0 In Kisah

Antara Pulang

Tanggal 3, bulan 3 di tahun ini.

Seharusnya aku merasa senang. Salah satu target marketku tercapai sesuai dengan yang telah tertulis di kertas dan kupajang di dinding. 
Bahkan semula aku hampir saja kehilangan pekerjaan ini. Atau lebih tepatnya kehilangan percaya diri untuk melanjutkan pekerjaan ini. Sebab segala strategi pemasaran telah aku coba dan tidak memberikan hasil signifikan dalam beberapa bulan. 
Banyak urusan dengan klien yang belum selesai. Niatku untuk ijin pulang setengah hari urung terlaksana. Menit demi menit seperti berkejaran. Beberapa kali heels di kakiku juga beradu, terantuk, dan mungkin harus mendapatkan penghargaan karena masih kokoh menopang meski kubawa berlari dari kantor, manajemen pengelola apartemen, ke lokasi meeting, toko meubel, bahkan pasar. Naik ojek, angkot, taxi, bahkan losbak. Berakhir sempurna dengan razia rutin bapak polisi di jalan cawang. Lembar-lembar uang melayang.
Aku pula belum makan sejak pagi, baru teringat saat tiba2 muncul nyeri di tempurung kepala. Tapi tetap bukan itu yang kupikirkan sejak tadi. Aku ingin cepat pulang.
Baru saja aku merasakan nikmat saat punggungku rebah di atas ranjang setelah hari yang panjang. Namun jam di tangan mengejutkanku. Pukul 17.30.
Jakarta Pusat ke Selatan. Butuh waktu paling tidak tiga jam di waktu pulang kerja seperri ini bila ditempuh dengan bis. OJEK! Persetan dengan tarifnya. Puji syukur jika ada driver yang mau mengantar bahkan.
Waktu berputar. Kemacetan demi kemacetan. Asap kendaraan. Bunyi klakson. Yang terdengar ditelingaku adalah tangis orang-orang. Banyak. Banyak sekali. Harus kah kulihat lagi bendera kuning itu berkibar di gerbang rumahku?
Kakiku berlari menyusuri lorong panjang yang gelap. Sudah tak sempat untuk merasa takut pada mitos-mitos rumah sakit di malam hari. Rasa takut yang muncul di dalam diriku saat ini jauh lebih menyeramkan dari itu.
“Mbak Ni!” Tanganku membuka tuas pintu IIGD dengan kasar. Sunyinya ruangan di hadapanku membuat semua orang menatapku gusar, terlebih para suster dan bapak security. Yang ramai adalah isi kepalaku. Gaduh sejak tadi.
Sebuah tubuh yang kukenal sedang terbaring dengan mata terpejam dan selang saling silang di tubuhnya. Seorang pria tengah terduduk tanpa ekspresi di sisi kasur. Seorang pria lainnya menatap ke jendela entah memandang apa.
“Belum siuman.”
Jawab suami Mbak tanpa perlu kutanya lebih dulu.
Aku melangkah lemah menghampiri malaikat itu. Malaikat yang bersarang di tubuh seorang wanita bernama kakakku. Tersenyum. Aku harus tersenyum dan menahan tangis ini, tapi tanganku refleks memegang dada, menyadari benjolan kecil seperti milik Mbak Ni yang juga ada di payudara sebelah kananku.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply