0 In traveling

Gunung Merbabu: Buka Jalur Baru

Tepat saat tengah menginjak tanah Pogalan menuju puncak Gunung Merbabu, masing-masing kami telah secara sembunyi membatin: mungkin setelah ini kami tak akan mampu lagi beredar di jejaring sosial. Atau hanya kenangan dan nama kami yang tertinggal di sana.

***
Empat hari menjelang keberangkatan menuju Solo, satu per satu anggota tim mengundurkan diri. Tiket kereta sayaΒ sudah dibeli. Mau tak mau, tekad harus selalu bulat. Saya pun berangkat sendiri dari ibu kota. Pada akhirnya terbentuk juga tim dengan tujuh orang anggota baru yang sama sekali tidak saya kenal. Adalah Gyrass sebagai pencetus ide gila untuk menyusuri jalur baru Gunung Merbabu. Kemudian teman lama dan adik-adik tingkatnya yang sama sekali belum pernah saya temui; Ikhsan, Mute, Dhika, Bayu, dan Candra.
Berbekal cerita dari rombongan lainnya yang sudah jalan beberapa pekan sebelumnya, kami menyusul ke sana. Juga berbekal petunjuk arah seadanya. Dari barat ke timur, dari barat ke timur.. Fokus ke Timur. Di hutan selebat itu tidak ada manusia lain selain kami bertujuh. Tidak ada surat jalan karena memang jalur pogalan belum dibuka, yang artinya jika kami hilang tim SAR pun tidak akan mengetahuinya kecuali jika anggota keluarga kami yang melaporkan kehilangan.
View mirip jalur Suwanting, bukan?

Malam tiba sementara tatapan kami masih tinggi. Tidak ada camp area, maka kami harus berinisiatif menemukan tempat untuk membuka tenda. Seadanya. Tenda kami berdiri di atas tanah dengan kemiringan yang cukup curam. Tak akan lari puncak dikejar. Maka kami memutuskan untuk bermalam dan melanjutkan pendakian esok harinya.

Tidak ada landai, tenda kami berdiri di lahan miring, tidur jadi merosot-merosot
Telah kami susuri pepohonan pinus, kabut, semak belukar, jalur babi (lorong ranting yang kami namakan demikian karena ukurannya hanya cukup untuk seekor babi. Juga karenaΒ untuk melaluinya kami harus tiarap dan merangkak), dan bahkan hutan lebat. Tak jua kami jumpai sang puncak. Sampai tiba kami pada lukisan Tuhan yang membuat kami terlupa tentang puncak di atas sana: Hamparan Padang Sabana. Dan tak ada siapa pun di sana selain kami. Lukisan indah itu hanya k ami nikmati sendiri. Maka, nikmat Tuhan yang mana yang mampu kami dustakan?

Setelah 19 jam pendakian, akhirnya kami menemukan kehidupan. Bukan puncak yang membuat kami senang, melainkan bertemu dengan puluhan manusia lainnya. Still can’t believe that we survived!
Pendakian Merbabu mungkin tak akan semenarik ini jika tak kami susuri sang Pogalan. Semua berkat kerjasama tim dan pertolongan Allah semata. Mungkin saja setelah ini jalur Pogalan akan menjadi jalur resmi, yang tak akan semenantang yang telah kami lalui. Sebab itu, kami bersyukur pernah diijinkan merasakan kemurnian alamnya. Bahkan si jalur babi. Rupanya, kami salah jalan karena tidak ada kabar berita mengenai jalur itu sebelumnya.

Naya – Mute *muka belom mandi 3 hari*

Selamat Gyrass, Ikhsan, Mute, Dhika, Bayu, dan Candra! Terima kasih telah menjadi partner yang baik, hebat, pula menyenangkan πŸ™‚

Upacara Kemerdekaan Indonesia di Songo

Cerita kami di Pogalan hanyalah sebentuk petualangan. Petualangan terbesar adalah hidup itu sendiri. Dan pertarungan sejati adalah dengan diri sendiri, tentang bagaimana kau melalui petualangan hidup itu. Dirgahayu Negeriku!
***
Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.(QS. Yunus: 6)
the less traveled road, 15-17 Agustus 2015
Nayadini.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply