Browsing Category

kisah

0 In kisah

Hidup Merdeka

Hidup harus waspada. Ternyata, tidak bisa kita sepenuhnya percaya pada orang lain selain diri sendiri. Di luar sana orang-orang tak hentinya mengurusi hidup kita, seolah hidupnya sudah sempurna. Atau memang karena dalam hidupnya banyak waktu sia-sia maka mereka berpusing-pusing mencemaskan orang lain.

Hidup harus waspada dari pikiran negatif yang disesapkan orang lain. Baik hati dan pikiran kita seringkali dibombardir pemikiran yang tak benar pun tak baik. Untuk adu domba, bahkan agar menghambat perkembangan pribadi. Memelihara dengki adalah langkah awal yang menghancurkan. Dan pada dasarnya kesuksesan kita akan membuat orang lain iri hati, pula kehancuran kita akan dirayakan oleh sebagian orang yang tak kita ketahui.

Hidup harus waspada dari cibiran buruk antar sesama yang hinggap ke telinga kita. Konsepnya, semua orang memiliki prinsip sama dalam hidup, sebaik-baiknya manusia (harusnya) adalah diri sendiri. Masing-masing mereka benar dengan argumennya. Dan setiap mereka punya kekurangan yang ditutupinya dengan menceritakan kekurangan orang lain, itu tadi, seolah ia sempurna.

Hidup harus merdeka dari semua yang tak perlu bagi diri kita. Termasuk apa kata manusia di luar sana tentang kita. Selama benar dan berguna, jangan pernah henti bekerja. Hidup adalah tentang mengeja makna, akan selalu ada suka dan air mata, tapi yang terpenting harus sejahtera.

Tuhan, lindungi aku dari marabahaya mulut-mulut manusia dan dengki antar saudara. Sungguh, aku hanya segelintir nyawa yang ingin hidup sederhana dan bahagia.

0 In kisah

Dia Devina

Ini kisah nyata.
Alkisah, ada seorang wanita muda bernama Devina Sagita Ratnaningtyas. Nama yang indah, seindah hidupnya. Oh jangan ditanya. Hidupnya sempurna, ia sosok sempurna. Orang tuanya adalah yang paling berpunya dalam tatanan keluarga besar Chanafy. Ayahnya adalah bagian penting dari perusahaan energi di dunia, Chevron. Ibunya berwirausaha dan mandiri. Cantiknya indonesia. Manis dengan kulit sawo matang yang cukup. Tubuhnya jenjang dan bugar. Terlebih lagi tutur kata dan tingkah lakunya penuh keanggunan dann santun. Pokoke ayune puol. Gadis keturunan Jawa Tengah yang memenangkan hidup kota metropolitan.
Kecerdasan yang ia miliki berbanding lurus dengan dewi fortuna yang membuntutinya. Selalu menjadi juara pada sekolah-sekolah favorit ibu kota, lalu mendapat beasiswa di Fakultas Hukum universitas terbaik se-Indonesia. Kemudian lulus tepat waktu dengan nilai membanggakan. Tak lama setelah itu, berkesempatan melanjutkan pendidiikan S2 di kampus yang sama. Sambil mengajar les piano sebagai salah satu keahliannya sejak kecil. Devina piawai menari-menarikann jemari di atas tuts  piano dari konser ke konser bak maestro.
Tak lama kemudian, Negara menyebut namanya sebagai salah satu yang terpilih menjadi pegawai Dirjen Pajak Kementrian Keuangan. Posisi dengan gaji paling banyak di antara seluruh Pegawai Negeri lainnya. Tidak perlu susah payah ke pelosok Indonesia, ia ditempatkan di kota Serang. Masih satu propinsi dengan tempat tinggalnya, Propinsi Banten. Diterimanya ia di Kemenkeu hanyalah satu dari rangkaian kado dari Tuhan di ulang tahun ke 24. Sebuah mobil Livina diberikan sang kekasih untuk mempermudah akses transportasi. Juga sebagai modal awal untuk meminangnya sebagai istri.
Devina akan menikah tak lama lagi. Dipersunting seorang pengusaha yang merupakan putra tunggal sebuah keluarga terpandang bibit, bebet, dan bobotnya. Seorang anak Jaksa terkemuka. Maka, pada hari besarnya itu semua orang berbahagia. Semuanya tanpa terkecuali. Rangkaian pernikahan di buat menjadi empat hari di empat tempat berbeda. Betapa ayunya ia dalam balutan adat jawa yang sesuai dengan darahnya. Sungguh sedap dipandanng mata. Royal wedding yang tak kunjung usai, bahkan Walikota Banten turut datang memberi ucapan selamat. Masih segar dalam ingatanku pernikahan merekka berlangsung beriringan dengan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Namun bahkan jauh…. Jauh…. Lebih mewah dan sakral dari mereka. Bukan soal angka, meskipun tetap saja mahal pastinya. Tetapi soal perayaan itu. Semua lapisan turut bersuka cita. Semua berbahagia.
“Jangan pernah mama bandingkan aku dengan dia ya. Kami berbeda. Sangat berbeda. Takdir kami berbeda.”
Demikian aku selalu menutup cerita mama seputar perkembangan mengenai seorang Devina. Tapi pagi ini dengan tergenang air mata, mama menceritakan hal berbeda.
Mama berapi-api menceritakan Devina tentang rumah barunya di Serang sana. Yang meski dengan kekayaan orang tuanya, ia memilih mengontrak di sana. Hey, bahkan dia sudah punya rumah di Bogor sana. Mama tak menggubris. Kembali bercerita soal perabotan rumah tangga yang dibelinya satu per satu tanpa meminta sepeser pun uang ayah ibunya. Bahkan mau mempriksa kehamilan setiap bulannya di rumah sakit kecil dan bukan RS. Pondok Indah langganann keluarga.
Terang saja mama begitu membanggakan Devina. Sebab sejak kecil ia yang mengasuhnya. Dua tahun kemudian, tepat saat Devina merayakan ulang tahunnya yang kedua, lahir lah aku. Yang kemudian dicita-citakan untuk menjadi Devina berikutnya. Devina selalu menjadi panutan di antara sepupu-sepupu lainnya dan bahkan siapa saja.
Sampai siang cerita mama bergema di kepalaku. Tentang kerendahan hati Devina yang tak pernah kuketahui. Mungkin selama ini rasa simpatiku sudah tertutup rasa iri akibat mama selallu memanas-memanasi. Tapi bagaimanapun berkilah, itulah faktanya. Devina seorang wanita sempurna luar dan dalam. Cantiknya juga demikian, luar dan dalam. Sepertinya, aku tahu apa yang selama ini membuat ia bersinar benderang dengan seluruh prestasi dan kesuksesannya.
Sama halnya seperti Raffi Ahmad yang mampu menggelar pesta pernikahan sedemikian mewahnya. Raffi dan Devina diberkahi Tuhan, karena keduanya begitu menyayangi orang tuanya. Sederhana, tapi nyatanya tak mampu dilakukan kebanyakan anak di luar sana: membahagiakan dan menomorsatukan orang tua.
Tuhan Maha Adil.
0 In kisah

Copy Paste Mama

Kira-kira sudah berapa pekan aku tidak pulang ke rumah. Rasa kangen mama itu sudah lama menggunung dan beku di dasar hati. Gengsiku tak tertandingi, gengsi mama sama kuatnya. Kami seperti Hujan dan Teduh yang tak pernah mau bertegur sapa, padahal saling membutuhkan dan sudah diciptakan satu paket.
Tidak terkira, pertengkaran dengan mama selalu aku menangkan dengan cara kejam. Di akhirnya mama bisa menangis sambil muntah-muntah, atau tiba-tiba pingsan di tengah sumpah serapahnya. Semesta seolah mengutukku sebagai anak durhaka. Ini tidak adil. Mama selalu mencuri ending yang mengenaskan. Sering kali aku membayangkan kemungkinan bila aku yang muntah-muntah dan pingsan? O Moin Dieu. Tak akan ada yang peduli. Sayangnya mama selalu punya kubu yang melindunginya.
Terkadang aku menyesal dengan sikapku pada mama, terkadang aku juga bisa merasakan mama menyesal atas sikapnya terhadapku. Tidak ada yang berniat bicara dari mata ke mata. Apalagi kataa maaf. Meminta maafnya mama adalah saat ia masuk ke kamarku dan bertanya, “Sudah makan?”.
Aku amat membenci diriku sendiri ketika meninggalkan luka di kedua matanya. Dan ia juga pasti mengiba tatkala menangkap duka pada raut wajahku. Kami adalah objek cermin dan pantulannya, yang sering kali tak mau melihat satu sama lain. Yang padahal tak dapat dipisahkan. Aku membenci mama, aku benci cara ia membesarkanku. Kami berbeda, tidak lah sama.
Boom!!
Suara bantingan pintu itu membuat selembar foto usang di tanganku jatuh ke lantai. Aku kenal pintu itu, suara salah satu pintu di kamar atas. Kusimpan sepotong gambar wajah mama dan ak yang sedang saling berpelukan sebelum akhirnya aku naik ke lantai atas. Menghampiri sumber suara.
Krek.
Pintu tidak dikunci. Namun bantingan tadi membuat engselnya kendur.
Michella terbenam di antara selimut yang berantakan. Aku yakin ia menyadari kehadiranku saat ini, tapi enggan bertatap mata. Aku berniat meminta maaf, tapi urung.
“Sudah makan, Nak?”
Michella bergeming. Malah menyembunyikan diri ke balik selimut rapat-rapat. Hatiku terasa remuk. Ada sengatan listrik yang menjalar di tubuhku dan membuat ingin menangis. Aku diacuhkan anakku sendiri, atas pertengkaran tadi pagi. Detik itu, aku bagai terjungkal ke mesin waktu. Adegan ini, seperti de ja vu. Tidak mungkin. Aku telah meniru mama persis sama. Benar-benar sama. Tidak mungkin kami sama. Aku benci cara ia membesarkanku. Mustahil aku malah menirunya.
Kepalaku tiba-tiba terasa sakit. Perutku mual. Aku muntah-muntah tanpa sebab. Dan tak lama setelah itu aku pingsan tak sadarkan diri.
Di dalam gelap itu, aku menemukan wajah mama tersenyum bijak penuh kemenangan.
0 In kisah

Di Teras Stasiun Manggarai

Pengalaman siang tadi tidak mampu kudeskripsikan. Saya merasa lucu, tapi miris sekaligus. Andai saja pengalaman ini diceritakan dari sudut pandang lain, mungkin cerita ini akan memiliki genre lain.

Jadi begini, tadi siang saya duduk di teras stasiun manggarai. Cukup lama. Menunggu seorang teman saya yang akan datang menjemput. Di tengah penantian itu, perhatian saya tertuju pada seorang bapak berkemeja lusuh yang sedang susah payah berjalan, terdapat lubang di sana-sini pada pakaiannya. Bapak tersebut berjalan dengan kecepatan lambat sekali, seolah tulang-tulang kakinya mau patah. Langkahnya kecil-kecil dan hati-hati. Tidak berapa lama muncul aroma tidak sedap. Rupanya bau tersebut berasal dari si bapak yang perlahan menghampiri saya dan mengambul posisi duduk bersisian. Ada bercak-bercak kuning kecokelatan di ujung celana panjangnya. (Mohon maaf) Bau tidak mengenakkan tadi menyerupai bau kotoran manusia, mungkin saja si bapak sempat buang air di celana entah karena tidak sanggup mencari toilet buru-buru atau karena sudah pikun saking rentanya.

“Masih kuliah, Neng?”, tanyanya dengan suara yang hampir tidak terdengar. Saya menjawab sudah lulus sambil berusaha tersenyum meskipun sebenarnya sedang menahan napas. Baunya membuat saya mual dan ingin muntah.

“Alhamdulillah kalau sudah lulus. Neng tahu rumah sakit Aini? Kepala saya pusing, saya mau pulang.” jelasnya tanpa ditanya. Jujur saja, saya bingung dengan apa yang ia bicarakan, tetapi saya tahu ke mana arah pembicaraan itu akan bermuara.

“Kalau diberikan sukur alhamdulillah, saya butuh uang 5000 rupiah. Saya nggak bisa pulang.” dengan sopan bapak tersebut menelungkupkan tangannya di depan wajah, seraya menunduk serupa orang yang sedang berdoa.

Saya diam, lalu tersenyum.

“Saya ingin sekali membantu Bapak, tapi ini uang terakhir saya untuk entah sampai kapan.” Kutunjukkan selembar dua ribu kucal yang sejak tadi kugenggam ke hadapannya. Si bapak menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Tidak berkata apa-apa. Saya tersenyum lagi, lalu sebentar-sebentar melirik ponsel.

“Ada yang ditunggu, Neng?” Saya tidak percaya ia akan bertanyalebih. saya pikir si bapak akan langsung pergi sestelah tahu mangsanya ternyata lebih miskin dari dirinya. Alias salah sasaran.

“Saya sedang menunggu teman saya yang akan menjemput, karena saya nggak punya uang untuk beli tiket kereta. Saya nggak bisa pulang.” Si bapak bungkam lagi. secara refleks menyembunyikan tiket keretanya.

“Saya pamit, Pak. Teman saya sudah datang. maaf tidak bisa membantu Bapak.”

Entah apa yang ada dalam benak si bapak. Aku segera beranjak sebelum merasa bersalah karena si bapak seperti ingin memberikan tiket keretanya padaku.

0 In kisah/ social

For Free

Seleksi tahap dua Youth Adventure & Youth Leaders Forum 2015 telah usai dilaksanakan selama dua hari. Bahagianya rasa hati setelah seluruh persiapan yang kami lakukan selama berbulan lamanya telah selesai. Namun ada satu kalimat yang terus terngiang di telinga saya dari salah satu peserta seleksi tadi siang, “Ngapain sih kalian mau capek-capek jadi volunteer kayak gini?”

Hmm……. capek? Banget. Tapi belum pernah saya kepikiran omongan peserta yang kritis itu. Benar juga. Kebanyakan dari kami mungkin tidak pernah memikirkan kenapa kami mau merelakan tenaga, waktu, dan uang untuk menjadi seorang volunteer. Sama seperti peserta yang penuh perjuangan untuk tiba di lokasi seleksi, terbang jauh-jauh dari Bali dan setelah selesai seleksi langsung menuju bandara untuk kembali ke Bali lagi, atau daerah mana pun yang amat jauh di Indonesia. Volunteer pun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan untuk acara, lebih tepatnya peserta. Saya percaya, menjadi panitia acara adalah sebuah keputusan, tetapi menjadi volunteer sebuah acara adalah pengabdian.

Untuk mengurus Youth Adventure & Youth Leaders Forum 2015, saya harus menginap di rumah tante yang ada di Jakarta, tepatnya di kawasan cempaka putih. Jelas jauh dari lokasi acara, tapi hanya rumah tante satu-satunya tempat saudara yang bisa ditumpangi. Hal itu lebih baik karena berangkat dari rumah saya di Tangerang dan harus tiba di Kemenpora, Senayan jam enam pagi adalah hal yang tidak mungkin. Barang bawaan saya banyak sekali, karena saya diamanahan untuk menjadi MC mengatur jalannya acara selama dua hari seleksi. Saya membawa sepatu high heels, blazer, kemeja, peralatan mandi, peralatan solat, laptop, dan lain-lain.

Meskipun sama-sama di Jakarta Pusat ternyata jarak dari Cempaka Putih ke Senayan jauh sekali. Naik Trans Jakarta harus dua kali transit, naik angkutan umum lainnya harus tiga kali sambung, sedangkan panitia harus tiba di tempat pagi sekali. Maka tidak ada pilihan lain selain naik taxi. Pagi itu lembar lima puluh ribu terakhir di dompetku terbang melayang dengan mudahnya. Bagi seorang fresh graduate yang belum memiliki penghasilan tetap setiap lembar uang di dompet adalah berharga. Satu-satunya yang terpikir hari itu adalah bagaimana caranya aku pulang nanti.

Benar saja, malam hari aku bermaksud menghemat pengeluaran dengan menebeng taxi bersama-sama dengan yang lain, agar ongkos yang keluar jadi patungan. Kami berhenti di stasiun cawang dan aku memutuskan untuk naik bis ke arah Rawasari. Seingatku ada bis ke arah sana, tapi sampai setengah jam lebih kutunggu bis itu tidak datang juga. Nurul memutuskan untuk pulang duluan karena kost-nya dikunci pada jam sepuluh malam, sedangkan ini sudah lewat jam sepuluh. Nuzul dan Soni memaksa untuk menungguku sampai mendapatkan bis yang dimaksud, meskipun sudah berkali-kali kukatakan bahwa aku tidak apa-apa ditinggal dan hafal dengan seluk-beluk Jakarta. Sudah hampir satu jam bis itu tidak datang juga, pikirku jangan-jangan bisnya sudah tidak ada jam karena ini sudah terlalu malam. Ujung-ujungnya, aku naik taxi juga. Dan ongkosnya benar-benar lima puluh ribu rupiah. Jika ditambah ongkos taxi patungan tadi berarti total ongkosnya malah jadi enam puluh ribu. Uang yang baru aku ambil dari ATM langsung hilang lagi. Aku lemas menatapi lembar lima puluh ribu terakhir untuk ongkos esok hari.

Hari selanjutnya adalah hari minggu. Kawasan Sudirman pasti ditutup oleh aktivitas car free day. Aku tidak tahu harus lewat mana dan naik apa. Maka aku tidak punya pilihan lain selain memanggil taxi. Sengaja kupilih taxi selain biru agar ongkos lebih murah, tapi ternyata sama saja. Belum lagi ongkos taxinya. Aku sudah cemas sekaligus deg-degan memerhatikan argo yang terus berjalan sekencang laju taxi di dalam tol. Memang sih kami tiba di lokasi tepat waktu, hanya lima belas menit saja dari waktu yang seharusnya satu setengah jam perjalanan. Namun ongkos yang tertera di mesin argo luar biasa: Rp. 79.900 + tol = Rp. 88.000. Uangku kurang!!!!! Aku panik seketika. Sesungguhnya ada mesin ATM BRI di depan Kemenpora, tapi yang jadi masalah adalah saldoku kosong. Badanku panas dingin, sambil tangan sibuk menggali-gali isi tas yang sebenarnya tidak penuh. Detik itu aku berusaha berpikir sejuta cara untuk membayar taxi, tapi justru tidak satu pun ada ide muncul di kepalaku. Di tengah aktivitas menggali-gali palsu itu aku menemukan sebuah harapan. Ada kantong berisi uang perbendaharaan online shop yang sedang kurintis. Ada lembar seratus ribu di sana. Ya Tuhan….. rasanya ingin aku sujud syukur di dalam taxi saat itu juga. Segera kuberikan lembar itu tanpa tambahan. Lalu meluncur ke lokasi acara dengan tepat waktu. Dan jeng…jeng….. tidak satu pun panitia sudah sampai. Perjuanganku untuk tiba di lokasi tepat waktu jadi sia-sia sudah…………………

Aku benar-benar tidak punya uang lagi. Hanya tinggal selembar sepuluh ribu di kantong yang sudah kucal dan tidak memiliki rupa. Makan siang tadi aku pun berhutang pada salah satu panitia, akan kubayar segera setelah ada pemasukan dari kas online shop. Untuk menghemat biaya aku memutuskan untuk ikut teman-teman yang naik kereta, sebelumnya kami nebeng mobil Bang Az sambil rapat-rapat kecil membahas persiapan acara YA & YLF 2015. Kami diberi tumpangan sampai stasiun Sudirman. Aku turut serta, meskipun rumah tante jauh dari stasiun. Tapi setidaknya aku tahu stasiun terdekat dan tahu rute untuk menymbung angkutan umum setelahnya. Aku transit di stasiun Manggarai dan naik kereta lain ke arah Jakarta Kota, lalu turun di stasiun pertama yaitu Cikini. Saat itu jam di tangan sudah menunjukkan pukul 22.30. Tidak menyangka sudah satu setengah jam perjalanan dari Kemenpora dan aku belum juga sampai di rumah. Setelah cukup jauh berjalan dari stasiun ke Cikini, kutunggu Kopaja atau Metromini yang seharusnya lewat, tetapi jalanan sepi sekali, tidak ada satu pun bis yang lewat. Aku sudah deg-degan. Jika malam kemarin aku masih punya harapan untuk memilih taxi setelah tidak kunjung mendapatkan bis yang ditunggu, maka malam ini aku tidak punya pilihan. Beberapa pria yang luntang-lantung di sekitar halte membuatku tidak nyaman karena sahut-menyahut menggoda,

“Assalamu’alaikum, cantik.”,

“Capek banget kayaknya, sayang?”,

“Neng, bis udah nggak ada, abang anter ya,”.

Makin tidak beres sahutan itu. Aku segera berlalu menuju keramaian. Tidak ada pilihan lain selain berjalan kaki menuju Salemba. Walaupun badanku terasa sudah remuk sekali setelah dua hari mengurus acara seleksi, ditambah sedang menstruasi hari pertama yang berimplikasi badanku jadi linu dan nyeri semua, makin parahnya lagi aku rabun senja hingga aku tidak mampu melihat dengan jelas. Kondisi jalan di depan Metropole yang biasanya macet kali ini sepi dan gelap. Tiba-tiba saat ingin melalui jembatan di bawah pohon-pohon besar suasana mendadak jadi mencekam. Tidak ada orang lain yang juga berjalan kaki di depan atau pun di belakangku. Aku tidak mampu melihat dengan baik ke depan. Terbayang isu begal yang sedang marak terjadi di tengah malam di jalanan yang sepi seperti ini. Kuputuskan untuk berhenti di dekat pohon agar tidak terlihat siapa pun, lalu menunggu siapa pun yang lewat. Untungnya, tidak lama kemudian ada seorang mahasiswa sebayaku muncul dari belakang, ia juga berjalan kaki. Seperti dia adalah anak UI Salemba yang berjalan mengarah ke Salemba juga. Aku segera mengekor langkahnya yang tergesa. Tidak terlalu dekat, tapi tidak terlalu jauh. Kami melewati RSCM, YAI UPI, lalu akhirnya UI Salemba. Mahasiswa itu sudah jalan jauh di depan. Jalanan sudah ramai jadi aku sudah merasa aman sekarang. Buru-buru kuseberangi jalan raya saat lampu merah, di situ aku merasa tubuhku melayang sudah, tenagaku sudah hampir habis.

Untuk berapa lama kutunggu angkot 04 arah Rawasari, tapi jalanan sepi. Tidak ada yang lewat. Aku mulai panik. Kuputuskan untuk mampir ke Seven Eleven untuk membeli pembalut sambil terus menatap ke jalan. Tetapi tidak juga ada 04 yang lewat. Tiba-tiba ada sebuah angkot yang lewat ke arah Rawasari, tapi sepertinya bapak itu tidak sedang menunggu penumpang. Segera kudekati Bapak itu dan bertanya mau ke arah mana. Dia bilang mau pulang ke arah Rawasari. Memang rejekiku. Aku meminta ijin untuk ikut dan segera melompat ke dalam, tanpa lagi peduli bila si Bapak ini punya niatan jahat akan membawaku sesukanya. Aku percayakan diriku sepenuhnya. Setelah hampir terkantuk-kantuk, tepat pukul sebelas malam, akhirnya aku tiba di depan gerbang perumahan mlik tante. Rasanya terharu, mungkin ini berlebihan tapi aku benar-benar merasa sedih yang bahagia. Akhirnya setelah perjuangan panjang, aku tiba dan bisa istirahat juga.

Dua hari yang melelahkan sekaligus membahagiakan. Aku sudah punya jawaban atas pertanyaan kritis salah satu peserta itu. Kenapa aku mau bersusah-susah menjadi volunteer tanpa dibayar? Karena dengan melakukannya membuatku bahagia dan merasa berguna. Itu saja.

Untuk para volunteer lain di luar sana, teruslah jalani yang kauyakini. Aku yakin para volunteer di luar sana memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Suatu hari nanti perjuangan kita akan menjadi cerita yang membanggakan. Setiap perjuangan akan berbuah pelajaran.

Keep writing, keep sharing!

Nayadini.