All Posts By

naya

0 In kisah

Menjumpamu Sekali Lagi

Aku benci untuk memimpikan hal-hal yang tak bisa kutentukan sendiri bagaimana hasilnya. Hanya berpangku pada doa yang tak kita ketahui parameternya bagaimana pantas terwujud. Senyummu dengan lancang muncul di hari-hariku dan menyapa tanpa jemu. Ingin aku abai, namun teduh auramu mengunci seluruh tubuhku, membuatku sesak sekaligus ingin kau selamatkan di saat bersamaan.

Suatu sore tanpa hujan, pesanmu menyambar kesadaranku serupa petir. Tidak, katamu. Kita tak sama. Kamu terlalu sempurna. Butuh waktu tiga puluh menit lamanya untuk mencerna kalimatmu. Atau lebih tepatnya untuk meyakini bahwa apa yang kubaca adalah benar atau mungkin kau hanya bercanda karena aku tau selera humormu buruk sekali. Pesanmu muncul sekali lagi, kali ini hanya memanggil namaku diakhiri tanda tanya, mungkin merasa bersalah.

Malam itu juga hatiku remuk dan berserak, akan sangat sulit menyatukannya seperti sedia kala karena tak akan ada kemungkinan kau menarik kalimatmu kembali, bagaimanapun kamu akan bertahan dengan apa yang kau percaya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa terhina karena dipuji.

Sebuah kebetulan memaksa kita untuk bertemu sekali lagi. Barangkali ini yang terakhir. Aku tidak mengerti bagaimana caranya untuk bersikap di hadapanmu nanti. Kemudian di ketibaanku, sosokmu terlihat dan langkahmu mendekat. Ada gelembung-gelembung yang menyumbat saluranku bernapas, merupakan akibat dari panik dan senang yang beriringan. Senang karena seperti apapun fakta berusaha menjelaskan, kamu tetap pernah menjadi bagian dari warna-warni hariku dulu.

Seperti yang sudah kuduga, tidak ada tegur sapa tercipta. Aku mencari cara untuk tetap berjarak dekat denganmu, dengan kewarasan yang sewajarnya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kau membaca, dan ekor mataku menangkap ekor matamu yang mengarah kepadaku. Lalu kau pangku pelipis dahi dengan kepal tangan kiri, disusul dengan tangan kanan untuk menutup seluruh pandangan mata agar tetap terfokus pada buku yang kau baca, karena mungkin kehadiranku mengggangu konsentrasimu sedemikian rupa. Entah akan berapa lama kita bertahan seperti ini. Kau bersikeras merasa tidak pantas untukku, sedangkan jauh di lubuk hatiku adalah aku yang merasa tidak pernah benar-benar kau inginkan.

Tulisan ini tidak memiliki akhir yang menyenangkan. Melainkan sebuah penyesalan atas pernyataan, untuk pertama kalinya selama 25 tahun hidup dan menjajal berpuluh pria, baru kali ini aku paham apa itu rasa cinta, sebuah kesimpulan yang kudapatkan setelah bergumam bahwa aku ingin menghadapi hidup bersamamu.

0 In Kisah/ kisah/ Kisah

Bercumbu Lewat Puisi

Aku pernah melihat matahari meninggalkan warna emas saat akan tenggelam dan kuikrarkan bahwa itu adalah senja terindah yang pernah kulihat seumur hidupku. Ternyata sore ini pernyataan itu terbantahkan. Tidak ada warna jingga biasa yang dipantulkan langit. Justru magenta dengan gurat violet, seolah-olah Tuhan sengaja menggoreskan palet ungu di langit yang ranum. Seperti sadar sedang diperhatikan, cahaya terang pukul 17.42 itu masuk ke sela jendela kamar yang terbuka. Membentuk siluet tepi jendela. Aku sempat duduk menghadap jendela sebelum akhirnya tersenyum dan membatin, momen yang sempurna untuk bercinta dengan kau lewat puisi.

Aku menyendok tiga kali bubuk kopi yang kira-kira hanya tersisa 100 gram lagi, menjerang air pada cangkir, menghidu aroma nikmat tak terdefinisikan, lalu mengembuskan namamu yang menyatu pada kepul asap tipis satu-satu. Mungkin kamu tak pernah tahu, pada setiap adukannya, aku mampu bercumbu dengan kau dalam benakku. Mari kita mulai.

Aku tahu sejak dulu. Bahwa mencintaimu membutuhkan lebih dari hanya cinta dan puisi. Memutuskan untuk mencintaimu membutuhkan pula keberanian dan kekuatan yang mungkin kalau bukan karena itu kau tidak kembali ke pelukanku sekarang. Dan barangkali, kedua hal itu pula yang membuatku menjadi pemenang di benak dan jiwamu.

Begini. Jarak tak pernah benar-benar memisahkan kita. Ia hanya membantuku menabung rindu. Sebab dekat tak menentukan kita dapat bertemu. Jauh tak berarti kita tak akan berjumpa. Rindu dan kejutan istimewa akan hadir membayar kekosongan yang pernah diciptakannya, aku hanya perlu percaya. Maka dengan lantang kukatakan pada Jarak, bahwa aku punya kekuatan yang cukup. Dan kurasa itulah yang membuatku menjadi pemenang dan selalu kau cari pulang.

Merah muda dan ungu di langit telah berubah gelap, saat kopi panas itu untuk kedua kalinya kuembuskan namamu. Aku tak pernah bilang melalui semua ini mudah, bahkan aku tak pernah melalui hubungan dengan cara yang seperti ini sebelumnya. Lebih tepatnya, selalu gagal dan berujung sia-sia tanpa tatap muka. Mencintaimu menuntutku jadi pemberani. Siapa yang akan menemaniku ke sana ke mari nanti? Saat malam mendadak mencekam dan kejahatan kota metropolitan menjadi lebih seram daripada film horor Jepang atau Thailand? Tidak ada. Bagaimana kalau di sana rupanya kamu kerap bertemu dengan perempuan lain yang menarik hati meski tanpa komitmen dan janji-janji? Bisa saja terjadi. Dan, anjing! aku benci membayangkannya. Itu kubilang, mencintaimu butuh keberanian. Namun sedemikian rupa pikiran buruk itu bercabang ratusan dan mencipta praduga, satu harapan (atau mungkin lebih tepatnya doa) yang kupunya bahwa kau menggilaiku dan tak akan mendua, tiga, apalagi empat. Biar, aku membesarkan kepala. Cukup saja gila harta dan tahta sebab itu membuat sejahtera, tapi gila wanita, aku selalu percaya kau setia. Lebih tepatnya, kau tak punya banyak waktu untuk itu dan untuk itu hanya aku yang dapat mengerti dan menerima.

Demikian aku merumuskan jurus jitu mencintaimu; cinta, keberanian, dan kekuatan. Perempuan lain belum tentu punya, jadi aku rasa aku tak perlu cemburu karena sudah pasti mereka tidak sekuat dan seberani aku.

Kopiku hampir habis saat notifikasi darimu muncul di layar gawai. Terlebih lagi bubuk kopi itu. Barangkali aku harus ke pulau seberang dekat-dekat ini, untuk membeli stok kopi dan menjumpamu bukan lewat puisi.

Rindu, sekali.

 

 

0 In mountain/ traveling

Gunung Latimojong: Terbaik!

Cuaca buruk akhir-akhir ini tentu saja sangat berpengaruh di gunung. Beberapa gunung ditutup dengan alasan keamanan, agar tidak ada pendakian karena hujan dan badai mampu menumbangkan pohon, menimbulkan kabut yang berakibat ke jarak pandang, dan membuat trek licin tentunya. Akhir tahun dengan musim penghujan bukanlah waktu yang cocok untuk melakukan pendakian, memang.

Di sisi lain, Latimojong kerap “memanggil-manggil” saya. Hati saya malah mengatakan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mendaki Latimojong! Seperti kata pepatah, mountain is calling and I must go (serius, saya kalau naik gunung nunggu “dipanggil” dulu).

Saya join dengan grup backpacker dari beberapa kota. Jumlah kami berduabelas. Menjelang hari H, akun-akun gunung di Instagram mulai memberitakan info-info bencana maupun kecelakaan. Seorang teman pendaki perempuan yang saya kenal bahkan dikabarkan meninggal di Gunung Binaiya, ia tertimpa batang pohon (atau ranting, entahlah simpang siur beritanya) tepat di kepalanya. Group WhatsApp dibuat, seorang teman di group rajin meng-update cuaca di Enrekang bersumber dari sanak familinya yang tinggal di sana, seorang lainnya rajin mengirimkan forecast cuaca Gunung Latimojong. Aduh, aduh, malah bikin panik!

Saya sengaja tiba lebih awal di Makassar untuk berkeliling, khususnya untuk berkunjung ke Perpustakaan Katakerja baca di sini. Namun ternyata Makassar diguyur hujan setiap hari, siang dan malam. Duhhhhhh!

Terus terang, baru kali ini saya deg-degan menjelang pendakian. Tidak mungkin dibatalkan karena semua telah dipersiapkan dan tiket sudah di tangan. Saat tiba di Makassar, saya kerap membatin ulang, apa saya mengundurkan diri dari tim dan batal mendaki saja ya? Tapi sudah kepalang. Terlalu mubazir.

Tidak henti-hentinya saya meminta restu kepada ibu untuk mendoakan agar Latimojong tidak hujan saat kami kunjungi. Kalau saja ibu saya melarang untuk pergi, maka saya tidak akan pergi. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, ia dengan mudah mengijinkan saya pergi kali ini. Pertanda yang bagus, batin saya. Saya berdoa tidak henti, selebihnya biar Tuhan yang mengatur.

Hari H tiba, pendakian kami berjumlah dua hari satu malam, lebih cepat dari pendakian pada umumnya yang tiga hari dua malam. Pendakian dimulai dari Desa Karangan, kami bermalam dulu di rumah kepala desa yang sampai pulang tidak saya ketahui seperti apa wajahnya ha..ha.. Flash tip: Biasanya akan disiapkan sarapan dengan menu sarden dan telur. Sebaiknya minta juga untuk dibungkuskan nasi sebagai bekal yang bisa dimakan di Pos 2.

Lagi-lagi jadi cewek sendiri

Awal Pendakian

Belanja-belanji dulu di Pasar Baraka. Di sini juga kami turun dari travel yang mengantar dari Makassar selama tujuh jam (sila hubungi saya untuk kontaknya). Kemudian lanjut naik Jeep hingga Desa Karangan. Terjadi perbaikan jalan dengan banyak traktor parkir di jalan yang sempit, sehingga kami harus turun Jeep dan lanjut berjalan kaki menuju Desa Karangan dengan jarak kurang lebih 2 km dan tanpa penerangan.

Kondisi Antar Pos

Gunung Latimojong memiliki total tujuh pos, tanpa pos bayangan. Agar lebih mudah, saya membuat intisari untuk mendeskripsikan kondisi pendakian antar pos Gunung Latimojong.

Pohon Kopi Latimojong. Kopi bisa dibeli di warga sekitar, harganya Rp.25.000/250 gram.

 

Pos 1 – Pos 2: Pendaki akan melewati pohon-pohon kopi dan akan mulai memasuki hutan. Trek lumayan vertikal. Duh, baru di awal saja sudah curam bagaimana di akhir? Ha…ha… Tapi nervous terbayar karena suasana indah Pos 2; goa & air terjun yang tidak tinggi tapi deras! Maksi (makan siang) dulu….

Pos 2 – Pos 3: Ini yang paling sulit (katanya). Jarang akar dengan kontur tanah merah dan licin, sehingga di beberapa titik terdapat rotan yang dapat dipegang sebagai bantuan (seperti Tanjakan Setan, Gunung Gede). Flash tip: sebaiknya siapkan tali webbing untuk membantu teman-teman rombongan, karena simpul rotan yang ada suatu waktu bisa saja terlepas atau putus.

Pos 3 – Pos 4: Sebenarnya tidak securam pos sebelumnya, namun terasa sangat menyiksa, mungkin karena tenaga kita sudah terkuras di pos sebelumnya. Kaki saya sendiri bergetar saat melalui pos ini karena kelelahan, ternyata saya nggak sendiri, Bang Anchu, teman yang jalan di depan saya, mengaku merasakan hal yang sama.

Pos 4 – Pos 5: Posisi sudah mulai tinggi, pemandangan Enrekang sudah dapat terlihat dari bibir hutan.  Hari sudah mulai gelap saat kami melalui trek ini.

Pos 5 – Pos 6: Adalah awal pos menuju summit kalau ingin bermalam di Pos 5. Jalur lumayan sempit dan tinggi.

Pos 6 – Pos 7: Pendaki akan menemukan Hutan Lumut yang fenomenal itu. Selanjutnya adalah batas vegetasi penghabisan hutan di pinggir jurang.

Pos 7 – Puncak Rante Mario: Ada enam bukit yang harus dilewati setelah tiba di padang rumput dengan batuan granit berwarna putih persis marmer. Ada juga jalur menuju Puncak Nenemori (Latimojong memiliki beberapa puncak, Puncak Rante Mario adalah yang paling tinggi).

 

Selalu lupa mau foto tenda. Ini juga foto seadanya punya Bang Andra (in frame: Bang Octa)

 

Rencana awalnya, kami berniat untuk mendirikan tenda dan bermalam di Pos 7, namun kondisi tim tidak memungkinkan sehingga kami pun bermalam di Pos 5. Basecamp Pos 5 enak, lahannya luas muat sekitar 15 tenda, banyak pohon sehingga mudah untuk menggunakan flysheet, juga ada sumber mata air yang meskipun jaraknya hanya 150 meter tapi trek lumayan bikin dengkul gemeter ha…ha…

Ingat apa yang saya khawatirkan di pendakian kali ini? Yak, hujan! Ajaibnya, selama pendakian tidak turun hujan sama sekali! Saya senang bukan kepalang. Barangkali itu juga berkat doa ibu yang tidak putus-putus. Saya selalu percaya kekuatan doa, karena menurut ajaran agama Islam, kan doa adalah senjata kaum muslimin *mendadak religius* *subhanallah*.

Saat di puncak memang kami terkena badai angin, tapi hujan yang kami rasakan pun hanya hujan kabut. Jadi, tidak bisa dihitung sebagai hujan. Seturunnya dari Rante Mario pun cuaca menjadi sangat-sangat-sangat cerah. Terlihat betapa cantiknya padang hijau di awal Pos 7, meskipun nggak secantik Cemoro Sewu, Gunung Lawu.

We made it!

 

Akhir Pendakian

Kami turun dari Pos 5 tepat jam 6 sore. Di akhir pendakian, tim akhirnya terpecah-pecah menjadi beberapa rombongan. Kekurangan dari pendakian bersama orang baru yang belum kamu kenal adalah ketidaksamaan ritme jalan. Bukan sombong, tapi bagi saya dan Bayu ritme jalan yang pelan dengan banyak berhenti itu lebih menguras energi apalagi saat turun gunung. Saya dan Bayu berniat untuk memisahkan diri dari tim di trek Pos 2 ke Pos 1, memang sudah terlalu terlambat, tapi kami mempertimbangkan letak basecamp yang masih jauh sementara saat itu sudah pukul 11 malam dengan kondisi perut yang kosong dan kaki sudah lelah. Kalau mau egois, bisa saja kami turun duluan sejak awal untuk memisahkan diri dan sudah tiba di basecamp jam 10 malam. Namun kami menghargai kebersamaan tim dan menjaga perasaan dua orang teman yang tidak fit saat itu. Tapi akhirnya, tenaga kami pun habis karena cara jalan yang dipilih menurut kami kurang efektif. Oleh karena itu, saya dan Bayu akhirnya meminta ijin untuk jalan duluan dan terpisah di Pos 2 ke Pos 1.

Bang Aryo sudah turun dari Pos 5 pukul 4 sore untuk mengabarkan Jeep yang kami pesan bahwa kepulangan diundur menjadi besok pagi, jadi dia pasti sudah sampai di basecamp. Tepat pukul 1 malam, saya dan Bayu tiba di basecamp, disambut oleh gongonggan para anjing piaraan yang dimiliki setiap rumah. Ramainya bukan main haha!

Sesuai prediksi kami, pasti akan ada bagian dari rombongan yang merasa lelah, bosan, lalu memutuskan untuk duluan. Terbukti, Bang Anchu dan Bang Ajieb menyusul kami setengah jam kemudian. Mereka pun ngebut karena diamanahkan untuk mencari ojek menjemput dua orang teman kami, atau tim SAR untuk evakuasi, atau apa sajalah (untungnya tim kami memiliki HT untuk berkomunikasi). Bagaimana mencari bantuan di malam selarut ini??? Akhirnya, sisa rombongan baru tiba di basecamp pada pukul 5 pagi saat saya sudah terlelap di balik hangatnya sleeping bag, jadi nggak lihat kapan mereka datang.

Ke simpulan, pendakian kali ini adalah yang paling tidak terorganisir selama yang pernah saya alami. Terlebih lagi soal makan, agak terkejut juga ending-nya jadi saya yang masak padahal beberapa orang membawa nesting dan kompor sendiri (nasib jadi cewek satu-satunya). Sebenarnya tidak apa-apa saya yang masak (maklum biasanya naik gunung malah cowok-cowok yang masak, jago-jago pula mereka), hanya saja semua akan lebih baik bila dipersiapkan sejak awal dengan matang, tau gitu saya sudah memikirkan dan menyiapkan menu dari rumah. Akibatnya, bahan makanan yang kami bawa sangat standar, bahkan berkali-kali tim masak mie. Duh…………… hari gini naik gunung masih makan mie? Baru kali ini naik gunung nggak makan enak hu…hu…. Padahal kan makanan jadi satu-satunya sumber energi untuk mendaki sehingga harusnya bisa memenuhi gizi dan nggak sembarangan. Hiks! Kangen tim yang biasa naik gunung bareng dan makan lezat!

Bang Rafif – Bang Aldy – Bang Ajieb – Bang Aryo – Bayu – Naya (urutan melingkar dari kiri)

 

Soal itinerary dan persiapan boleh mengecewakan, namun faktor alam untungnya berkata lain. Gunung Latimojong sangat baik! Cuaca sangat baik, tidak hujan tapi tidak panas! Tuhan sangat baik! Fixed, Latimojong menjadi salah satu gunung favorit saya. Alamnya indah, airnya banyak, goa yang cantik, hutan lumut, kebun kopi, Burung Anoa, semuanya! Saya nggak masalah untuk balik lagi ke Latimojong, terasa belum afdol karena belum mengunjungi puncak lainnya yang ada di Latimojong, pasti dari sana bisa melihat keindahan Enrekang dari sisi lainnya.

Terima kasih banyak, Latimojong! Terima kasih sudah menjadi penutup manis tahun 2017!

 

1 In kisah

Kepada Waktu

Barangkali kali ini kita harus mengucap terima kasih pada waktu dan bukan menyalahkannya. Berkat waktu, kusediakan ruang paling lapang dalam hati dan benakku. Namamu berusaha menembus rumitnya pita-pita kusut kaset yang kudengar setiap hari. Sesekali hampir mencapai garis mimpi, seringnya gagal dan mengulang dari awal lagi.

Berjam-jam setelah itu, aku kembali duduk dengan daya seadanya. Sesekali aku terkapar. Dan rasa-rasanya lebih baik jika pipiku ditampar, bila cukup untuk mengakhiri segalanya. Di tengah kepasrahan itu, lagi-lagi muncul bayangmu. Kali ini ada rupa yang bisa kujelaskan dan tak lagi samar. Engkau menjelma menjadi cahaya yang bertahun-tahun dijanjikan Tuhan sebagai makna kata bahagia. Setidaknya, demikian aku melihatnya untuk saat ini.

Kaki-tanganku terikat rantai masa lalu. Otot dalam tubuhku dibelenggu peka dan rasa lelah jadi satu. Kau muncul tiba-tiba seperti tipu daya, seperti sihir yang memberdaya. Terkandung dalam jasadmu apa-apa yang tidak kusenangi, namun, Tuan, seribu sanggahan seolah tak berarti hanya karena satu alasan, rasa sayang. Namun, bukankah sayang tak pelak seperti api yang bisa padam? Terserah bagaimana kau ingin menjabarkannya, aku hanya sedang bersiap mengucap terima kasih kepada waktu tatkala aku kau selamatkan. Selalu menunggu waktu untuk kau selamatkan.

Sebentar, Nona, bukankah haram hukumnya bagimu berharap dan bergantung kepada orang lain?

Tidak. Aku tidak berharap dan bergantung kepada orang lain, melainkan kepada waktu.

 

1 In city/ traveling

Meet Aan Mansyur at The Library: Berkunjung ke Katakerja


Meet Me at The Library
adalah tagline yang tepat untuk perjumpaan saya dengan Aan Mansyur, penulis idola saya, ketika berkunjung ke Perpustakaan Katakerja.

Ruang Tamu Katakerja

Setelah bertahun-tahun memimpikan berkunjung ke perpustakaan itu, akhirnya kali ini saya berkesempatan balik lagi ke Makassar dan tentu saja menyempatkan mampir ke Katakerja. Berhubung tempat-tempat mainstream sudah saya kunjungi di trip sebelumnya, jadi Katakerja dapat menjadi pilihan kalau ingin jalan-jalan anti-mainstream di Makassar.

A reading man always looks sexy

 

Apa yang membuatnya menjadi terkenal? Rasanya satu nama besar Aan Mansyur adalah yang paling berpengaruh. Titik baliknya mungkin setelah lahirnya buku Tidak Ada New York Hari Ini (buku puisi-puisi Rangga dalam AADC2), tapi saya menjadi pengagum beliau jauh-jauh-jauh sebelum itu. Dan buku itu justru jadi buku yang paling saya kurang suka dari seorang Aan Mansyur.

 

Salah satu sudut Katakerja

 

Letak Katakerja dekat dengan Pintu II Kampus Universitas Hasanudin (UNHAS), hanya sepuluh menit berjalan kaki dari Jalan Raya Perintis Kemerdekaan. Letaknya di perumahan dan tidak mencolok, jadi itu yang membuat saya nyasar. Iya, saya tersasar! Alamat yang ada di link bio Instagram @katakerja sepertinya salah input, karena berbeda dengan yang ada di Google. Singkat cerita, tibalah saya di Perpustakaan Katakerja. Dari luar terlihat seperti rumah biasa. Namun ruang tamunya penuh buku dengan dinding berisi kalender berbentuk foto-foto polaroid yang ditempel berurutan (saya ingat ini didapatkan oleh Kak Aan saat dia berkunjung ke Frankfurt Book Fair di Jerman). Ada beberapa rak -yang entah bagaimana cara penyusunannya karena saya tidak melihat ada label rak pada setiap buku- berisi buku novel, sastra, sejarah, psikologi, populer, religi, biografi, dan masih banyak lagi. Ada juga rak khusus Buku Rekomendasi Pustakawan Bulan Ini. Saking ada banyaknya buku, saya sampai tidak membaca buku apapun. Justru lebih tertarik memerhatikan gerak-gerik para pustakawan dan pengunjung yang datang. Merekapun sangat welcome, seolah-olah saya sudah sering berkunjung ke sana.

 

 

Saya disambut oleh seorang perempuan yang berhijab, cantik, dan ramah, Viny namanya. Ia adalah salah satu pustakawan Katakerja, mahasiswi Komunikasi UNHAS. Rupanya ia adalah salah satu penulis Ruang Baca, blog milik Katakerja. Selain Viny, Ada Saleh, mahasiswa Antropologi UNHAS yang sedang men-design sesuatu dengan laptop-nya. Mereka berdua duduk di meja rendah di aalah satu sudut Katakerja.

 

Ale (Saleh) – Viny – Me

Saya beruntung karena siang itu dapat bertemu langsung dengan Kak Arki, Ketua Perpustakaan. Saya juga bertemu dengan idola saya, Kak Aan Mansyur. Saya salah tingkah sampai jadi speechless, sekaligus jaim karena menahan malu. Terbayang di otak saya, Kak Aan bersedia membuat waktu untuk kami mengobrol banyak hal. Namun jangankan ngobrol, menyapa saja saya malu. Kak Aan pun terlihat calm dan cool. Bukan tidak ramah, mungkin lebih tepat bila dikatakan tidak “ngartis”. Dan mungkin karena sedang ada yang diurus, sehingga harus bolak-balik keluar (Semoga lancar sampai hari h, Kak! 😊💔). Malah Viny yang meminta Kak Aan untuk berfoto dengan saya ketika saya ingin pulang (terima kasih sudah menyuarakan isi hati saya, Vin!). Anyway, foto bareng aja saya salting! 😝

With Kak Aan Mansyur <3 (Viny: “deketan lagi dong”)

 

Selain Katakerja, masih ada dua perpustakaan yang bisa dikunjungi di Makassar dan letaknya tidak begitu jauh dari Katakerja hanya berbeda blok; Dialektika Coffee (@dialektika_coffee) dan Kedai Buku Jenny (@kedaibukujenny). Ketiganya sering mengadakan acara diskusi buku, baca puisi, acara dengan anak-anak, bahkan Katakerja bekerjasama dengan pemerintah setempat untuk berkolaborasi menggiatkan minat baca masyarakat di sekitar, karena pengunjung Katakerja justru lebih banyak berasal dari daerah jauh di Makassar dan atau luar kota (saya contohnya). TOP!

Viny sang pustakawan yang ramah nan baik hati

Katakerja bahkan sering jadi tempat menginap bagi backpackers yang berkunjung ke Makassar, khususnya pecinta buku. Simpulannya, dunia literasi di Makassar semakin luas dan membuat saya kagum, penulis-penulis Makassar semakin bermunculan, Makassar Writers Festival sudah memasuki tahun ketujuh, dan jumlah perpustajaan yang semakin banyak membuat saya senang untuk berkunjung lagi dan lagi ke Makassar. Semoga jadi penyemangat bagi saya untuk terus aktif dalam dunia literasi, khususnya menulis buku (yang selalu menjadi wacana pribadi 😝).

 

Katakerja

BTN Wesabbe Blok C/64, Tamalanrea, Kota Makassar, Sulawesi Selatan

Open hour: 08.00 am – 11.00 pm

Intagram: @katakerja

 

ps: Saya menginap di hotel daerah Pantai Losari dan menggunakan Go-jek untuk ke Katakerja (14km). Cukup masukkan keyword Katakerja jika ingin memesan Go-jek dan pastikan lokasinua dekat UNHAS.