Browsing Category

city

22 In beach/ city/ culinary/ hangout

Ini Dia Wisata dan Budaya Kabupaten Tangerang!

I am so grateful that I had chosen as one of Ambassadors of Tourism and Culture at Tangerang Regency 2016. Despite that, there were a lot of people asking me why Tangerang and not Jakarta (as Abang – None)?

(Sebenernya, lebih banyak yang tanya “KOK BISA-BISANYA LO IKUTAN AJANG PEAGENT?”. Sama, saya juga bingung ha..ha..)

Call me classic, tapi jawabannya adalah karena Kabupaten Tangerang memiliki potensi pariwisata dan budaya yang belum terlalu dikenal dengan baik, because I do love tourism, juga karena ingin mencari teman di Tangerang karena selama pulang ke rumah mama selalu mengeram di dalam rumah karena semua teman ada di Jakarta. One thing for sure, saya tidak pernah menganggap ini sebagai kompetisi, sehingga tidak merasa perlu bunuh diri ketika tidak dinyatakan menjadi juara 🙂

Kabupaten Tangerang memiliki berbagai objek wisata yang dapat dikunjungi. Saking banyaknya, mari kita bagi ke dalam beberapa kategori agar lebih mempermudah.

1. Wisata Belanja

Dari seluruh wilayah di Banten, saya percaya diri untuk mengatakan bahwa pusat perbelanjaan paling asyik ngumpulnya ya di Kabupaten Tangerang. Menariknya, banyak yang tidak mengetahui bahwa AEON Mall adalah bagian dari Kabupaten Tangerang tepatnya di kecamatan Cisauk. Seain Mall yang khas dengan Japan stuffs ini masih banyak wisata belanja lainnya yang juga menjadi favorit, yaitu Summarecon Digital Serpong, Supermal Karawaci, dan Summarecon Digital Center, dll.

2. Wisata Bahari

Mungkin banyak yang sudah tahu bahwa Provinsi Banten memiliki pantai-pantai yang indah seperti Anyer, Sawarna, Carita, Bagedur. Kabupaten Tangerang sebagai bagian dari Banten juga memiliki pantai yang bisa kamu kunjungi seperti Pantai Tanjung Pasir, Pantai Pulau Cangkir, dan Pantai Tanjung Kait.

3. Wisata Alam

Selalin pantai, Kabupaten Tangerang juga memiliki wisata alam lain seperti Hutan Keramat Solear yang berada di Kecamatan Solear, di mana terdapat banyak pepohonan rimbun serta fauna seperti beberapa ekor kera yang konon katanya tidak pernah berkurang atau bertambah jumlahnya. Wisata alam lainnya yang pernah saya kunjungi adalah Telaga Biru Cigaru, yang saya sebut sebagai Danau Kaolin versi Tangerang. Cara untuk mengunjunginya sudah pernah saya tulis di sini.

4. Wisata Budaya

Masyarakat di Kabupaten Tangerang terdiri dari beragam budaya seperti Sunda, Betawi, dan Tionghoa, sehingga budaya yang dihailkan juga beragam. Salah satu contohnya adalah Wihara Tjoe Soe Kong, yang merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Tionghoa yang berada di Kecamatan Teluk Naga. Wihara ini terletak dekat dengan Pantai Tanjung Kait. Detail lebih lengkapnya mengenai Wihara ini juga sudah pernah saya review di sini. Perpaduan ketiga budaya ini juga menghasilkan budaya unik untuk Kabupaten Tangerang seperti Tari Cukin dan Topeng Si Tolay. Sehingga menjadi Seni Pertunjukan yang populer di daerah Kabupaten Tangerang.

5. Wisata Konvensional

Apa sih sebenarnya arti dari Wisata Konvesional? Adalah wisata yang jauh dari alam, berupa infrastruktur bangunan, di mana wisatawan yang datang dapat beristirahat dan dapat merawat diri. Hotel misalnya. Tentu saja terdapat banyak jenis hotel yang dimiliki oleh Kabupaten Tangerang yaitu Hotel Imperial Aryaduta, Hotel Atria, Hotel Ara, dan lain sebagainya.

6. Wisata Religi

Jangan terkecoh perbedaan wisata religi dan wisata budaya, meskipun beberapa wisata religi dapat juga diklasifikasikan sebagai bagian dari wisata budaya seperti Klenteng Tjo Soe Kong. Fokus utama wisata religi adalah tempat beribadah, seperti Masjid Agung Al-Amjad. Salah satu wisata religi favorit saya di Kabupaten Tangerang adalah Masjid Asmaul Husna di Summarecon. Dinding bangunannya terbuat dari susunan 99 Nama Allah (Asmaul Husna) dengan warna hijau. Arsitek yang membuatnya tak lain dan tak bukan adalah the talented one Kang Ridwan Kamil.

7. Wisata Minat Khusus

Selama masa pembinaan Kang Nong, saya masih gagal paham sebenarnya apa saja yang masuk ke dalam kategori Wisata Minat Khusus. Dan ternyata bukan hanya saya, beberapa teman finalis juga memiliki kebingungan serupa. Well, i will let you know sebenarnya apa itu Wisata Minat Khusus dan apa saya yang termasuk menjadi bagiannya. Dalam Bahasa Inggris, Wisata Minat Khusus dikenal sebagai Special Interest Tourism. Dilihat dari namanya, sesuai dugaan saya wisata ini merupakan wisata yang anti mainstream.

Apa saja yang termasuk Wisata Minat Khusus? KEMENPAR menyebutkan bahwa Wisata Minat Khusus bisa terdiri dari wisata olahraga, edukasi, dan MICE. Apa itu MICE? Ialah Meeting, Incentive, Convention, Exhibition. Di Kabupaten Tangerang ICE (Indonesia Convention Exhibition) yang berada di Kecamatan Pagedangan adalah bagian dari MICE. ICE juga merupakan Convention Hall terbesar se – Asia Tenggara. Banyak yang tidak tahu bahwa ICE ini milik Kabupaten Tangerang, melainkan wilayah lainnya. Now you guys know 🙂

Agar tidak bingung, ini poin-poin yang bia dikategorikan sebagai bagian dari Wisata Minat Khusus:

1. Rewarding, penghargaan terhadap objek yang dikunjungi.
2. Enriching, pengkayaan diri, dapat juga dalam rangka bisnis.
3. Adventure, minat bertualang yang tinggi.
4. Learning, keinginan untuk mempelajari hal yang baru.

Yes, Scientia Square Park juga bisa dikategorikan menjadi bagian dari Wisata Minat Khusus. Karena terdapat wisata yang edukatif dan adventure seperti bercocok tanam (nuansa pedesaan di tengah kota), hingga wall climbing dengan pendampingan khusus tentuya.

Omong-omong soal budaya Kabupaten Tangerang, apalagi hasil kebudayaannya yang potensial untuk mendatangkan penghasilan bagi warganya? Yak, Topi Bambu!

Nah, itu dia semua wisata-wisata yang ada di Kabupaten Tangerang. Saya pribadi belum mengunjungi kesemuanya, masih dalam proses. So, ada banyak alasan untuk berwisata di Kabupaten Tangerang. Ayo kunjungi Kabupaten Tangerang!

Good luck juga untuk seluruh finalis Kang & Nong Kabupaten Tangerang. Semoga catatan ini dapat membantu 🙂

23 In city/ traveling

Telaga Biru Cigaru: Wisata Alam Hits di Tangerang

Selain terkenal oleh wisata belanjanya seperti Summarecon Mall Serpong, Supermall Karawaci, hingga AEON Mall, Kabupaten Tangerang juga memiliki wisata alam yang wajib dikunjungi. Selain karena dekat dari ibu kota, umumnya juga murah meriah bahkan tidak dipungut biaya. Serius!

Jangan khawatir jika kamu tidak membawa kendaraan pribadi, karena telaga ini sangat mudah diakses dengan angkutan umum. Perjalanan dapat dimulai dari stasiun Tanah Abang. Pilih kereta jurusan Maja dan turunlah di stasiun Tigaraksa (Flash tip: Tanya lah petugas stasiun apakah kereta tersebut berhenti di stasiun Tigaraksa atau hanya sampai Parung Panjang, karena jika hanya sampai Parung Panjang maka kamu harus menyambung lagi ke Tigaraksa).

Kebetulan beberapa hari lalu ada teman dari luar kota yang sedang berkunjung ke Tangerang dan ingin berjalan-jalan. Sekalian saja saya ajak ke Telaga Biru Cigaru ini. Karena saya tinggal di Kabupaten Tangerang, saya hanya perlu naik kereta dari Stasiun Rawa Buntu. Kereta menuju Maja cukup lama dan jarang, sehingga dibutuhkan waktu kurang lebih satu jam hingga tiba di Stasiun Tigaraksa. Jangan bayangkan stasiun ini sama seperti stasiun-stasiun lainnya yang modern dan terdapat minimart. Di Stasiun Tigaraksa hanya terdapat banyak warung-warung penjual makanan seperti soto, bakso, dll. Satu-satunya store hanya ada Roti O (Flash tip: Sebaiknya siapkan camilan karena di Stasiun  Tigaraksa tidak terdapat minimart A ataupun I ).

Selanjutnya, kamu bisa menggunakan ojek atau angkot. Pangkalan angkot terletak sekitar 300 meter dari stasiun. Dan ternyata di sana terdapat minimart (tentu saja sepasang, A dan I). Lumayan masuk buat ngadem, karena suhu di sana sangat panas dan lembab. Sampai-sampai saya bertanya ke pramuniaga, apakah terdapat pantai di daerah tersebut karena suhu dan hawanya persis seperti dekat laut karena setahu saya tidak ada. Dan memang mbak pramuniaga menjawab, tidak ada. Jadi, pastikan kamu menggunakan pakaian yang menyerap keringat dan tidak gerah. #FlashTip

Angkot berwarna putih-tosca dengan jurusan Balaraja – Adhyasa. Jangan takut akan salah naik angkot karena hanya ada satu jenis angkot dengan satu jurusan. Kamu bisa turun di pertigaan SMAN 08 Cisoka, adanya di sebelah kanan jalan. Patokannya? Jika kamu sudah melewati Grand Balaraja (di sebelah kiri jalan), berarti pertigaan SMAN 08 Cisoka tersebut sudah dekat #FlashTip. Tidak terdapat banyak petunjuk menuju Telaga Biru Cisoka. Saat saya pertama kali pergi ke Telaga Biru, saya benar-benar get lost karena SMA 08 Cisoka tersebut tidak ada di dalam peta!

Ongkos angkot untuk per orangnya Rp.7.000. Jangan sampai kamu terlihat seperti turis karena supir angkot bisa tidak memberikan kembalian jika jumlah uang tidak pas. Lebih baik tanya ke penumpang lainnya jika kamu ragu akan pertigaan SMAN 08 Cisoka yang dimaksud. Setelah turun di pertigaan tersebut akan ada pangkalan ojek yang menawarkan jasa. Saya memilih untuk menggunakan jasa ojek karena ini dapat memberikan pemasukan bagi warga sekitar. Hal ini tentu menjadi bentuk dukungan yang dapat meningkatkan produktivitas dan sumber penghasilan masyarakat setempat. Ojek ini akan mengantarkan kita hingga ke lokasi Telaga Biru. Dan menggunakan ojek jauh lebih mudah dan murah daripada membawa kendaraan pribadi jika ke Telaga Biru (Flash tip: Menuju Telaga Biru terdapat banyak pungutan liar, bahkan kamu bisa tiga kali membayar, satu-satunya cara agar terhindar dari pungli tersebut adalah menggunakan jasa ojek). Karena untuk kendaraan pribadi akan dikenakan biaya sebesar Rp.5.000 untuk motor dan Rp.20.000 untuk mobil. Dan setelah gerbang masih ada pos lagi yang mengharuskan kamu untuk membayar (kalau tidak salah untuk per orangnya dan kendaraan juga), belum lagi biaya parkir. Sedangkan jika naik ojek, kamu hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Rp.15.000 dan tidak ada biaya masuk wisata untuk per orangnya alias gratis! #FlashTip

Banyak juga yang akhirnya memilih berjalan kaki dari pintu gerbang agar tidak harus membayar. FYI, dari pertigaan SMAN 08 Cisoka hingga Telaga Biru kira-kira jaraknya 3 km bok! Letak gerbang Telaga Biru itu kira-kira di tengahnya, masih jauh dari lokasi telaga. Duh, terlalu nyiksa diri kalau mau jalan kaki di pinggir sawah dengan suhu seterik 32 derajat. Mending uangnya buat makan bakso di pinggir telaga nanti.

Jejeran warung di tepian tebing pasir Telaga Biru Cisoka

 

Telaga Biru Cisoka dulunya adalah galian pasir yang tidak beroperasi lagi sejak dua tahun lalu (pasir Cisoka terkenal sangat bagus dan dikirim ke mana-mana). Sehingga cekungan terbendung air hujan yang kemudian menjadi telaga. Namun uniknya telaga ini berwarna biru jernih. Sangat berbeda dengan danau alami yang terletak bersebelahan dengannya. Dan tidak hanya satu, total ada empat telaga biru yang tercipta). Seiring dengan terkenalnya Telaga Biru, muncul mitos-mitos yang berkembang, seperti adanya bidadari yang pernah datang ke telaga ini dan membuat air danaunya menjadi biru yang indah. Instagramable banget!

Danau Alami yang berwarna hijau

 

Danau buatan atau Telaga Biru Cisoka (terletak bersebelahan dengan Danau Alami)

 

Patung Banteng yang merupakan ikon dari PT. Badak Perkasa Group (perusahaan yang membuat galian pasir di wilayah tersebut)

Di telaga tersebut pengunjung dapat menikmati keindahan dengan menaiki sampan. Terdapat juga sepeda bebek di danau alami sebelahnya bila kamu ingin menikmati keindahan telaga dari sisi yang lain. Birunya Telaga Cisoka tersebut membuat saya tidak pernah menyesal untuk kembali lagi dan lagi ke sana.

Saya tiba jam sebelas dan sudah pulang pukul setengah dua karena tidak tahan cuaca yang sangat puanas. Karena tidak ada jam tutup di Telaga Biru, saya sarankan untuk berkunjung di pagi atau sore hari agar tidak terlalu panas. Apalagi jika sedang banyak angin, dijamin betah.

Ayo, berkunjung ke Telaga Biru Cisoka di Kabupaten Tangerang!

 

How to get there:

Alternatif 1
 
KRL Jakarta (Tanah Abang) – Tigaraksa: Rp.6.000
Angkot St. Tigaraksa – Pertigaan SMAN 08 Cisoka: Rp. 7.000
Ojek dari Pertigaan SMAN 08 Cisoka hingga Telaga Biru: Rp. 15.000

Tiket masuk per orangan: FREE jika menggunakan jasa ojek 😉

 

Alternatif 2

KRL Jakarta (Tanah Abang) – Tigaraksa: Rp.6.000
Ojek dari Stasiun Tigaraksa – Telaga Biru Cigarus Rp. 45.000

Tiket masuk per orangan: FREE jika menggunakan jasa ojek 😉

 

nb: bagi yang butuh kontak jasa ojek untuk ke Telaga Biru Cigaru atau ingin tanya apapun seputar telaga bisa reply di kolom komentar di bawah ini atau langsung email nayadini@icloud.com/line nayadini.

 

Salam,

Duta Pariwisata dan Budaya Kabupaten Tangerang 2016

0 In city/ traveling

Meramal Nasib di Klenteng Tjo Soe Kong

Sebagai seorang muslim, saya merasa perlu untuk mempelajari agama lain yang ada khususnya di Indonesia, tidak hanya mempelajari tentang Islam saja. Tidak pernah ada kata sia-sia untuk memperluas wawasan dan membuka pikiran. Bagi saya, semakin kita mempelajari tentang agama lain akan membuat kita semakin mengenal diri kita dan akan bertambah pula keislaman kita. Saya begitu bangga dan bahagia dengan adanya keberagaman agama di Indonesia. Saya sangat senang berkunjung ke tempat ibadah orang lain. Salah satu tempat ibadah yang baru-baru ini saya kunjungi adalah sebuah vihara yang terletak di Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten.

Terdapat berbagai relief dewa berjajar di dinding yang sangat menarik karena baru saja direnovasi

Klenteng Tjo Soe Kong adalah klenteng tertua di Tangerang. Tidak hanya untuk beribadah, klenteng ini juga kerap dikunjungi pengunjung lokal maupun asing untuk berwisata. Biasanya pemandu akan dengan sangat senang hati mendatangi wisatawan yang berkunjung dan menjelasksan sejarah maupun ornamen yang ada di klenteng. Nama Klenteng Tjo Soe Kong diambil dari nama seorang tabib yang hidup pada masa Dinasti Song, yang berasal dari Propinsi Hokkian. Sang tabib dikenal dengan sifatnya yang murah menolong masyarakat sekitar tanpa meminta imbalan apapun. Oleh karena itu, saat sang tabib wafat para masyarakat di Kecamatan Mauk berinisiatif untuk membangun sebuah klenteng sebagai sebuah klenteng sebagai sebuah persembahan dan untuk mengenang kebaikan tabib Tjo Soe Kong.

Sejarah selanjutnya dari vihara Tjo Soe Kong adalah terjadinya peristiwa besar pada tahun 1883. Meletusnya Gunung Krakatau menimbulkan potensi Tsunami yang meluluhlantahkan beberapa wilayah di Banten dan Sumatera, bahkan beberapa pulau di sekitar Krakatau menjadi lenyap. Mengutip dari www.djurnal.com bahwa peristiwa Tsunami tersebut merupakan salah satu yang terparah di dunia.

“Bencana tsunami ini terjadi pada tahun 1883 dan membunuh sekitar 36.000 orang. Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh letusan mencapai tinggi 40 meter dan menyapu setidaknya 165 desa di wilayah Jawa dan Sumatera. Letusan Krakataunya sendiri merupakan letusan gunung api yang terbesar dalam sejarah, menimbulkan suara yang begitu keras dan abu vulkanik yang bahkan tersebar hingga ke Australia.”

 

Klenteng ini luas sekali

Tjo Soe Kong merupakan saksi bisu sekaligus keajaiban pada peristiwa tsunami di Selat Sunda masa itu, karena meskipun letaknya di bibir pantai bangunannya tetap kokoh berdiri diterjang Tsunami, sementara sekitarnya hancur lebur. Latar belakang sejarah ini adalah salah satu alasan yang membuat para wisatawan tertarik untuk berkunjung ke Tjo Soe Kong.

Namun itu baru salah satunya, karena ada hal lain lagi yang sangat menarik bagi saya dari kunjungan ke klenteng Tjo Soe Kong, ialah meramal nasib. Saya tidak pernah percaya ramalan, tetapi sangat penasaran ingin mengetahui tata cara meramal di Tjo Soe Kong dan penasaran dengan jawaban yang akan keluar dalam bentuk kertas. Tata cara meramalnya adalah seperti ini, pengunjung harus memperkenalkan diri di dalam hati dari mulai nama, usia, dan mengutarakan permohonannya. Lalu melempar dua batu pipih setengah lingkaran yang ringan. Kondisi batu itu harus sama-sama terbuka atau tertutup, yang artinya permohonan disetujui oleh Dewa dan Dewa mau menjawab permohonan tersebut. Namun bila kedua batu memiliki posisi tidak sama, maka permohonan harus diganti.

 

Veronita sedang menggoyangkan silinder bambu berisi batang bambu pipih yang memiliki nomor-nomor

 

Saya ingat betul dengan permohonan yang saya cetuskan dalam hati. Namun setelah dilempar batu berlawanan posisi hingga tiga kali, kebetulan bapak pemandu saya saat itu adalah orang yang lucu dan menyenangkan. Menurut beliau, permohonan saya sepele dan atau seperti main-main, sehingga ditertawakan oleh Dewa, oleh sebab itu harus diganti. Akhirnya, saya ganti pertanyaannya dengan yang sangat berat, berkaitan dengan masa depan saya. Ajaib! Batu itu mengeluarkan posisi yang sama langsung di kali pertama saya melemparnya. Setelah itu pengunjung harus menggoyang-goyangkan tabung bambu berisi batang-batang bambu pipih yang sudah bertuliskan nomor-nomor. Satu batang bambu pipih yang keluar kemudian akan ditukar dengan kertas sesuai dengan nomor yang ada di batang bambu tadi. Kertas tersebut bertuliskan jawaban ramalan yang terdiri dari deretan kata-kata berbahasa tinggi menyerupai sajak, bisa positif ataupun negatif.

Hal ini tentu menjadi sangat menarik, karena akan muncul jawaban-jawaban yang mungkin saja di luar ekspektasi pengunjung. Salah satu teman perempuan saya menanyakan tentang masa depan percintaannya ketika diramal, ternyata kesimpulan dari jawaban yang ia dapatkan adalah bahwa suatu saat nanti ia akan ditemukan dengan bannyak pilihan dan memiliki potensi poliandri. Kami semua sontak menakut-nakuti sambil bergurau, karena menurut kami sebuah ramalan adalah tindakan untuk mengantisipasi masa depan, bukan sebuah kutukan yang harus kita terima mentah-mentah dan bukan juga sebuah takdir yang hanya bisa kita ratapi dengan pasrah. Semua kembali ke individu masing-masing. Bila terjadi kesamaan antara fakta di masa depan dengan hasil ramalan di masa lalu, bisa jadi orang tersebut tersugesti yang menguasai alam bawah sadar, sehingga ramalan itu menjadi kenyataan.

 

Akan ada seorang “penjaga” yang akan membantumu menerjemahkan ramalan nasib yang muncul

 

 

Terlepas dari percaya atau tidak, tidak ada salahnya dicoba karena jawaban dari ramalan di kertas tersebut sangat indah dan sulit dimengerti. Saya senang sekali membacanya berulang-ulang, karena terdengar mirip syair seperti di Timur Tengah. Ramalan ini mungkin bisa menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk berkunjung ke klenteng Tjo Soe Kong, karena jumlah pengunjung Tjoe Soe Kong makin berkurang tiap tahunnya. Saya sangat senang pernah berkunjung ke sana dan sangat ingin kembali untuk mengutarakan lagi pertanyaan-pertanyaan saya tentang apapun. Yuk, kunjungi klenteng Tjo Soe Kong, Tangerang!

 

How to get there:
– dari Stasiun Tangerang naik angkot R04 Psar Anyar – Sewan atau angkot R05 Psar Anyar – Jurumudi / Pasar Anyar – Cikokol, turun di Pintu Air
– sambung elf jurusan Pintu Air – Kampung Melayu. Turun di pasar Kampung Melayu, Teluk Naga
– sambung naik angkot jurusan Kampung Melayu – Pakuhaji – Tanjung Kait. Turun di Tanjung Kait
 
Salam, 
Hijabtraveller
1 In city/ mountain/ traveling

Situ Gunung, Ranu Kumbolo Jawa Barat

Beberapa waktu lalu saya pun pernah merasakan hal yang demikian. Jadwal ngetrip udah ada, tapi kelamaan ternyata masih dua minggu lagi. Sedangkan otak udah butuh di-refresh.

Disebabkan banyaknya pertanyaan mengenai destinasi satu ini dan bernasib sama (nggak bisa cuti dan atau nggak punya budget), maka saya putuskan untuk membahas secara detail.

Eng…ing…eng….

Ini dia wisata baru yang dekat, murah, dan meriah (karena bisa piknik cantik maksudnya)!

Kawasan wisata Situ Gunung jawabannya. Terletak di Kecamatan Kadudampit, Kamodabupaten Sukabumi, dan masih merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Sangat mudah untuk menjangkau tempat ini. Juga banyak pilihan wisatanya di satu kawasan tersebut. Ada beberapa alternatif transportasi yang bisa digunakan. Waktu itu saya dan beberapa teman nekad ingin membeli tiket kereta ke Sukabumi dari stasiun Bogor Palegan (yang letaknya di dekat Taman Topi).

Jadi, pertama-tama kami naik KRL dulu Depok-Bogor, lalu berjalan kaki menuju stasiun Bogor Palegan. Beruntungnya kami, tiket masih tersisa. Kami optimis mendapatkan tiket ini karena waktu itu kami tidak pergi di saat long weekend ya, juga rajin-rajin mengecek laman resmi PT. KAI mengenai ketersediaan tiket. Tidak secara spontan kami beli on the spot tanpa pertimbangan. Jadi, kalau kamu ingin beli tiketnya OTS juga, saya sarankan untuk mempertimbangkan kedua catatan yang saya dan teman-teman lakukan itu.

Perjalanan kereta Bogor-Cisaat hanya memakan waktu dua jam. Bahkan berasanya hanya setengah jam, maklum kebiasaan naik kereta ekonomi ke daerah jawa yang menghabiskan waktu seharian he…he… Ingat, meskipun lokasinya di Sukabumi tidak berarti berhentinya di stasiun Sukabumi juga, jangan sampai salah ya! Turunnya di Stasiun Cisaat, sebelum Stasiun Sukabumi.

Dari stasiun biasanya banyak angkot yang menawarkan jasa untuk carter, ojek juga begitu (Rp. 30.000/orang). Karena saya dan teman-teman berniat untuk backpacking, maka kami memilih untuk ‘ngeteng’. Sekalian berbaur dan berinteraksi langsung dengan penduduk setempat.

Stasiun Cisaat, bukan Sukabumi ya!

Dari Stasiun Cisaat kami naik angkot tujuan Pos Polisi Cisaat. Di dekat Pospol ada pasar, kami mampir dulu untuk belanja sayur-mayur. Tujuan kami adalah jalan-jalan hemat tapi makan enak, pokoknya kemping ceria! Mau jalan-jalan, nggak punya duit karena tanggung bulan.

Naek angkot yow

Dari Pasar Cisaat sambung angkot lagi berwarna merah yang langsung ke arah Situ Gunung. Makin lama angkot makin menanjak dan suasana makin sejuk. Hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk akhirnya tiba di pintu Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.

Tiket masuk seharga Rp.32.500/orang. Mungkin terbilang cukup mahal, tetapi sangat tidak masalah kalau harga yang diberikan sesuai dengan fasilitas yang disediakan dan kebersihan yang terjaga. We’ll see. Hati-hati, suka ada oknum yang minta harga untuk mendirikan tenda sebesar Rp. 15.000 atau lebih. Jangan mau!

Duh, senangnya nggak bawa kulkas (baca: keril)!

Ada beberapa camp ground di Situ Gunung. Pengunjung boleh mendirikan tenda di mana saja selama itu masih di dalam wilayah camp ground, asal tidak di danau. Di dekat camp ground juga terdapat kamar mandi yang terbilang bersih dan tidak bau. Kamar mandi yang terdiri dari beberapa pintu itu sangat terjaga kebersihannya, sehingga tidak membuat pengunjung merasa segan untuk sering-sering ke sana (ya kali aja ada yang hobi kebelet he..he..). Luar biasanya, tidak ada pengunjung lain di camp ground. Hanya ada kami bertiga, sehingga kami bebas mendirikan tenda di manapun. Horeeeeee.!!! *lari-lari di camp ground*

 

Sore harinya turun gerimis, maka kami putuskan untuk melihat danaunya esok hari sekalian ke air terjun. Keesokan harinya kami mengunjungi danau yang ditempuh dengan berjalan kaki selama setengah jam (dengan speed keong). Beberapa orang menyebut danau ini sebagai Ranu Kumbolo-nya Jawa Barat. Ternyata ramai sekali. Banyak pengunjung yang datang khusus untuk berkunjung ke danau ini tanpa menginap. Aroma popmie di mana-mana. Bedanya? Ada sampan dan bebek-bebekan ha..ha.. Untuk menyewanya dikenakan tarif Rp.20.000/orang. Sayangnya, saat itu sedang mendung. sehingga foto yang saya dapatkan tidak terlalu cerah. Namun sangat pas suasananya kalau ingin merefleksi diri. Sendu-sendu galau syahdu gimana gitu.

Ismi – Me – Bayu

Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi di kawasan Taman Wisata Situ Gunung tersebut selain danaunya. Ada air terjun Curug Sawer dan Curuyang Cimanaracun. Karena terbatasnya waktu kami tidak mengunjungi Curug Cimanaracun, hanya ke Curug Sawer yang konon adalah curug terbesar di sebuah Taman Nasional di Indonesia. Jarak tempuh menuju curug tersebut adalah 2 km jauhnya. Curug Sawer jauh lebih ramai dari danau tadi. Saya tidak betah berlama-lama di keramaian, sehingga kami di sana hanya menghabiskan waktu tidak lebih dari setengah jam. Air terjunnya deras sekali, sehingga pengunjung dilarang untuk berenang. Namun terdapat spot khusus bagi pengunjung yang ingin merasakan berbasah-basahan di curug tersebut. Oya, di lokasi curug ini juga saya melihat berdiri beberapa tenda. Mungkin boleh camping di sana. Bila kamu tertarik sila tanyakan terlebih dahulu kepada petugas di pintu masuk. Sepertinya seru mendirikan tenda di tepi curug. Next saya dan teman-teman bertekad balik lagi untuk nenda di sana he..he..

Banyak tukang jajanan di kawasan Situ Gunung, dari mulai cilok sampai bakso *nyum*


How to get there:
 
Alternatif 1
KRL Jakarta – Bogor: Rp.7.000
Kereta Bogor Palegan – Cisaat: Rp.25.000
Angkot St. Cisaat – Polsek Cisaat: Rp. 3.000
Angkot Polsek Cisaat – Situ Gunung: Rp. 8.000

Alternatif 2 (resiko: Jalur rawan macet)
KRL Jakarta – Bogor: Rp. 7.000
Angkot 03 dari depan stasiun sampai Terminal Baranangsiang: Rp. 4.000
Elf jurusan Bogor – Sukabumi sampai pertigaan Cisaat: Rp. 25.000

Beberapa blog dan teman mereview dengan harga tarif berbeda-beda, dibanding yang lain mungkin harga yang saya dapatkan jauh lebih murah. Maklum, punya skill menawar yang cukup mumpuni. Apalagi didukung dengan kemahiran berbahasa daerah setempat: Bahasa Sunda.

Total biaya yang kami keluarkan waktu itu kurang-lebih Rp. 96.500/orang untuk pulang-pergi Jakarta-Situ Gunung (sudah termasuk tiket masuk untuk 3D2N). Di luar pengeluaran untuk makan dan biaya tidak terduga ya 🙂