Browsing Category

kisah

0 In Kisah/ Kisah

Hukuman Andalan

Keretaku terlambat. Malam makin larut dan kereta terkutuk itu belum juga muncul. Aku mulai merindukan suara berisik nan mengganggu roda kereta di atas rel panjang berbatu. Seolah masih belum cukup banyak ujian yang kudapati untuk menjumpamu. Kini masinis ikut-ikutan menghukumku dengan memperlambat pertemuan kita. Brengsek. Kau dan semesta ternyata bekerjasama untuk menghukumku.

Tugu Monas berwarna jingga detik ini, beberapa saat lagi akan berganti jadi yang lainnya. Keindahan pemandangan itu tak jua mampu menghibur dan menghilangkan kemelut dalam benakku. Kesal, sesal, dan rindu yang menggebu. Kau hadir di mana-mana, di otakku, mungkin juga di dalam paru, sehingga membuatku sesak. Barangkali juga di dalam lambung, sehingga menyebabkan aku mendadak kenyang dan tak berselera untuk makan. Menahan diri untuk tidak terlebih dulu menyapamu melalui dialogue chat membuat rinduku makin gelisah. Aku benci hanya mampu bercengkrama denganmu di dalam ruang imaji.

Masih harus menempuh waktu kurang lebih setengah hari untuk akhirnya bisa menjumpamu. Kau selalu tahu, aku tak pernah pandai menahan rindu. Kau boleh saja menghukumku karena aku pantas untuk dihukum. Namun jangan dengan cara ini. Melarangku untuk merindu selalu ampuh membuatku jera.

 

Stasiun Gambir, 02 – 12 – 2016

 

 

 

0 In Kisah/ Kisah

Berteman Sepi

“Nay, seriously you didn’t go anywhere today? You are in fucking Europe!”

Hari ini kalimat itu sudah ditanyakan berkali-kali oleh orang yang berbeda. Dan jawabanku tetap sama, mengangguk-angguk sebagai jawaban iya tanpa ragu.

Aku hanya tersenyum lalu kembali menatap jendela. Daun-daun kuning kecokelatan berguguran dari ranting yang kurus di pinggir jalur metro. Orang-orang kalap menerjang dinginnya angin dua derajat demi agar tidak tertinggal metro yang berangkat tepat waktu. Aku menghela napas, entah untuk keberapa kali di hari ini. Bukan karena melihat apapun itu, hanya karena ingin.

Padaku, sering kali sepi terasa lebih menyenangkan dari ingar-bingar yang memekakan telinga. Terkadang, di suatu waktu, yang kuinginkan hanya duduk sambil merasakan angin berembus di sela-sela jemariku atau memandang gumpal awan yang perlahan berlarian di langit biru. Menyenangkan rasanya dapat menghitung detik yang mampir satu per satu, yang biasanya tak pernah kita hiraukan bahkan kalau bisa dirangkum menjadi hari, bulan, atau tahun sekalian.

Bukan tidak mau mengijinkan siapapun masuk dan merusak sepi itu. Hanya saja, seperti tidak semua orang berhak masuk ke dalamnya dan merusak kesyahduan. Satu orang masuk ke dalamnya adalah lebih dari cukup. Satu orang yang benar-benar mampu mengerti, sebab dengan mengijinkannya masuk ke lingkaran itu sudah merupakan kesanggupan bagiku untuk mau mengertinya. Benci rasanya tidak mampu memercayai siapapun di luar sana, terlebih lagi ketika makin banyak wajah yang muncul dalam kehidupan kita. Aku yakin aku membutuhkan ruang di benak seseorang, namun aku tak yakin seseorang benar-benar membutuhkan aku di dalam ruang di benaknya. Pemikiran semacam itu yang membuat kebebasan itu lumpuh. Kebebasan untuk percaya. Aku tahu, aku tak pernah lulus untuk mata pelajaran ini.

Tidak banyak yang tahu, aku lebih senang mengamati ketimbang mengambil peran. Dengan mengamati aku berkukuh sudah mengambil peran. Namun tentu saja dengan tidak berbicara tentang apapun. Di keramaian, aku bengap saat harus membuka pembicaraan. Berada di keramaian seringnya membuat kepalaku sakit.

Kenyatannya, kita tidak mampu menghindar dari keramaian atau apapun yang dipersiapkan Tuhan.

Akan ada masa di mana aku harus melaluinya untuk bisa tiba di sudut favorit di kamarku yang sepi dan hangat, dengan dekorasi broken white dan pastel jadi satu. Demi bersandar di bantal lebar kain blacu sambil membaca buku romansa terbaru aku harus mampu menerobos keramaian itu. Barangkali, aku butuh genggaman itu yang mampu membuatku aman berada di keramaian atau di manapun. Genggam yang mampu membawaku pulang pada nyaman dan kesepian. Barangkali, keberadaannya nanti mampu mengisi hari-hari menjadi sepi yang menyenangkan. Saat membunuh waktu, tidak ada kata yang benar-benar kita ucapkan. Hanya tubuh yang berbahasa dan semua berjalan baik-baik saja. Merasa cukup dengan apa yang ada adalah sebuah kemewahan yang bisa kita punya. Nampaknya aku mulai menginginkanmu. Seseorang yang bukan hanya akan kupercaya, tapi juga memercayaiku secara sempurna.

Aku masih terduduk di bibir jendela. Membayangkan kita bersisian dengan secangkir kopi dan sebilah buku pada tanganku. Entah padamu, apapun itu. Rasanya akan ada masanya, kita berdua menikmati sepi yang terhidang dalam secangkir kopi sembari memandang gugur daun yang bertumpukan di jalan sebelum terselimuti salju.

Satu hal lagi, aku hanya tak berani sesumbar, bahwa sepi membuat rindu akan kau menjadi lebih khidmat terasa.

 

 

Brusells, 21-11-2016

0 In Kisah/ Kisah

Tanpa Judul

Sudah dua minggu ini hujan menyelimuti langit, tetapi tidak pernah sekalipun menampakkan utas pelangi. Langit sekalipun enggan memberiku alasan untuk bisa tersenyum. Di sana hanya ada duka dan kebencian yang akhir-akhir ini marak meramaikan negara. Aku benci dihujani air mata mereka yang tercipta karena cakar mereka sendiri. Hujan air mata yang berdarah-darah. Yang kerap mereka banggakan atas nama agama.

Ayah, aku curiga tentang alasan kepergianmu adalah untuk menjumpa kedamaian dan menghindar dari nyata yang makin hari membuatku mual dan pening. Damai kah di sana, Ayah? Harus kah pula aku menjumpanya? Aku begitu paham tentang pemahamanmu bahwa aku mampu melindungi diriku sendiri. Namun, Ayah, boleh kah sekali ini aku mengaku lelah. Orang-orang beragama di luar sana kerap membuatku takut. Damai yang dijanjikan tidak kutemukan di mata mereka, yang ada hanya kebencian yang tersulut mengapi-api. Di mana dapat kutemukan refleksi cinta kasih yang diwariskan para pendahulu. Nyatanya, egoisme dan emosi selalu lebih memenangkan diri mereka. Tidak ada kedamaian bisa kudapatkan selain dekapmu yang nyaman. Dan kau salah besar dengan menganggapku gadis dewasa yang cerdas dan akan tumbuh baik-baik saja. Sebab dunia selalu lebih cerdas lagi dalam membuatku bodoh.

Terasa aneh membayangkan betapa banyak waktu dan uang mereka punya dan dihabiskan untuk hal yang benar menurut mereka. Dengan cara yang benar menurut mereka. Kau harus dengar dengan baik, Ayah. Aku berjuang hidup dan mati untuk bertahan hidup. Namun Tuhan selalu punya cara untuk menunda pertemuan kita. Aku harus lebih bersabar menahan rindu akan kedamaian. Mungkin Tuhan bermaksud menjadikanku pahlawan dan mengambil andil untuk semua kekacauan. Energi dan napasku sudah berkali-kali hampir habis, dan kutenggak karbon dioksidaku sendiri, yang terkadang membuatku tersedak dan yang termuntahkan hanya luka yang makin menganga kasat atau pun nyata. Para pandai agama di luar sana masih meneriakkan jihad fi sabilillah versi mereka, dan di sini ada saudara mereka yang hampir mati tak terpedulikan. Bila mereka benci dengan kata toleransi untuk keimanan lain, lantas apa yang sudah mereka lakukan untuk toleransi pada sesamanya? Tidak ada, Ayah. Aku tak minta dikasihani, tapi ketidak acuhan mereka malah membuatku berpikir mereka perlu dikasihani.

Aku melangkah, Ayah. Aku tak punya pilihan lain selain terus melangkah dalam penderitaan panjang seperti dongeng malam yang berperankan nenek sihir dalam balutan busana Cinderella. Menjanjikan happy ending di pukul 12 malam yang entah kapan harinya. Itu sebabnya aku tak pernah tidur menjelang tengah malam. Bersiap akan datang bahagia dan damai menjemputku di pergantian hari.

Saat ini kepalaku terasa sakit, Ayah. Perutku kosong, lebih kosong isi hati para pandai agama itu memang. Itu yang membuatku bertahan. Merasa perlu ada orang waras di dunia karena jumlahnya semakin langka saja. Tidak ada yang salah dengan memperjuangkan agama mereka, yang jelas salah adalah cara mereka. Sebagai cendekiawan, mereka seharusnya malu. Oh, mana mungkin cendekiawan bersikap demikian? Peduli apa karena mereka tak memberiku makan. Dan sekarang aku benar-benar kelaparan

Kau tak perlu merasa berhutang pada siapa-siapa atasku, Ayah. Sebab siapa-siapa tak berjasa apa-apa. Mereka sedang memperjuangkan agama mereka dengan cara yang menurut mereka benar. Biar aku memperjuangkan agamaku dengan cara yang menurutku benar. Yang tak memakai kekerasan dan sikap buruk lainnya. Kau pernah bilang, agama kita tak mengajarkan hal itu.

 

Aku rindu damai di pelukmu, Ayah. Kapan aku bisa kembali merasakannya? Menunggu tangisku jadi samudera?

 

 

Tertanda,

 

Amira.

 

0 In Kisah/ Kisah

Dekap

Serupa musim yang seringkali ditunggu-tunggu, dunia lantas menggugurkan harap demi harapku. Dan barangkali, aku terlahir dari air mata. Sebab setiap rasa yang terbersit menyerupa duka yang dapat tumpah kapan saja. Rasanya aku tak memerlukan lagi sebuah pelarian yang jauh, karena pada akhirnya yang kubutuhkan tak lebih dari sebuah tempat persembunyian yang dapat membuatku merasa aman. Padahal mungkin akan jauh lebih baik bila tak hanya bersembunyi. Demikianlah aku selalu bermimpi menjadi seorang petarung ulung, yang suatu hari membawa kapal menyebrangi lautan, lalu di hari lainnya terjun ke hutan menebas pepohonan dan membunuh macan. Aku begitu bermimpi menjadi seorang pemberani. Berita membahagiakannya, di dalam sebuah dekap milik seseorang aku tak perlu merasa ingin menjadi seorang pemberani. Di dalam dekap itu aku begitu bangga menjadi seorang pecundang yang butuh diselamatkan. Bukan tak pernah menjadi daun yang gugur di patahnya ranting, aku hanya tak pernah memiliki kesempatan untuk melakukannya. Aku ingin menjadi diriku sendiri, yang tak perlu selalu menguatkan orang lain. 

Dekap, aku mendambamu.
Ixelles, 12-11-2016
0 In Kisah/ Kisah

Dana dan Recalling

People do not just randomly appear into our lives, there is a reason behind it.

 

Seseorang mengirim pesan ke direct message akun twitterku. Yang biasa kirim pesan dan bicara tidak penting mungkin banyak. Namun yang ini saya seperti mengenal namanya.

“Halo, mbak. Hadiah milik mbak sudah sampai belum ya?”

Percakapan kami dimulai dari sana, sebuah pertanyaan tentang hadiah lomba blog beberapa waktu lalu dari Apple Indonesia. Saya begitu ingat tidak ada spesifikasi ketentuan jenis karya, yang penting temanya harus seputar Kartini Era Kini. Dan laki-laki itu yang berhasil menggagalkan cerpen saya dengan foto-foto kreatif dan sarat makna miliknya.   Harus saya akui, karyanya menarik dan berhak menyandang gelar juara. Namun bukan soal kompetisi itu yang ingin saya bahas, tetapi mengenai apa yang terjadi setelahnya.

Saya menerka-nerka dan baru sekarang menerka-nerka (dasar cewek nggak peka), apakah saat itu dia benar-benar ingin bertanya tentang hadiahnya? Atau tentang hadiah saya? Atau mencari topik untuk bisa berbicara lebih banyak dan menjalin pertemanan? Atau mungkin memang bertanya tapi lebih banyak rasa ingin untuk bertemannya? Intinya, kalau saja dia tak cemas akan hadiah dijanjikan yang tak kunjung sampai mungkin kami tak pernah menjumpa satu sama lain di akhirnya.

Berhari, berminggu, bahkan berbulan-bulan setelah itu kami mulai berteman di dunia maya. Begitu sangsi untuk menyebutnya sebagai sebuah pertemanan, karena yang terasa hanya canggung dan ketidakcocokan saat bicara tentang apapun. Meskipun begitu pada dirinya saya seperti menemukan diri seseorang yang begitu lama tak bertemu. Seseorang yang sudah saya kenal baik.

Dana benci berlama-lama berkutat dengan sosial media. Itu yang saya tangkap dari sudut pandangnya. Barangkali ia punya trauma tentang ini. Entah bagaimana dan mengapa justru saya merasa sering sekali ia memantau saya di segala sosial media. Tidak ada jejak memang dari seorang stalker, tapi sebagai seorang social media analyst dan enthusiast saya sangat tahu bahwa ia kerap kali dengan sengaja menemukan saya di dunia maya. Dugaan itu terbukti saat ia tahu tentang keberadaan saya di luar kota, sementara saya tidak posting apapun di sosial media saya, kecuali mention saya kepada seorang teman di twitter yang hanya dapat dilihat jika kita sengaja membuka perfil si empunya. Gotcha! Dana melakukannya. He did stalk me all the time. 

Anehnya saya tidak merasa terganggu, tidak seperti biasanya. Semua berjalan natural seperti yang saya katakan tadi, seperti ia adalah bagian dari relasi terdekat saya sehari-hari. Saya masih mencoba untuk mengingat-ingat, mirip siapa sosok Dana sebenarnya. Sejak itu, saya perkenankan ia jadi bagian di hidup saya dengan mengajak bertemu meski pertemuan itu gagal. Menariknya, saya tahu kita akan bertemu dalam waktu dekat di kota lainnya.

Dua minggu kemudian ia mengabarkan akan tiba di Jakarta untuk sebuah agenda. Sebagai tuan rumah yang baik saya merasa perlu untuk menjemput dan menyambutnya. Sungguh, biasanya saya merasa tidak perlu menjumpa pria asing yang saya kenal di dunia maya pada dunia nyata. Namun perihal Dana menjadi berbeda.

Di Stasiun Pasar Senen pukul 10 pagi saya menemuinya. Seorang laki-laki dengan tinggi badan sedikit melampaui saya. Kurus, sopan, dan sederhana. Saya benci harus banyak bercerita karena Dana adalah tipe orang yang sebenarnya bukan pendiam, hanya saja sangat berhati-hati untuk berbicara. Saya tahu dia adalah seorang yang cerewet bila berada di lingkaran terdekatnya. Saat pertama kali menjumpanya, saya menduga dia memiliki karakter koleris sempurna, makin ke sini ia justru bertingkah seperti seorang plegmatis. Pengamatan saya belum selesai sampai di situ. Apapun karakternya, saya merasa sudah familier dengannya. Masih berpikir-pikir di mana dan bagaimana kita pernah bertemu sebelumnya. Benar kah itu sebuah memori lama atau hanya DEJAVU.

Sehari, dua hari, tiga hari, saya mulai mengenal Dana lebih dekat. Semua tentangnya jauh berbeda dari apa yang saya nilai melalui sosial media. Bukan berarti baik atau pun buruk, namun lebih kepada praduga yang bisa saja benar atau salah. Salah satunya adalah sangat prinsipil. Di mata saya, ia merupakan sosok yang idealis dan visioner. Saya belajar banyak padanya tentang religiusitas yang diajarkan kepada saya tidak menggunakan kata-kata melainkan tindak perbuatan. Juga tentang bagaimana mengolah finansial, Dana  berbakat untuk berwirausaha. Sepertinya, ia pintar mengelola keuangan.

“Nay?”

Panggil Dana membuat saya tersentak. Sering kali di saat kami jalan bersama, saya termanggu. Menerawang dan mereka rupa sosok seseorang yang makin lama makin jelas muncul di benak saya.

Dana tinggal di hostel yang sangat dekat dengan kost tempat saya tinggal. Hari itu hari terakhir menuju kepulangannya ke Semarang dengan flight terpagi. Sudah hampir memasuki waktu Subuh saat saya membangunkannya pagi itu. Terlambat satu jam, ia bergegas terburu-buru dengan sesekali mengaduh lalu mencari ojek online menuju Halim Perdana Kusuma. Driver ojek yang ditunggu ikut panik karena ditelpon berkali-kali dan tidak kunjung sampai. Saya lebih banyak diam bukan karena untuk menenangkan, tetapi karena sesuatu begitu kuat mengganggu benak saya sejak beberapa hari lalu.

Ojek datang dan Dana akan segera pulang. Tak lama setelah berpamitan saya tahu kini sosok siapa di dalam hidup saya yang menjelma seorang Dana. Dengan perawakan dan sifat yang sangat mirip dengan miliknya. Ialah almarhum mantan, yang telah pergi sejak 2012. Ada kah ia bereinkarnasi dalam tubuh milik Dana? Beberapa hari setelah itu, saya bersegera mengunjungi pusaranya. Barangkali ini pertanda bahwa ia tengah merinduku. Atau barangkali adalah saya yang secara tidak sadar tengah lama menahan rindu.