Browsing Category

hangout

0 In beach/ city/ culinary/ hangout

Ini Dia Wisata dan Budaya Kabupaten Tangerang!

I am so grateful that I had chosen as one of Ambassadors of Tourism and Culture at Tangerang Regency 2016. Despite that, there were a lot of people asking me why Tangerang and not Jakarta (as Abang – None)?

(Sebenernya, lebih banyak yang tanya “KOK BISA-BISANYA LO IKUTAN AJANG PEAGENT?”. Sama, saya juga bingung ha..ha..)

Call me classic, tapi jawabannya adalah karena Kabupaten Tangerang memiliki potensi pariwisata dan budaya yang belum terlalu dikenal dengan baik, because I do love tourism, juga karena ingin mencari teman di Tangerang karena selama pulang ke rumah mama selalu mengeram di dalam rumah karena semua teman ada di Jakarta. One thing for sure, saya tidak pernah menganggap ini sebagai kompetisi, sehingga tidak merasa perlu bunuh diri ketika tidak dinyatakan menjadi juara 🙂

Kabupaten Tangerang memiliki berbagai objek wisata yang dapat dikunjungi. Saking banyaknya, mari kita bagi ke dalam beberapa kategori agar lebih mempermudah.

1. Wisata Belanja

Dari seluruh wilayah di Banten, saya percaya diri untuk mengatakan bahwa pusat perbelanjaan paling asyik ngumpulnya ya di Kabupaten Tangerang. Menariknya, banyak yang tidak mengetahui bahwa AEON Mall adalah bagian dari Kabupaten Tangerang tepatnya di kecamatan Cisauk. Seain Mall yang khas dengan Japan stuffs ini masih banyak wisata belanja lainnya yang juga menjadi favorit, yaitu Summarecon Digital Serpong, Supermal Karawaci, dan Summarecon Digital Center, dll.

2. Wisata Bahari

Mungkin banyak yang sudah tahu bahwa Provinsi Banten memiliki pantai-pantai yang indah seperti Anyer, Sawarna, Carita, Bagedur. Kabupaten Tangerang sebagai bagian dari Banten juga memiliki pantai yang bisa kamu kunjungi seperti Pantai Tanjung Pasir, Pantai Pulau Cangkir, dan Pantai Tanjung Kait.

3. Wisata Alam

Selalin pantai, Kabupaten Tangerang juga memiliki wisata alam lain seperti Hutan Keramat Solear yang berada di Kecamatan Solear, di mana terdapat banyak pepohonan rimbun serta fauna seperti beberapa ekor kera yang konon katanya tidak pernah berkurang atau bertambah jumlahnya. Wisata alam lainnya yang pernah saya kunjungi adalah Telaga Biru Cigaru, yang saya sebut sebagai Danau Kaolin versi Tangerang. Cara untuk mengunjunginya sudah pernah saya tulis di sini.

4. Wisata Budaya

Masyarakat di Kabupaten Tangerang terdiri dari beragam budaya seperti Sunda, Betawi, dan Tionghoa, sehingga budaya yang dihailkan juga beragam. Salah satu contohnya adalah Wihara Tjoe Soe Kong, yang merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Tionghoa yang berada di Kecamatan Teluk Naga. Wihara ini terletak dekat dengan Pantai Tanjung Kait. Detail lebih lengkapnya mengenai Wihara ini juga sudah pernah saya review di sini. Perpaduan ketiga budaya ini juga menghasilkan budaya unik untuk Kabupaten Tangerang seperti Tari Cukin dan Topeng Si Tolay. Sehingga menjadi Seni Pertunjukan yang populer di daerah Kabupaten Tangerang.

5. Wisata Konvensional

Apa sih sebenarnya arti dari Wisata Konvesional? Adalah wisata yang jauh dari alam, berupa infrastruktur bangunan, di mana wisatawan yang datang dapat beristirahat dan dapat merawat diri. Hotel misalnya. Tentu saja terdapat banyak jenis hotel yang dimiliki oleh Kabupaten Tangerang yaitu Hotel Imperial Aryaduta, Hotel Atria, Hotel Ara, dan lain sebagainya.

6. Wisata Religi

Jangan terkecoh perbedaan wisata religi dan wisata budaya, meskipun beberapa wisata religi dapat juga diklasifikasikan sebagai bagian dari wisata budaya seperti Klenteng Tjo Soe Kong. Fokus utama wisata religi adalah tempat beribadah, seperti Masjid Agung Al-Amjad. Salah satu wisata religi favorit saya di Kabupaten Tangerang adalah Masjid Asmaul Husna di Summarecon. Dinding bangunannya terbuat dari susunan 99 Nama Allah (Asmaul Husna) dengan warna hijau. Arsitek yang membuatnya tak lain dan tak bukan adalah the talented one Kang Ridwan Kamil.

7. Wisata Minat Khusus

Selama masa pembinaan Kang Nong, saya masih gagal paham sebenarnya apa saja yang masuk ke dalam kategori Wisata Minat Khusus. Dan ternyata bukan hanya saya, beberapa teman finalis juga memiliki kebingungan serupa. Well, i will let you know sebenarnya apa itu Wisata Minat Khusus dan apa saya yang termasuk menjadi bagiannya. Dalam Bahasa Inggris, Wisata Minat Khusus dikenal sebagai Special Interest Tourism. Dilihat dari namanya, sesuai dugaan saya wisata ini merupakan wisata yang anti mainstream.

Apa saja yang termasuk Wisata Minat Khusus? KEMENPAR menyebutkan bahwa Wisata Minat Khusus bisa terdiri dari wisata olahraga, edukasi, dan MICE. Apa itu MICE? Ialah Meeting, Incentive, Convention, Exhibition. Di Kabupaten Tangerang ICE (Indonesia Convention Exhibition) yang berada di Kecamatan Pagedangan adalah bagian dari MICE. ICE juga merupakan Convention Hall terbesar se – Asia Tenggara. Banyak yang tidak tahu bahwa ICE ini milik Kabupaten Tangerang, melainkan wilayah lainnya. Now you guys know 🙂

Agar tidak bingung, ini poin-poin yang bia dikategorikan sebagai bagian dari Wisata Minat Khusus:

1. Rewarding, penghargaan terhadap objek yang dikunjungi.
2. Enriching, pengkayaan diri, dapat juga dalam rangka bisnis.
3. Adventure, minat bertualang yang tinggi.
4. Learning, keinginan untuk mempelajari hal yang baru.

Yes, Scientia Square Park juga bisa dikategorikan menjadi bagian dari Wisata Minat Khusus. Karena terdapat wisata yang edukatif dan adventure seperti bercocok tanam (nuansa pedesaan di tengah kota), hingga wall climbing dengan pendampingan khusus tentuya.

Omong-omong soal budaya Kabupaten Tangerang, apalagi hasil kebudayaannya yang potensial untuk mendatangkan penghasilan bagi warganya? Yak, Topi Bambu!

Nah, itu dia semua wisata-wisata yang ada di Kabupaten Tangerang. Saya pribadi belum mengunjungi kesemuanya, masih dalam proses. So, ada banyak alasan untuk berwisata di Kabupaten Tangerang. Ayo kunjungi Kabupaten Tangerang!

Good luck juga untuk seluruh finalis Kang & Nong Kabupaten Tangerang. Semoga catatan ini dapat membantu 🙂

2 In hangout

Typicali Coffee; Rooftop Cafe di Bekasi

“Di deket rumah ada tempat ngopi baru. Kamis sore sibuk?”

Notifikasi dari Riski, teman main sejak SMP, muncul.

Hmm…kalau diajak ke warung kopi mana bisa nolak? Ketika dipikir-pikir, saya pun belum pernah bertualang ke warung kopi di daerah Bekasi. Maka, sebuah balasan “oke” menjadi jawaban yang saya kirim.

Interior di lantai 1
Add caption

Tempat yang dimaksud bernama Typicali Coffee. Lokasi tepatnya adalah di Jalan Ujung Aspal. Bukan hanya halaman parkirnya yang cukup luas, tetapi juga ruangan di dalamnya. Sudah dapat terlihat dari luar karena dinding kafe adalah terbuat dari kaca. Typicali Coffee mengusung warna yang sama dengan coffee shop pada umumnya. Warna hitam yang merepresentasikan kopi dan kesederhanaan selalu menjadi pilihan tepat bagi cat dinding sebuah coffee shop. Namun yang saya sukai dari Typicali Coffee bukan hanya itu, melainkan konsep berbeda pada setiap lantai yang dimilikinya. Typicali Coffee memiliki tiga lantai, lantai pertama dengan konsep dinding hitam dengan paduan susunan bata merah dan furniture yang terbuat dari kayu juga tong-tong yang dicat hitam doff.

Pada lantai dua dekorasi memiliki konsep hitam-putih dengan hiasan quotations dalam bingkai-bingkai sederhana di dinding. Bertentangan dengan lantai satu, konsep interior di lantai ini cukup manis dan sangat cocok untuk acara gathering karena lighting yang sangat bagus untuk berfoto.

Interior lantai 2

Lantai terakhir adalah lantai tiga, lantai yang mungkin paling menjadi incaran para pengunjung. Ialah konsep kafe di atap terbuka, alias rooftop. Pijar lampu-lampu yang berkerlap-kerlip di sekeliling menambah cantik suasana rooftop di malam hari. Bila di sore hari, akan terlihat pemandangan gunung (entah gunung apa) di kejauhan, sehingga membuat view menjadi indah. Suasana yang romantis, sejuk, juga harum. Saya katakan harum karena letaknya dekat dengan dapur. Aroma masakan sang chef tentu saja akan terbang ke penjuru rooftop. Dapur Typicali Coffee berada di lantai ini, berbeda dengan coffee bar yang terletak di lantai dasar langsung di hadapan pengunjung. Meskipun begitu, dapur yang terletak di rooftop tersebut terbilang cukup rapi dan menarik untuk ditengok, itu mungkin alasan sang pemilik membiarkannya mudah dilihat oleh pengunjung. Masih di lantai yang sama tepatnya di sebelah dapur tersebut terdapat musolah yang bersih dan luas. Perfect!

Interior lantai 3

Selesai mendeskripsikan soal interior (i just can’t help myself. Interior semua lantai sangat saya suka), sekarang waktunya membahas soal kopi. Seperti biasa, mata saya mengembara ke lembar menu card dan mencari signature coffee dari Typicali. Yang saya temukan bukan jenis kopi hitam, melainkan berhenti pada tulisan Red Velvet Coffee, Taro Coffee. Riski yang bukan seorang pecandu kopi mempersilakan saya untuk memesankan dia minuman yang saya ingin. Oke, maka saya pesan kedua nama di menu tadi. Lidah saya sudah tidak sabar menerka-nerka seperti apa red velvet yang terhidang di sebuah cangkir kopi versi Typicali.

Taro Coffee – Red Velvet Coffee

Tidak berapa lama kedua cangkir berwarna sesuai dengan si warna kopi diantar ke atas meja tong di depan kami. Rasanya? Saya lebih suka Taro Coffee milik Riski. Rasanya manis dan saking manisnya sampai tidak terasa kandungan kopi di dalamnya. Temperatur kopinya juga menurut saya kurang panas, sehingga mengurangi kenikmatan kopi tersebut. Namun saya akan memesan menu yang sama bila datang lagi ke kafe ini.

Soal harga? Terbilang cukup mahal bagi kami yang notabene-nya adalah anak kost. Percakapan yang tercipta antara saya dan Riski saat itu adalah, “harganya sesuai dengan betapa megah ruangannya ya?”. Bisa jadi. You know what i meant.

Untuk pelayanannnya? Saya akan berikan dua bintang dari lima. Sebagai informasi, review kali ini adalah karena atas inisiatif saya pribadi (karena saya terlalu suka dengan konsep Typicali), bukan atas permintaan pihak kafe seperti biasanya. Namun seseorang yang tidak berseragam karyawan (yang direkomendasikan oleh staf untuk saya tanya) di Typicali Coffee tidak menyambut keramahan dan niat baik saya saat meminta ijin untuk foto dan membuat review yang sebenarnya adalah menguntungkan bagi promosi kafe tersebut. Ketidakramahan itu yang sangat saya sayangkan. Seperti yang kita ketahui kini, kopi adalah kebutuhan sehari-hari kebanyakan orang saat ini. Intensitas pengunjung ke warung kopi terbilang sudah menjadi gaya hidup sehari-hari. Dan pelayanan yang ramah dapat menjadi alasan utama yang menciptakan rasa nyaman seperti di rumah sendiri, agar pengunjung mau datang sesering mungkin bahkan setiap hari menjadi pelanggan loyal. Sense “berada di rumah sendiri” tidak saya dapatkan dari kunjungan saya ke Typicali Coffee. Hasil foto dan video yang saya ambilpun tidak maksimal, saya merasa agak sangsi mau ambil gambar banyak-banyak. Apakah foto-foto di Typicali Coffee dilarang? Entahlah. Terlepas dari kejadian itu, saya akui Typicali Coffee memiliki interior unik dan keren. Apalagi rooftop-nya. 

Selamat mampir ke Typicali Coffee!
Typicali Coffee
Jl. Raya Hankam No.384
Ujung Aspal, Pondok Gede
Open hour: Everyday 09.00 am – 12.00 pm
instagram: @typicalicoffee
2 In hangout

Lovely Dori Dabu-Dabu

Bagi saya, selain untuk berbagi, life is also about networking. Dengan mengikuti organisasi, komunitas, atau aktivitas apapun di luar akademis kita dapat meningkatkan branding diri sendiri juga menambah kenalan. Siapa sangka kemarin siang saya bisa duduk bersama seorang profesional HR manager, hanya untuk chit-chat semata. She is…. Citra Aulia a.k.a Kak Oli a.k.a Bunda Oli. Kami akan bertemu di Gandaria City Mall, Jakarta Selatan. Tepatnya di sebuah resto bernama Incognito. Resto ini sudah ada di mana-mana, tetapi saya belum pernah mencicipi seperti apa makanannya. Enaknya jadi saya adalah sering kali saya yang ngajak orang untuk ketemuan, tapi ujung-ujungnya malah saya yang ditraktir. Tentu saja saya diperbolehkan makan sepuasnya. Huwa… I love eating!

Dori Dabu-Dabu ala Incognito

Wait…kenapa Incognito? Ternyata Kak Oli hampir setiap hari saat istirahat kantor makan di resto ini, karena menurutnya semua pilihan makanan di sini enak-enak dan memliki cita rasa yang konsisten. Makanan favoritnya adalah Dori Dabu-dabu. Pernah suatu kali lidahnya menangkap ada yang janggal dengan fillet tepung pada pesanan Dori Dabu-dabu-nya. Ia lantas memanggil waitress dan bertanya, “Tepungnya diganti ya?”

“Ibu tahu aja?!” sang waitress terbelalak takjub. Mungkin yang ada di pikirannya, kalau saja ada penghargaan untuk pengunjung terloyal Incognito mungkin Ibu Citra Aulia ini akan menjadi juaranya he..he..

Semua komponen dari Dori Dabu-dabu dari Incongnito saya akui memang enak. Dari mulai sayur, yaitu campuran tumis kangkung dan brokoli, fillet ayam yang matangnya pas dan renyah, sambal bawang di atas kerupuk pangsit, hingga nasi yang dimasak tidak terlalu lembek dan porsi cukup. Menu satu ini memang rekomen!

Iced Coffee Jelly

Untuk hidangan minumnya juga tidak diragukan lagi. Bukan hanya makanan yang membuat Kak Oli betah makan di sini, tetapi juga dari hidangan minumannya. Incognito memiliki Iced Coffee Jelly pada menunya. Sebagai pecinta kopi yang sehari bisa ngopi hingga tiga kali tentu menu ini menjadi andalan beliau. Saya pun ikut mencicipi. Rasanya memang benar enak. Cocok untuk menjadi teman menyantap main course. Yummy!

Fruit Salad
Ups….. saking enaknya baru ingat foto pas sudah habis

Saya lupa memberitahu, bahwa sebelum makan Dori Dabu-Dabu kami lebih dulu menikmati Fruit Salad. Porsinya banyak, sehingga cukup untuk 2-3 orang. Buahnya pun memiliki komposisi yang pas dan sangat segar. Bersamaan dengan itu Kak Oli juga memesan menu di bawah ini sebagai camilan. Jadi, sudah terbayang berapa macam makanan yang sudah kami makan? Belum, kami masih belum puas karena belum memesan dessert hi..hi…

Enaaaaaaaa

Harga makanan Incognito yang dipatok bagi saya sangat sesuai dengan rasa dan pelayanan resto. Untuk satu porsi makanan range harganya adalah Rp.50.000-65.000. Well, thank you, Kak Oli, sudah memperkenalkanku betapa lezatnya Incognito. Jangan lupa makan di Incognito jika mampir ke Gandaria City, ya!

3 In hangout

Servis Oke Doppio Coffee

Dalam berbisnis, terkadang yang terpenting bukanlah produk atau jasa yang ditawarkan, tetapi pelayanann yang diberikan. Dan poin itulah yang selalu bikin saya senang untuk datang kembali ke Doppio Coffee. Keramahan dari pelayanan itu bahkan saya dapati langsung dari si pemilik coffee shop. Kalau owner-nya saja menjunjung tinggi nilai pelayanan, apalagi dengan para pegawainya, bukan?

Terletak di Jl. Woltermonginsidi, Kebayoran Baru dan di pertigaan jalan, coffee shop satu ini sangat strategis dan mudah untuk ditemukan, tepatnya adalah di Bintara Building. Saya sudah lebih dari tiga kali datang ke Doppio untuk duduk-duduk santai bersama teman-teman, meeting, bahkan mengadakan event. Yup! Meskipun Doppio adalah sebuah coffee shop yang tidak memiliki panggung seperti cafe, tetapi mereka sangat terbuka bila ada pelanggan yang request Doppio untuk jadi venue sebuah event. Tidak ada biaya sewa tempat seperti cafe kebanyakan, kamu cukup memesan satu paket snack dan minuman yang ada di Doppio. Paket tersebut juga fleksibel, pengunjung bisa memilih makanan dan minuman yang sedang promo untuk dijadikan paket. Enak, kan?

Kalau kamu mengadakan event bukber di Doppio Coffee di bulan Ramadhan seperti ini, kamu akan mendapatkan free takjil seperti kolak dan infused water sepuasnya. Whoa!





Yang perlu dipikirkan adalah kapasitas orang yang mampu ditampung Doppio Coffee sebanyak 50 orang. Sangat cocok untuk kamu yang ingin mengadakan event privat  nan eksklusif yang tidak mengundang khalayak terlalu ramai.

Selain pelayanannnya yang ramah, cita rasa yang disuguhkan melalui food & beverage ataupun coffee & tea Doppio Coffee juga sangat enak. Menariknya, beberapa food dibuat langsung oleh ibunda sang owner. Jadi, komposisi dan kualitas makanannya sangat terjamin. Sedangkan makanan lainnya adalah yang sudah terkenal dan teruji rasanya. seperti pastries dari Beau (artisan bakery yang buka di Plaza Indonesia LB dan Grand Indonesia L1) atau Cinnamon Roll dari Big Mama’s Resicpe (@bigmamas.recipe)! Favorit-ku? Signature drink & food of course! Doppio Cube dan semua makanan buatan mamanya owner, karena Indonesia banget seperti gambar di bawah ini he…he…




 
Di Doppio Coffee juga ada berbagai macam pilihan corner. Dari mulai corner meja panjang, corner meja dengan kursi tinggi yang menghadap ke luar kafe, corner sofa, hingga smoking room yang dibatasi oleh dinding kaca.

Bila kamu muslim, di Doppio Coffee tidak ada tempat solatnya. Bila mengadakan event di sana, biasanya saya meminta ijin untuk menyulap smoking room menjadi ruang solat dengan catatan wudhu-nya di toilet. Owner sangat membantu menyediakan apa saja yang kita butuhkan. So, Doppio Coffee sangat rekomen sebagai salah satu tempat nongkrong asik di bilangan Jakarta Selatan. Jangan lupa mampir ke Doppio Coffee!

Doppio Coffee
Jl. Wolter Monginsidi 43, Jakarta Selatan
Sun – Fri : 07.30 – 22.00 WIB
Saturday : 07.30 – 24.00 WIB
instagram: @doppiocoffee_jkt
www.facebook.com/fendipetong
0 In culinary/ hangout

Asagao Coffee House

Akhir-akhir ini jadi betah balik Tangerang karena makin banyak coffee shop yang cozy dan nyaman banget buat nulis. Well, #NayaTari adalah dua gadis doyan nulis yang juga doyan berburu warung kopi. Canggihnya teknologi dan munculnya akun-akun baik hati di sosial media amat membantu perburuan kami. Mudah saja, tinggal buka akun @eatintangerang di Instagram dan pilih tempat sesuai dengan yang diinginkan. Terima kasih banyak kepada penggagas akun @eatintangerang!

 

Instagramable corner

Pilihan kami jatuh kepada sebuah coffee shop yang fotonya sangat simpel dengan dominasi warna yang minimalis, namun memiliki daya tarik yang kuat karena keunikannnya. Asagao Coffee, sebuah coffee shop pertama di Indonesia yang mengusung tema Jepang, khususnya pada nama-nama kopinya.

Menu hanya ditulis di papan tulis, pengunjung bisa langsung memilih dari papan tersebut.

Meskipun mengusung tema import pada konsepnya, coffee shop ini memasang harga standar yang sama dengan warung ngopi pada umumnya. Ada dua signature coffee yang disuguhkan oleh Asagao, yaitu Korikohi, segelas balok-balok batu es yang terbuat dari kopi dan segelas susu murni siap tuang. Pengunjung dapat menentukan takaran susu yang dituang ke dalam gelas berisi balok es sesuai dengan selera. Selain itu, terdapat juga Kuniko. Sama seperti Korikohi minuman ini juga terdiri atas segelas susu (dengan porsi lebih banyak), tetapi telah lebih dulu dicampur dengan madu. Unsur kopinya didapatkan dari segelas espresso yang bisa dituangkan sesuai selera pengunjung. Minuman ini sangat cocok bagi pengunjung yang ingin minum kopi, tetapi tidak bisa atau tidak ingin mengonsumsi kopi dalam porsi banyak. Dapat terbayang perbedaannya ya?

Korikohi (kiri) dan Kuniko (kanan)

Enakan mana? Well, karena tidak bisa minum kopi pahit dan sangat suka susu saya memesan Kuniko, sedangkan Tari memesan Korikohi. Kuniko aman dan rasanya unik. Namun setelah cicip punya Tari, ternyata Korikohi nggak pahit. Enaaaaaaaak!!! *dying*

Sudut dari pintu masuk. Para pria yang sedang duduk itu adalah pemilik Asagao.

Interior Asagao didominasi warna abu-abu dan cokelat kayu. Berbeda dengan coffee shop pada umumnya yang biasa melukis dindingnya dengan quotes atau kata mutiara, di dinding Asagao terdapat mural yang menceritakan proses produksi kopi a la Asagao, sehingga seperti membentuk sebuah cerita yang runut.

Oh ya, di Asagao kamu akan menemukan beberapa ikon Brown dan Cony, dua karakter line yang menggemaskan. Selain boneka seperti foto di atas, wajah Brown dan Cony juga akan kamu temukan dalam bentuk kue, bersama dengan Totoro Cake alias kue yang menjadi khas Asagao (kembali lihat foto menu di atas! hihihi).


Beberapa hasil jepretan pengunjung, sepertinya. Efortlessly beautiful.

 

Pelayanan Asagao sangat menyenangkan, tidak mengusir secara halus pengunjung yang lama nongkrong di sana seperti di tempat lain he…he… Apalagi pengunjungnya berjenis seperti Naya dan Tari yang kalau sudah menulis bisa lupa waktu. Kami tiba di sana tidak lama setelah dibuka, lalu baru pulang sore harinya. Bahkan hingga pindah tempat tiga kali karena khawatir orang lain ingin merasakan duduk di tempat kami yang memang cocok banget buat foto-foto (kita anak baik, kan?).

Aktivitas yang kami lakukan adalah menulis naskah novel pribadi, proof reading, revisi, membahas next project, ngomongin buku, bahkan sempat live streaming juga bahas dunia kepenulisan dan novel #DearEllie karya Tari via Zeemi TV! (Bagi yang mau nonton bisa klik ikon zeemi di side bar sebelah kanan blog ini).

 
Muka puyeng revisi :’)

Di lantai dua Asagao ada butik yang waktu itu tutup, sepertinya design bajunya ready to wear dan simple, padahal niat hati mau main-main dan lihat koleksinya. Sejauh ini Asagao adalah tempat ngopi paling favorit menurut #NayaTari, apalagi Korikohi-nya. Kekurangan Asagao hanya satu, tidak adanya musola bagi pengunjung beragama muslim yang harus menunaikan ibadah sehari lima kali. Waitress meminta maaf kepada saya soal ini dan menawarkan untuk memakai ruang kosong di depan butik untuk solat. Sayangnya saya juga lupa membawa mukena, boro-boro sajadah. Untung saja ada kardus-kardus lebar di lantai dua tersebut yang bisa dijadikan alas untuk solat (semoga bersih). Over all, Asagao sangat recommended untuk dikunjungi. Sila mampir!

Sampai jumpa di perburuan coffee shop #NayaTari berikutnya 🙂

Asagao Coffee House
Ruko Graha Boulevard Blok A No.9, Gading Serpong
Mon – Thu, Sun: 10 am – 9 pm
Fri – Sat: 10 am – 10 pm
instagram: @asagao.coffee
facebook: www.facebook.com/asagao.coffee