Browsing Category

puisi

0 In puisi

Sajakrasa200216

Lembut pagi mendendam rindu

Sesap sendu sisa rembulan malam tadi
Gemintang berserak di sudut matamu
Tersentuh haru
Aku ingin membahasakan puisi paling syahdu
Atau dendang yang melebihi merdu
Tentang nyaman yang kutemukan di dalammu
Aku ingin bersembunyi di dalamnya selamanya
Merengkuh
Memaafkan
Apa-apa yang pernah indah sebelum akhirnya mencipta luka
Memori yang enggan kurupa
Terpenjara dengan cara paling indah
Tak ingin terbebaskan
Menjumpamu adalah sebuah keniscayaan
Sosokmu adalah pembuktian Tuhan

cat: Ditulis untuk portal LogikaRasa. Baca di sini http://www.logikarasa.com/sajakrasa2016/

0 In kisah/ Kisah/ puisi

Kamu dan Kecewaku

…di muka pagi yang begitu suci

 
Kepada kamu yang tanpa sentuh tangan mampu mengotorinya,

Satu minggu telah berlalu.

Pada luka kali ini semua terasa amat berbeda. Tidak ada kata yang mampu kutorehkan sebagai ungkap rasa kecewa, atau pula hanya sekadar mencurah rasa. Kepergianmu tak hanya merampas seluruh mimpiku, senyumku, juga seluruh kata sebagai harta yang kupunya. Otakku lumpuh untuk beberapa hari lamanya, tidak ada rangkaian indah serupa sastra yang menjadi mahakarya. Aku tunawicara, juga tunarasa. Aku mati suri tanpa perlu memejam mata.

Ini adalah tulisan pertama tentangmu seminggu yang lalu, yang mampu kuselesaikan. Setelah malam demi malam kulalui tanpa nyenyak, terganti sesak yang selalu terhenyak. Akan kutuliskan hingga usai demi tidur yang manusiawi malam ini dan malam-malam berikutnya. Aku ingin menjadi normal kembali, kumohon. Meskipun seluruh anggota keluargaku tak hentinya menanyakan kabarmu. 

Jikalau pernah kau sempatkan waktu membaca sebuah tulisanku berbelas bulan lalu, aku pernah menceritakan pada dunia akan sesuatu. Bahwa suatu malam setelah beberapa kali bertemu denganmu aku tak henti bermimpi, duduk bersanding denganmu dengan seperangkat alat seni kesukaan kita. Melakukan sesi foto untuk hari bahagia. Berkali-kali selama seminggu aku kembali memimpikannya, seolah merupakan tanda bahwa kau adalah jawaban segala pinta. Atas alasan itu, kata “iya” kuhadiahkan kepadamu dahulu.

Kedai kopi favorit kita, warung nasi uduk terenak di Margonda Raya, sop ceker yang juara, Om owner rumah makan ayam goreng madu yang selalu menanyakan kita jika datang ke sana tapi salah satu dari kita tak ada, lauk tradisional kesukaanmu, selera asin kita yang ekstrim luar biasa, dan hal lain yang aku tak mampu melupakan setiap detailnya. Terlalu banyak. Terlalu banyak hal menyenangkan dan indah yang harus kulupakan. Terlalu indah kenangan yang harus dirusak oleh setitik (hanya setitik) rasa kecewa. Porsinya tidak sama, tetapi itu seperti lebih dari cukup telah menghapus semuanya serta merta dalam satu masa.

Selangkah setelah kepergianmu aku masih berani mengungkapkan cinta.

“Tidak kah kau takut kehilangan aku?”

Untuk pertama kalinya dalam menjalin kisah asmara, aku berani mengumbar rindu dan cemas yang menggebu akan sebuah perpisahan. Bibirmu mengungkapkan kepedihan yang sama, tapi matamu lain bicara kala itu. Aku tahu kamu akan menghancurkan aku tak lama lagi. Menghamburkan mimpi-mimpiku denganmu ke dalam bentuk puing-puing yang nantinya akan kutapaki sampai habis di ujung jalan dan selama itu ia akan melukai kakiku sendiri. Jumlah puingnya sebanyak besar mimpi yang tercipta.

Perkara kita sudah tak sama dengan apa yang telah kita bicarakan senja itu di sanggar. Fokus yang kau bahas adalah tentang masa depanku yang berseberangan denganmu. Namun tikam yang kau sembunyikan adalah tentang masa depanmu yang bersebarangan denganku. Terhitung mulai saat itu aku tersadar, perlahan kamu tengah berupaya membunuhku dalam diam. Dan itu terbukti kini. Aku tak lebih dari merpati yang kau ranggas indah sayapnya. Terjebak dalam sarang yang kian hari selama setahun kau bangun dan ciptakan. Sarang itu terasa tak nyaman lagi kini, setiap rantingnya seolah tersihir, mendadak menusuk-nusuk menembus bulu sayapku. Mencipta sakit tapi dengan luka kasat mata. Mencipta trauma.

Di antara dzikir dan sujudku, ada luka yang kuharap diangkat Tuhan ke atas sana. Ada perih yang andai bisa biar menjelma jadi bulir-bulir air mata dan hilang keberadaannya setelah ia mengering dan menguap di udara. Ada duka yang kuingin segera diambil pergi, diganti dengan ikhlas yang hakiki. Bahwa cinta pada manusia, adalah satu dari sekian cobaan yang dapat Ia berikan. Sebagai sebuah rahmat di waktu bersamaan. Kalau saja aku tak lalai dalam mendefinisikannya dulu.

Saat semua orang berada di garis paling depan mengeluhkan kisah percintaannya, aku bahkan pernah berada di paling depannnya lagi, memberi senyum pada mereka meski di dalam hati membungkam tanya. Tidak ada kesulitan berarti yang pernah aku lalui bersamamu. Sebab kesederhanaanmu dalam beringin selalu mempermudah segalanya. Ada satu hal darimu yang selalu kubanggakan mati-matian di depan semua orang. Sering kusampaikan juga padamu apa itu. Ada pula satu hal yang amat kubenci sebagai sebuah kesalahan dalam menjalin hubungan. Sering kusampaikan juga padamu apa itu. Yang luar biasa mengejutkan adalah ternyata kau kecewakan aku tepat pada hal yang kubanggakan darimu. Juga kau lakukan dengan hebatnya apa yang amat kubenci di waktu yang sama. Sedetik saja, kamu mampu memporak-porandakan perasaanku dalam tanya dan ketidak beradayaan. Betapa menyenangkannya menjadi kamu, meninggalkan aku setelah kau temukan bahagia yang lain. Atau lebih jelasnya adalah, mempertahan aku dengan sikap seperti ingin meninggalkan, tetapi juga memegang erat tali yang baru penuh sukacita. Bukan kah menyenangkan menjadi manusia berhati dua? atau lebih?

Kau mungkin tak tahu. Ketika itu, ada berapa banyak orang di luar sana bertanya padaku dan merasa prihatin pada apa yang sebenarnya tak pernah kukatakan dan tak mereka ketahui. Tapi maaf, dunia seolah memihak padaku. Dalam kediaman dan kehalusan cara mainmu, sikapmu justru patut disebut kejam. Yang selalu kubayangkan, kamu tak mungkin mampu menjadi sejahat itu. Aku selalu percaya, bahwa masih ada cinta di sana. Aku tak hentinya memikirkan kecemasanmu yang memikirkan kita. Namun semua tak akan serumit ini jika kamu tegas dalam membuat keputusan. Semua tak akan jadi begini jika kamu adalah benar seorang pria yang matang. 

Aku tak ingin banyak bicara, sebab tak ada yang perlu dibicarakan dan tak ada yang bisa diajak bicara dan tak ada yang mau mendengar. Aku pula tak mau banyak bersedih, sebab semua kejelasan dalam ketidaktahuan ini harusnya menjadi berita bahagia untukku.

Harapku kini bergantung pada apa yang tidak kuketahui. Aku mencemaskan apakah perempuan itu mampu merawatmu sebaik aku. Apa ia mengelap sendok dan garpumu ketika kau akan makan, apa ia memesankan es teh tanpa perlu kau tanya di setiap kau ingin makan, apa ia menambahkan garam ketika memesankan makanan, apa ia tahu dan gemar memasak makanan kesukaanmu, apa ia mengelap dahimu saat peluh membanjirinya ketika kamu sedang kepedasan. Kamu tak suka biskuit atau wafer sebagai camilan. Juga buah-buahan, satu-satunya yang kamu suka hanyalah mangga dan durian. Kamu tak suka memakai kemeja panjang, dan akan lebih memilih kemeja berlengan pendek untuk dikenakan di acara formal sekalipun. Kamu lebih suka memakai sepatu berjenis Loafer, atau Wing Tip tapi tidak dengan leher panjang. Ukuran sepatumu 41. Warna kesukaanmu adalah warna kesukaan kita, hitam dan biru dongker. Terlalu banyak, terlalu banyak memori tentangmu yang harus kulupakan satu per satu. Satu tahun mengenalmu, mungkin membutuhkan satu tahun pula untuk dapat melupakannya.

Aku harus dan turut berbahagia bila telah kau temukan pelabuhan terakhir itu. Biarlah kamu berbahagia, sementara aku yang memupuk duka. Sebab bagiku senyummu adalah semesta dan aku tinggal di dalamnya.

In memoriam,
Kita.
RIP.

Tertanda,
Aimee.

0 In puisi

Sajakrasa241115

Dan yang aku tak kuasa

Semua itu terngiang dan berulang begitu saja
Pukulan demi pukulan
Ke tubuh dan ke jiwaku
Terngiang dan berulang begitu saja
Seperti lagu
Yang pedih
0 In puisi

Sajakrasa050915

Tepat seperti apa yang Aan Mansyur alami

Langit menjatuhkan banyak sekali kata sifat
Tidak satu pun kutangkap dan kuingat
Aku hanya memandangi mereka jatuh bersusulan
Isi kepalaku gamang
Bahkan jiwa
Seperti tak ada lagi di sana
Mati rasa
Tidak berusaha kuingat suatu memori pun
Semua berputar layaknya buku cerita tanpa tanda baca
Setelah embus nafasku
Ada sesengguk yang memantul entah dari mana
Kuperhatikan seksama
Tidak ada tetes yang jatuh
Tidak ada basah sebagai bekasnya
Mungkin saja
Asalnya dari dalam sana
Ada yang sedang menangis penuh siksa
Yang sedang mencoba meronta
dan minta dipenuhi haknya
0 In puisi

Sajakrasa141213

Ya ‘Rahman
Telah sampai kepadaku semangat yang pernah kautitipkan melalui pemuda itu
Beberapa kali mungkin terang-terangan Kau dapati kedua pipiku tunjukan semu
Akan kulayangkan bendera penyerahan
Aku mengaku kalah Tuhan
Harapanku diraihnya pergi
Rasa sayangku dimilikinya tanpa terkecuali
Mungkin saja aku berhak memperoleh penghargaan atas pengakuan ini
Atas keputusasaan yang membawaku pada kecewa dan trauma berkali-kali
Sungguh semua adalah kehendakMu dan Kau selalu berhak mengambilnya setiap waktu
Namun sisakan sebuah kesempatan untukku kali ini, Tuhan
Kesempatan untuk aku bisa memulihkan kembali
Rela kubayar seluruh nyawaku demi satu permohonan
Akan kugadaikan usiaku demi sebuah doa
Lindungi ia Tuhan
Bangunkan ia tatkala adzan subuh disuarakan
Untuk merapal rindu kepadaku dengan sajak berwujud doa
Seperti halnya yang selalu kuudarakan
Semata agar mendapat ridhoMu dan semesta
Kemudian suara-suara hati itu bertalu di udara
Bergema seirama di langit jingga atas nama cinta