hati, suka ada oknum yang minta harga untuk mendirikan tenda sebesar Rp. 15.000 atau lebih. Jangan mau!

Duh, senangnya nggak bawa kulkas (baca: keril)!

Ada beberapa camp ground di Situ Gunung. Pengunjung boleh mendirikan tenda di mana saja selama itu masih di dalam wilayah camp ground, asal tidak di danau. Di dekat camp ground juga terdapat kamar mandi yang terbilang bersih dan tidak bau. Kamar mandi yang terdiri dari beberapa pintu itu sangat terjaga kebersihannya, sehingga tidak membuat pengunjung merasa segan untuk sering-sering ke sana (ya kali aja ada yang hobi kebelet he..he..). Luar biasanya, tidak ada pengunjung lain di camp ground. Hanya ada kami bertiga, sehingga kami bebas mendirikan tenda di manapun. Horeeeeee.!!! *lari-lari di camp ground*

 

Sore harinya turun gerimis, maka kami putuskan untuk melihat danaunya esok hari sekalian ke air terjun. Keesokan harinya kami mengunjungi danau yang ditempuh dengan berjalan kaki selama setengah jam (dengan speed keong). Beberapa orang menyebut danau ini sebagai Ranu Kumbolo-nya Jawa Barat. Ternyata ramai sekali. Banyak pengunjung yang datang khusus untuk berkunjung ke danau ini tanpa menginap. Aroma popmie di mana-mana. Bedanya? Ada sampan dan bebek-bebekan ha..ha.. Untuk menyewanya dikenakan tarif Rp.20.000/orang. Sayangnya, saat itu sedang mendung. sehingga foto yang saya dapatkan tidak terlalu cerah. Namun sangat pas suasananya kalau ingin merefleksi diri. Sendu-sendu galau syahdu gimanaΒ gitu.

Ismi – Me – Bayu

Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi di kawasan Taman Wisata Situ Gunung tersebut selain danaunya. Ada air terjun Curug Sawer dan Curuyang Cimanaracun. Karena terbatasnya waktu kami tidak mengunjungi Curug Cimanaracun, hanya ke Curug Sawer yang konon adalah curug terbesar di sebuah Taman Nasional di Indonesia. Jarak tempuh menuju curug tersebut adalah 2 km jauhnya. Curug Sawer jauh lebih ramai dari danau tadi. Saya tidak betah berlama-lama di keramaian, sehingga kami di sana hanya menghabiskan waktu tidak lebih dari setengah jam. Air terjunnya deras sekali, sehingga pengunjung dilarang untuk berenang. Namun terdapat spot khusus bagi pengunjung yang ingin merasakan berbasah-basahan di curug tersebut. Oya, di lokasi curug ini juga saya melihat berdiri beberapa tenda. Mungkin boleh camping di sana. Bila kamu tertarik sila tanyakan terlebih dahulu kepada petugas di pintu masuk. Sepertinya seru mendirikan tenda di tepi curug. Next saya dan teman-teman bertekad balik lagi untuk nenda di sana he..he..

Banyak tukang jajanan di kawasan Situ Gunung, dari mulai cilok sampai bakso *nyum*


How to get there:
Β 
Alternatif 1
KRL Jakarta – Bogor: Rp.7.000
Kereta Bogor Palegan – Cisaat: Rp.25.000
Angkot St. Cisaat – Polsek Cisaat: Rp. 3.000
Angkot Polsek Cisaat – Situ Gunung: Rp. 8.000

Alternatif 2 (resiko: Jalur rawan macet)
KRL Jakarta – Bogor: Rp. 7.000
Angkot 03 dari depan stasiun sampai Terminal Baranangsiang: Rp. 4.000
Elf jurusan Bogor – Sukabumi sampai pertigaan Cisaat: Rp. 25.000

Beberapa blog dan teman mereview dengan harga tarif berbeda-beda, dibanding yang lain mungkin harga yang saya dapatkan jauh lebih murah. Maklum, punya skill menawar yang cukup mumpuni. Apalagi didukung dengan kemahiran berbahasa daerah setempat: Bahasa Sunda.

Total biaya yang kami keluarkan waktu itu kurang-lebih Rp. 96.500/orang untuk pulang-pergi Jakarta-Situ Gunung (sudah termasuk tiket masuk untuk 3D2N). Di luar pengeluaran untuk makan dan biaya tidak terduga ya πŸ™‚