Browsing Category

mountain

0 In mountain/ tips & tricks/ traveling

Naik Gunung Saat Menstruasi

Udah bikin rencana naik gunung dari jauh-jauh hari tapi ternyata si “bulan”datang?

Sesuai request, saya tulis postingan ini agar teman-teman nggak perlu panik, semua akan baik-baik aja asal kita antisipasi sejak awal. Saya pribadi justru lebih sering naik gunung pas lagi menstruasi. Bukan disengaja, tapi memang menstruasinya yang kadang kecepetan dateng jadi nggak sesuai dengan perhitungan. Keseringan naik gunung pas lagi menstruasi justru jadi hal yang wajar dan menyenangkan buat saya, mungkin karena sudah tahu apa saja yang harus saya persiapkan. Selama ini saya menerima banyak pertanyaan dari teman-teman pendaki perempuan seputar mendaki saat menstruasi. Mari kita breakdown di sini….

  1. Mendaki saat menstruasi, boleh nggak sih?

Banyak yang bilang, jika saat hari keberangkatan ternyata kita menstruasi, maka lebih baik pendakian dibatalkan saja. Hal ini umumnya ditujukan kepada hal-hal mistis, yang sangat lekat dengan gunung. Menurut saya, semua kembali ke kepercayaan masing-masing dan bagaimana menyikapinya. Alangkah lebih baik jika kita lebih fokus pada dampak apa saja yang dapat muncul jika mendaki selama menstruasi dan bagaimana mengantisipasinya, khususnya faktor pribadi. Jika teman-teman beragama muslim, maka sangat disarankan untuk memperbanyak dzikir selama pendakian, sebagai pengganti ibadah solat wajib yang tidak bisa ditunaikan.

 

2. Baru pertama kali naik gunung, pas menstruasi pula. Gimana dong?

Pertama-tama, kamu harus kenali dulu seperti apa diri kamu saat menstruasi, misal gejala apa aja yang biasanya timbul dan solusi apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya. Saya sendiri saat menstruasi biasanya akan muncul nyeri bahkan bisa sampai pingsan. Gejalanya banyak seperti nyeri perut, sakit kepala, sendi ngilu, dan otot pegal. Satu-satunya solusi terbaik untuk mengatasi ketika sedang sakit seperti itu adalah dengan beraktifitas, apalagi mendaki gunung. Medan yang sulit dan bawaan yang berat membuat saya terfokus kepada pendakian dan jadi lupa pada rasa nyeri yang ada. Nah, itu kalau saya. Kalau kamu tipe orang yang justru nggak boleh ngapa-ngapain ketika lagi nyeri haid, lebih baik disiasati dengan cara seperti membawa daypack (tas gunung ukuran 25-35 liter). Orang yang baru pertama kali naik gunung biasanya akan mengalami euforia, seperti pengin bawa banyak barang ataupun keril gede biar kelihatan keren kayak pendaki-pendaki lain. Jangan deh, daripada nanti kamu menyusahkan diri sendiri dan orang lain kalau harus bawain keril kamu. Kerilnya sendiri aja udah pasti berat, kan?

Kalau kamu biasa minum jamu atau obat pereda rasa nyeri (atau minyak angin) sebaiknya dibawa dan ditaruh di bagian yang udah dijangkau. Terus terang, kalau di “darat” saya sering ngerasa nggak kuat nyeri dan minum jamu kunyit asem kemasan yang katanya nggak baik buat kesehatan bila dikonsumsi terus-terusan. Tapi kalau lagi mendaki saya nggak pernah merasa perlu minum gitu-gituan dan kuat dengan sendirinya, mungkin karena kepikiran puncak. Semangat!!!

 

3. Kalau menstruasi ganti pembalutnya gimana dan sampahnya buang di mana?

Jawabannya, ganti di tenda, tapi itu kalau sudah sampai di camp area. Nah, kalau belum?

Mungkin banyak teman-teman yang kalau lagi menstruasi dalam sehari bisa ganti pembalut sampai lima atau enam kali. Saya juga begitu soalnya he..he.. It’s okay, kalau sedang di pendakian dan teman-teman merasa sudah “penuh” atau tidak nyaman, minta waktu sebentar kepada teman-teman rombongan dan mencari tempat yang aman untuk mengganti pembalut. Saya sarankan untuk memakai pembalut malam yang uurannya lebih panjang dan lebar. Kemudian masukkan ke dalam plastik, simpan di plastik khusus sampah pribadi dan letakkan di dalam keril. Pastikan tidak tercium bau darah karena dapat memicu datangnya hewan buas (kalau naik ke gunung yang ada hewan buasnya). Ketika sampai di camp area nanti, teman-teman bisa kembali mengganti pembalut dan membersihkan daerah kewanitaan dengan tisu basah yang setelah dipakai dibungkus plastik, lalu dimasukkan ke plastik khusus tadi untuk dibuang jika sudah sampai di rumah nanti — Ingat, jangan buang di gunung!!! Akan lebih baik jika teman-teman sudah menempelkan pembalut dengan underwear dari rumah, jadi tidak perlu repot memasang, karena saat di dalam tenda teman-teman akan sulit bergerak apalagi berdiri.

 

Itu dia tiga tips utama yang harus kamu perhatikan jika ingin mendaki saat menstruasi. Persiapkan fisik sebaik mungkin ya, dengan banyak minum air putih, makan yang bergizi, dan latih emosi — naik gunung biasanya sangat menguji kestabilan emosi kita, apalagi kalau lagi menstruasi yang senggol-dikit-bacok coba?

Lagi-lagi, kamu yang lebih mengerti sekuat apa dirimu. Jika memang ragu dan tidak mampu, lebih baik bersabar dulu dan undur pendakian sampai waktu yang pas. Itu tadi tiga pertanyaan yang paling sering ditanyakan, kalau ada pertanyaan lainnya bisa langsung kontak ke line nayadini atau email nayadini@icloud.com.

 

See you, travellers!

 

Nay.

 

0 In mountain

Menemukan Pria Idaman di Gunung

Beberapa waktu lalu saya mendapat undangan untuk turut menulis di hipwee.com. Ajakan itu tentu merupakan sebuah kehormatan bagi saya yang pamali untuk ditolak. Saya ingin menulis tentang sesuatu yang bertema travelling namun dikemas ringan. Jadilah sebuah artikel sesuai dengan yang saya amati selama beberapa kali mendaki gunung: Bahwa gunung adalah tempat paling ideal untuk menunjukkan apakah dia adalah pria yang tepat atau bukan. Yang mungkin tidak bermakna sama dengan judul artikel di Hipwee: Cowok Naik Gunung Itu Suami-able Banget. Judul terebut dibuat oleh editor Hipwee. Mungkin agar terlihat fenomenal dan menarik. Namun bagi saya agak berlebihan dan memiliki makna yang berbeda dengan yang saya maksud. Tidak apa-apalah asal bukan isinya yang diubah total, pikir saya.

 

Makin ganteng ya mantan aku kalo lagi naik gunung

 

Pada awalnya, hanya ada tiga poin yang saya buat, namun saya tambah dua lagi karena jenis tulisan Listicle pada Hipwee harus minimal sebanyak 5 poin. Berikut adalah alasannya mengapa paling tepat menilai seorang pria idaman ketika naik gunung:

  1. Jiwa Kepemimpinanya

Jelas, akan terlihat seperti apa dia menyikapi para anggota tim. Jiwa kepimimpinan itu dapat dilihat secara personal, tidak serta merta harus jadi pemimpin regu terlebih dahulu. Yang ditunjuk menjadi ketua regu dan memandu tim belum tentu memiliki jiwa kepemimpinan daripada yang tidak. Yang  sweeping di belakang juga belum tentu tidak bisa memimpin, siapa tahu justru dia malah lebih mengayomi karena memastikan segalanya aman terkendali.

  1. Sikapnya Memperlakukan Perempuan

Saya memiliki begitu banyak teman laki-laki dan mereka sering memperlakukan saya sama rata, seperti teman laki-laki lainnya. Saya tidak masalah dengan hal ini karena dengan begitu saya merasa mereka mengakui bahwa saya tidak manja dan sama kuatnya dengan mereka. Namun mereka sering kali tidak tahu bahwa diam-diam saya menilai karakter mereka sebagai seorang laki-laki. Saya sangat senang mengamati orang lain khususnya dari hal-hal kecil yang biasanya dianggap tidak penting. Pada artikel di hipwee tersebut saya menjelaskan bahwa hal-hal kecil bagi saya sangat penting dan menentukan hal besar. Seperti misal sensitifitasnya. Sedekat-dekatnya teman laki-laki dengan seorang perempuan, tetap saja kita bisa menilai bagaimana sifat mereka menyikapi hal tersebut. Terlepas dari dia menyimpan perasaan kepada kita atau tidak. Faktor satu ini bagi saya cukup untuk mewakili bagaimana ia memperlakukan ibunya di rumah.

  1. Ibadah yang Dijaganya

Naik gunung itu capek, dingin, susah air, boro-boro deh kuat wudhu mau gerak aja mager. Nah, ada banyak banget emang alasan buat meinggalkan ibadah. Banyak juga yang berpikiran, “Tuhan pasti ngerti kalau kita lagi kesulitan air dan dalam keadaan kotor (literally)” atau “Kita kan musafir, dikasih kemudahan masa’ nggak digunakan.”. Entahlah…. tapi banyak juga yang masih bisa menjaga solatnya kalau mendaki gunung. Jadi, menurut saya kembali lagi kepada pribadi masing-masing. Dan hal-hal semacam itu kerap menjadi pertimbangan besar saya terhadap seseorang. Urusan seseorang dengan Tuhan-Nya memang privasinya. Namun merupakan salah satu kriteria terpenting bagi saya untuk menentukan calon pasangan.

 

Itu lah 3 dari lima artikel listicle yang saya buat di Hipwee. Dua poin lainnya bisa kamu lihat sendiri melalui link di bawah ini. Jika ada ketidaknyambungan antara sub judul dengan artikel, maka itu adalah perbuatan editor Hipwee ya. Huhuhu.

http://www.hipwee.com/list/mencari-pria-idaman-paling-tepat-adalah-di-gunung-ini-5-alasannya/

 

0 In mountain/ traveling

Gunung Raung: Meraung-raung Menuju Sejati

Bagi saya, mendaki gunung bukan merupakan sebuah ambisi, melainkan sebuah hobi yang kebetulan dapat tersalurkan karena adanya ketersediaan waktu, uang, dan teman perjalanan. Pendakian terbaru ini dapat saya kategorikan sebagai sebuah pendakian dadakan. Semua berawal dari ajakan Jacklyn (partner nanjak Gunung Kerinci bulan Maret lalu, baca di sini) yang begitu tiba-tiba. Seharusnya bulan ini saya menginjakkan kaki di Gunung Tambora, tapi batal karena cancellation tim yang begitu tiba-tiba. Jadwal sudah terlanjur diluangkan, bisa saja alih destinasi ke tempat lain, tapi kalau alih destinasi menjadi ke Gunung Raung…… rasanya seperti tidak mungkin. Medan Gunung Raung yang terbilang ekstrim tentu saja yang menjadi alasan utama dari keragu-raguan itu. Batal Tambora dan malah jadi ke Raung, ngeri juga. Kalau bukan karena Jacklyn yang mengompori, mungkin saya tidak akan pernah menyambangi Puncak Sejati.

 

April – Arina – Vyna – Naya (- minus Jacklyn yang menyusul karena malam itu ketinggalan pesawat)

Disebabkan tidak ada kereta langsung dari Jakarta – Kalibaru (Banyuwangi), maka saya transit di Jogja terlebih dahulu (Flash tip: Kebanyakan orang melakukan transit di stasiun Surabaya Gubeng, khususnya bagi yang ingin naik pesawat). Kebetulan memang ada event yang harus disambangi di daerah Bantul, maka saya memutuskan untuk menetap di Jogja sampai akhirnya tiba hari H. Hurra!

Jika ingin langsung berangkat dari Jakarta, transit (di manapun) lalu sambung kereta ke Kalibaru, menurut saya akan sangat menghabiskan tenaga. Bayangkan, untuk perjalanan dari Jakarta ke Jogja saja membutuhkan waktu tempuh delapan jam dengan kereta, lalu dari Jogja ke Kalibaru menghabiskan waktu 14 jam, sehingga total menjadi 22 jam di kereta! Belum lagi jeda waktu transit bila jam keberangkatan terpaut jauh dengan jam tiba kereta sebelumnya. Jadi, saya tidak menganjurkan untuk kamu langsung transit seperti itu.

Saya berangkat dari Stasiun Lempuyangan, Jogja bersama Arina (@fasyaarina). Sri Tanjung membawa kami menuju stasiun Kalibaru, Banyuwangi selama 14 jam. Kami bertemu dengan teman-teman serombongan lainnya di stasiun Surabaya Gubeng. Belasan orang sudah berkumpul dan siap menjumpa puncak sejati. Terus terang, ini pendakian dengan rombongan teramai yang pernah saya lakukan, di gunung dengan tingkat kesulitan ekstrim pula. Namun asal semua dipersiapkan dengan baik saya rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan bila kita sudah berpamitan dengan keluarga, berdoa, serta bersikap wajar selama pendakian.

Setelah berjam-jam merasa bosan di atas kereta (tidur – ketawa – tidur – baca novel – tidur – jajan popmie dan kopi – tidur lagi – dst.) akhirnya kami tiba juga di stasiun Kalibaru. Pukul 19.58 WITA dan sudah terlalu malam untuk bermalam di Pos 1. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk bermalam di basecamp alias rumah warga. Dengan menggunakan ojek dari stasiun Kalibaru menuju kaki gunung. Motor trail tentunya! (Flash tip: Daripada menyewa losbak saya lebih menyarankan kamu untuk memilih ojek, karena medan berbatu dan ongkos ojek juga tidak terlalu mahal).

Arina – Bang Omenk – Naya di Camp 5

Pendakian dimulai esok hari. Dari basecamp ke Pos 1 kamu harus menggunakan ojek (lagi). Perjalanan yang ditempuh kira-kira 10 menit. Jalur yang menanjak dan sempit akan memberikan sensasi tersendiri saat naik ojek hehehe. Tiba di Pos 1 alias rumah Pak Sunarya kita akan disambut oleh pisang goreng dan kopi Lanang. Pak Sunarya, merupakan “Mbah Marijan”-nya Gunung Raung. Konon katanya beliau lah yang membuka jalur Gunung Raung, sehingga dapat dinikmati oleh para pendaki seperti sekarang ini.

Raung memiliki 4 pos dan 9 camp. Pada umumnya para pendaki akan langsung menuju Camp 7 pada petang hari dan mendirikan tenda di sana, lalu melakukan pendakian di malam harinya. Namun bagi yang rombongan jumlah banyak atau yang ingin sedikit bersantai bisa menuju Camp 4 dan mendirikan tenda di sana. Baru lanjut ke Camp 7 keesokan harinya. Karena speed kami berbeda-beda, maka cara kedua tersebut yang kami pilih. Perjalanan kami diiriingi oleh hujan gerimis, baru saat di Camp 3 gerimis sudah mulai berhenti. Pendakian dilakukan dengan sangat santai. Diisi dengan kepulan asap rokok yang tidak berhenti-henti, karaoke, sampai berfoto dengan boomerang. Pada awalnya saya menyetujui permintaan Arina untuk beriringan dengannya (jauh sebelum hari H), ketika hari mulai gelap rombongan masih bersantai di Camp 3, saya dan Bang Irfan (@dolitirfan) pamit untuk jalan duluan menuju Camp 4. Tentu saja saya tidak mau menyusahkan orang dengan keterbatasan penglihatan saya karena saya rabun ayam. Saya dan Bang Irfan tiba di Camp 4 pukul 17.25 WITA. Hanya ada satu tenda 2-3 orang yang sedang berdiri di sana. Teman-teman rombongan sampai di Camp  4 satu jam kemudian.

Kami mendirikan 4 tenda malam itu. Lahan Camp 4 cukup untuk mendirikan  6 buah tenda ukuran 4-5 orang (Flash tip: Jika ingin masang flysheet bawalah yang ukuran besar, karena letak pohon cukup berjauhan). Suhu Camp 4 menurut saya tidak terlalu dingin, mungkin karena masih banyak pohon. Keesokan harinya setelah makan beralaskan kertas nasi yang berbaris-baris, kami melanjutkan pendakian menuju Camp 7, tepatnya pada pukul 10 pagi.

Sarapan di Camp 4 sebelum berangkat Camp 7

Akibat hujan track yang merupakan tanah merah menjadi licin dan becek. Mulai dari Camp 4 ini track lebih sulit dari sebelumnya. Beberapa spot sengaja diberikan webbing untuk membantu pendaki turun dan naik, untuk vegetasi banyak pohon duri di mana-mana dan jari saya sempat tertusuk hingga menjadi bengkak dan bernanah, pohon-pohon besar juga sering kali melintang di tengah track. Spot yang menjadi favorit saya adalah setelah Camp 6 menuju Camp 7, terdapat hutan lumut dan saat itu suasana sedang kabut, membuat pemandangan jadi sejuk dan mencekam (huehehehe lebay). Rombongan terpisah-pisah menjadi banyak regu saat itu. Saya memutuskan untuk beriringan dengan Arina, tidak lagi bersama Bang Irfan yang pasti sudah tiba di Camp 7 dan mendirikan tenda. Saking betahnya saya dan Arina bahkan sempat sisiran dulu memberi kesempatan untuk rambut kami bernafas, di hutan lumut tersebut (maklum kami menggunakan hijab berhari-hari dan tidak mungkin bisa sisiran di tenda karena isi tenda dicampur laki-laki dan perempuan.

Camp 7

Kami tiba di Camp 7 pada pukul 4 sore dan tenda sudah tegak berdiri. Saya dan Arina menemukan spot menarik untuk memasang hammock. Lalu tinggal bersantai menunggu malam (summit time) tiba dan sambil menunggu anggota rombongan lain yang masih di belakang. Kelebihan dari melakukan pendakian Camp 1-7 dalam dua hari adalah kamu bisa sedikit lebih bersantai dan memiliki jeda waktu banyak untuk beristirahat.

Hammock menghadap ke Gunung Argopuro

Niat untuk berangkat summit pukul 3 menjadi setengah 5. Sama seperti sebelumnya, saya dan Bang Irfan meluncur lebih dulu menuju Camp 9, kali ini juga beserta Bang Mangku yang katanya masih mengantuk dan mau tidur dulu di atas sambil menunggu yang lain. Saya pun demikian hehehe. Di Camp 9 kami memakai webbing dan carbiner yang tentu saja dibantu oleh yang sudah berpengalaman. Kemarin saya tidak memakai safety helm, akan sangat baik bila kamu menggunakannya karena track summit seluruhnya adalah bebatuan dan kerikil.

Baru atu dari sekian tanjakan

Jembatan Sirothol Mustaqim 

Puncak 17

 

Hampir menuju Puncak Tusuk Gigi

Jika biasanya kamu summit ke puncak gunung sambil menikmati sunrise setelah itu kembali turun ke camp saat matahari sudah memasuki waktu dhuha, maka pada Gunung Raung tidak demikian. Summit Raung memakan waktu seharian. Untuk menuju Puncak Sejati pendaki harus terlebih dulu melewat Puncak Bendera, Jembatan Sirotol Mustaqim, Puncak 17, dan Puncak Tusuk Gigi dengan cara rappling yang menuntut para pendaki untuk bergantian satu dengan yang lainnya. Itu lah yang menyebabkan pendakian menuju puncak menjadi cukup lama. Menuju Puncak Tusuk Gigi artinya sudah semakin dekat dengan Puncak Sejati. Lumayan sulit menentukan jalur untuk dipijak kaki karena semua medan adalah batu dan kerikil. Untungnya, pendaki terdahulu meninggalkan jejak dan tanda menuju Sejati, yaitu dengan mengikat tali rafia warna-warni pada edelweis-edelweis kecil di sepanjang track. Pukul 12.30 WITA saya menjadi perempuan pertama di rombongan kami yang menginjakkan kaki di Sejati. Semakin haru saat mengingat perjuangan menuju Sejati itu dilakukan dengan tenggorokan yang kerontang dan kepala pusing karena belum masuk makanan sejak tadi malam. Terus terang, ini penting! Flash tip: Jangan sampai pergi summit Sejati dalam keadaan perut kosong, karena rappling dan sepanjang jalan datar sekalipun membutuhkan konsentrasi dan keseimbangan. Perut lapar bikin badan jadi miring-miring, Kapten. Duh!

Je – Me

Beruntungnya kami, cuaca Puncak Sejati cerah hari itu. Menurut warga sekitar Raung selalu diguyur hujan setiap hari selama beberapa minggu ini, bahkan rombongan orang Malaysia yang baru turun kemarin mengatakan bahwa mereka tidak mendapat kesempatan untuk mencumbu Sejati karena hujan dan badai mengguyur tiada henti. Meskipun cerah tidak berarti segalanya menjadi mudah. Yang menjadi PR dari summit Sejati adalah turunnya, karena track lumayan panjang dan tidak landai, sehingga masih membutuhkan aktivitas tali-temali. Cuaca yang cerah seharian itu ternyata tidak seratus persen baik juga, karena angin kencang berkali-kali meniup ke arah kami yang statusnya berperut kosong. Saya punya firasat buruk tentang ini. Benar saja. Jebir selaku orang yang diamanahkan untuk memasak ingin buru-buru turun ke Camp 7 dan mempersiapkan makanan untuk teman-teman serombongan. Saya pun turut serta dan kami lari menuju Camp 7 tentu saja dengan perut kosong. Bayangkan Puncak Bendera – Camp 7 hanya ditempuh hanya dalam 40 menti, yang seharusnya satu setengah jam. Kepala pusing, mata nggak fokus, perut lapar, kepala pusing, akhirnya kami tiba di Camp 7 dan langsung memasak bahan makanan yang tersisa. YAP, KAMI KEHABISAN LOGISTIK DAN AIR. Maka, kami masak seadanya yang pernting perut teman-teman terisi. Bahkan saya sampai perlu mengemis air ke tenda lain. Satu setengah jam kemudian suara yang kami kenal berteriak-teriak mendekat menuju tenda logisitik.

“Mang Dodoy hipotermia!”

Nah!

 

Segera saya dan Jebir memasak air panas, memasukkannnya ke dalam termos, lalu diantar menuju Puncak Bendera. Alhamdulillah…. tanpa perlu diantar tak lama kemudian Mang Dodoy tiba di Camp 7 bersama teman-teman yang membantunya. Malam itu terjadi evaluasi besar-besaran mengenai air, logistik, dan segala macamnya. Saya yakin selain Mang Dodoy sebenarnya semua pun merasa tidak enak badan dan lelah, karena harus summit seharian dalam keadaan berperut kosong. Namun untungnya semua masih kuat menahan, terlebih para rombongan perempuan. Saya tidak hentinya memperhatikan setiap anggota perempuan di tim ini, khawatir akan ada yang tumbang. April sempat menggigil dan muntah-muntah saat baru turun dari Puncak dan tiba di Camp 7, tapi hal itu wajar karena memang kami semua telat makan dan menurut saya sakit yang dialami oleh April masih terbilang wajar. Saya bersyukur bahwa semua anggota perempuan di rombongan ini sehat dan selamat, seperti Arina, April, Jacklyn, dan Vyna. Kata Ariel NOAH, kalian luar biasa! hehehe.

Mangku – Me – Omenk – Juni – Dodoy – Angga

2 In mountain/ traveling

Gunung Rinjani: Cantiknya Torean dan Bonus Lainnya

Kata orang, Rinjani amatlah cantik. Sayang seribu sayang letaknya begitu jauh dari Jakarta, akan tetapi saya yakin suatu saat nanti saya akan menjejakkan kaki di sana dan melihat langsung keindahannya. Niat aja lah dulu, saya selalu membatin demikian jika ada teman yang memanas-manasi. Hingga sebuah keajaiban terjadi! Sebuah tiket atas nama saya mendarat masuk ke email. Wohooo!

Nggak pernah terpikir akan kembali mengunjungi Lombok untuk kedua kalinya! Pertama kali saya ke Lombok adalah dengan misi keliling gili dan wisata di kota, seperti museum dan pasar seni. Dulu, tahun 2014 saat masih jadi anak pantai, belum terpikir akan berkeinginan mencumbu Rinjani suatu hari nanti. And here I am, kembali menginjakkan kaki di bandara Lombok International Airport – Praya (LOP) pada H+3 lebaran! Yang secara logika isi kantong udah terkuras habis buat pengeluaran ini dan itu.

Kami tiba di bandara malam hari dengan penerbangan terakhir, juga Damri terakhir (Flash tip: Hubungi dulu call center Damri kalau kamu mengambil penerbangan malam hari, khawatir ketinggalan Damri terakhir, jadi bisa ditungguin). Tujuan kami adalah Desa Masbagik, tempat Andre dibesarkan. Rumah keluarga Andre sangat damai, ramah, dan menyenangkan. Rumahnya sederhana namun artsy, musik indie dan reggae juga berputar berkali-kali. Di sebelah rumahnya terdapat bale yang langsung bersisian dengan ladang luas nan hijau. Yang paling menyenangkan adalah keluarga Andre yang super baik dan ramah, penialian saya orang Lombok memang ramah dan royal terhadap tamu. Royal dengan kesederhanaan mereka. Jadi, tidak perlu takut-takut nyasar kalau ke Lombok, warganya baik-baik 🙂

Keesokan harinya kami berangkat dari Masbagik menuju basecamp Sembalun. Gunung Rinjani memiliki banyak pilihan jalur pendakian. Pendakian pada umumnya dimulai dari basecamp Sembalun dan berakhir di jalur Senaru. Jalur Senaru terhitung landai meskipun cukup memakan waktu lama, yaitu hingga 12 jam. Kami memilih untuk mendaki melalui Sembalun dan turun melalui jalur Torean. Alasannya, jalur tersebut memiliki view paling bagus, banyak bonusnya (melalui Goa & Air Terjun), dan banyak mata air, meskipun terbilang memiliki kesulitan paling tinggi dibanding Senaru, di beberapa titik awal harus merayap miring menyusuri bibir jurang.

Kami mendaki tanpa menggunakan jasa porter. Kalau ingin mendaki Rinjani dengan menggunakan jasa porter kamu hanya perlu membayar Rp.250.000/porter dan seluruh bawaan kamu akan dibawain. Bukan hanya itu, kamu juga akan dimasakin dan didirikan tenda. Bener-bener terima beres deh! Bila ingin menggunakan jasa porter kamu bisa bertanya saat registrasi di basecamp Sembalun atau bisa juga hubungi Naya (waktu di Rinjani sempat kenalan sama seorang porter dan kami bertukar kontak).

Sembalun kala Senja

Pendakian melalui jalur Sembalun membutuhkan waktu kurang lebih 9 jam sampai ke Pelawangan. Mendakilah pada pagi hari, jangan mencontoh kami yang kebangetan santai dan baru berangkat pada sore hari. Apalagi sampai terlena pada sunset di Sembalun, jadilah dikit-dikit berhenti untuk foto. Taman Nasional Gunung Rinjani memiliki kemiringan lahan bervariasi, dari mulai datar, bergelombang, berbukit, hingga bergunung-gunung. Oleh sebab itu, jalur pendakian Rinjani pada umumnya panjang, terlebih lagi Sembalun. Flash tip: Kalau mendaki pada siang hari, jangan lupa bawa payung/topi dan gunakan sunblock. FYI, itu salah satu alasan mengapa kami memilih berangkat pada sore hari.

Di Tengah Bukit Penyesalan

Pos 1 – Pos 2 – Pos 3 – Bukit Penyesalan – Pelawangan. Seharusnya demikianlah urutan pendakian melalui jalur Sembalun. Niat hati kami ingin sekali menghajar pendakian langsung hingga Pelawangan dan baru mendirikan tenda setibanya di sana. Namun, kaki salah satu dari kami kram dan sulit digerakkan, sehingga kami terpaksa untuk menghentikan pendakian dan menunda perjalanan untuk lanjut esok hari. Kami tiba di Pos 3 pukul sembilan malam. Banyak tenda yang berdiri di dekat sumber air. Sedangkan kami memilih untuk menaiki bukit dan menenda di atas. Sendirian, syahdu~. Flash tip: kamu bisa ambil air di Pos 2 atau Pos 3.

Nggak nyesel sempat bermalam di kaki Bukit Penyesalan. Sunrise-nya di pagi hari bikin meleleh dan nggak mau pulang. Wait, ada yang tahu kenapa dinamakan 7 Bukit Penyesalan?

Mari melanjutkan perjalanan menuju Pelawangan Sembalun. Kami berangkat pada pukul 09.00 pagi. Di sepanjang jalan sudah banyak pendaki yang melanjutkan perjalanan menuju Pelawangan, beberapa di antaranya adalah orang bule. Gunung Rinjani mungkin adalah gunung yang paling ramai oleh pendaki berkebangsaan asing. Ada beragam bule yang saya temui selama di pendakian, berasal dari Kanada, Belgia, Belanda, Swiss, Jerman, Prancis, Denmark, Australia, dan bahkan UK. Alasan mereka mengunjungi Rinjani adalah karena Indonesia terkenal dengan pegunungannya dan Rinjani memiliki banyak bonus, seperti pemandian air panas, danau penuh dengan ikan, air terjun, dan goa. Pastinya adalah karena Rinjani berada dekat dengan Gili Trawangan, salah satu pulau kecil di sehingga yang sangat dikenal warga asing, mereka bisa mendapatkan pantai dan gunung dalam satu wilayah destinasi bernama Lombok.

Kami tiba di Pelawangan Sembalun pada pukul 12.20 WIB dan mendirikan tenda di sebelah ujung dekat dengan sumber air (nggak dekat-dekat amat juga sih, butuh berjalan kira-kira 15 menit menuju sumber air). View sunset di sini masyaallah bagusnya, terlihat Danau Segara Anak yang membentang luas, seperti lautan karena di mana ujungnnya tidak terlihat. Flash tip: Jangan meninggalkan bahan atau bekas makanan di luar tenda. Ada banyak monyet yang akan berkeliaran di sini. Boro-boro mau ngumpetin bahan makanan.

SEMANGKA KAMI GELINDING T_T

KOL NYA JUGA IKUTAN GELINDING T_T

 

Siap-siap summit malam harinya. Kami berangkat pukul 02.00 pagi (ini kesiangan, yang lain sudah berangkat pukul 12.00 malam). Dan titik-titik cahaya terlihat berbaris di kejauhan, alias macet. Biasanya saat ingin summit, saya minum susu dulu untuk mengisi perut yang kosong. Namun ini malah ikut-ikutan makan Spaghetti Tuna. Memang dasar nggak bisa mengonsumsi makanan kalengan, baru berapa meter summit perut saya mual nggak karuan. Saya muntah-muntah di sisi jalur pendakian, kadang menunggu jalur sepi dulu karena nggak enak sama pendaki lain, takutnya malah jadi ikutan mual karena melihat saya muntah. Lucunya, bau amis tuna kalengan tersebut menguar begitu kuat saat saya mual itu. Padahal sebelumnya pas makan nggak terlalu kecium, mungkin karena lapar 🙁 Flash tip: Jangan konsumsi makanan yang nggak biasa kamu makan menjelang summit!

Andre dan Ivan saya pinta untuk duluan, khawatir Ivan mau mengejar sunrise untuk koleksi fotonya, sedangkan saya akan jalan belakangan ditemani Bayu. Kami berpisah di puncak Pelawangan. Untungnya, setelah muntah saya merasa agak baikan. Setelah saya baikan, malah gantian Bayu yang mual. Oh ya, satu lagi hobi saya dan Bayu kalau summit, yaitu suka tidur di jalur. Ingat pendakian saya dan Bayu sebelumnya di Semeru?  (Pendakian Gunung Semeru http://www.nayadini.com/2016/05/gunung-semeru-komplek-di-atap-jawa.html) Kami tidur pulas sampai matahari muncul ha..ha… Kami berdua nggak pernah ngoyo buat sampai puncak. Tidak pernah memaksakan diri apalagi jika kondisi tidak fit seperti ini. Yang penting, kami akan terus berjuang untuk tiba di puncak, bagaimanapun dan berapa lamapun. Jangan pernah menyerah! Bersama kita bisa! Dua anak lebih baik. #eh

ALHAMDULILLAHIROBBIL ALAMIN, SUMMIT!

 

Di Gunung Rinjani terdapat banyak sekali pendaki berkebangsaan asing

 

Andre bilang, sekarang puncak Rinjani memiliki kontur yang sudah sedikit berbeda. Dulu, track pasirnya panjang hingga puncak Pelawangan. Sekarang hanya sampai diujung tanjakan tearkhir menuju puncak.. Apapun itu, bagi saya Rinjani memiliki jalur pendakian dan jalur summit terpanjang dibanding gunung-gunung sebelumnya yang pernah saya datangi. Baru kali ini saya mendaki dan jempol kaki saya lecet-lecet. Kamu hebat kaki! Kamu hebat! Flash tip: Bawa sunblock kemanapun bahkan pas summit. Gunakan secara berkala dan sesering mungkin. Rinjani adalah gunung terbikin-gosong, pasca summit saya dan teman-teman saling ejek muka satu sama lain yang jadi gosong bin dekil nggak karuan. Saya juga dapat bonus jerawat di mana-mana ha…ha…

Saatnya menuju Segara Anak!!! *drumroll* (lagi-lagi kebangetan santai, baru jalan pukul 04.00 sore).

Difoto menggunakan OPPO F1 plus Smartphone

Bonus view di mana-mana

Butuh waktu 4 jam untuk tiba di Segara Anak. View yang kami lalui di sepanjang jalan bikin betah. Jalan dikit, cekrek.

Beberapa kembang api heboh mewarnai langit malam menyambut kedatangan kami, persis seperti sedang berada di pasar malam. Bukan, kembang apinya dipasang bukan buat menyambut kami, pas aja kebeneran kami datang waktu kembang api itu dinyalakan oleh seorang (atau serombongan) pendaki entah siapa he..he… Segara Anak penuh tenda. Untungnya, kami bertemu rombongan abang-abang yang nenda dekat kami saat di Pelawangan, jadilah kami diberi lahan untuk mendirikan tenda bersebelahan, meski tidak dekat dengan bibir danau. Berhubung sudah malam dan di mana-mana penuh tenda.

“Untuk sementara kita nenda di sini dulu ya. Besok kita pindah ke pinggir danau dan cari pohon buat masang hammock.” kalimat Andre tersebut serempak kami iyakan. Ay, ay, captain!

Bayu – Andre – Naya (me) – Ivan

 

Pinggir danau yang dimaksud Andre bukanlah bibir danau alias batas dilarang mendirikan tenda, melainkan sebuah dataran tinggi di atas danau. Harus berputar dulu kalau mau sampai ke danau di bawah itu, apalagi buat mancing. Ini view terbaik untuk pasang tenda dan hammock. Di hadapan kami terhampar megah Segara Anak dan cantiknya Gunung Baru Jari. Oh ya, pemandian air panas Aik Kayak dan mata air hanya terletak 15 menit dari situ. Ah, berlama-lama di Rinjani pun aku mau. Semua ada lengkap ada di sini. Satu lagi, bisa makan enak. Ikan-ikan Segara Anak hasil mancing dan dikasih orang diolah Andre dengan sangat enak. Kalau kami bawa chef, untuk apa sewa porter kan huehehehe.

Danau Segara Anak. (in frame: Ivan)

Masya Allah pemandangan dari depan tenda kami. Nb: tidak untuk dicontoh, abis makan nasi bungkus langsung tidur hahaha

Naya, dikit-dikit mau berendem air panas. Konon katanya, banyak orang yang datang ke Rinjani khusus untuk berendam di air panas tersebut dalam rangka berikhtiar menyembuhkan penyakit. Wallahualam bisshowab, sakit nggak sakit saya aja senang berendam di sana, dari mulai mandi keramasan, cuma sikat gigi, atau bahkan sekadar bengong di dalam kolam. Iya benar, pemandian air panas itu adalah tempat di mana beberapa waktu lalu meninggalnya seorang pendaki yang tenggelam karena memang pemandian air panasnya cukup dalam. Air terjunnya juga lumayan tinggi, mungkin sekitar 3 meter. Beberapa pendaki melompat dari atas air terjun ke kolam pemandian, dengan catatan, pastikan kamu bisa berenang dan tidak melakukannya sendirian tanpa pengawasan orang lain ya.

Gara-gara keasikan mandi air panas jadi lupa pulang. Kami baru jalan pukul satu siang (lagi-lagi kebangetan santai). Kami berpisah dengan rombongan abang-abang asli Lombok yang sudah dua hari ini menghabiskan waktu bersama (ciye), karena mereka akan pulang lewat jalur Sembalun lagi. Sedangkan kami akan menyusuri jalur Torean yang merupakan jalur pertama pendakian gunung Rinjani.

 

Berendam samba menatap alam yang indah nan megah. Terharu….

Sepanjang jalan sebelum memasuki hutan pemandangan yang akan kamu temui adalah keindahan yang tidak ada habis-habisnya. Kamu akan melewati Goa Susu dan Goa Manik, bahkan kami sempat masuk ke Goa Manik yang ukurannya sangat kecil.

Goa Manik

Sama seperti view pendakian jalur Pogalan, Gunung Merbabu (baca di sini http://www.nayadini.com/2016/06/buka-jalur-baru-gunung-merbabu.html ), jalur Torean, Gunung Rinjani ini membuat saya tidak henti-hentinya bertasbih. Saya dan sepertinya semua anggota tim kami jatuh cinta pada jalur Torean. Sampai-sampai kami membuat jingle dan nyanyi di sepanjang perjalanan,”Torean… Tooooorean…. Torean anak yang manis~”. Kamu pasti tahu lirik itu plesetan dari lagu apa.

Jalur Torean banyak air terjun

Selepas view megah yang disuguhkan Torean, kita akan memasuki jalur hutan yang panjang. Kurang-lebih jalurnya mirip Gunung Ciremai. Hanya ada beberapa tanjakan curam di penghabisan track pinggir jurang, sisanya jalur landai dan memanjang menyusuri hutan. Beberapa ayam hutan berkokok gagah mengisi kekosongan.

 

Jalur Torean berada di sisi pantai. Sekeluarnya dari hutan yang akan kamu temui adalah ladang jagung dan kebun cokelat & kopi. Andre meminta ijin pada warga (dengan bahasa Lombok) untuk memetik buah cokelat agar kami bisa mencicipnya. Hmm… rasanya mirip buah sirsak!

Nggak nyangka, kami berada di Rinjani 5 hari 4 malam lamanya. Itu pun masih terbilang belum puas. Suatu hari nanti harus balik lagi dan mencicip jalur lain, Senaru contohnya. I’ll be back, Dewi Anjani. Kau sungguh cantik sekali 🙂

Bersama teman-teman tenda sebelah yang bersedia berada dalam satu flysheet dengan kami di Segara Anak

 

nb: Foto dan video lebih lengkap mengenai perjalanan ini dapat kamu lihat di Steller-ku, id: nayadini

Budget (belum PP):

Alternatif 1 (jika kamu ingin mampir dan bermalam di sekitaran Lombok)

Tiket pesawat Jakarta – Lombok : 600.000/orang

Tiket pesawat Lombok – Jakarta :  800.000/orang

Damri Bandara LOP – Mataram/Senggigi/Selo : 25.000 – 35.000/orang

Transport Masbagik – basecamp Sembalun : 25.000/orang

Simaksi : 10.000/malam

 

Alternatif 2

Tiket pesawat Jakarta – Lombok : 600.000/orang

Tiket pesawat Lombok – Jakarta :  800.000/orang

Transport Bandara LOP – basecamp Sembalun : 500.000/mobil

Simaksi : 10.000/malam

Saya tidak pernah ikut open trip, jadi ini adalah catatan perjalanan lepas alias backpacking. Jika anggota timmu memiliki pengalaman cukup tentang mountaineering dan ingin backpacking menuju Rinjani, boleh tanya saya untuk kontak transport antar-jemput keliling Lombok dan/atau porter melalui email nayadini@icloud.com. Jika tidak, saya sarankan untuk ikut open trip pendakian. Open trip pendakian Rinjani ada banyak, apalagi di tengah tahun menjelang 17 Agustus-an seperti ini. Biasanya dikenakan biaya sebesar Rp. 1.400.000.

Selamat mencumbu Anjani!

 

Salam,

Nayadini.

 

 

 

 

 

 

 

2 In mountain/ traveling

Gunung Kerinci: Perjuangan Menggapai Atap Sumatra

Biasanya, kamu naik gunung diajak atau ngajak?

Kalau dipikir-pikir, saya naik gunung selalu karena diajak. Banyak alasannya. Pertama, kalau ngajak duluan terus tau-tau nyusahin pas nanjak kan nggak enak :’). Kedua, bingung juga mau ngajak siapa karena biasanya pada susah diajak jalan terbentur jadwal cuti, kecuali ada teman yang memang sudah lama minta diajak naik gunung. Kalau bukan karena diajak mungkin saya nggak akan pernah menginjakkan kaki di gunung tertinggi Pulau Sumatra, Kerinci. Thank you Andre and Bayu! Ah, dan satu perempuan lagi kenalan baru saya yang tangguh dan menyenangkan, Jacklyn.

Gunung Kerinci terletak di Provinsi Jambi, untuk mencapainya dari pulau selain Sumatra terdapat dua pilihan rute perjalanan, via Bengkulu atau Padang. Jika via Bengkulu bisa naik pesawat menuju Bengkulu Bandar Udara Fatmawati Soekarno (BKS), kemudian melanjutkan perjalanan ke Kerinci menggunakan travel melalui kabupaten Mukomuko menuju Kota Sungai Penuh atau Kerinci selama 10-11 jam. Jika via Padang mendarat di Bandar Udara Internasional Minangkabau, kota Padang (PDG), dan menyambung travel ke Jambi lebih kurang 7-8 Jam jalur darat. Rute terakhir lebih menghemat waktu, maka pilihan itu yang kami pilih.

Flash tips: Di saat long weekend berangkat lah 4 jam lebih awal dari biasanya atau kamu berpotensi ketinggalan pesawat karena akses menuju bandara MACET TOTAL.

Pilihlah penerbangan di sore hari, sehingga kamu bisa tiba di Padang pada malam hari dan naik travel semalaman, lalu tiba di Jambi pagi harinya (untuk info kontak travel Padang-Jambi bisa hubungi saya). Kamu bisa minta dijemput oleh travel tepat di depan bandara. Pemandangan Padang sangatlah indah, tapi jangan harap kamu dapat bersantai-santai selama di perjalanan (yang pernah naik Angkutan Lintas Sumatra pasti tau he..he…). Lelah dan mual akibat perjalananmu akan terbayar setelah kamu tiba di Jambi dan melihat indahnya hamparan kebun teh yang maha luas di kaki gunung Kerinci.

Disambut senja Sumatra

 

Suasana basecamp lumayan ramai saat itu, ada beberapa rombongan pendaki dari Padang dan Bengkulu. Beberapa akamsi (anak kampung situ) merupakan ranger yang biasa bolak-balik Kerinci menjadi guide rombongan pendaki. They are all nice dan berbicara bahasa jawa, bukan bahasa minang! Mereka sangat ramah dan menyenangkan. Letak basecamp lumayan dekat dari si fenomenal tugu macan, tetapi lumayan jauh ke pintu rimba (jalur desa Kersik Tuo, jalur termudah Kerinci), kira-kira sejauh 2 km. Kamu bisa berjalan kaki atau minta diantar oleh orang basecamp.

Andre – Bayu – Jacklyn – Me (cewek culun style mode on)

Melalui rute via desa Kersik Tuo rute pendakian Gunung Kerinci pos 1 – pos 2 – pos 3 – shelter 1 – shelter 2 – shelter 3. Durasi pendakian hingga shelter 2 memakan waktu 8 jam. Alhamdulillah kami tiba di shelter tersebut sesuai predisi dan ekspektasi.

 

Shelter 1

 

 

Rombongan yang nenda di sana waktu itu adalah orang asing dengan kewarganegaraan beragam

LANJOOOOT!

Menuju shelter 2,  tingkat kesulitan mulai menggemaskan

Shelter 2 finally! Celana kami menggambarkan betapa gundukan tanah pasca hujan yang curam tak bisa dihindari

 

Kamu bisa memilih untuk nenda di shelter 1, 2 atau 3. Namun saya dan tim sepakat untuk bermalam di shelter 3 dengan alasan masih sanggup, meskipun rombongan lain memutuskan untuk membangun tenda di shelter 2. Gunung Kerinci terkenal dengan kesulitan trek pendakiannya, foto-foto testimoni yang sering kamu jumpai di media sosial khususnya Instagram adalah trek dari shelter 2 menuju shelter 3. Trek tersebut merupakan medan tersulit yang dimiliki Kerinci. Lumayan memacu adrenalin, menguji kekompakan, dan ketahanan tubuh ketika kami melewatinya dalam keadaan gelap gulita ditambah gerimis, sehingga tanah lumayan licin. Akar pohon yang besar-besar melintang di sana-sini menambah nikmatnya trek yang sudah sulit. Sedap! :’D

 

OTW Shelter 3, jalur paling fenomenal

Kondisi medan pasca hujan sebagai sebuah sambutan manis until muka ketemu lutut

 

Kami tiba di shelter 3 sudah gelap sekali, sehingga tidak punya foto pemandangan tenda di lokasi untuk dipasang.

Enaknya nenda di shelter 3 adalah kamu menghemat waktu dan tenaga ketika summit. Orang-orang jalan sekitar jam 2 malam, sedangkan kami baru jalan pukul 5 (harusnya jam 4, cuma kami pada malas-malasan, maklum kecapean huhuhu).

Setelah berjalan sekitar 90 menit kita akan bertemu lahan dataran luas yang disebut Tugu Yuda. Tempat ini diberi nama Tugu Yuda karena dahulu kala ada pendaki bernama Yuda yang hilang di sini, setelah turun dari puncak.

Sesuai info yang saya kutip dari ilmugeografi.com, Gunung Kerinci merupakan gunung tertingi  di pulau Sumatra, tepatnya di provinsi Jambi. Gunung Kerinci termasuk ke dalam bagian Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan merupakan jajaran dari bukit barisan dengan koordinat letak 1°41’48”LU dan 101°15’56”BT dan termasuk dalam golongan gunung berapi yang masih aktif. Oleh karena itu, puncak harus steril pukul 9 pagi. Kondisinya sama seperti Mahameru yang harus steril pada pukul 10, bila teman-teman pernah ke Gunung Semeru.

 

 

Sunset pertamaku di Jambi

 

08.00 WIB Alhamdulillah…. puncaaaaak! Disuruh pura-pura ketawa malah jadi ketawa beneran

 

We did it!

 

Dari atas puncak kita bisa melihat pemandangan Jambi yang berbatasan dengan Bengkulu dan Padang. Ada juga bayang Danau Gunung Tujuh, kalau kamu ke Kerinci sempatkan juga ke siri ya. Dan jangan lupa Danau Kaco juga. Indah mirip Labuan Cermin!

 

 

Barengan menuju puncak. Yes yang di tengah itu dedek Khansa (10 th) dan dia sudah mendaki banyak gunung Indonesia. Masya Allah….

 

*zoom in* Khansa 7 Summiters

 

Nenda semalam lagi di shelter 1 karena kami mendapat pesan dari orang basecamp jangan turun lewat dari magrib. Cuma kami yang dipesenin begitu, entahlah. Kami nurut aja.

Shelter 1

 

Tenda satu-satunya

 

Tidak terbayangkan haru dan bahagianya bisa menginjakkan kaki di titik tertinggi Sumatra. Semua tentu saja berkat ridho Tuhan semata, juga kerja sama antar anggota tim. Terima kasih Andre, Bayu, dan Je!

Nggak lama kami turun, Kerinci mengalami Erupsi yang menyebabkan pendakian di tutup. Betapa Allah begitu baik kepada kami, sebab kemarin Indrapura maish baik-baik saja.

 

 

Kebun teh Kayu Aro adalah yang terluas di dunia (fokus ke erupsi di belakang)

 

Bagi saya, mendaki gunung memiliki hikmah tersendiri dan melalui itu saya berharap dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Banyak teman dan keluarga terheran-heran saat saya hendak mendaki gunung, apalagi sampai ke bagian barat Sumatra, “Liburan kok capek-capek?”. Setelah diledek seperti itu biasanya saya hanya tertawa. Kalau dipikir-pikir ya benar juga, naik gunung capek. Apalagi ke Kerinci, capek di jalan. Tapi hikmah dari perjuangan saya ke Kerinci ini telah menjadi hal yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Menjadi titik balik di usia muda saya, bagaimana saya mampu mengalahkan kekhawatiran atas kemampuan diri sendiri. Orang yang ngajak aja yakin saya mampu, masa saya enggak?

Mungkin saja bagi sebagian orang yang sudah menyambangi banyak gunung, mendaki Kerinci bukan lah apa-apa. Namun bagi saya yang pemula dan masih awam, pendakian kali ini amat berharga. Alhamdulillah, saya mulai berhenti merendahkan diri sendiri dan bersyukur atas karunia apapun yang Tuhan berikan. Berbanggalah atas dirimu sendiri. Kalau bukan kamu yang mengapresiasi diri sendiri, siapa lagi? 😉

 

Kembali ke Jakarta dengan oleh-oleh pesanan mama dan sogokan buat orang kantor yang ditinggal cuti ha…ha

Budget (belum PP):

Tiket pesawat Jakarta – Padang (promo): 500.000/orang

Travel Bandara Minangkabau – Kersik Tuo, Jambi: 70.000/orang
Transport basecamp – pintu rimba via Kersik Tuo, Jambi: 15.000/orang
Simaksi: 7.500/hari