Browsing Category

kisah

0 In kisah

Pernah

Pernahkah kamu merasa genap memiliki segalanya malah membuatmu merasa kosong tidak memiliki apa-apa?

Saat di mana kamu tersadar bahwa lelah dari kakimu yang berlari ternyata tidak berpindah ke manapun, tidak menuju kepada apapun. Hanya membuat dirinya lelah dan membuat dirimu hampir putus asa. Kanal yang dijanjikan tak jua kau temukan. Membawamu pada pertanyaan menghakimi yang menimbulkan benci terhadap apa itu mimpi. Dan hari-hari dalam hidupmu hanya terasa seperti sebuah pengulangan panik dalam kisah yang sering kautampik. 
Ingin kutemukan di mana saja yang dapat menjualkan jiwanya pada selembar tubuhku. Agar bernyawa dan setiap engsel belulang tak hanya seperti dipaksa untuk menjalankan apa yang tak pernah dikehendakinya. Usia berlari kepada senja, tapi ketidaktahuan masih saja menjadi nama. Aku hanya tahu luka kian nganga kian nyata setelah di tungku baka, mengutip kata Adimas saat kutanya soal Mantra Tubuhmu. 
Seolah aku dilahirkan oleh nyala api, atau beku suhu antartika. Tidak kurasakan perih apapun saat darah tumpah menghujani masa lalu kita. Atau pula rasa bahagia yang dapat membuka mata. Sejumlah sabda hilang arah, terkadang menelanku hidup-hidup sebelum akhirnya dimuntahkan kembali. Aku ingin terlahir kembali, tidak sebagai tubuh tanpa jiwa ini. Atau mungkin tubuh dengan jiwa yang telah dihabisi, bukan setengah. Kata ‘hampir’ selalu membawaku pada kesia-siaan. Seperti hampir mati, alih-alih akhirnya mati. 
Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin tersaruk dalam kata-kata dan dapat kembali berani menatap dunia yang tak akan pernah kembali sama. 
0 In kisah

Mimpimu, Mimpimu. Mimpiku, Mimpiku.

Ada satu kebiasaan tak wajar yang terlalu sering saya lakukan. Saya senang sekali berpikir. Namun terlalu banyak dan terlalu sering. Yang saya pikirkan melulu itu adalah diri saya sendiri. Seringkali saya merasa kebingungan dengan sesuatu di dalam diri saya sendiri dan jadi tidak mengenali sosok saya yang satu itu. Namun, sebenarnya, saya teramat mengenali diri saya sendiri.

Sementara, orang-orang di luar sana sibuk mendefinisikan saya. Saya di sini, kebingungan melakukannya. Terkadang saya kehilangan arah dan jalan yang saya lalui menjadi sangat gelap hingga tidak mampu melihat anggota tubuh saya sendiri. Yang saya tahu, saya harus terus berjalan ke manapun itu. Kalau pun harus jatuh ke lubang atau terperosok ke dalam kubangan, itu lebih baik daripada diam bertahan dan hanya berpikir tentang ini dan itu. Namun, saya amat menikmatinya. Berada dalam gelap yang panjang. Saya percaya lorong itu ada ujungnya. Penantian telah ada di sana.

Satu-satunya petunjuk adalah kata hati. Saya melakukan segalanya dengan kata hati. Entah mendapat bisik dari mana, kata hati katanya tahu yang terbaik. Saya mengikutinya. Orang-orang di luar sana masih sibuk mendefinisikan saya. Saya di sini, mantap mengikuti kata hati. Menurut mereka saya adalah bagian dari lelucon yang nyata, bagi saya, ini tentang hidup dan mati. Persetan dengan orang-orang itu, ini adalah hidup saya sendiri. Kalau saya harus mati, hanya saya yang mati, mereka tidak. Maka kalau saya bahagia adalah untuk diri saya sendiri, mereka pun tidak.

Yang saya tahu sejak dulu kala tentang diri saya adalah saya tidak pernah pandai jadi seorang pendusta. Saya tidak senang bertahan dalam sebuah keadaan di mana kita tidak bahagia melakukannya. Bagi saya itu adalah sebuah prositusi paling keji yang dilakukan manusia kepada diri sendiri. Hidup hanya sekali, untuk apa melakukan hal yang tidak kita senangi? Untuk apa badan kita melakukan hal yang bertentangan dengan bagaimana otak kita memikirkan dan hati kita merasakan? Bukankah itu sebuah pengkhianatan?

Saya tahu apa yang saya inginkan, maka saya paham apa yang saya butuhkan. Kebahagiaan tidak bisa dibeli, mimpi tidak bisa digadaikan. Kalau kau tidak bisa membantu mewujudkan mimpi orang lain, setidaknya berfokus saja pada dirimu apakah kau bahagia dengan segala yang kaupunya? Apakah kau punya mimpi? Atau jangan-jangan mimpimu telah kau gadaikan untuk hal fana semata.

Bagimu mimpimu, bagiku mimpiku.

0 In kisah

Tarian Hujan

Hujan tidak berhenti turun sejak kemarin. Pasti ada sebagian di Jakarta yang kini tengah tergenang beserta penduduknya. Langit pagi gelap, malam semakin gelap lagi ditutup kabut yang kelabu. Pemandangan yang kudapati sekeluarnya dari kantor adalah jejeran kendaraan begitu padat memenuhi semua ruas jalan. Beberapa kendaraan berlomba membunyikan klakson entah untuk apa, beberapa orang yang mengendarainya memak-maki entah karena apa, hanya aku sepertinya yang menyambut hujan datang.

Lain dengan orang-orang, aku justru begitu lamban berjalan. Cipratan demi cipratan di celana bahan dan kemejaku justru aku sendiri yang ciptakan. Aku menggunakan payung memang, hanya untuk melindungi tasku yang tidak tahan air. Ada dokumen penting dan leptop di dalamnya. Sedangkan anggota tubuhku beberapa kali kubiarkan kebasahan. Sesekali, kugeser payung merah marun yang mengembang itu agar wajahku tertetes hujan. Basahnya mengalir dari dahi menetes hingga aspal trotoar. Dan entah bagaimana hujan selalu menenangkan. Mungkin karena di kala hujan, para dewa akan mengaminkan doa kita, katanya.
Andai bisa, aku ingin mudah hancur. Ikut lebur ketika rinai hujan menetesi tubuhku. Hingga tak berbekas. Atau barangkali aku ingin menjadi tetes hujan itu sendiri. Terjun bebas dari langit, membanting diri ke bumi tanpa rasa sakit, lalu menguap. Tanpa meninggalkan wujud yang nyata. Bukankah itu fatamorgana yang indah?
Saat itu, saat sebuah klakson membunyi, aku sedang berjingkat-jingkat senang di pinggir jalur transjakarta. Tak lama setelahnya, terdengar suara ledakan serupa bom. Aku tak yakin suara apa yang dapat mendeskripsikannya, aku belum pernah mendengar suara bom seperti apa, yang jelas amat kencang. Hingga telingaku sakit. Tapi sesungguhnya lebih sakit kepalaku. Juga kaki, tangan, perut…. Banyak suara orang. Mendekat. Berteriak, mengguncangkan tubuhku, beberapa bahkan memotret. Suasana jalan makin ramai dan macet kian menjadi. 
“Minggir, minggir!”
Suara pak polisi lantang memberi perintah. Kakinya sigap melingkari label kuning panjang dari plang jalan melintang ke pembatas jalan. Label kuning lainnya dipasang di dekat mobil dan transjakarta yang hangus. Seseorang berteriak-teriak menghubungi rumah sakit agar segera mengirimkan ambulan. Tubuhku terburai, katanya. Jelas-jelas aku sedang berlari ke atas, terbang tanpa sayap, menari-nari di udara seperti yang selama ini aku impikan. Yang membuatku cemburu pada burung-burung atau kupu.
Senyumku lebih parah lagi, tak mau pergi. Tidak lagi. Aku tak perlu lagi memupuk hutang sana-sini untuk menghidupi adik-adikku. Agar mereka mandiri kini. Tak perlu lagi bekerja dari pagi hingga pagi lagi tanpa pernah benar-benar nerasakan nikmatnya. Juga memuaskan nafsu para biadab dengan kata hati yang melulu dirongrong rasa berdosa. Aku terbang. Aku bebas sekarang. Tiba-tiba sepasang pria dan wanita paruh baya mengulur tangan padaku. Kedua sosok yang tak kukenal namun selama ini sering muncul tanpa rupa di dalam imajiku sebagai ayah-ibu idaman. Wanita itu mendekapku hangat, hangat sekali, akhirnya aku dapat merasakan hangat pelukan seorang ibu seperti yang selama ini orang ceritakan. Juga pria itu menggenggam tangaku lembut. Menyelamatkan. Seolah ingin menentang siapa saja yang bermaksud menggangguku. Dekap yang begitu nyaman dan memberikan aman. Kasih seorang ayah yang selama ini aku cita-citakan. Aku punya orang tua lagi kini. Aku tak sendiri lagi. Tidak akan ada lagi yang membuatku takut.
0 In kisah/ Kisah/ puisi

Kamu dan Kecewaku

…di muka pagi yang begitu suci

 
Kepada kamu yang tanpa sentuh tangan mampu mengotorinya,

Satu minggu telah berlalu.

Pada luka kali ini semua terasa amat berbeda. Tidak ada kata yang mampu kutorehkan sebagai ungkap rasa kecewa, atau pula hanya sekadar mencurah rasa. Kepergianmu tak hanya merampas seluruh mimpiku, senyumku, juga seluruh kata sebagai harta yang kupunya. Otakku lumpuh untuk beberapa hari lamanya, tidak ada rangkaian indah serupa sastra yang menjadi mahakarya. Aku tunawicara, juga tunarasa. Aku mati suri tanpa perlu memejam mata.

Ini adalah tulisan pertama tentangmu seminggu yang lalu, yang mampu kuselesaikan. Setelah malam demi malam kulalui tanpa nyenyak, terganti sesak yang selalu terhenyak. Akan kutuliskan hingga usai demi tidur yang manusiawi malam ini dan malam-malam berikutnya. Aku ingin menjadi normal kembali, kumohon. Meskipun seluruh anggota keluargaku tak hentinya menanyakan kabarmu. 

Jikalau pernah kau sempatkan waktu membaca sebuah tulisanku berbelas bulan lalu, aku pernah menceritakan pada dunia akan sesuatu. Bahwa suatu malam setelah beberapa kali bertemu denganmu aku tak henti bermimpi, duduk bersanding denganmu dengan seperangkat alat seni kesukaan kita. Melakukan sesi foto untuk hari bahagia. Berkali-kali selama seminggu aku kembali memimpikannya, seolah merupakan tanda bahwa kau adalah jawaban segala pinta. Atas alasan itu, kata “iya” kuhadiahkan kepadamu dahulu.

Kedai kopi favorit kita, warung nasi uduk terenak di Margonda Raya, sop ceker yang juara, Om owner rumah makan ayam goreng madu yang selalu menanyakan kita jika datang ke sana tapi salah satu dari kita tak ada, lauk tradisional kesukaanmu, selera asin kita yang ekstrim luar biasa, dan hal lain yang aku tak mampu melupakan setiap detailnya. Terlalu banyak. Terlalu banyak hal menyenangkan dan indah yang harus kulupakan. Terlalu indah kenangan yang harus dirusak oleh setitik (hanya setitik) rasa kecewa. Porsinya tidak sama, tetapi itu seperti lebih dari cukup telah menghapus semuanya serta merta dalam satu masa.

Selangkah setelah kepergianmu aku masih berani mengungkapkan cinta.

“Tidak kah kau takut kehilangan aku?”

Untuk pertama kalinya dalam menjalin kisah asmara, aku berani mengumbar rindu dan cemas yang menggebu akan sebuah perpisahan. Bibirmu mengungkapkan kepedihan yang sama, tapi matamu lain bicara kala itu. Aku tahu kamu akan menghancurkan aku tak lama lagi. Menghamburkan mimpi-mimpiku denganmu ke dalam bentuk puing-puing yang nantinya akan kutapaki sampai habis di ujung jalan dan selama itu ia akan melukai kakiku sendiri. Jumlah puingnya sebanyak besar mimpi yang tercipta.

Perkara kita sudah tak sama dengan apa yang telah kita bicarakan senja itu di sanggar. Fokus yang kau bahas adalah tentang masa depanku yang berseberangan denganmu. Namun tikam yang kau sembunyikan adalah tentang masa depanmu yang bersebarangan denganku. Terhitung mulai saat itu aku tersadar, perlahan kamu tengah berupaya membunuhku dalam diam. Dan itu terbukti kini. Aku tak lebih dari merpati yang kau ranggas indah sayapnya. Terjebak dalam sarang yang kian hari selama setahun kau bangun dan ciptakan. Sarang itu terasa tak nyaman lagi kini, setiap rantingnya seolah tersihir, mendadak menusuk-nusuk menembus bulu sayapku. Mencipta sakit tapi dengan luka kasat mata. Mencipta trauma.

Di antara dzikir dan sujudku, ada luka yang kuharap diangkat Tuhan ke atas sana. Ada perih yang andai bisa biar menjelma jadi bulir-bulir air mata dan hilang keberadaannya setelah ia mengering dan menguap di udara. Ada duka yang kuingin segera diambil pergi, diganti dengan ikhlas yang hakiki. Bahwa cinta pada manusia, adalah satu dari sekian cobaan yang dapat Ia berikan. Sebagai sebuah rahmat di waktu bersamaan. Kalau saja aku tak lalai dalam mendefinisikannya dulu.

Saat semua orang berada di garis paling depan mengeluhkan kisah percintaannya, aku bahkan pernah berada di paling depannnya lagi, memberi senyum pada mereka meski di dalam hati membungkam tanya. Tidak ada kesulitan berarti yang pernah aku lalui bersamamu. Sebab kesederhanaanmu dalam beringin selalu mempermudah segalanya. Ada satu hal darimu yang selalu kubanggakan mati-matian di depan semua orang. Sering kusampaikan juga padamu apa itu. Ada pula satu hal yang amat kubenci sebagai sebuah kesalahan dalam menjalin hubungan. Sering kusampaikan juga padamu apa itu. Yang luar biasa mengejutkan adalah ternyata kau kecewakan aku tepat pada hal yang kubanggakan darimu. Juga kau lakukan dengan hebatnya apa yang amat kubenci di waktu yang sama. Sedetik saja, kamu mampu memporak-porandakan perasaanku dalam tanya dan ketidak beradayaan. Betapa menyenangkannya menjadi kamu, meninggalkan aku setelah kau temukan bahagia yang lain. Atau lebih jelasnya adalah, mempertahan aku dengan sikap seperti ingin meninggalkan, tetapi juga memegang erat tali yang baru penuh sukacita. Bukan kah menyenangkan menjadi manusia berhati dua? atau lebih?

Kau mungkin tak tahu. Ketika itu, ada berapa banyak orang di luar sana bertanya padaku dan merasa prihatin pada apa yang sebenarnya tak pernah kukatakan dan tak mereka ketahui. Tapi maaf, dunia seolah memihak padaku. Dalam kediaman dan kehalusan cara mainmu, sikapmu justru patut disebut kejam. Yang selalu kubayangkan, kamu tak mungkin mampu menjadi sejahat itu. Aku selalu percaya, bahwa masih ada cinta di sana. Aku tak hentinya memikirkan kecemasanmu yang memikirkan kita. Namun semua tak akan serumit ini jika kamu tegas dalam membuat keputusan. Semua tak akan jadi begini jika kamu adalah benar seorang pria yang matang. 

Aku tak ingin banyak bicara, sebab tak ada yang perlu dibicarakan dan tak ada yang bisa diajak bicara dan tak ada yang mau mendengar. Aku pula tak mau banyak bersedih, sebab semua kejelasan dalam ketidaktahuan ini harusnya menjadi berita bahagia untukku.

Harapku kini bergantung pada apa yang tidak kuketahui. Aku mencemaskan apakah perempuan itu mampu merawatmu sebaik aku. Apa ia mengelap sendok dan garpumu ketika kau akan makan, apa ia memesankan es teh tanpa perlu kau tanya di setiap kau ingin makan, apa ia menambahkan garam ketika memesankan makanan, apa ia tahu dan gemar memasak makanan kesukaanmu, apa ia mengelap dahimu saat peluh membanjirinya ketika kamu sedang kepedasan. Kamu tak suka biskuit atau wafer sebagai camilan. Juga buah-buahan, satu-satunya yang kamu suka hanyalah mangga dan durian. Kamu tak suka memakai kemeja panjang, dan akan lebih memilih kemeja berlengan pendek untuk dikenakan di acara formal sekalipun. Kamu lebih suka memakai sepatu berjenis Loafer, atau Wing Tip tapi tidak dengan leher panjang. Ukuran sepatumu 41. Warna kesukaanmu adalah warna kesukaan kita, hitam dan biru dongker. Terlalu banyak, terlalu banyak memori tentangmu yang harus kulupakan satu per satu. Satu tahun mengenalmu, mungkin membutuhkan satu tahun pula untuk dapat melupakannya.

Aku harus dan turut berbahagia bila telah kau temukan pelabuhan terakhir itu. Biarlah kamu berbahagia, sementara aku yang memupuk duka. Sebab bagiku senyummu adalah semesta dan aku tinggal di dalamnya.

In memoriam,
Kita.
RIP.

Tertanda,
Aimee.

0 In kisah

Masih di Sana

Matahari berusaha menorobos masuk, ke dalam kepalaku. Berhasil kali ini setelah berkali-kali tak kupeduli.

Cahayanya kering dan menggugah. Berusaha memberi dengar bahwa iklim telah berganti. September datang meningkatkan kecemasan luar biasa. Dan kau anak muda, masih di sana. 
Hampir setahun sudah kau hanya duduk di sana. Menyaksikan, segala hal yang indah. Yang bukan milikmu. Merasa bangga. Pada yang bukan kauraih. 
Belanda, Malaysia, Australia, Britania Manchester, Jepang, Swiss, Cina, Cina lagi, lalu Cina, Korea, Korea, dan kemudian adalah Korea. Sementara kau masih di sana. Mengumpulkan bulir air mata. Buru-buru menghapusnya ketika ia datang lagi dan lagi. Menyembunyikannya dari siapa pun yang bahkan tak melihatmu. Berusaha menyembunyikannya dari dirimu sendiri. Kali ini mau berbohong apa lagi?
Usia tak muda. 17 hingga menginjak 22. Selama itu kau tengah bertarung dengan dirimu sendiri. Berusaha berdamai dengan apa yang datang tanpa permisi, tak pernah kauhendaki, kadang tak dengan benar berhasil kaulewati, kemudian kausesali. Lima tahun tak biasa. Lima tahun untuk selamanya. Setelah mati selalu menjadi jalan terbaik yang sepertinya dapat dipilih. Setelah gagal mengunjunginya berkali-kali.
Hari-hari menuju usia dua puluh tiga. Perang harus dituntaskan. Kau harus menjadi seperti pemuda seusiamu. Terlalu banyak berpikir tak hanya mampu mengubah muda di raut wajahmu, juga dapat mengambil hak-hakmu lainnya. Yang seharusnya kaudapat saat ini. Wajahmu tak semestinya menjadi lebih tua lagi. Sudah banyak bebannya. Terlalu banyak pahit yang kautahan di balik senyum yang kaupaksakan. Kerut-kerut di dahi seolah berjumlah sama dengan beban kehidupan. Semakin banyak kerutmu nanti. Tak dapat kau cantik lagi. Tak akan ada yang mempersuntingmu.
Mempersunting???
Bahkan begitu asing kata itu terdengar. Tak terbayang. Terlalu jauh hingga tak terbayang. Mungkin seseorang akan datang sebagai kunci dari kebahagiaan. Terdengar drama. Begitu lemah. Tak semestinya para gadis kecil diceriterakan dongeng putri yang demikian. Mereka harus bahagia dengan usahanya sendiri. Sebab menunggu tak menunjukkan kesungguhan. Doamu adalah ikhtiar, menunggu diijabahnya doa adalah malas-malasan. Selalu berikhtiar adalah menunggu yang paling benar. 
Jadi, kau akan ke mana? Sayapmu masih utuh, belum digunakan sama sekali. Namun malah rapuh. tak ada pilihan selain menjadikannya kuat. Janjimu menunggu, minta ditunaikan. Dunia luar menunggu. Eropa menunggu. Wannsee menunggu. Markus dan Johanna selalu menunggu. Kau tidak boleh. Kau harus berikhtiar. 
Kelak, mesti kausulap air mata itu jadi permata. 
Tuhan punya rencana.
Keluarlah dari peraduan, Puan. Kau tak sendiri. Kau selalu bersama dengan mimpi-mimpimu yang tersembunyi di balik kedua kelopak mata itu. Begitu banyak lipatannya. Yang menghias kedua matamu. Bukan kah mereka terlihat indah?