0 In Kisah/ Kisah

Berteman Sepi

“Nay, seriously you didn’t go anywhere today? You are in fucking Europe!”

Hari ini kalimat itu sudah ditanyakan berkali-kali oleh orang yang berbeda. Dan jawabanku tetap sama, mengangguk-angguk sebagai jawaban iya tanpa ragu.

Aku hanya tersenyum lalu kembali menatap jendela. Daun-daun kuning kecokelatan berguguran dari ranting yang kurus di pinggir jalur metro. Orang-orang kalap menerjang dinginnya angin dua derajat demi agar tidak tertinggal metro yang berangkat tepat waktu. Aku menghela napas, entah untuk keberapa kali di hari ini. Bukan karena melihat apapun itu, hanya karena ingin.

Padaku, sering kali sepi terasa lebih menyenangkan dari ingar-bingar yang memekakan telinga. Terkadang, di suatu waktu, yang kuinginkan hanya duduk sambil merasakan angin berembus di sela-sela jemariku atau memandang gumpal awan yang perlahan berlarian di langit biru. Menyenangkan rasanya dapat menghitung detik yang mampir satu per satu, yang biasanya tak pernah kita hiraukan bahkan kalau bisa dirangkum menjadi hari, bulan, atau tahun sekalian.

Bukan tidak mau mengijinkan siapapun masuk dan merusak sepi itu. Hanya saja, seperti tidak semua orang berhak masuk ke dalamnya dan merusak kesyahduan. Satu orang masuk ke dalamnya adalah lebih dari cukup. Satu orang yang benar-benar mampu mengerti, sebab dengan mengijinkannya masuk ke lingkaran itu sudah merupakan kesanggupan bagiku untuk mau mengertinya. Benci rasanya tidak mampu memercayai siapapun di luar sana, terlebih lagi ketika makin banyak wajah yang muncul dalam kehidupan kita. Aku yakin aku membutuhkan ruang di benak seseorang, namun aku tak yakin seseorang benar-benar membutuhkan aku di dalam ruang di benaknya. Pemikiran semacam itu yang membuat kebebasan itu lumpuh. Kebebasan untuk percaya. Aku tahu, aku tak pernah lulus untuk mata pelajaran ini.

Tidak banyak yang tahu, aku lebih senang mengamati ketimbang mengambil peran. Dengan mengamati aku berkukuh sudah mengambil peran. Namun tentu saja dengan tidak berbicara tentang apapun. Di keramaian, aku bengap saat harus membuka pembicaraan. Berada di keramaian seringnya membuat kepalaku sakit.

Kenyatannya, kita tidak mampu menghindar dari keramaian atau apapun yang dipersiapkan Tuhan.

Akan ada masa di mana aku harus melaluinya untuk bisa tiba di sudut favorit di kamarku yang sepi dan hangat, dengan dekorasi broken white dan pastel jadi satu. Demi bersandar di bantal lebar kain blacu sambil membaca buku romansa terbaru aku harus mampu menerobos keramaian itu. Barangkali, aku butuh genggaman itu yang mampu membuatku aman berada di keramaian atau di manapun. Genggam yang mampu membawaku pulang pada nyaman dan kesepian. Barangkali, keberadaannya nanti mampu mengisi hari-hari menjadi sepi yang menyenangkan. Saat membunuh waktu, tidak ada kata yang benar-benar kita ucapkan. Hanya tubuh yang berbahasa dan semua berjalan baik-baik saja. Merasa cukup dengan apa yang ada adalah sebuah kemewahan yang bisa kita punya. Nampaknya aku mulai menginginkanmu. Seseorang yang bukan hanya akan kupercaya, tapi juga memercayaiku secara sempurna.

Aku masih terduduk di bibir jendela. Membayangkan kita bersisian dengan secangkir kopi dan sebilah buku pada tanganku. Entah padamu, apapun itu. Rasanya akan ada masanya, kita berdua menikmati sepi yang terhidang dalam secangkir kopi sembari memandang gugur daun yang bertumpukan di jalan sebelum terselimuti salju.

Satu hal lagi, aku hanya tak berani sesumbar, bahwa sepi membuat rindu akan kau menjadi lebih khidmat terasa.

 

 

Brusells, 21-11-2016

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply